• 0
Sign in to follow this  
Banyusmom

Mengenal Lebih dekat Masyarakat Lombok

Question

Berkunjung ke suatu tempat rasanya tak akan lengkap tanpa mengenali segala apa yang ada di sana, terlebih lagi dengan budaya, adat istiadat, termasuk kebiasaan yang dilakukan warga di tempat tersebut. Hanya mengunjungi obyek-obyek wisatanya saja tentu sah-sah saja bagi anda, namun, jika ingin lebih berkesan, pelajari pula apa yang ada di masyarakat tempat anda berkunjung tersebut. Dijamin, liburan anda akan lebih berarti.

 

Pulau Lombok merupakan salah satu tempat kunjungan wisata yang memiliki banyak keunikan dalam hal budaya. Selain juga memiliki keindahan khas yang tak selalu dimiliki oleh daerah wisata lainnya. Berbentuk sebagai gugusan pulau-pulau kecil di Kepulauan Sunda, pulau yang memiliki luas sekitar hampir 5000 km2 ini mempunyai Gunung Rinjani sebagai tempat tertingginya. Berjumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, hanya sekitar kurang dari 3 juta jiwa, membuat pulau yang satu ini sangat cocok menjadi tempat liburan yang mendamaikan bagi para wisatawan. Selain juga karena pantai-pantainya yang sangat indah tentunya.

 

Ditinjau dari letak geografis, Pulau Lombok dengan Pulau Bali memang terpisah, namun kedua pulau ini memiliki batas-batas yang jelas tak hanya dalam lokasi namun juga budaya dan adat istiadat, walaupun pada dasarnya banyak kesamaan, diantaranya dalam hal bahasa, cara-cara mereka menamakan sesuatu, dan sejenisnya. Jadi, jika anda sudah sangat familiar dengan liburan di Pulau Bali, menjelajahi Pulau Lombok nampaknya bukan merupakan halangan yang berarti, kecuali keindahan dan nuansa yang berbeda.

 

Namun meskipun berbeda., ada beberapa kesamaan yang akan lebih memudahkan anda singgah di Pulau Lombok jika sudah pernah atau seringkali mengunjungi Pulau Dewata Bali. Kedekatan wilayah kedua pulau inilah yang menyebabkan keduanya seolah memiliki rumpun yang menyatu dan tekadang sulit dibedakan. Beberapa contoh misalnya dalam hal bahasa. Kedua masyarakat di pulau ini sama-sama menggunakan jenis bahasa aksara Jawa Kuno yang nota bene bersumber pada satu bahasa yang sama, yaitu Bahasa Kawi. Dari masalah huruf-huruf sampai cara pelafalannya hampir bisa dipastikan sama 100%. Tak mengherankan jika nama-nama orang di kedua daerah tersebut ataupun nama-nama daerah atau suatu tempat yang ada kadang kita jumpai memiliki banyak kemiripan.

 

Dalam hal ritual keagamaan. Pulau Lombok dan Pulau Bali juga tak jauh berbeda, meskipun masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Di Lombok ada semacam tradisi keagamaan yang berisi pelantunan tembang-tembang Turun Taun yang merupakan bagian dari masyarakat Hindu. Tradisi ini berlangsung pada saat upacara sacral memohon turunnya hujan dan biasanya diselenggarakan pada saat menjelang musim tanam. Nah, ini merupakan salah satu kegiatan yang favorit bagi para wisatawan. Mereka biasanya akan dengan sangat antusias mengikuti jalannya upacara dengan tak lupa mengabadikan gambar-gambar yang mereka anggap unik dan tak pernah ada di daerah atau negara asal meraka.

 

Penduduk Lombok yang mulanya merupakan Suku Sasak asli, saat ini telah menjadi amat beragam dengan banyaknya pendatang, baik dari Jawa maupun Bali yang kemudian menjadikan pulau tersebut sebagai lahan kehidupan bagi mereka. Meskipun banyak ragam wajah, namun penggabungan kebudayaan dari beberapa masyarakat yang telah bercampur menjadi satu di Pulau Lombok ini mencerminkan keselerasan dan kerukunan hidup yang saling menghormati.

 

Keberagaman yang menjadi satu ini tak hanya terwujud dalam bahasa dan kerukunan sehari-hari mereka, namun bahkan dalam hal-hal kecil seperti busana dan tradisi yang kemudian ada. Salah satu yang terlihat mencolok dalam hal busana adat, misalnya ikat kepala. Ikat kepala di Suku Sasak yang biasa disebut dengan Sapuk merupakan penjelmaan ikat kepala yang juga ada di dalam masyarakat Bali, yaitu Destar.

 

Kemudian, ada satu hal menarik yang juga patut anda pelajari di masyarakat Lombok ini, yaitu adalah kebiasaan Nebon. Kebiasaan Nebon merupakan kebiasaan seorang suami yang membiarkan rambutnya memanjang saat istrinya sedang dalam keadaan hamil, dan baru akan mereka potong setelah istrinya melahirkan. Dan selama itu pula, kebiasaan rumah tangga yang biasanya dilakukan oleh para istri, ditanggung sepenuhnya oleh suami, alias, suamilah yang melakukan kegiatan rumah tangga selama istri dalam masa kehamilan. Dari sisi ini, bisa dipastikan betapa masyarakat Lombok begitu menjunjung tinggi martabat kaum perempuan. Uniknya, kebiasaan yang satu ini memiliki tujuan tertentu, yaitu agar anak yang akan dilahirkan ke dunia nanti oleh sang istri memiliki kualitas yang bagus dari segi bibit, bebet, serta bobotnya, dan juga selalu dianugerahi kesehatan jasmani dan rohani senantiasa. Unik bukan?

Share this post


Link to post
Share on other sites

7 answers to this question

  • 0

nice info jadi klu ke lombok sedikit banyak da tau juga ada istiadatnya, trus utk kebiasaan nebon boleh juga tuch disebarluaskan sehingga para wanita yg sedang mengandung diberikan kemudahan biar nga kelelahan :P

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

sbg orang Sasak-Lombok., mnurut sy Bali Ma Lombok tu kykx beda tipis dech., 

(dri segi wilayah, keadaan alam & pantai n budayanya agak mirip)

hanya sj mungkin corak masyarakatx (Adat-Istiadat) ja yg agak beda d masing2 wilayah.,

ya...slbih bs di lihat n disaksikn sndiri dach.,

 

yg brminat...d tunggu di Pulau Lombok.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this