Sign in to follow this  
Banyusmom

Berwisata Unik Ke Kampung Siti Nurbaya Kota Padang

7 posts in this topic

Siti Nurbaya, tokoh dalam roman karya Marah Rusli ini menjadi melegenda setelah diangkat ke layar kaca pada tahun 1991. Masyarakat Padang sendiri mempercayai bahwa tokoh Siti Nurbaya nyata dan makamnya ada di puncak Gunung Padang. Terlepas dari tokoh fiksi atau bukan, berbicara Siti Nurbaya, tak bisa dilepaskan dari kota Padang nan indah.

 

Padang dengan segenap keunikannya rasanya tak patut untuk diabaikan sebagai tempat destinasi wisata. Objek wisata yang ditawarkan negeri Siti Nurbaya ini beraneka rupa .

Bermula dari Gunung Padang yang menyimpan misteri beradaan makam Siti Nurbaya, Samsul Bahri, juga kedua orang tua mereka. Gunung Padang disebut-sebut sebagai legenda hidup cerita Siti Nurbaya ini cocok untuk pelancong yang gemar climbing. Letaknya 400m di atas permukaan laut dengan bukit yang tak terlalu tinggi banyak digunakan pecinta climbing untuk menguji nyali. Di gunung Padang pelancong juga dapat menyaksikan beberapa meriam tua sisa penjajahan Jepang yang digunakan untuk menghalau musuh yang hendak masuk ke Muaro Padang. Selain itu juga terdapat benteng peninggalan masa PD II juga beberapa bunker peninggalan Jepang. Untuk bisa sampai ke Gunung Padang hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Keunikan lain dari Gunung Padang adalah akses menuju ke sana yaitu dengan mendaki ratusan anak tangga yang panjang dan berkelok-liku. Namun kelelahan tersebut akan terobati dengan pemandangan indah yang terhampar di sisi kanan Gunung Padang. Hamparan laut lepas dan jajaran gedung bertingkat di tengah kota Padang dapat dilihat dari sini.

 

Perjalanan selanjutnya menuju ke Jembatan Siti Nurbaya. Jika di Palembang terdapat jembatan Ampera yang panjang membentang, di sini, di Padang terdapat jembatan Siti Nurbaya. Jembatan Siti Nurbaya terletak di Kecamatan Padang Selatan, kira-kira 25km arah barat Bandara Minangkabau Internasional (BMI). Jika malam menjelang dari kejauhan lampu yang menghiasi sepanjang jembatan Siti Nurbaya ini terlihat seperti gonjong (atap rumah adat Minangkabau, atap rumah gadang) yang sangat khas. Jika melewati jembatan Siti Nurbaya ini sempatkan untuk berhenti dan menikmati keindahan pemukian penduduk yang bermukim di kaki Gunung Padang. Sambil menikmati suasan malam di jembata Siti Nurbaya, pelancong dapat menikmati aneka makanan yang dijajakan di sepanjang jembatan Siti Nurbaya. Nikmat rasanya, menikmati indahnya malam di jembatan Siti Nurbaya sambil ditemani keripik singkong khas Padang.

 

Dari Jembatan Siti Nurbaya yang terletak tak jauh dari Pantai Padang, perjalanan dilanjutka menuju kawasan Kota Tua Padang yang dulunya dijadikan pusat perdagangan bangsa-bangsa Eropa. Tak ayal jika bangunan yang ada di Kota Tua ini berrsitektur Eropa klasik. Di masa sekarag, bangunan tersebut ditempati oleh warga Tionghoa, oleh karenanya daerah tersebut juga dikenal dengan sebutan Kampung Cina. Tak berbeda dengan Kampung-kampung Cina yang ada di daerah lain, di sini juga terdapat sebuah klenteng tua yang usianya diperkirakan lebih dari 200 tahun.

 

Selain klenteng yang terdapat di Kota Tua, di pusat kota Padang juga terdapat sebuah klenteng yang dibangun pada tahun 1861 yang bernama Klentang Kwam Im.  Klenteng Kwam Im yang terletak di Jl. Klenteng 321 Kel. Kampung Pondok ini merupakan tempat perbadatan umat Budha. Namun akibat gempa hebat yang mengguncang Padang pada 30 September 2009, klenteng Kwam Im hancur meskipun bangunan utamanya masih berdiri. Dengan kejadian ini tiga ribu umat Budha di Padang kehilangan tempat ibadahnya.

 

Setelah puas berkeliling kota Siti Nurbaya, ada referensi lain yang bisa di coba yaitu berkunjung ke pemandian alam Lubukminturun. Pemadian yang terletak 10km utara pusat kota Padang ini telah digunakan sejak tahun 1883. Keunikan yang menjadi ciri khas pemandian Lubukmiturun adalah letaknya yang berdampingan dengan lori, trnasportasi berupa kereta gantung peninggalan jaman Belanda. Untuk mencapainyapun tak susah, segala jenis angkutan darat bisa mengantar pelancong ke tempat ini. Jika menggunakan angkutan umum tariff yang dibandrol juga tak mahal. Cukup Rp. 3.000 saja. Disepanjang jalan menuju pemandian Lubukminturun pelancong akan disuguhi pemandangan anera rupa bunga yang dijajakan warga sekitar.

 

Jika telah puas menikmati keunikan negeri Siti Nurbaya ini, jangan lupa pulang membawa oleh-oleh. makanan khas  Minangkabau. Keripik balado dan rendang yang bercitarasa khas Padang dapat dbawa pulang sebagai buah tangan. Makanan-makanan khas Padang tersebut dapat diperoleh di toko Christine Hakim atau Nipah yang berlokasi di dekat jembatan Siti Nurbaya.

Nah, sudah siapkah anda untuk melakukan perjalanan bersama kisah klasik Siti Nurbaya?

Share this post


Link to post
Share on other sites

mau tanya, akses dari BMI ke kota padang naik apa saja ya? harganya yg murah mending taksi plat hitam atau taksi resmi? makasih

BMI itu apa ya kemarin kita baru dari Padang dan Bukittinggi juga seh :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this