Sign in to follow this  
arifta

Inilah 3 Air Terjun yang Terkenal di DIY Gan!

7 posts in this topic

Gan, kalau ke Yoyakarta jangan Cuma ke Borobudur, Prambanan, Marlboro, Parangtritis saja karena ternyata masih banyak objek lain yang layak dikunjungi. Jika Anda senang berpetualang dan bercengkrama dengan alam, berikut merupakan tiga curug atau air terjun di DIY yang cukup recommended.

 

Air Terjun Sidoharjo

Curug ini berketinggian mencapai 75 meter dengan aliran airnya yang cukup deras. Dindingnya terlihat indah dan ditumbuhi dengan tumbuhan khas hutan yang hijau. Karenanya itu, kawasan ini menjadi objek berfoto yang luar biasa. Air terjun ini sangat cocok bagi Anda yang suka dengan pemandangan alam. Disini merupakan tempat ideal untuk menghilangkan stress. Udara yang sejuk, kicauan burung, pepohonan yang lebat menjadi pesona yang bisa dijumpai di Air Terjun Sidoharjo.

 

Air Terjun Grojogan Watu Jonggol

Air terjun ini ada di ketinggian 900 meter diatas permukaan air laut. Udaranya yang sejuk menjadi panorama bagi air terjun ini. pegunungan dengan nuansa alami dan pepohonannya yang hijau dan menawan ialah panorama yang dijumpai disini. Aliran airnya terbilang cukup deras. Dikelilingi dengan bebatuan dan tumbuhan hijau membuat setiap orang yang datang kesini akan merasakan kesegaran dan keeksotisannya. Air terjun ini terbilang bersih dan ajib.

 

Air Terjun Sri Gethuk

Air terjun ini konon tak pernah berhenti mengalir sekalipun Gunung Kidul sedang dilanda kemarau panjang. Debit airnya mencapai 80 liter/ detik dan ketinggiannya mencapai 24 meter. Air terjun ini merupakan penyatuan dari 3 air sumber mata air yakni Dong Poh, Ngandong, dan Ngumbul. Air yang berasal dari mata-mata air tersebut juga ternyata digunakan untuk mengairi sawah di sekitarnya.

post-64-0-24565900-1359267013_thumb.jpg

post-64-0-08355400-1359267017_thumb.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya niiiiii..... yang paling naik daun sekarang air terjun sri gethuk :)

rencana dalam waktu dekat ini mau kesana :D

 

iya, naik daun tp sampai saat ini blm dibarengi dgn pembangunan fasilitas2 yg memadai & bagus. akses masuk jln sepanjang desa2 msh rusak & bahkan hny bebatuan sj.

 

klo kesana sebaiknya rame2, gan. klo sndr ato ber2 ber3 kurang seru... bikin rombongan aja, aq didaftar ya... :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
        Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.
       
       
       
       
    • By amoy
      Jadwal 2018 :
      15-20 februari
      12-17 april
      4-9 juli
      8-13 september
      Destinasi :
      Savana bekol baluran
      Menara pandang
      Pantai bama
      Mangrove trail
      Kawah ijen
      Blue fire
      Sunrise bromo
      Kawah bromo
      Pasir berbisik
      Bukit teletubies
      Pura luhur bromo
      Coban rondo
      Musium angkut
      Taman langit
      Gunung banyak
      Alun alun batu
      Mangunan
      Puncak becici
      Tugu
      Malioboro
      Alun alun yogja
      Phuntuk setumbu
      Gereja ayam
      Borobudur
      Lava tour merapi
      Sentra bakpia
      Price :
      2700 idr
      Start surabaya & finish yogjakarta
      *start jkt/kota lain call us!!!
      Fasilitas :
      Transport ac
      Jeep bromo
      Jeep merapi
      Homestay ( max 3 orang/room )
      Makan 15x
      All tiket wisata
      Tour leader
      Day 1
      00:00-02:00 meeting point di stasiun/bandara surabaya
      02:00 menuju baluran
      10:00 explore baluran
      14:00 menuju homestay
      17:00 check in homestay, Makan malam & free time
      Day 2
      00:30 check out, menuju pos ijen paltuding
      01:30 treking kawah ijen
      04:30 explore blue fire
      05:30 explore kawah ijen
      06:30 kembali ke pos ijen
      09:30 start menuju bromo
      17:00 check in homestay bromo, makan malam & free time.
      Day 3
      03:00 start menuju spot sunrise bromo (penanjakan/bukit kingkong)
      04:00 explore sunrise
      06:00 explore kawah bromo, bukit teletubies, pasir berbisik
      10:00 kembali ke homestay
      12:00 start menuju batu malang
      15:00 check in homeatay dibatu
      16:30 explore gunung banyak & taman langit
      20:00 explore alun-alun
      22:00 istirahat & free time
      Day 4
      09:00 explore coban rondo
      12:00 check out homestay
      13:00 explore musium angkut
      16:00 agro wisata petik apel
      18:00 menuju yogyakarta
      Day 5
      05:00 tiba di yogja, explore mangunan, becici & breksi
      12:00 check in homestay
      14:00 city tour yogja. Alun-alun, malioboro, tugu.
      20:00 kembali ke homestay, istirahat.
      Day 6
      03:00 check out menuju phuntuk setumbu
      04:30 explore puntuk setumbu
      06:00 explore gereja ayam
      07:00 explore candi borobudur
      12:00 lava tour merapi
      15:00 kembali ke yogjakarta.
      17:00 drop di stasiun/bandara yogjakarta. Trip selesai. Thanks to all.
      Syarat dan Ketentuan :
      . DP sebesar Rp 500.000 ke rekening ( no rek by sms/wa/call )
      . Peserta dianggap Fix, jika sudah DP/Full transfer.
      . Konfirmasi Pembayaran Paling Lambat 1 X 24 jam
      . Sisa pelunasan dibayarkan pada H-5
      . Pembayaran DP dianggap hangus jika terjadi pembatalan keberangkatan dari pihak Peserta ( bisa di gantikan peserta lain ).
      . Jika terjadi Force Majeure, diselesaikan secara kekeluargaan.
      . Ittinerary dapat berubah sesuai situasi & kondisi.
      CP :
      travelinkcafe : ( 081318723881 ) Call/WA/SMS
      Email : travelinkcafe@gmail.com
    • By Karina Ayu Amalia
      hai.. gue mau solotrip ke jogja tgl 24-26 agustus 2017. kalau ada yg mo gabung atau ketemuan dijogja sekalian ngopi bareng  wa ke 08982387756 yaa
      ini fix berangkat, nyampe jogja jam 14.30wib tgl 24..
       
       
    • By Viviiy

      images: Instagram
      Sumatra Barat memiliki banyak potensi wisata alam yang belum begitu dikenal, termasuk tempat wisata di Padang Pariaman. Tujuan wisata alam terpopuler bukan hanya pantai, namun juga air terjun; salah satunya adalah air terjun Baburai. Air terjun ini berlokasi di Kabupaten Padang Pariaman, dan baru dibuka untuk umum pada tahun 2013 lalu.
      Akan tetapi, penduduk setempat banyak yang sudah sering datang ke air terjun ini, tentunya karena keindahan panorama di sekitar air terjun serta kesegaran airnya. Jika Anda ingin menikmati keindahan alami air terjun yang belum banyak dikunjungi, Baburai bisa menjadi pilihan.
      Keindahan Alami Air Terjun Baburai
      Karena air terjun Baburai belum banyak dikunjungi, dan masih relatif baru sebagai tempat wisata, fasiliats di tempat ini belum begitu banyak. Air terjun ini dapat dicapai dengan berkendara selama sejam dari pusat kota, dan berjalan kaki selama sekitar 10 menit untuk akhirnya mencapai air terjun. Ada tangga batu yang dibangun agar pengunjung bisa mencapai air terjun dengan lebih mudah. Akan tetapi, semua susah-payah berjalan itu terbayar dengan keindahan alami air terjun ini.
      Air terjun Baburai sendiri mengambil namanya dari kata "baburai" yang bermakna "tergerai," seperti pada rambut panjang, karena bentuk air terjunnya yang ramping dan tinggi. Air terjun Baburai sangat jernih dan dingin, sehingga sering dimanfaatkan warga sekitar untuk berenang, bersantai, dan melepaskan stres. Tempat wisata ini biasanya sedikit ramai setiap hari Sabtu dan Minggu serta saat libur sekolah, dan kebanyakan pengunjungnya di waktu-waktu seperti ini adalah anak sekolah dan keluarga.
      Air terjun Baburai kini juga berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air berskala kecil serta penyedia air bersih bagi masyarakat sekitar. Sejauh ini, fasilitas yang ada masih belum banyak, dan terbatas pada pedagang makanan kecil-kecilan. Akan tetapi, air terjun Baburai jelas sudah menjadi primadona masyarakat sekitar sebagai tempat wisata di Padang Pariaman, dan penduduk sekitar berharap pemerintah setempat akan mengembangkan air terjun ini sehingga menarik lebih banyak pengunjung.
      Jika Anda kebetulan berada di Padang Pariaman, luangkan waktu untuk mengunjungi air terjun Baburai yang indah.
      SUMBER
    • By gicong
      Halloo, 
      Salam kenal, aku Gits. 
      Aku rencana (eh bukan rencana sih) tapi sudah pasti akan ke Yogyakarta tanggal 23 April 2017 untuk ikut Mandiri Jogja Run (siapa tahu bisa marathon bareng Mbak Dian)
      Ada yang ikut jogja run ga disini? Siapa tahu bisa bareng disananya.
      Hari pertama, setelah lari cantik, lanjut ke Kalibiru.
      Hari kedua, rencananya mau ke Punthuk Setumbu lanjut Puncak Suroloyo
      Backup plan hari kedua akan ke daerah Gunung Kidul (Either Pantai atau Goa Jomblang)
       
      Yang mau ke liburan yogya juga, yuk bareng yuk. Kita share cost aja. Kalau mau nanya-nanya bisa ke hubungi ke line (id : gitchong)

      Terima kasih. 
         
    • By reniway
      Guuyss,
      Semangat pagii,.
      semoga sehat semua yah,.

      Aku mau nanya yah,.

      tgl 14-16 April 2017 ini aku ke jogja, dan paling full time jalan2nya di tanggal 15,.
      Mohon info donk, tempat makan murah meriah yang recommended di mana ajh ya?
      Sarapan aku nyari yang di sekitar Keraton Yogyakarta 
      Siang aku nyari yang disekitar Goa Pindul
      malam yang di daerah kota

      yang ada info atau saran ditunggu yaah,.

      makasih 
    • By Alfa Dolfin
      Oleh seorang rekan aktif KJJI di Yogyakarta, saya di rekomenkan menginap di Greenhost. Kebetulan Kang Momod pernah menginap disini juga waktu ke Yogya. Oya...?  thanks rekomen-nya. Tidak langsung aku iya rekomen itu. Melihat dulu foto-fotonya di Agoda dan booking.com.

      tampak luar. sudah terlihat bernuansa eco green

      eee...ada becak unik dari Green House

      Numpang narsis dulu ya....
      Melihat lokasinya....hhhmmm Prawirotaman . Memang adalah lokasi turis asing. Salah satu saudara yang tinggal di Belanda waktu ke Yogya pernah menginap di daerah sini. Cukup jauh dari Malioboro. Tapi...yakin dan mantap memilih disini setelah lihat foto-foto-nya. Bahkan dua kali. Di kedatangan berikutnya juga menginap disini.


      Suasana kamar yang cukup artistik



      ruang utama yang eco-friendly. Memudahkan sirkulasi udara dan cahaya matahari masuk
      Baru tahu disini pernah di lakukan shooting AADC 2. Wah......coba kalau tahu dari kemarin, ngga perlu di rekomenkan sudah langsung pilih disini. AADC 2 fans gitu lho.
      Obyeknya saya suka konsepnya. Memang beda banget di banding hotel lainnya di Yogya. Ya harus beda. Bukan berkonsep modern, juga bukan tradisional. Pertama, bangunannya berkonsep Green Building, bangunan yang ramah lingkungan. Benar saja begitu kita datang, di sambut suasana eco-green. Like it.
      Kedua.Bagian tengah tampak terbuka. Jelas sekali sirkulasi udara bagus dan alami. Selain itu cahaya matahari bisa leluasa menembus bagian inti hotel. Ini salah satu wujud konsep eco friendly. Lagi-lagi...like it....

      buka notebook disini. duduk santai ngetik bikin tulisan atau edit foto, sambil dengar musik. Nikmaaaaatttnya......,


      Area untuk sarapan pagi. Baru tahu di sini pernah jadi lokasi shooting AADC 2
      Ketiga.  Ini hotel kesannya nyeni banget ya. Selain sarat dengan nuansa eco green friendly. Hampir di setiap sudut terdapat karya-karya seni. Saat kita tiba di sambut patung yang juga hasil karya seni. Dinding yang di dominasi nuansa semen, tidak banyak cat, ada maksudnya juga. Selain untuk efisiensi pemeliharaan, juga menjadi “kanvas” untuk menuangkan ekspresi kreativitas para seniman datau disainer.

      salah satu pilihan menu sarapan pagi saya saya suka. Soto taman sari
      Keempat. Jalan lah ke lantai paling atas. Kita akan menikmati kebon sayur hidroponik. Rupanya pihak manajemen ingin mengangkat tema khusus yaitu “City Farming”. Pihak hotel ingin perkenalkan “pertanian kota”  di dalam bangunan. Very good....

      di lantai paling atas bisa kita lihat Citi Farming, tanaman perkotaan  hidroponik, yang menjadi tema utama hotel ini
      Bagaimana menu breakfast? Biasa-nya menjadi tolak ukur cocok tidaknya menginap di suatu hotel dari sajian breakfast. Standard....cukup puas. Artinya ada menu lokal yang bisa kita nikmati. Memang jika ingin puas harus sudah datang jam 6-an. Saat sarapan sudah mulai tersedia dan belum ramai.
      Harga per-malam untuk weekend sekitar 600 ribu. Worthed lah terutama yang suka dengan konsep ini. Eee....pernah juga yang kedua kalinya dapat harga Cuma 500 ribu. Padahal weekend juga. Kog bisa?ya itu karena bukan musim liburan. Kedua, booking sebulan sebelumnya.
      Saking sukanya disini, dari pagi sampai batas check out sengaja di hotel terus. Jalan ke lantai atas. Duduk di cafe sambil foto-foto tentunya.
      Suasana di sekeliling hotel oke juga. Karena daerah turis, cukup banyak pilihan cafe, resto, jika ingin menikmati sendiri atau bersama pasangan. Kami pun agak ngotot juga ber-kuli-ner di sekitar hotel. Setelah dinner di salah satu cafe, lanjut ke cafe khusus es krim yang juga di kawasan Prawirotaman. Tidak jauh dari hotel cukup jalan kaki saja. Ternyata cafe es krim-nya asyik banget. Hanya saja terlalu rame....mungkin karena weekend ya.

      Sebelum check out, foto dulu di depan resepsionis.....
      Dua kali nginap disini cuma 1 komplainnya. Suasana pesta atau apalah di cafe cukup membuat bising sampai ke kamar. Mungkin karena malam minggu banyak yang booking disini untuk merayakan pesta. Mencoba maklum dech....

      Salah satu karya seni yang banyak di tampilkan disini
      Ngga kapok nginap disini. Suatu saat pasti yang ketiga kalinya. Duduk di salah satu cafe, sambil buka notebook, nulis atau edit foto, sambil mendengar musik favorit. Asyik...syik...banget dech....hahaha....