Sign in to follow this  
Lyn

Yang Sebaiknya Diketahui Sebelum ke Jepang

24 posts in this topic

Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia Timur yang terkenal dengan budayanya. Kota-kota yang setidaknya harus disinggahi saat datang ke jepang adalah kota Tokyo, Kyoto, Kobe, Hakone, dan Osaka. Kota Tokyo yang menjadi ibukota Jepang merupakan tempat dengan gedung-gedung tinggi yang tentunya ramai, super modern dan sangat terang di saat malam. Kalau kota Kyoto masih sangat terasa Jepang kuno, di mana banyak kuil, dan juga bangunan-bangunan yang bersejarah ada juga beberapa jalan di sana yang masih terlihat sangat kuno mirip saat di jaman edo. Banyak kuil yang menjual jimat-jimat pelindung dan semcamnya. Maka tak jarang sekolah-sekolah di Jepang sendiri banyak yang melakukan study tour ke Kyoto. Kobe merupakan kota pelabuhan. Sedangkan di Osaka banyak makanan enak yang harus dicoba di sana. Masyarakat Osaka adalah orang kansai yang memiliki logat yang berbeda. Orang kansai rata-rata ramah dan bersemangat. Sedangkan Hakone terkenal dengan lokasi pegunungan yang ada museum dan pemandian-pemandian air panasnya atau lebih dikenal dengan nama onsen di Jepang.


Kalau mau berpergian dari kota ke kota di Jepang lebih baik menggunakan JR Pass. Hanya orang paspor asing serta visa sementara yang bisa membeli JR Pass ini tapi dibelinya di luar Jepang. Dengan JR Pass kita bisa berpergian menggunakan kereta di bawah bendera JR dengan gratis mencakup jalur utama kereta api di dalam kota termasuk shinkansen kecuali shinkansen nozomi. Sebelum berangkat menggunakan kereta ke Jepang jangan lupa cek dulu  nama stasiun terdekat dari objek wisata yang dituju, naik keretanya jalur apa, semua bisa dicek di  http://www.hyperdia.com/ sebenarnya papan petunjuk di sana sudah cukup jelas, tapi buat yang lebih pasti bisa juga dicek sendiri sebelum berangkat.


Buat menghemat waktu bisa juga menggunakan loker berbayar di stasiun untuk menitipkan barang-barang belanjaan. Denagn sekali bayar loker tersebut dapat digunakan seharian. Jadi kita tidak perlu kembali lagi ke hotel atau hostel untuk menaruh barang belanjaan. Harga ukuran yang paling kecil sekitar  300 yen atau sekitar 32000 rupiah.
Harga souvernir di jepang rata-rata hampir sama. Baik di pusat perbelanjaan, di bandara maupun di objek wisata, jadi tidak perlu terburu-buru beli souvernir saat mau pulang pun masih bisa dibeli di bandara. Kalau di Jepang jangan terlalu banyak mengunjungi restoran karena harganya cukup mahal. Kunjungi saja yang khas, satu atau dua restoran setelah itu bisa membeli makanan di supermarket seperti bento ataupun onigiri.


Timing yang pas ke Jepang saat di bulan April dan November. Di bulan April pada saat musim semi banyak bunga sakura dan bisa melakukan hanami di taman-taman sekitar. Hanami sendiri adalah duduk berpiknik sambil melihat bunga sakura. Tapi harus cari tempat dulu dan ditandai karena hampir semua masyarakat jepang sangat suka melakukan hanami jadi setiap taman pasti ramai oleh keluarga-keluarga yang berkumpul bersama. Kalau bulan November adalah musim gugur saat daun sedang berwarna merah. Sebenarnya kalau datang di musim panas atau dingin juga tidak apa-apa. Tapi musim panas dan dingin di Jepang panas dan dinginnya cukup ekstrim. Jadi harus menyiapkan persiapan lebih seperti sunblock, baju dingin dan semacamnya. Jika ingin melihat festival di Jepang datang saja pada saat tahun baru. Biasa di dalam festival ada banyak permainan menarik seperti menangkap ikan mas dan tembak hadiah dan semacamnya. Biasa akan ada pertunjukan kembang api dan banyak makanan di sana.


Di Jepang penginapan yang murah biasa adalah hostel. Bisa di cek di hostelbookers.com atu hostelworld.com tarif tergantung dari lokasi dan fasilitas atau kalau tidak, bisa juga mencoba hotel kapsul. Kalau bisa jangan menginap di tempat yang terlalu jauh dari stasiun dan carilah tempat yang nyaman. Kalau mau pengalaman yang lebih berbeda bisa juga coba menginap di Ryokan atau penginapan tradisional Jepang yang suasananya sangat berbeda dari penginapan pada umumnya dan lantainya masih menggunakan tatami.


Sebelum ke Jepang alangkah baiknya pelajari bahasa-bahasa yang umum dipakai di sana. Seperti terima kasih, maaf, selamat pagi/siang/malam, dan kata-kata umumnya jika tau lebih banyak juga mungkin dapat berguna. Bisa di cek di http://www.nhk.or.jp/lesson/indonesian/index.html tidak semua masyarakat Jepang bisa berbahasa Inggris dan banyak yang takut bicara pada orang asing, jadi setidaknya sebelum mau bertanya sapa dulu mereka menggunakan bahasa sehari-harinya.
 

Kira-kira itu dari saya, mungkin kalau ada yang udah sering ke Jepang atau yang lebih pro boleh tolong ditambahin :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Ooo bisa sewa locker ya , sip2 jadi gak perlu bawa brg berat2 haah

 

iya kalau mau belanja banyak juga gak usah repot hehehe

 

 

hmm... taunya bahasa jepang cuman, moshi-moshi, arigatou, itada kimasu (yang ini betul nggak nulisnya?) trus apa lagi ya? 

oh ya, untuk aktivitas hanami sendiri, yang paling enak di jepang di mana tuh? :)

 

hajimemashite (salam kenal), watashi wa ... desu (nama saya adalah...) ohayou (selamat pagi, konnichiwa ( selamat siang) gak tau nih ya penulisannya bener apa kaga hehehe

kalau dari Osaka bisa di The Mint Bureau (Osaka), Taman Expo ’70 (kota Suita), Taman Istana Osaka (Osaka). kalau di Tokyo yang cukup terkenal taman ueno, (Taito-ku), Taman Inogashira (kota Musashino), Taman Koganei (kota Koganei), Taman Shinjuku-gyoen (Shinjuku-ku), Taman Sumida (Sumida-ku). Kalau di Kyoto bisa di Taman Shinsenen.

 

 

soal JR pass ini pernah baca... tapi kalau nggak mau antar kota ya naik yg biasa aja kan ya?? karna katanya mahal, bener ga sih? CMIIW

 

ini info lebih lengkap soal JR Pass ada harganya juga :D

http://www.jalan-tour.com/ver03/ina/jrpass/

Share this post


Link to post
Share on other sites

nambahin ya Sis...menggunakan sumpit, orang Jepang menghargai turis asing yang bisa menggunakan sumpit karena mereka pikir, menggunakan sumpit adalah hal yang tidak mudah untuk orang asing. Jadi mereka akan sedikit terkejut jika kita bisa menggunakan sumpit :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

nambahin ya Sis...menggunakan sumpit, orang Jepang menghargai turis asing yang bisa menggunakan sumpit karena mereka pikir, menggunakan sumpit adalah hal yang tidak mudah untuk orang asing. Jadi mereka akan sedikit terkejut jika kita bisa menggunakan sumpit :D

 

oh gitu ya saya baru tau nih soal ini kalau mau ke sana belajar pakai sumpit dulu ya hehehe thanks ya :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

hhmmm saya lihat2 di tiket pesawat kenapa yg tujuan tokyo haneda lebih murah daripada tokyo narita ya ?

meskipun perbandingannya gak apple to apple; bisa kamu ibaratkan ke KL LCCT dan KLIA..... :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Sangat pengen ke jepang, cuma masalah transportasi yang rasanya sangat rumit,..

kalau pertama kali pasti bingung, apalagi lihat peta subwaynya, urusan kesasar atau salah keluar pintu stasiun biasa; tp dua tiga kali naik pasti sudah biasa. Di Jepang akan merasakan efektif dan efisiennya naik public transportation

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Lingga saya sih blm pernah kesana, tapi saya coba bantu jawab..

kalau menurut saya sih enak-nya naik Bus,

kalau soal murah, lebih murah naik kereta

kalau soal ribet, naik kereta jauh lebih ribet, dikarenakan perpindahan kereta minimal 3 kali (dengan pertimbangan bawa koper yg berat)

 

jadi naik bus turun di station Ginza (Sukiyabashi) , setelah itu nyambung taksi ke hotel (klo kagak mau ribet dan bawa berat) (makin banyak orang makin murah klo pakai taksi)

 

Note : schedule bus-nya bisa di-lihat disini

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

saya gak tau tepatnya dimana Mercure di Ginza, tp kl dari Narita ke Ginza kl naik subway bisa check disini : http://www.tokyo-subway.net/app/flash/norikae/N3?SF=2692&ST=1996&RP=0&OUTPUT=1

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash : Gitu yah. Kirain naik bus lebih murah mengingat wkt perjalanannya lebih lama dibandingkan dgn kereta :) Kalau jalan didaerah Ginza dengan bawa2 koper besar, ribet ga yah? Cari2 info sih katanya dari terminal bus ke Mercure naik taksi sekitar 5-10menit perjalanan saja. Pikir2 mao jalan aja. Biar bisa ngirit duit jajan :D. Thanks banget info nya

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

kalau mau naik taxi estimasi tarifnya : http://www.numbeo.com/taxi-fare/city_result.jsp?country=Japan&city=Tokyo

Share this post


Link to post
Share on other sites

@widingh : naik subway minimal harus transfer 2x yah dan harga cuma beda dikit dengan bus. Belom lagi bingung2 untuk pindah train nya. Thank you. Info subway nya lengkap.

Sepertinya jarang yah yang jalan2 di daerah Ginza.

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Lingga yah kalo bisa sih di taruh barang-nya dulu di hotel habis itu baru keliling daerah Ginza, (kalau emang blum waktu-nya check-in, yah dititip dulu di front desk)

untuk estimasi waktu jalan kakinya saya kurang tahu, tapi kalau anda terbiasa jalan kaki dengan bawa koper besar, yah silahkan saja :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites

@widingh : naik subway minimal harus transfer 2x yah dan harga cuma beda dikit dengan bus. Belom lagi bingung2 untuk pindah train nya. Thank you. Info subway nya lengkap.

Sepertinya jarang yah yang jalan2 di daerah Ginza.

ya kl menurut saya Ginza cuma pusat perbelanjaan mewah; yach kurang lebih seperti Orchard Road nya Singapore (dengan harga yg lebih mahal) :D, waktu itu ke Ginza krn nyari mainan utk anak saya.

Tergantung kopernya, kl terlalu besar ya repot keluar masuk mall. Jalanan di Tokyo lumayan lancar, jadi naik taxi 5-10menit bisa jauh jaraknya, apalagi sopir taxi di Tokyo sama kayak di Beijing atau Shanghai, hobinya ngebut..... :D

Ampun2an tarif taxi di Tokyo..... 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@glanzend

kalo pembobolan loker jarang denger

apalagi di jepang ini terkenal karena warga nya disiplin, pengalaman teman ketinggalan dompet di keranjang sepeda selama 1 hari di stasiun  kereta aman2 saja, malah keranjang nya ditutupin kardus oleh orang yg lewat biar gk kehujanan

(klo di indo 5 menit saja udah di pastiin ilang itu dompet :P)

 

ya kalo kereta yang di bilang itu shinkansen jadi menggunakan JR Railway Pass seharga 3 juta perorang

bisa digunakan ke semua rute shinkansen jadi memang cukup murah perhitungannya juika kita mau keliling jepang, tapi kalo cuma ke Tokyo - Osaka aja jadi mahal :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano

      Ingin sekolah ke Jepang? Sudah tahu kenapa harus memilih sekolah ke Jepang? Nah, kali ini saya ingin melanjutkan bahasan mengenai alur paling umum yang bisa ditempuh untuk dapat bersekolah di Jepang.
      Sebetulnya, di Jepang ada beberapa macam sekolah yang bisa dimasuki setelah tuntas berseragam putih abu-abu di Indonesia. Ada universitas, sekolah bisnis, sekolah bahasa, dan lain-lain. Secara umum, yang akan saya bahas adalah jenjang S1, S2, dan S3, yang merupakan jenjang pendidikan yang paling banyak diminati oleh mahasiswa asing. Jika memang sudah berniat untuk S1 di Jepang pasca lulus SMU, disarankan untuk banyak mencari informasi mengenai universitas yang dituju sejak baru masuk SMU. Namun perlu diperhatikan, ada beberapa kendala yang biasa dihadapi oleh pelajar asing yang kuliah S1 di Jepang. Berikut beberapa kendala tersebut:
      1. Proses seleksi masuk ke S1 cukup sulit. Tes masuknya menggunakan bahasa Jepang, dan ada persyaratan tertentu mengenai level kemampuan berbahasa Jepang (note: ada yang menyebut perlu sertifikat Level 1 atau setara dengan hapal 2000 kanji).
      2. Materi perkuliahan S1 seluruhnya menggunakan bahasa Jepang. Begitu juga dengan laporan tugas, ujian tulis, laboratorium/praktek, materi yang disajikan di papan tulis, dan sebagainya. Bagi yang hanya bisa hapal kanji angka 1-10 (maksudnya saya), masalah bahasa ini jelas menjadi masalah besar.
      3. Masalah kendala bahasa bisa merembet ke hal lain. Kecuali jika memang sudah berbekal pengetahuan bahasa Jepang yang cukup sebelum kuliah di Jepang (kanji, percakapan lisan dan tulisan), biasanya masalah bahasa ini membuat mahasiswa asing sulit mendapat teman (pertimbangkan juga bahwa tidak banyak orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris). Akibatnya, sulit pula untuk membuat laporan, dan bisa merembet ke berbagai faktor lainnya.
      Kesimpulannya, S1 di Jepang bisa ditempuh oleh mahasiswa asing. Hanya saja perlu persiapan yang cukup panjang dan juga mental super baja untuk menaklukkan kendala bahasa.
      Berbeda dengan S1, pendidikan S2 dan S3 di Jepang jauh lebih “ramah†terhadap mahasiswa asing. Kuliah S2 memang tak lepas dari materi dalam bahasa Jepang, namun banyak juga kuliah S2 yang dilakukan dalam bahasa Inggris. Materi laporan kuliah dan thesis pun rata-rata sudah dibuat dalam bahasa Inggris, sehingga kemampuan bahasa Jepang yang disyaratkan untuk masuk S2 tidak seberat masuk S1. Sedangkan untuk kuliah S3, karena full riset, bisa jadi perkuliahannya seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Biasanya mahasiswa pun tidak diwajibkan untuk mengikuti perkuliahan (karena harus fokus di riset), sehingga lebih mudah diikuti oleh mahasiswa asing.
      Bagi yang ingin tahu alurnya untuk bisa merasakan bangku perkuliahan di Jepang, berikut beberapa skenario yang paling umum. Skenario-skenario ini tidak baku ya, dan pada pelaksanaannya bisa jadi ada beberapa detail tambahan.
       
      Skenario 1
      Jenis skenario ini lebih fokus bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3.
      1. Untuk tahap awal, tentukan bidang pendidikan yang akan ditempuh. Survey juga universitas yang sesuai dengan bidang yang akan dipilih. Saya akan mengulas lebih lanjut mengenai tahap ini dalam tulisan selanjutnya.
      2. Mencari pembimbing akademik di beberapa universitas yang telah di survei pada tahap 1. Bagaimana caranya bisa dapat pembimbing akademik? Gunakan jaringan, dong. Tanya pada senior, dosen, atau pada siapa saja yang pernah menempuh pendidikan di Jepang. Bisa juga melakukan browsing untuk mencari pembimbing. Beberapa Doktor maupun profesor bahkan terang-terangan memajang lowongan mencari mahasiswa untuk dibimbing, biasanya dalam website yang bersangkutan. Tips lain untuk tahap ini, sebaiknya cari doktor atau profesor yang pernah membimbing mahasiswa dari Indonesia. Biasanya kans untuk diterima akan lebih besar, dengan catatan proses pembimbingan dengan mahasiswa Indonesia sebelumnya berjalan baik dan happily ever after (alias tidak ada kasus tertentu).
      3. Setelah dapat informasi pembimbing, lakukan kontak dengan pembimbing tersebut. Cara yang paling lazim adalah melalui email. Contoh email akan saya bagi dalam sesi tips ya. Oya, pada tahap ini jelaskan juga kenapa pembimbing tersebut harus membimbing Anda. Dengan kata lain, saatnya keluarkan skill rayuan agar pembimbing bersedia untuk membimbing calon mahasiswa. Ingat, jangan pakai bahasa alay ya, hehe.
      4. Jika pembimbing telah setuju untuk membimbing calon mahasiswa, kini waktunya mencari cara untuk berangkat ke Jepang. Jika memang punya biaya yang memadai, tentu tahap ini nggak jadi masalah. Khusus bagi yang berkantong agak mepet, ada beberapa sub-cara yang bisa dilakukan:
       
      - Nodong pada pembimbing yang bersangkutan. Bahasa halusnya sih minta disponsori oleh pembimbing tersebut. Biasanya ini bisa dinegosiasikan jika calon mahasiswa memiliki penelitian yang nyambung dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh pembimbing tersebut, atau jika calon mahasiswa lolos seleksi untuk membantu penelitian yang sedang dikerjakan oleh sang pembimbing.
      - Mengingat pengajuan untuk minta disponsori membutuhkan kombinasi antara skill merayu dan keberuntungan, setidaknya usahakan untuk berdiskusi dengan beliau. Siapa tahu yang bersangkutan bisa mencarikan jalan keluar untuk masalah dana.
      - Bagaimana jika nggak ada bantuan sama sekali dari pembimbing? Solusi lainnya, cari beasiswa. Saat ini sudah banyak yang menawarkan beasiswa pendidikan ke Jepang. Detail bagian beasiswa insya Allah nanti saya ulas terpisah.
      5. Jika tahap 1-4 sudah terpenuhi, selanjutnya tinggal mengurus administrasi pendaftaran di universitas yang dipilih.
       
      Skenario 2
      Tipe skenario ini memang membutuhkan budget yang agak ekstra. Jika kira-kira merasa susah untuk menembus ujian masuk S1 dan tidak punya penelitian tertentu untuk masuk ke tahap S2 (apalagi S3), bisa mendaftar untuk mengikuti sekolah bahasa Jepang (nihonggo gakkou). Bukan sekolah di Indonesia, tapi sekolah bahasa Jepang yang ada di Jepang. Setelah lulus, baru lanjut mencari sekolah lain yang setara dengan jenjang S1 (jika berniat mencari kerja di Jepang).
       
      Skenario 3
      Sudah tahu kan jika dosen seringkali mendapat kesempatan untuk kuliah ke luar negeri? Biasanya, jalur yang di tempuh adalah jalur beasiswa maupun jalur ikatan dinas. Jadi jika memang berniat untuk kuliah S2 maupun S3 ke luar negeri (dalam hal ini Jepang), kenapa nggak mencoba dengan jadi dosen terlebih dulu? Atau bisa juga dengan mencari pekerjaan di kantor yang menawarkan kesempatan untuk kuliah ke luar negeri (biasanya dengan sistem ikatan dinas).
       
      Skenario 4
      Melalui jalur pertukaran pelajar. Dulu saudara sepupu pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang selama 1 tahun. Walau waktunya terbatas, tapi lumayan lah bagi yang ingin merasakan suasana belajar ala Jepang. Bagi yang tertarik mengikuti program pertukaran pelajar, salah satu link yang bisa dicoba bisa klik disini.
       
      Itu baru beberapa alur yang bisa dicoba untuk bersekolah di Jepang. Untuk tips dan trik dalam memilih tempat kuliah, akan saya ulas dalam bahasan selanjutnya.
       
      Semoga bermanfaat.
      ***
      Baca seluruh seri tentang sekolah ke Jepang:
      Belajar ke Jepang? Ini Alasan yang Harus Dipertimbangkan
      Beberapa Skenario untuk Sekolah ke Jepang
      Kuliah ke Jepang? Ini Tips dan Trik-nya
      Mau Dapat Beasiswa ke Jepang? Begini Caranya.
    • By Cayadi Budidarma
      Hi...ini sekilas perjalanan saya dan keluarga selama 13 hari di Jepang. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang akan berkunjung ke sana .
      Bagi saya ini perjalanan kedua ke Jepang sejak 2016 lalu. Semua perjalanan saya , saya beranikan diri untuk backpacker bersama keluarga dengan bantuan info-info dari googling dan terutama forum di jalan2.com ini. Jadi saya merasa ada kewajiban khusus untukk share pengalaman saya backpacker bersama keluarga di forum ini untuk membantu teman-teman lain juga untuk memberanikan diri melalukan perjalanan tanpa tour/travel ke Jepang. Semoga bermanfaat !
      Persiapan
      Tentunya hal pertama yang saya lakukan adalah hunting tiket pesawat . Setelah berminggu-minggu terus buka web airlines, dan pergi ke berbagai macam travel fair. Akhirnya saya membeli tiket pesawat di TRAVEL juga ...hahaha. Saat itu ada travel fair yang berlangsung di JCC , namun karena saya enggan untuk kesana antri dari subuh2 ( menurut cerita kebanyakan orang ) untuk dapat tiket promo , so saya mencoba telpon salah satu travel di Jakarta , dan ternyata jawabannya " Promo di sana berlaku juga kok di kantor kami Pak ! What....????!! kabar gembira pertama datang ! Namun saya masih ragu karena harga tiket masih diluar budget Hari itu juga setelah makan siang di kantor , masuklah sms dari salah satu CC mengenai promo cash back untuk travel fair JCC yang sedang berlangsung ......what ??? Ini pertanda nih dalam hati saya hahahaha...saya berpikir , "Ok..jika cash back ini berlaku juga di kantor travel tsb , akan saya selon aja beli . Lalu saya langsung telpon lagi ke travel tsb , dan ternyata jawabannya " Ya Pak..berlaku juga kok promo CC itu ...".....Kabar gembira kedua Tanpa pikir panjang langsung saya book , dan sore itu juga saya tebus tiketnya ke kantor travel tsb yang tak jauh dari kantor saya. Akhirnya saya dapatkan tiket GARUDA INDONESIA , airlines kebanggaan Indonesia di tangan , dan dengan hati yang gembira saya kabarkan berita baik ini ke keluarga saya ..HEHEHE. Dalam pikiran saya untung juga saya tidak pergi ke travel fair , sudah jauh tempatnya , antri dari subuh, dan juga bayar lagi masuknya , nah ini tanpa antri dan mudah bisa mendapatkan promo yang sama di kantor travel tersebut . Ini menjadi pengalaman bagi saya dan saya juga bagikan ke teman-teman untuk selalu mengecek promo yang berlaku di kantor travel yang berpartisipasi di fair tersebut . 
      BTW, tiket sudah saya dapatkan kira-kira 8 bulan sebelum hari H tanggal 4 Juni 2018. Dalam rentang waktu tersebut , saya mengurus VISA JAPAN , booking hotel-hotel di AGODA dan membaca-baca google serta forum ini untuk tempat wisata di sana yang bagus-bagus serta menyusun itinerary kami . Awalnya Alpine route tidak ada di itinerary kami. Cuma Tokyo - Osaka- Kyoto - Tokyo. Namun dengan semangat membaca pengalaman2 teman-teman dan hasil googling japan-guide , serta tripadvisor , selang beberapa bulan sebelum hari H , saya menemukan Tateyama Kurobe Alpine Route yang menurut saya sangat amazing ( hanya satu-satu nya snow wall di dunia ..katanya loh ; )
      Langsung saya obrak abrik itinerary kami , saya bertekad wajib untuk ke sana ! Dan mencari tahu bagaimana, berapa harga tiketnya dan sebagainya ), bahkan saya harus meng cancel beberapa malam hotel di agoda untuk mengganti hotel baru di TOYAMA demi ke Alpine route ini.
      Singkat kata jadi lah itinerary saya seperti di judul saya di atas . Sisa beberapa bulan saya terus menggali info dan menyusun rincian ititenary yang lebih akurat , serta membeli online berbagai macam tiket yang bias dibeli secara online seperti Universal Studios beserta Express Pass 7 nya , Tiket Disneyland , dan tentunya JR PASS 14 days. Untuk tiket Alpine route , saya email ke CS pengelola web Tateyama Kurobe Alpine Route dan mereka jawab tanggal itu tidak begitu ramai, dan saya tidak perlu booking , tinggal langsung saya beli di tiket-tiket counter yang sesuai web mereka. Lagipula tiket terusan (option ticket)  9000 YEN, dari TOYAMA - ALPINE ROUTE - TOYAMA , tidak ada bisa dibeli secara online.
      So , ya sudah....saya percaya dengan jawaban orang Jepang itu . Oh ya...perjalanan kali ini saya tidak sewa WIFI JEPANG , namun langsung beli paket roaming 1 BULAN 5GB , karena saya memakai TEL*****L.
      Internet wajib selama perjalanan di Jepang , karena kita butuh HYPERDIA dan GOODLE MAPS.
      Hari demi hari persiapan akhir , sampailah pada tanggal 4 JUNI .
       
      DAY 1 Penerbangan JAKARTA - HANEDA
      Tak banyak cerita menarik di sini , karena berangkat dari Jakarta jam 23:40 dan tiba di Haneda pagi sekitar jam 7.
      Hanya sebelum itu memang tersiar kabar santer bahwa pilot GARUDA akan melakukan demo mogok kerja . Haizzz ini yang bikin deg-deg an hari-hari sebelumnya. Yah..semoga mereka bisa menyelesaikan permasalahan mereka tanpa mogok kerja deh ya.. karena ini menyangkut nama baik perusahaan dan Negara kita juga . Kalau mereka mogok , maka mereka pilot sendiri yang rugi kan kalau semua sudah tidak percaya GARUDA INDONESIA lagi. Loh..jadi curcol
      Anyway , pelayanan GA sangat baik di pesawat , pesawat juga bagus , dan flight ON TIME Maju terus Garuda Indonesia !
       
      DAY 2 TOKYO
      Sesampainya di HANEDA AIRPORT , kami langsung menukarkan JR PASS kami di bandara ( Kantor JR EAST HANEDA ) , serta tak lupa membeli tiket OPTION ( terusan ) Tateyama Kurobe Alpine Route seharga Y9000 untuk dewasa , dana anak2  Y4500. Tak lupa juga untuk melengkapi perjalanan kami , saya juga membeli PASMO CARD untuk saya beserta istri serta kedua anak saya . PASMO CARD mungkin sudah banyak yang tahu , jadi saya tak uraikan lebih lanjut.
      Namun JR pass dan PASMO ini menurut saya sudah cukup untuk melakukan perjalanan seantero JAPAN , tidak usah membeli kartu2 pass yang lain yang banyak macamnya di berbagai kota di JAPAN.
      Dengan bermodal JR PASS, kami dapat naik TOKYO MONORAIL menuju HAMAMATSUCHO secara free, dan lanjut dari sana memakai JR line menuju AKIHABARA dan sambung lagi ke daerah KAMEIDO dimana hotel kami berada. ( MY STAYS KAMEIDO )
      Dari Kameido Station ke hotel tersebut sekitar 15 menit jalan kaki , agak jauh memang buat geret2 koper sambal pakai backpack 60 liter hahhaha...namun semua perjalanan dari Haneda menuju Kameido station free dicover JR PASS. Itu kelebihannya bagi yang bisa memanfaatkan jalur JR.
      Tentunya kami tidak bisa check in , karena jam check in jam 15, so kami titip semua bagasi kami ke front desk , dan langsung menuju ROPONGGI dan malamnya ke daerah GINZA.
      2 Tahun lalu kami sudah menjelajah hampir semua TOKYO district dan FUJI HAKONE , jadi kali ini Tokyo tidak banyak yang kami rencanakan untuk kunjungi .Hanya ROPONGGI dan GINZA ini yang kami belum pernah , jadi kami memutuskan ke sana.
      ROPONGGI HILLS tak banyak yang menarik sih menurut saya , hanya untuk shopping dan melihat LABA-LABA besar di Roponggi Hills dan stasiun TV ASAHI .
      Sesudah dari GINZA, kami juga sempat pergi dan masuk ke salah satu bagian taman dari Tokyo Imperial Palace untuk sekedar menikmati dan menghabiskan waktu sore, yang mana ternyata sangat luas dan melelahkan karena ternyata kami tidak bisa melihat Imperial Palace nya sama sekali dari taman tersebut , ( kemungkinan saya salah masuk bagian dari salah satu taman istana kali ya .....) 



       





      Lelah mengitari taman, kami pulang ke hotel .
       
      DAY 2  TOKYO - TOYAMA 
      Malam sebelumnya , saya sudah reservasi ticket shinkansen TOKYO - TOYAMA , tentunya memakai JR PASS, untuk kereta sekitar jam 9 an. Namun hari kedua ini berhubung masih semangat ternyata saya dan keluarga bangun pagi sekitar jam 6 . Karena memang sengaja tidak pesan breakfast di hotel , biar cepat dan langsung kami check out sekitar jam 7 an dan membeli sarapan di luar . Sesampainya di Tokyo station , berhubung jam keberangkatan masih lama , maka saya masuk lagi ke kantor ticket shinkansen dan memajukan jam keberangkatan kami , dan ternyata memang diperbolehkan . Jadi kami berangkat ke TOYAMA lebih pagi 1 jam an. 
      Untung bagi kami , karena bisa sampai TOYAMA lebih pagi, daripada menunggu di stasiun kereta TOKYO
      Sesampainya di TOYAMA , seperti biasa kami mencari lokasi hotel kami ( APA VILLA HOTEL TOYAMA ) melalui googlemaps, dan ternyata cuma perlu 5 menit jalan dari Toyama Station. Titip koper lagi di front desk , dan langsung mencari maps kota TOYAMA dan kami langsung jalan kaki untuk explore kota TOYAMA tersebut .
      Tempat yang kami kunjungi pertama adalah TOYAMA castle dimana kami bisa masuk melihat2 ke dalam castle dan naik ke puncak castle nya . Castle ini sudah dijadikan museum dan tentunya untuk masuk harus membeli tiket.  Cukup menarik di dalamnya walaupun kecil . Pulang dari sana kami berjalan kaki melewati beberapa shrines ( kuil ) kecil sepanjang perjalanan.
      Sebenarnya kami rencanakan untuk sewa sepeda dimana banyak tempat penyewaan sepeda di TOYAMA . Selagi bingung melihat2 mesin nya dan cara menyewa sepeda , tiba2 ada seorang bapak2 ramah berkata dalam Bahasa Inggris ke saya , singkatnya " Sepertinya kamu butuh suatu kartu untuk dapat meminjam sepeda yang terparkir ini , memang kelihatannya sederhana tapi system nya yang agak sulit untuk penyewaan sepeda di TOYAMA ini " . Ternyata Bapak ini obrol punya obrol juga penduduk TOYAMA dan dia juga tidak tahu bagaimana system sewa sepeda nya untuk turis ....HAHAHA...tapi minimal bapak ini sudah ramah sekali mencoba membantu saya yang sedang mencoba pakai kartu pasmo untuk membuka kunci sepeda . WKKWKWK.....Akhirnya saya menyerah dan selama di TOYAMA menggunakan kedua kaki untuk menjelajah . 
      Makan malam kami masuk ke dalam suatu plaza , dimana beruntungnya sedang ada seorang "MAIKO" ( entah benar MAIKO atau GEIHA istilahnya ) ramah yang mau kami ajak berfoto .  
      Sesudah itu kami langsung pulang karena mau mempersiapkan fisik untuk besok kami menjelajah KUROBE ALPINE route yang mana merupakan tujuan utama kami ke JEPANG ini.




       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
      DAY 3   TOYAMA - TATEYAMA KUROBE ALPINE ROUTE - NAGANO - TOYAMA
       
      Bangun pagi dengan semangat 2018, sekitar jam 5.30 , karena ini lah tujuan utama travelling kami kali ini. Untuk keberangkatan pertama dari station DENTETSU TOYAMA ( letaknya pas disebelah nya station TOYAMA , yang merupakan station pemberhentian shinkansen dari tokyo station) kalau saya tidak salah ingat sejak jam 6 pagi sudah ada . Namun setelah berberes , bangunin anak-anak yang agak susah  dan beli sarapan seadanya dulu di LAWSON dan sejenisnya yang banyak berterbaran di pelosok Jepang , maka kami sampai di station Dentetsu Toyama sekitar jam 6.30. Kami tukarkan voucher Tateyama Kurobe Options yang dibeli di kantor JR EAST HANEDA dengan tiket aslinya , dan langsung kami disuruh antri untuk naik kereta dari DENTETSU TOYAMA menuju TATEYAMA station menggunakan kereta CHIHO RAILWAYS. Tepat jam 7 pagi , kereta berangkat.
      BTW, saya anjurkan sepagi mungkin kalian berangkat dari DENTETSU TOYAMA , karena Alpine route ini really amazing dan seharian pun kita akan merasa kurang waktunya. Di akhir FR cerita ini , kalian akan tau kenapa saya bilang 1 harian pun akan kurang  ...Oh ya sehari sebelumnya juga saya sudah reservasi tiket shinkansen dari NAGANO kembali menuju TOYAMA sekitar jam 1800.
      Berikut jalur TATEYAMA KUROBE ALPINE ROUTE ( untuk lebih jelas nya kita dapat mengakses web resmi dari Alpine route ini, karena banyak alternatif yang sesuai waktu dan itinerary kita ) https://www.alpen-route.com/en/
       Namun saya mengambil jalur sesuai tiket option route 9000 YEN adults ini, yaitu dari TOYAMA - ALPINE ROUTE - NAGANO . Bisa juga tiket ini digunakan terbalik jalurnya NAGANO _ ALPINE ROUTE - TOYAMA. Namun karena sesudahnya saya ingin ke KYOTO , maka saya pilih base di TOYAMA.
      MOhon diperhatikan tiket ini hanya one way , jadi tidak bisa kembali melalui jalur yang sama menuju tempat asal. Ada juga pilihan round way TOYAMA - MURODO - KUROBEDAIRA ( KUROBE DAM ) - TOYAMA. Semua bisa kalian lihat di web resminya. Namun saya sih anjurkan ambil yang one way dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri , lalu kembali menggunakan shinkansen untuk balik ke TOYAMA atau NAGANO.

      Berikut pemandangan selama perjalanan dari dentetsu toyama ke tateyama, menggunakan TOYAMA CHIHO RAILWAY. Banyak anak-anak sekolah juga yang sedang berangkat ke sekolah saat itu yang jadi pemandangan yang menarik . Ternyata sekolah di Jepang masuknya agak siang ya..mungkin sekitar jam 8 atau 830 , karena mereka masih terlihat santai sekitar jam 730 an. Saya juga merasa masuk sekolah di Indonesia rasanya terlalu pagi jam 650 , sehingga banyak anak-anak masih mengantuk di  jam pertama pelajaran sehingga tidak efektif . IMHO .


       
       

       
      Sepanjang perjalanan disuguhi view semacam ini ...oh indahnya hidup . Mungkin bagi anak-anak sekolah di sana naik kereta dengan pemandangan seperti ini sudah biasa dan melihat saya norak berfoto-foto ...hahhaha. Namun beruntung mereka memiliki kota/ kampung halaman seindah dan sesegar udara di sini. Setelah melewati beberapa station kecil yang sudah tampak tua( tidak seperti station-station yang kita lihat selama perjalanan shinkansen maupun di tokyo ), 1 jam tepat ( di Jepang semua serba on time pas-pas-pas waktunya ) maka kami sampai di TATEYAMA station .
       
      TATEYAMA STATION - BIJODAIRA( menggunakan TATEYAMA CABLE CAR )===> mohon maaf banyak picture saya ga bisa berhasil UPLOAD ( UPLOAD FAILED ) jadi mungkin ada gambar yang penting untuk menggambarkan arah namun tidak bisa diupload , entah kenapa ...maklum agak GAPTEK nih saya...

       
      Cable car ini juga memasuki terowongan, dan lama perjalanan 7 menit kami sampai di BIJODAIRA station . Dari station sana sebenarnya saya baca di maps kita bisa menelusuri pohon pinus , dulu sebelum menuju MIDAGAHARA. Namun saya tanya ke petugas dimana track ke hutan pinus , beliau menjawab tutup dengan menyilangkan tangan di depan dada nya, dan berkata sedang tidak aman track ke hutan pinus. Saya sih percaya dengan tingkat keamanan di Jepang. Apa yang mereka bilang tidak aman pasti tidak aman , kita jangan nekat wkwkkwkw. 
      Dari station Bijodaira ada 2 jalur antrian ....jangan sampai salah ! Saya hampir mengantri di antrian yang langsung ke MURODO !!! Haizzz karena mengikuti gerombolan orang terbanyak  dan ternyata mereka gerombolan tour dari HONGKONG jadi mungkin mereka terkejar waktu jadi langsung ke MURODO. Untungnya saya berbekal map di atas , jadi tahu tujuan selanjutnya jadi langsung pindah antrian yang paling kiri ( kalau ga salah tulisannya STOP OVER )...nah ini yang transit dulu di MIDAGAHARA. Beruntungnya saya sadar kesalahan fatal ini, karena jika saya langsung ke MURODO , saya tidak diperbolehkan balik lagi ke MIDAGAHARA . Setelah liat-liat toko souvenir sebentar , kami disuruh masuk ke BUS TATEYAMA HIGHLAND BUS menuju MIDAGAHARA. 

       
       
       
       
      BUS dari BIJODAIRA ke MIDAGAHARA hanya beberapa orang saja didalamnya, serasa bus privat ( paling 10 orang hehhehe), jadi kami bebas memilih seat yang paling nyaman dan bagus untuk melihat pemandangan . Kemungkinan karena kami pergi ke sana bukan saat weekend dan high season , jadi selama perjalanan Alpine route ini kami sangat puas dan nyaman karena tidak banyak orang ... NAMUN ada kekurangannya juga tidak banyak orang ini....cerita agak membuat ciut hati menyusul hehhehe.
      Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau dan puncak gunung yang ada es nya ..benar-benar seperti di ALPINE SWISS ;). Bus pakai penjelasan dari TV memakai bahasa inggris juga , dan berhenti di beberapa titik yang dianggap bagus, seperti air terjun dan 1 pohon yang dianggap penting ( saya lupa namanya ) . Perjalanan sekitar 30 menit tak terasa karena disuguhi pemandangan sebagus ini . Tibalah kami di MIDAGAHARA 1930m. Turun dari bus.......lebih AMAZING lagi view nya...dan lagi kami bisa bersentuhan langsung dengan salju yang banyak , dan bisa menginjakan kaki di atas salju dan bermain-main . VIEW nya TOP ! Di sana ada 1 station kecil dengan petugas yang menanyakan jam berapa kami mau berangkat ke MURODO , dan kami bilang 1 jam lagi ..lalu di catat oleh petugas tersebut. 1 JAM puas kami bermain salju dan foto-foto , karena memang lokasi tidak begitu luas untuk di explor karena ada pembatas tali dimana kami tidak boleh over pass.
      Setelah 1 jam berangkatlah bus
      TATEYAMA HIGHLAND BUS kami langsung menuju MURODO ( entah kenapa tidak berhenti di TENGUDAIRA sesuai map ). Namun selama perjalanan menuju MURODO kami pikir sebelumnya akan sama view nya dengan sebelumnya, namun SALAH BESAR !!! Makin ke MURODO , es bertambah banyak , view makin indah ! Dan mulai tampak SNOW WALL pendek , dan semakin menuju murodo SNOW WALL bertambah tinggi ...AMAZING !!!
       
      MAAF KUOTA UPLOAD PICTURES NYA HABIS ...HHAHAHHAA...lanjut ke topic lanjutan di lapak yang lain ! ya.... SPOILER DIKIT...

       
       
      IMG_4498.AAE



    • By anna22
       
      Beberapa minggu pulang dari Korea sekitar akhir November 2017, gw diultimatum sama ortu untuk tidak ke Jepang atau Korsel lagi. Lebih baik umroh atau ke negara lain. Padahal gw masih penasaran dengan musim semi di Jepang. Ya udahlah gw coba melancarkan taktik dengan mengajak ortu gw untuk jalan2 ke Jepang di musim semi 2018. Kebetulan gw agak lowong di akhir bulan April, begitu pula dengan Ibu yg sudah santai dengan pekerjaannya. Nemulah harga tiket JAL pp jakarta-narita Tokyo 5,3 jt. Menurut gw sih udah lumayan harganya, full service airlines sekaligus direct flight. Cuman memang jam keberangkatannya hanya dapat yang pagi. Ya udahlah yaaa....
      Di bulan Desember tiket pun terbeli. Setelah itu sambil menunggu urus visa (krn masih pake paspor biasa), gw pun mulai membuat itinerary dan setelah fix lanjut mencicil pesan penginapan. 
      Ortu gw bilang perjalanan ke Jepang ini inginnya sekali aja jadi gw puter otak gimana caranya bisa mendatangi tempat2 yang ok di jepang pada waktu yang tepat pula. Kebanyakan tempat2 yang didatangi berupa taman bunga dan tidak ketinggalan tentunya Tateyama Kurobe Alpine Route. 
      Oleh karena itu, pemilihan tanggal 18-27 April ini banyak dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya rute Tateyama sudah dibuka, ada festival sakura besar di Hirosaki (pengen banget kesini dari dulu), taman bunga ashikaga dan hitachi seaside juga sedang mekar, dan belum dimulainya golden week. 
      Hmmm panjang yaaa cerita awal mulanya, boleh diskip kok hehe langsung baca yg di bawah ini saja ya ^^
      18 April
      Flight jam 6.15 pagi dari Soetta Terminal 2D. Sampai di Narita jam 4 sore. Cek Imigrasi aman dan lancar tanpa tanya jawab. Setelah itu, sambil ortu istirahat, solat dan bersih2, gw ngurus sim card khusus paket data internet yang sudah dipesan melalui Klook (8 hari 4G/3 GB = Rp. 280.000). Lanjut ke JR office untuk tuker voucher JR pass walaupun baru akan aktivasi di tanggal 20. (Voucher JR pass udah dibeli di Indonesia pesan di Bobobobo). Sekalian juga beli Tateyama Kurobe Alpine Ticket seharga 9000 yen. Setelah itu beli pasmo(seperti e-money utk naik kereta, bis, beli sesuatu di vending machine, bayar di minimart, atau bayar loker)buat ortu dan isi ulang pasmo gw yg lama. 
      Setelah urusan ini itu beres, sebelum ke Shinjuku Express Bus Terminal, kami makan terlebih dahulu di Tentei Tempura dan Soba (halal certified) di lantai 4 terminal 2. Setelah perut terisi, kami ke lantai bawah untuk naik kereta menuju Shinjuku. Sebenarnya banyak pilihan kereta, tapi gw milih yang murah walaupun lama toh gak ngejar waktu juga sih hehe
      Sekitar jam 8.30 malam, sampailah di Shinjuku setelah transfer dr Nippori. Tadinya pengen mampir ke Tokyo Metropolitan Government Building, tapi ortu masih jetlag kayaknya jadi lgsg aja menunggu di terminal. Nah gw kan gak betah ya anaknya, jadi pas ngelihat ada Don Quijito, setelah memastikan waktu dan tempat naik sleeper bus ke Osaka nanti, gw pun minta izin untuk jalan2 sebentar. Bapak gw akhirnya ikut. 
      Oiya kenapa kami lgsg ke Osaka, dan menggunakan bus malam??? Selain efektif dan efisien yaitu, juga memberikan pengalaman sleeper bus ke ortu. Ternyata mereka senang karena baru pertama kali naik bis seperti itu. 
      Tepat jam 23.30, bus pun datang yang ternyata gak penuh2 amat. Setiap 2 jam sekali, bus pasti akan berhenti di rest area sekitar 20 menit untuk mempersilahkan penumpang ke toilet.
      19 April

      Tepat jam 7 pagi, sampailah kami di Willer terminal Umeda Sky Building. Setelah cuci muka dan ke toilet, kami lanjut ke penginapan untuk titip koper. Dari Umeda Sky Building, jalan kaki ke Osaka Station. Disana saya sempat ke information center untuk membeli Osaka Amazing Pass 1 day yang akan digunakan seharian ini (2500 yen) baik untuk tiket masuk lokasi wisata maupun osaka subway.
      Pilihan penginapan adalah Osaka Guesthouse Nest (selain dekat JR station =teradacho st, ada pilihan kamar untuk 3-4 orang, harga sesuai kantong juga ).
      Setelah titip koper, kami lanjut ke Osaka Castle. Sebelum naik ke atas Castle, kami makan bekal dulu di tempat duduk yg ada di halaman depan castle. Harga tiket masuk sudah tercover OAP juga ya...

      Perjalanan dilanjutkan ke Osakako Station  untuk menuju Tempozan Giant Ferris Wheel dan Santa Maria Cruise. Ini juga sama tercover OAP. 


      Menjelang sore, kami memutuskan ke Matsuri Halal Restaurant. Sebenarnya ingin ke tempat lain, tapi terlalu jauh sedangkan kami sudah lapar. Kalau menurut kami sih rasa dan harga kurang sepadan. Rasanya biasa saja kalau dibandingkan makanan halal di resto lain yaa tapi balik lagi tergantung selera loh

      Malamnya kami ke daerah Sinsekai untuk ke Tsutenkaku Tower. Sama ini juga tercover OAP. Tadinya mau lanjut ke Namba Dotonburi tapi ortu udah ga sanggup dan mengingat juga besok akan ke Kyoto pagi2 jadilah akhirnya kami pulang ke penginapan dan istirahat.


      20 April 
      Jam 7 pagi setelah sarapan perbekalan di penginapan, kami menuju Kyoto. Hari ini JR pass sudah mulai diaktifkan. Tujuan pertama di Kyoto adalah Bamboo Forest Arashiyama. Disini kami berhenti di Jr saga arashiyama st krn pakai kereta Jr. Sekitar jam 9 sudah sampai dan kebetulan belum terlalu ramai. 1,5 jam kemudian saat kami akan kembali ke station, tiba2 makin banyak orang dan terutama anak2 sekolah ternyata banyak yang sedang study tour. 

      Di Kyoto ada penyesalan saya yaitu membeli 1 day Kyoto Bus Pass karena kami tidak memaksimalkan penggunaannya. Apalagi harganya sudah naik yaitu 600 yen huhu. Kami hanya memakai sekitar 460 yen aja. 

      Perjalanan dilanjutkan ke Kinkakuji (kuil emas). Ini juga tempatnya ramai dikunjungi orang. Dan cuaca sangat bersahabat bahkan cenderung panas terik. Inginnya minum terus.

      Mengingat belum makan siang, gw pun mencari resto halal terdekat dan nemu Ayam-Ya yang dekat Karasuma. Ini sebuah keputusan tepat, selain enak harganya juga bersahabat dan yang serve itu 2 perempuan Indonesia jadi nyaman untuk nanya2 menu (berhubung ortu gw suka agak bingung milih menu makan). Kalau kesini kayaknya harus coba spicy miso ramen (ada 3 level dan ayamnya banyak). Ada tempat solatnya pula. 

      Setelah kenyang, kami menuju Fushimi Inari Shrine dengan menggunakan kereta JR juga.
      Untuk masuk kesini gratis dan kalau sanggup bisa sampai ke atas. Tapiiii ya kami ga sanggup jadi hanya foto2 di dekat gerbang torii saja. Udah cukup puas lah. Sama disini juga ramai dengan turis. 


      Tadinya gw merencanakan ke Nishiki Market dan Gion. Tapi ortu sudah tidak sanggup dan lelah. Pada akhirnya gw putuskan kembali ke Osaka dengan mampir ke Dotonburi sebelum pulang ke penginapan. 

      21 April

      Pagi sekitar jam 7, kami check out karena harus pindah kota, yaitu ke Kanazawa. Tercover dengan JR pass naik Thunderbird sekitar 3 jam. Sesampainya di Kanazawa kira2 jam 12an, kami check in di Good Neighbors Hostel yang hanya sekitar 5-7 menit jalan kali dari JR kanazawa station. Selain dekat, disini juga ada kamar khusus ber-3 dengan shared bathroom dan toilet. Ternyata bisa lgsg check in. Setelah istirahat sebentar, jam 1 an, kami pergi ke Kenrokuen Garden. Oiya sebenarnya saya sempat merencanakan ke Shirakawa Go, tapi tampaknya akan sangat melelahkan apalagi besok kami akan berpergian seharian jadi harus menghemat tenaga. Ya sudah akhirnya jalan2 di sekitar Kanazawa dengan 1 day city bus pass (500 yen). 

      Kira2 2 jam kami berkeliling di dalam Kenrokuen Garden ini (tiket masuk 300 yen). Dan masih ada bunga sakura tipe Kikuzakura. Lumayaaan..disini sempet nyoba eskrim berlapis emas karena tahun lalu penasaran hehe mumpung ada yang bantuin ngabisin beli deh walaupun muahaaal hiks 

      Perjalanan lanjut ke Omicho Market. Makan siangnya Seafood dan Vegetable Tempura. Pulangnya beli strawberry yang segar dan manis. 
      Nah ortu udah nyerah nih dan pengen pulang aja istirahat sedangkan gw pengen banget ke 21st Contemporary art Museum (karena tahun lalu mau kesini tapi tutup). Ya udah akhirnya gw jalan sendiri. Tapi gw cuman lihat exhibition yang di luar aja termasuk kolam renang yg terkenal itu karena gratis (haha). Tadinya mau lanjut ke daerah Chaya District (samurai district) tapi entah kenapa rasanya cape banget dan super ngantuk, sehingga gw memutuskan pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. 

      Kami pun tidur cepat karena besok pagi sekali harus berangkat. 
      22 April 

      Bertepatan dengan hari Minggu, jam 6 pagi kami sudah keluar penginapan. Oiya tiket kereta cepat ke Toyama sudah reserve seat sehari sebelumnya. Lamanya hanya sekitar 25 menit. Kenapa ke Toyama? Karena ini adalah salah satu titik awal perjalanan Tateyama Kurobe Alpine Route. Kalau ga dari Toyama ya sebaliknya Nagano.
      Dari stasiun Toyama, kami menuju ke Dentetsu Toyama station yang hanya berjalan kaki ke gedung sebelah. Dari sini, tiket pass yang sudah dibeli sebelumnya diaktifkan (jadi nanti sampai Nagano station ga usah bayar apa2 lagi). Disini kami menukarkan voucher dan mendapatkan 1 pass yang tidak boleh hilang karena harus selalu ditunjukkan sebelum menaiki transportasi tertentu. 
      Ga usah bingung ketika disini ya karena mmg lagi dibuka rutenya jadi segala petunjuk jelas begitu pula dengan petugasnya helpful banget. Jadi gak akan mungkin kesasar heee
      Berikut gw kasih gambaran perjalanan ya ya: 
      Dentetsu Toyama-Tateyama (naik kereta lokal sekitar 1 jam, sebaiknya sih dapet duduk ya karena lumayan juga lama) 
      Tateyama-Bijodaira (Tateyama Cable Car). Gak lama sih ini. 
      Bijodaira-Murodo atau snow wall (Highland Bus) jadi di perjalanannya itu makin lama makin naik dan berkelak kelok, kanan kiri itu hutan dengan tumpukan salju. Lamanya naik bus ada 15 menit. Jujur gw agak mabok sih hahaha karena berkelok2nya agak esktrem dan busnya pelan.

      Begitu sampai di Murodo, kami berjalan kaki di sepanjang jalan dengan dinding salju yang saat itu paling tinggi 17 meter. Bisa juga jalan melalui jalanan berlapis salju (tapi karena gw masih trauma jatuh di tahun lalu, yg baca FR gw pada tau lah yaaa) gw pun memilih jalan di aspal heuheu.

      Di tempat perberhentian Murodo itu ada 3 lantai, ada restoran, waiting room, jual oleh2, dan di lantai 3 paling atas ada observation desk yang ternyata menuju bukit gitu, jadi bisa main2 salju disini nih. Orang2 yg mau snow boarding juga lewat sini. Daan saat gw mau foto dengan hamparan salju, gw berpegangan erat ke tangan Bapak saking takutnya jatoh

      Oiya jangan terlena main disini ya kawan, karena kita harus melanjutkan perjalanan. 

      Murodo-Daikanbo (Tateyama Tunnel Trolley Bus) ini menarik sih karena trolley bus ini melewati lorong yang panjang. Berhubung terminal Daikanbo ini kecil dan orangnya banyak, kami langsung ke Kurobedaira.
      Daikanbo-Kurobedaira (Tateyama Ropeway) ini kereta gantung cukup ngeri sih secara di bawahnya itu lembah/jurang.  Mana dipenuh2in gitu pas naik. Tapi untung tidak terlalu lama. Disini kami sempat ke observation deck untuk melihat pemandangan sekitar. 
      Kurobedaira-Kurobeko (Kurobe Cable car) nah dari sini jalan kaki melewati Kurobe Dam. Besar banget sih dan anginnya itu loh lumayan dingiin. Agak jalan kaki tapi diselingi foto2 juga. 


      Kurobe Dam - Ogizawa (Kanden Tunnel Trolley Bus) disini terminal untuk naik bus menuju Nagano. Karena masih termasuk pass, kami naik Alpico Express Bus ke Nagano JR station. Sekitar 1 jam perjalanan.
      Sampai di Nagano Station, kami kembali ke Kanazawa menggunakan shinkansen sekitar 1 jam perjalanan. 
      Fyi: Tateyama Kurobe Alpine ini cukup menguras tenaga. Ada tempat2 yang harus jalan dan menanjak. Bawa makanan atau cemilan karena restoran ramai. Untuk yang muslim bisa juga bawa bekal saja karena sulit mencari halal food disana.
      23 April

      Hari ini kami pindah kota lagi menuju Aomori. Aomori itu letaknya di utara Jepang dan termasuk Tohoku Region. Untuk ke Aomori, kami harus naik shinkansen, yaitu Kanazawa-Omiya. Omiya-Shin Aomori. Nah waktu transfer di Omiya ini mepet banget cuman 6 menit, mana ada drama salah platform lgi jadilah ketinggalan kereta. Akhirnya reserve seat lagi untuk keberangkatan kereta selanjutnya yaitu 1 jam kemudian. (Kalau jalan sama ortu, gw harus selalu reserve seat). Tapi jadinya duduk agak pisah2, ya sudahlah ga apa2 yg penting cepet nyampe. Total perjalanan sekitar 5 jam. 
      Jam 1an sampailah kami di Shin-Aomori. Berhubung kami menginap dekat Aomori Station, jadi kami naik kereta lokal sekitar 6 menit. Disini kami menginap 1 malam di Iroha Ryokan yang hanya sekitar 5 menit jalan kaki dr station. Berhubung Ryokan, ya ala2 penginapan khas Jepang yang beralaskan tatami. Meski kecil, Ryokan ini bersih dan cukup lengkap. Di dalam kamar sudah disediakan cemilan, teh, kopi,air panas,handuk, dan kimono untuk tidur. Overall, ortu gw seneng banget sih nginep disini hehehe karena berasa seperti di film2 Jepang, sayang cuman semalam. 
      Setelah check in dan solat, kami lgsg berangkat lagi menuju Hirosaki. Sebenarnya ada beberapa jenis kereta, salah satunya kereta dengan waktu tempuh cukup cepat yaitu 30 menit. Tapiii waktunya tidak pas sehingga kami naik kereta lokal sekitar 45 menit (Aomori-Hirosaki). 
      Sesampainya di Hirosaki st., mampir dulu ke Information Center untuk ambil peta Hirosaki Park. Berhubung sedang festival, ada bus lgsg menuju salah satu gate, harga tiketnya 100 yen. Perjalanan naik bus sekitar 10 menit.

      Begitu sampai di Hirosaki Park, kami piknik dulu makan siang eh sore deng tepatnya di taman yang telah disediakan. Lalu dilanjutkan dengan berkeliling taman yang luas termasuk ke Hirosaki Castle. Untuk masuk kawasan castle ada tiket masuk yaitu 300 yen. 




      Tempatnya luas banget sih dan saran saya lebih baik dateng kesini dari siang menuju malam karena ada light up illumination menjelang malam dan juga ada pasar malam. Yang saya lihat sih kebanyakan turis lokal seperti anak2 sekolah. Turis asingnya agak jarang. Kalaupun ada kebanyakan dari China dan Korea. 



      Akhirnya sekitar jam 7 malam, kami kembali ke penginapan. Seruuu, kalau disuruh ngulang kesana lagi pas musim semi, gw mau2 aja sih hahahaha
       
      24 April
      Seperti biasa kami check out pagi karena hari ini akan ke Tokyo, yaitu kota terakhir. Selama 3 malam 4 hari kami akan di Tokyo. Perjalanan ditempuh sekitar 4 jam. Oiya di Aomori ini terkenal dengan buah Apelnya. Untuk oleh2 bisa beli jus apel atau makanan olahan dari Apel. Jus apelnya enaaaak banget sampe Ibu saya beli beberapa botol kecil sebagai oleh2 hahahahaha
      Di Tokyo kami menginap dengan airbnb di daerah Ryogoku. Ini juga cukup nyaman dan ok tempatnya. Hostnya cepat tanggap. Berhubung akan sampai jam 1 sedangkan waktu check ini baru jam 3, tadinya niat titip koper tapi wa si host, ternyata boleh check in lebih awal..yeaay.
      Nah sebelum ke Ryogoku pasti transfer di Akihabara. Kebetulan ada Coco Curry Halal di dekat station ini. Yaa kami melipir dulu sekalian makan siang. Enaaaaknyaaa (sorry ya yg baca ini lagi puasa hehehe)

      Sorenya hanya gw dan Bapak yang jalan karena Ibu makin parah flu dan batuknya sehingga memutuskan istirahat aja di kamar. 
      Untuk menghabiskan waktu sore dan malam, gw ngajak Bapak ke Shibuya, Harajuku dan terakhir Odaiba. Oiya jalan sama ortu itu kudu sabar dan jangan bikin mereka kelaperan! 




      25 April
      Pas bangun pagi ini, seperti biasa gw cek accuweather dan ternyata hari itu akan hujan seharian. Agak bimbang sih pergi atau enggak ke Hitachi Seaside Park. Gw pun gambling dengan berpikir mungkin kalau udah agak siangan hujannya berhenti. Untuk kesini, naik kereta dari Ueno sekitar 1,5 jam berhenti di Katsuta Station. Lalu dilanjutkan naik bus sekitar 15 menit. Ternyata oh ternyata... selama disana masih hujan disertai angin. Mana gw ga pake jaket, jadi walaupun pake payung tetep basahlah baju, celana, sepatu. Mana ada acara pake kepisah pula dengan ortu 
      Jadi ceritanya untuk menuju miharashi hill yg terdapat hamparan bunga nemophila (baby blue eyes), ada 2 cara yaitu dengan cara berjalan kaki sekitar 15 menit atau naik shuttle bis tapi bayar 300 yen sekali jalan. Nah gw lebih milih jalan dengan alasan ingin lihat taman lainnya sedangkan ortu naik bus itu. Kami pun sepakat untuk bertemu di dekat toilet (sambil menunjukkan peta). 

      Ternyata halte shuttle bus itu beda dengan arah kedatangan gw dan ada 2 toilet. Jadilah gw mencari2 dan bahkan sempat balik lagi ke pintu masuk sambil menunggu. Akhirnya gw memutuskan naik shuttle bus karena kemungkinan mereka nunggu dekat situ. Eeeh bener aja pas gw nyampe, mereka lagi duduk sambil foto2. Sempet khawatir gmn kalau sampe hilang huaaaa Alhamdulillaaah
       
      Nah tadinya kan setelah dari Hitachi Seaside Park, kami akan ke Ashikaga Flower Park. Tapi karena basah dan kedinginan dan kayaknya sama aja bohong kalau cuacanya ga mendukung. Akhirnya kami memutuskan pulang. Tapi sebelumnya pas di Ueno kami menyempatkan ke Ameyoko Market untuk beli cemilan dan makan malam. Sekalian pengen nyoba juga halal kebab dan ayam panggang. Herannya pas di Ueno, cuaca cerah dong. Kzl.
       
      Pesan moral: percayalah pada perkiraan cuaca di Jepang. Kalau memang hujan besar jangan memaksakan diri untuk berkegiatan di luar karena jadinya percuma kurang menikmati.
      26 April
      Di dalam itinerary yg gw buat, harusnya hari ini ke Kawaguchiko, tapi setelah berunding, kami memutuskan ke Ashikaga Flower Park apalagi hari ini diperkirakan cuaca cerah. 
      Ini keputusan yang sangat tepat karena ortu gw seneng banget ke taman bunga ini. Gw juga sih secara udah pernah ke Kawaguchiko, kalau kesini kan belum hehehe. 
      Untuk kesini jg sama, gw naik kereta dari Ueno ke Oyama lalu dilanjutkan dengan JR Ryomo Line menuju Ashikaga Flower Park Station. Tinggal jalan kaki 3 menit deh. Agak jauh sih ini dari tokyo, total 2 jam lah. 
      Enaknya dari pagi kesini jadi belum terlalu ramai, tapi sebenarnya bisa juga sore menjelang malam karena ada light up illumination. Harga tiket masuknya bervariasi tergantung banyaknya bunga yang sedang mekar. Saat itu harga tiketnya 1000 yen/orang. 

      Sebenarnya tempat ini lumayan luas dan banyak arena untuk duduk2 santai sambil makan siang. Ada juga restoran tapi karena kurang tahu ada halal atau tidak, kami sih bawa bekal. Seru juga makan bekal dengan pemandangan bunga warna warni. Wangi pula. Saking wanginya banyak lebah, tapi tenang aja mereka gak menyengat kok asal kita gak ganggu.
      Bunga utama disini adalah Wisteria, ada warna putih, ungu, kuning, dan pink. Saat kami datang, yg sedang mekar adalah warna putih dan ungu. Ada 1 pohon wisteria yang paling tua dan besar loh. 

      Bagi pecinta bunga wajib sih kesini!!! Kebanyakan yang kesini orang tua, agak jarang lihat yang muda mudi hehehe. Jangan lupa mencicipi eskrim khas yg konon katanya terbuat dari bunga wisteria ungu. 

      Pulang dari sana, setelah mengantar Ibu ke apartemen, gw dan Bapak lgsg lanjut jalan lagi. Tujuannya sih belanja karena besok hari terakhir huhuhu. Sebelumnya sempat mampir ke Sensoji Temple dan Asakusa.
      27 April
      Ini hari terakhir kami di Jepang. Meski penerbangan masih jam 6 sore, kami memutuskan hanya ke Tokyo Camii sekalian Bapak solat jumat disana. Jadilah kami leyeh2 dan baru check out jam 10. Sebelum ke Tokyo Camii, kami ke Nippori station untuk titip koper karena nantinya kami naik kereta dari Nippori untuk ke Narita. 

      Kami sampai di Tokyo Camii jam 11an dan ternyata waktu solat jumat baru mulai jam 12.45. Dan saat solat jumat tidak ada tempat menunggu untuk wanita. Alhasil saya dan Ibu kembali lagi ke Yoyogi-Uehara St untuk menunggu sambil makan bekal. Agak mepet sih pulangnya karena gw milih naik kereta biasa untuk ke Narita. Untungnya kami sudah web check in sehingga tinggal print boarding pass (secara mandiri) dan setelah itu drop bagasi. Cumaaan pas di imigrasi antriii daaaan gate kami jauuuh sekali, jadi gak sempet tuh yg namanya last minute shopping di airport. Kagak sempet, baru duduk 1 menit udah lgsg dipanggil boarding hahahaha
       
      Apps berguna selama trip:
      -Japan Travel by Navitime. Selain menunjukkan waktu keberangkatan kereta dengan tepat, saat reserve seat shinkansen atau kereta express, bisa sambil menunjukkan ini ke petugas. Sayangnya harus ada konektivitas internet. Tapi kalau udah sebelumnya masuk ke pencarian akan tersimpan kok atau screenshoot aja.
      -Google Maps. Penting bagi yang suka nyasar dan pengen cari tempat tertentu. Akurat kok ini kalau di Jepang. 
      -google translate. Kalau mau nanya2 ke orang lokal. Atau menerjemahkan tulisan jepan.
      -Muslim Pro. Bagi yang muslim, untuk arah kiblat dan waktu solat. 
      -traveloka, booking.com, airbnb. Untuk pesan2 penginapan, tiket pesawat
      Website penting dan berguna:
      -www.japan-guide.com. Ini sih sumber no 1 bagi gw. 
      -www.halalmedia.jp. Untuk tahu resto halal dan tempat solat. 
      -forum jalan2. Ini juga penting karena banyak info keren dan menarik. 
      Note: foto2 disini diambil dengan kombinasi kamera hp dan kamera mirrorless
       


    • By vie asano

      Sudah jadi rahasia umum jika Jepang termasuk salah satu negara tujuan favorit untuk menimba ilmu. Setidaknya, saya termasuk salah satu yang (pernah) tertarik untuk mencari beasiswa untuk belajar ke negeri Sakura. Maksud pernah disini bukan berarti saya kini telah kehilangan selera dengan Jepang, tapi lebih dipengaruhi dari faktor U (alias usia) dan faktor B (alias buntut, a.k.a anak-anak). Please don't ask my age, masih muda kok (cuma agak jauh dikit dari usia remaja).
      Setelah sebelumnya menulis tentang cara mencari kerja di Jepang, berikut daftar persyaratan dan kenapa harus memilih untuk bekerja di Jepang, kali ini saya ingin menulis tentang sekolah di Jepang. Namun sekolah yang saya maksud disini bukanlah tentang jenjang maupun sistem pendidikan di Jepang (yang memang memiliki beberapa perbedaan dengan jenjang dan sistem pendidikan di Indonesia), melainkan tentang bagaimana cara menempuh pendidikan di Jepang. Mudah-mudahan bisa membantu teman-teman yang masih masih berstatus pelajar dan berencana untuk melanjutkan pendidikan ke Jepang untuk lebih memahami kenapa harus mempertimbangkan Jepang sebagai negara tujuan belajar? Apa keuntungan belajar di Jepang? Bagaimana cara untuk bisa menempuh pendidikan di Jepang? Dan ada nggak cara paling murah untuk bersekolah ke Jepang? Semua akan saya tulis dalam beberapa tulisan terpisah, mudah-mudahan yang baca sabar menunggu kelanjutan setiap sesi tulisan.
      Sebagai permulaan, adakah diantara yang baca tulisan ini yang berminat melanjutkan studi ke Jepang? Pernah terlintas nggak sih, kenapa memilih Jepang? Saya pernah mendapat pertanyaan seperti itu, dan (pada waktu itu) hanya bisa mengeluarkan jawaban spontan yang jauh dari alasan ilmiah: supaya lebih gampang kalau mau nonton konser band Jepang (pelajar yang baik, tolong jangan tiru ini ya!). Itu karena memang niat saya mencari berbagai informasi beasiswa dan study ke Jepang (waktu itu) sebatas untuk menyalurkan minat terhadap budaya Jepang. Nah, bagi yang masih bingung mencari alasan untuk belajar ke Jepang atau sedang mempertanyakan kenapa harus melanjutkan studi ke Jepang, saya coba merinci beberapa alasannya. Setidaknya ada 2 alasan utama kenapa seseorang memutuskan untuk bersekolah ke Jepang. Pertama, karena alasan akademis; dan kedua, karena alasan non-akademis.
       
      Untuk alasan akademis, kira-kira inilah fakta logisnya:
      1. Jepang memiliki lebih dari 700 universitas yang tersebar di berbagai penjuru Jepang. Tingkat presentase siswa SMU yang melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah mencapai 49%, yang berarti relatif tinggi; menandakan sistem pendidikan di Jepang terbilang baik.
      2. Jepang sudah sangat dikenal sebagai negara yang memiliki standar tinggi di bidang pendidikan, dan beberapa universitas di Jepang sudah di akui sebagai universitas terbaik di dunia. Menurut QS Asia University Rankings, 8 universitas dari Jepang masuk dalam urutan 20 besar. Detailnya adalah sebagai berikut: Universitas of Tokyo (peringkat 5), Osaka University (peringkat 7), Kyoto University (peringkat 8), Tohoku University (peringkat 9), Nagoya University (peringkat 10), Tokyo Institute of Teknology (peringkat 11), Kyushu University (peringkat 17), dan University of Tsukuba (peringkat 20). Itu untuk daftar tahun 2010 (note: pada tahun tersebut, wakil dari Indonesia, yaitu Universitas Indonesia, berada di peringkat 50). Pada tahun 2011, totalnya terdapat 33 universitas dari Jepang yang masuk ke dalam 100 besar Asian University Rankings.
      3. Jepang memiliki peraih penghargaan nobel terbanyak dibanding negara Asia lainnya, yang lagi-lagi membuktikan tingginya kualitas pendidikan di negeri ini.
      4. Belajar ke Jepang memberikan bonus lain, yaitu kesempatan belajar bahasa Jepang secara langsung. Dimana lagi tempat belajar bahasa Jepang yang terbaik selain langsung di negara tersebut? Di satu sisi, masalah bahasa juga bisa menjadi kendala tersendiri, apalagi jika sebelumnya sama sekali buta dengan bahasa Jepang. Terlebih bahasa Inggris belum digunakan secara luas oleh masyarakat Jepang.
      5. Jepang adalah negara yang memiliki kekayaan budaya, baik budaya tradisional mapun budaya pop. Ditambah dengan pengalaman sejarah yang telah dilalui (seperti melalui serangkaian perang dan usahanya untuk bangkit pasca perang), serta fakta bahwa Jepang kini menjadi salah satu negara yang berpengaruh dalam bidang teknologi dan ekonomi, menjadikan Jepang sebagai salah satu laboratorium pendidikan terbaik di dunia.
      6. Situasi pendidikan di Jepang relatif kondusif, dan rata-rata universitas telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap. Tak heran jika setiap tahunnya jumlah pelajar asing yang belajar di Jepang selalu meningkat.
      7. Terdapat beberapa jenis sekolah yang bisa dipilih dengan waktu pendidikan yang cukup bervariasi. Jika ada yang berminat mengetahui sistem pendidikan di Jepang, mudah-mudahan lain kali bisa saya ulas lebih rinci.
      8. Faktor lain yang menarik dari pendidikan di Jepang adalah biayanya yang relatif terjangkau. Setidaknya, ada banyak program bantuan beasiswa yang sangat membantu meringankan biaya pendidikan di Jepang (diberikan oleh pemerintah, perusahaan non-profit, maupun institusi lainnya). Alternatif lainnya, tersedia berbagai pekerjaan part-time yang bisa dimanfaatkan oleh pelajar yang ingin mencari tambahan uang saku maupun uang kuliah. Jadi intinya, selalu ada cara untuk mengatasi masalah biaya pendidikan di Jepang.
       
      Untuk alasan non-akademis, berikut beberapa alasan yang biasa diucapkan:
      1. Belajar ke Jepang bisa menjadi salah satu pintu untuk bekerja di Jepang. Kenapa harus bekerja di Jepang? Baca di tulisan sebelumnya ya.
      2. Belajar di Jepang berarti membuka kesempatan luas untuk bisa berinteraksi dengan budaya lokal dan masyarakat setempat; sesuatu yang tak bisa di dapat dengan berwisata selama beberapa hari saja.
      3. Kesempatan untuk melakukan travelling ke berbagai penjuru Jepang akan lebih luas karena tak perlu mengurus visa. Tentunya asal keuangan mencukupi ya.
      4. Dengan menjadi pelajar di Jepang, berarti akses yang lebih luas ke berbagai produk budaya pop Jepang. Mau cari anime original? CD musik artis Jepang? Dorama original? Pastinya akan lebih mudah jika berada di Jepang (terutama jika bersekolah di kota besar). Tapi fakta ini bisa jadi pedang bermata dua. Terlalu banyak akses ke berbagai akses budaya pop bisa mengganggu konsentrasi belajar.
      Itu baru alasan kenapa harus mempertimbangkan untuk bersekolah di Jepang. Jika ada yang mau menambahkan, monggo.. Bagi yang ingin tahu cara untuk bersekolah di Jepang, rencananya pada tulisan berikutnya saya ingin menulis tentang alur paling umum yang bisa dicoba. Semoga bermanfaat.
      ***
      Baca seluruh seri tentang sekolah ke Jepang:
      Belajar ke Jepang? Ini Alasan yang Harus Dipertimbangkan
      Beberapa Skenario untuk Sekolah ke Jepang
      Kuliah ke Jepang? Ini Tips dan Trik-nya
      Mau Dapat Beasiswa ke Jepang? Begini Caranya.
    • By vie asano

      Kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang tips berkemas untuk wisata keluarga.
      Tips berkemas secara umum, termasuk untuk orang tua
      - Berapa idealnya jumlah baju yang harus dibawa? Teorinya, siapkan 1 baju kasual/hari + 1 baju pergi/hari + 1 baju tidur/hari. Namun jika malas membawa banyak baju dan waktu pergi lebih dari 5 hari, bawalah baju untuk 2-3 hari saja. Resikonya, harus mau repot nyuci dan nyetrika di tengah waktu wisata. Saya pribadi sih lebih suka mengandalkan laundri kiloan yang bisa selesai dalam 1-2 hari. Cukup bayar sedikit, baju sudah bersih+wangi+rapi di setrika tanpa harus jadi Cinderella. Tips tambahan untuk poin ini: sebaiknya pilih baju yang berbahan cepat kering.
      - Untuk baju anak-anak, teori di atas belum tentu berlaku. Sebaiknya, perhatikan kebiasaan dari anak Anda karena tiap anak bisa berbeda-beda. Contohnya, anak sulung saya (usia hampir 5 tahun) dulu cukup sering masuk angin hingga muntah-muntah di waktu malam. Resikonya, saya harus bawa ekstra 1-2 potong baju tidur untuk cadangan (untuk baju harian tidak masalah). Saat usianya lebih dari 4 tahun, saya harus bawa ekstra celana (untuk jaga-jaga jika mengompol). Sedangkan si bungsu (4,5 bulan) termasuk jarang muntah di malam hari. Namun karena gampang berkeringat, baju harian dan baju perginya harus lebih banyak dari baju tidur.
      - Cek lagi itinerary wisata. Destinasi wisata menentukan item tambahan yang harus dibawa. Jika berencana pergi ke daerah pantai atau ada rencana berenang, jangan lupa menyiapkan perlengkapan seperti baju renang, sun block, topi pantai, maupun kaca mata hitam. Sebaliknya, jika pergi ke gunung, bawalah jaket dan selimut ekstra.
      - Pisahkan pakaian anak-anak dan pakaian orang tua agar lebih mudah diambil jika sewaktu-waktu harus ganti baju. Malas bawa banyak koper? Jika si kecil sudah berusia minimal sekolah dasar, tak masalah jika dia diminta untuk membawa tas punggungnya sendiri (bisa menggunakan tas sekolah).
      - Agar lebih hemat ruang, jelilah dalam menyusun barang dalam koper. Saya biasanya mengemas pakaian dalam bentuk gulungan kecil, dan biasanya ruang yang tersisa jauh lebih banyak dibanding menumpuk pakaian.
      - Sebaiknya, barang yang kira-kira akan sering digunakan (seperti peralatan elektronik, dompet, tisu, dan sebagainya) jangan ditempatkan dalam koper. Tempatkan dalam tas terpisah yang bisa ditenteng, sehingga mudah untuk diambil sewaktu-waktu.
      - Berencana untuk wisata selama beberapa hari ke kota lain, namun ada beberapa barang berukuran besar (seperti kereta dorong bayi) yang sulit dibawa di mobil atau kendaraan umum? Pertimbangkan untuk memaketkan barang-barang itu ke kota tujuan. Memang sih pasti ada ongkos ekstra yang harus dikeluarkan, tapi jauh lebih praktis dibanding membawa gunungan barang di atas mobil.
      - Ingat selalu bahwa keselamatan anak itu nomor 1. Jadi jika membawa balita bepergian, sebaiknya siapkan beberapa perlengkapan pengaman ekstra yang biasa ada di rumah, seperti penutup stop kontak dan pelindung ujung meja.
      Daftar perlengkapan P3K yang wajib dibawa jika wisata bersama anak-anak.
      - Plester. Ingat, anak-anak mudah terluka. Jadi sediakan selalu plester di tas yang terpisah dari koper.
      - Kompres instan dan obat demam untuk anak. Kita tak pernah tahu kapan bayi atau anak-anak akan terkena demam, kan?
      - Obat penahan rasa sakit.
      - Obat-obatan lain sesuai dengan gejala yang sering dialami, seperti obat maag, obat sakit kepala, dan sebagainya.
      Daftar perlengkapan elektronik yang wajib disiapkan
      - Jika tetap harus bekerja selama liburan, jangan lupa membawa laptop dan charger-nya.
      - Handphone dan charger-nya.
      - Stop kontak multi.
      - Hairdryer ukuran travel (jaga-jaga jika hotel tidak memiliki hairdryer).
      - Kipas angin mini. Jangan salah, ini penting lho jika akan berwisata ke daerah yang cukup panas. Minimal bermanfaat saat mengalami perjalanan outdoor, terutama karena bayi dan anak-anak biasanya gampang merasa kegerahan.
      - Jika perlu, bawa juga aneka permainan elektronik. Namun sebaiknya gunakan hanya saat keadaan darurat saja (seperti saat anak merasa ekstra bosan), karena esensi dari wisata keluarga kan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga (dan bukannya malah sibuk dengan mainan masing-masing).
      Daftar toiletries yang wajib disiapkan (untuk dewasa). Untuk bayi dan anak-anak, silahkan susun daftar dari artikel sebelumnya.
      - Perlengkapan mandi: sabun, shampo, sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci muka. Semuanya dalam ukuran travel. Saran saya, jika memang hobi bepergian, sebaiknya siapkan satu kantong khusus untuk peralatan mandi ukuran travel. Jadi nggak perlu repot mengemas alat mandi saat akan bepergian.
      - Perlengkapan make up, mulai dari bedak hingga parfum.
      - Perawatan badan, seperti body lotion (ukuran kecil). Jika berencana pergi ke pantai (atau minimal akan berenang di tempat wisata), bawa juga krim setelah berjemur.
      Last but not least
      - Aneka dokumen penting yang berhubungan dengan perjalanan, seperti passport (jika pergi ke luar negeri), kartu identitas, bukti booking hotel, tiket, kartu kredit, kartu ATM, peta daerah setempat.
      - Daftar alamat hotel (terutama jika menginap lebih di 1 tempat). Sebaiknya dicatat dalam buku catatan, dan lengkapi dengan petunjuk arah. Oya, jangan lupa juga membuat copy informasi nomor kontak Anda untuk diselipkan di baju anak-anak setiap kali akan bepergian, untuk berjaga-jaga seandainya anak terpisah dari orang tua.
      - Laundry bag. Kalau nggak punya, kantong kresek juga cukup. Biasanya saya menyiapkan 2 jenis kantong plastik: untuk baju kotor, dan untuk sampah selama menginap di tempat wisata (jika menginap bukan di hotel dan tidak tersedia tempat sampah). Untuk jumlahnya, tergantung dari durasi waktu pergi itu sendiri.
      ***
      Kira-kira itulah barang-barang yang harus dibawa saat akan berwisata bersama keluarga. Saya sengaja tidak menulis tentang tips berkemas untuk remaja, karena remaja (seharusnya) sudah bisa berkemas sendiri. Remaja juga lebih fleksibel mengenai tempat wisata dan sudah tahu bagaimana cara terbaik untuk menghindari kebosanan saat di perjalanan.
      Jika ada yang ingin menambahkan, monggo tinggalkan jejak di bagian komentar. Semoga infonya bermanfaat.
    • By vie asano

      Judulnya boleh bahasa Inggris. Tapi kalem, isinya tetap dalam bahasa Indonesia kok. Pemilihan judul di atas hanya supaya catchy aja karena ada rima antara tips dan trips. Nggak penting? Biarin. Yang penting kan isi tulisannya (ngeles.com).
      Jadi, pada tulisan sebelumnya saya sudah mengulas tentang aneka tips umum agar liburan bersama keluarga bisa berjalan seru. Setidaknya bisa meminimalisir munculnya berbagai hal yang membuat liburan seru menjadi suram. Untuk melengkapi tips tersebut, kali ini saya ingin berbagi tips untuk salah satu aspek penting dalam liburan, yaitu tips berkemas untuk liburan keluarga.
      Saya rasa, setiap keluarga yang memiliki anak-anak pastilah pernah mengalami ribetnya berkemas saat akan pergi liburan, setidaknya sekali dalam seumur hidup. Yang pernah mengalami pusingnya berkemas, ngacung! (dan saya pun ngacung duluan). Ya, sudah jadi rahasia umum jika orang tua akan menjadi pihak yang paling pusing, mulai dari menyiapkan keperluan si kecil (dan tetek bengeknya yang daftarnya bisa lebih panjang dari daftar belanja bulanan), menyiapkan keperluan pribadi dan pasangan, menyiapkan berbagai pernak-pernik lainnya (seperti dokumen penting maupun P3K), dan lain sebagainya. Bagian yang paling menyebalkan adalah jika ternyata tetap saja ada barang yang ketinggalan (dan baru mengetahuinya setelah sampai di tempat tujuan). Wah, bisa-bisa mood liburan langsung turun ke titik nol.
      Bagi yang selalu merasa ribet berkemas saat akan liburan keluarga, saya ingin berbagi sedikit tips. Berhubung mayoritas dari pengalaman pribadi, silahkan jika ingin menambahkan tips-tips lain yang mungkin belum disebut disini. Because sharing is caring, right? Dan voila, inilah tips berkemas untuk liburan keluarga:
      Tips packing untuk keperluan bayi
      - Suka bingung apa saja perlengkapan si kecil yang harus dibawa? Berikut beberapa item yang selalu masuk dalam list saya:
      Tisu basah. Pilih ukuran travel yang mudah dibuka-tutup. Sebaiknya pilih juga yang mengandung formula anti bakteri. Bedak bayi. Agar lebih praktis, biasanya saya membawa botol bedak ukuran kecil+puff+plastik (nggak perlu repot bawa kotak bedak). Sabun dan shampo. Khusus untuk travelling, saya lebih suka menggunakan sabun sekaligus shampo (2 in 1) dalam ukuran kecil. Minyak telon. Untuk perlindungan ekstra, pilih yang sekaligus anti nyamuk. Perlengkapan lainnya: baby cream, washlap, hair lotion, parfum, dsb. Semuanya dalam ukuran kecil. - Untuk popok, jika daerah tujuan wisata kemungkinan memiliki mini market maupun supermarket, sebaiknya jangan terlalu banyak membawa popok bayi (dalam hal ini maksudnya pospak, alias popok sekali pakai). Dari pada berbekal pospak sekarung, lebih baik bawa pospak untuk 1-2 hari dan membeli sisanya di kota tujuan. Kecuali jika si bayi seperti bayi saya yang hanya bisa menggunakan merk tertentu yang sulit dicari di mini market. Apa boleh buat, terpaksa harus bawa pospak ekstra jika perginya ke daerah yang melipir sedikit dari kota. Cara menghitung kebutuhan pospak cukup mudah. Kalikan saja rata-rata pemakaian pospak dalam 1 hari x durasi waktu wisata.
      - Jika si kecil masih harus mandi di bak mandi (misalnya karena belum bisa duduk), sebaiknya bawa bak mandi untuk bepergian (berbentuk pelampung yang bisa dikempeskan). Tapi pernah juga sih saya memanfaatkan wastafel hotel karena lupa membawa bak mandi (dan lebih praktis karena nggak perlu repot-repot merebus air hangat karena tinggal buka keran saja).
      - Si kecil minum susu formula? Jangan lupa bawa susu formula, botol, termos ukuran kecil, dan perlengkapan untuk mencuci (sikat+sabun cuci). Jika sudah di tahap makan makanan tambahan, bawalah juga alat-alat untuk menyiapkan makanan tersebut (piring bayi, sendok makan, atau saringan buah).
      - Perlengkapan bayi lainnya yang tidak boleh lupa dibawa: selimut bayi, handuk, topi bayi, slabber, perlak ukuran kecil, dan nursing cover (untuk menutupi jika si kecil perlu ASI di tempat umum).
      - Jika bepergian menggunakan mobil, jangan lupa membawa perlengkapan pelengkap lainnya seperti car seat.
      Tips packing untuk keperluan anak-anak (mulai 2 tahun-usia SD)
      - Untuk perlengkapan anak-anak, biasanya inilah yang tak pernah lupa saya bawa:
      Tisu basah (ukuran travel) dan hand sanitizer. Benda ini biasanya saya pisahkan dalam tas kecil terpisah agar lebih mudah diambil, mengingat anak-anak suka sekali memegang bermacam benda. Perlengkapan mandi: shampo+sabun (2 in 1, supaya praktis), sikat gigi+pasta gigi. Perlengkapan lainnya: bedak, parfum anak, minyak kayu putih, lip balm, krim anti nyamuk, sisir. Untuk detail seputar perlengkapan P3K, saya masukkan dalam daftar item P3K untuk keluarga. - Salah satu kendala terbesar saat bepergian membawa anak-anak adalah masa-masa di perjalanan. Mengingat anak kecil cepat merasa bosan, bawa barang-barang yang bisa menyibukkannya selama di perjalanan seperti perangkat pemutar musik portable, DVD portable, dan perlengkapan elektronik lainnya seperti Ipad. Jangan lupa juga membawa snack dan minuman kesukaan si kecil sebagai teman di perjalanan.
      - Agar si kecil tak cepat bosan saat di tempat tujuan wisata, bawa juga beberapa benda kesukaannya seperti buku cerita, buku mewarnai, maupun mainan favoritnya. Board game (ular tangga, monopoli, dan sebagainya) bisa jadi pilihan menarik dibanding membawa alat permainan elektronik, karena melibatkan partisipasi dari anggota keluarga lainnya. Tips tambahan, jika rencana wisatanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan, bawa juga perlengkapan penunjang aktifitas outdoor seperti google.
      - Nah, ini yang kadang-kadang saya suka lupa. Selain membawa sepatu pergi, jangan lupa bawa juga sandal rumah. Walau di hotel disediakan sandal, tapi ukurannya terlalu besar untuk kaki si kecil; sedangkan si kecil pastilah suka jika diajak untuk mengelilingi hotel (misalnya ke lobby maupun ke kolam renang). Kenapa nggak pakai sepatu saja? Simple, karena sandal jauh lebih praktis dibanding pakai sepatu.
      Wah, ternyata tips-nya sedikit lebih banyak dari yang saya duga. Supaya nggak pusing, tips packing untuk family trips lainnya (termasuk tips dalam menentukan jumlah baju yang harus dibawa dan alat P3K yang harus disiapkan) dilanjutkan dalam tulisan berikutnya. Mudah-mudahan bisa sekaligus dilengkapi dengan list barang lain yang harus dibawa.
    • By ko Acong
      Bosan mengunjungi Jepang hanya Tokyo - Kyoto - Osaka? Perlu nih piknik dengan suasana berbeda 360 derajat. Cobalah destinasi anti mainstream yaitu Alpine Route memang biaya agak mahal sedikit, namun kita akan bahagia dengan pemandangan yang tiba2 berubah dari satu spot dan lainya dan disuguhi udara yang super bersih.
      Untuk menyusuri Alpine Route kita harus bayar terpisah dari tiket JR, mau itu JR Pass, JR West ataupun JR East yaitu harus bayar option tiket nya 9000 yen, lalu tinggal duduk manis. Atau mau eceran pun ada namun akanboros 3000 yen (total 12.000 yen ).
      Bagaimana cara ke Alpine Route?
      Ini adalah jalur saya yang pasti berbeda dengan pemegang JR Pass. Dari Shinjuku Tokyo, naik Highway Bus menuju Matsumoto seharga 4500 yen selama kurang lebih 3 jam waktu tempuhnya.
      Tak lupa saya tukarkan Tourist Pass Matsumoto - Takayama - Alpine,  beli di Travel Agent di Indonesia seharga 17.500 Yen. Dengan Rincian JR Pass mencakup: Shinan-omachi - Matsumoto - Kiso Fukushima - Ena - Nagoya - Gifu - Gero - Takayama - Hida - Toyama. 
      Saya tidak beli JR Pass karena akan lebih hemat sebesar Rp 1.2 jutaan dengan Tourist Pass ini,  karena tidak ke Osaka dan pulangnya Via Narita.
      Piknik seputaran Alpine - Takayama - Matsumoto bisa mengunjungi beberapa Prefektur. Yang saya kunjungi menggunakan JR campur dengan pilihan saya yaitu Tourist Pass, berlaku untuk 5 Hari seharga 17.500 yen.
      Berikut destinasi yang saya kunjungi.
      Matsumoto:
       Saya kunjungi Kastil Matsumoto, salah satu yang terkenal di Jepang. Jinjo (lupa namanya dengan warna yang dominan pink) Salah satu perguruan tinggi melegenda Kaichi School Museum Kami kochi  sungai yang jernih: http://www.kamikochi.or.jp/ Narai Juku / Kiso Valley:
      Desa kuno yang memegang peranan penting untuk jalur distribusi perdagangan  Tokyo ke Kyoto, dari hasil pegunungan Takayama dan desa seniman keramik, serta ada satu Obat dewanya yang sangat manjur sayang saya nggak bisa bacanya: https://www.japan-guide.com/e/e6080.html
      Hida:
      Sebuah kota kecil penghasil kayu paling berkualitas dengan ahli-ahli kayunya. Pemandangan sekeliling nya indah dengan dilintasi sungai besar berasal dari pegunungan di Takayama. Dan yang paling unik ada jalan yang berjejer, serta rumah-rumah kuno dengan ada selokan kecil yang isinya ribuan ikan koi besar-besar, ini untuk menandakan bahwa dampak Bom Atom jaman Hiroshima - Nagasaki telah clear. Daerah ini menjadi terkenal karena Ikan Koi tersebut.
      https://www.google.com/destination?dest_mid=/m/02jbp_#dest_mid=/m/02jbp_&tcfs=EhoaGAoKMjAxOC0wNi0wORIKMjAxOC0wNi0xMw
      https://www.infojepang.net/info-wisata-di-takayama/
      Gero Onsen
      http://video.metrotvnews.com/kokoronotomo/5b2E9mMN-jalan-jalan-di-gero-onsen-gassho-mura
      Kota wisata yang mempunyai sungai dan onsen umum, sayang saya datang nya kepagian, coba kalau nginap di Gero atau agak sore, tentu mataku berbinar-binar dengan onsen yang nyampur cewek cowok hihihih, jangan omes ya tradisi mandi bareng di onsen merupakan suatu kehormatan bagi tradisi lokal yang menjadikan kita termasuk satu keluarga besar saat itu.
      Semuanya berdekatan dengan Prefektur Gifu, hanya dengan 17.5000 Yen kita bisa mengunjungi tempat-tempat ini semua. Bisa dari Tokyo atau dari Osaka, tentunya berbeda-beda tipe JR Pass nya. Jika ingin nyaman beda sedikit pegang lah JR Pass.
      Perjalanan Ko Acong nano nano rasanya, kurang afdol jika tanpa kendala dan berbagai hambatan, secara “si bocah tua nakal“ (yang tidak bisa Bahasa Asing, Gaptek dan segala kekurangannya).
      Kendala pertama yang menghambat perjalanan saya selama 5 hari adalah teledor nya saya dikala menukar Tourist Pass tidak dibaca. Saya beli tiket terusan Tourist Pass Alpine - Takayama - Matsumoto sudah betul, namun petugas di JR Tokyo lalai salah menempelkan ke kartu yang JR West Pass. Nah, kendalanya pas mau digunakan ditolak oleh petugas di lapangan, satu petugas ke petugas lainya tetap ditolak, sampai lebih dari 5 orang. Waduh apa daya saya sekarang secara saya bawa uang benar-benar dibatasi mutlak hanya 20.000 yen untuk uang saku selama seminggu. 
      Begitu lunglai pas lirik ada Japan Tourist Information, nah saya coba deh kesana. "Please help me talk Bahasa?????" Bengong tuh semua. Aduh kumaha atuh ieu teh wot hepen cantik. Keluar deh seorang atasannya sambil bawa HP gede sebesar buku. Mulai dia taktik tuk eh keluar suara Indonesia "apa yang bisa kami bantu?"
      Saya jawab tapi tetap ngak nyambung pake input suaranya. Nah, disini bodoh tapi pandai (bawaan sejak lahir) nya si bocah tua nakal, secara saya pernah utak atik Translate Bahasa. Ku ketik juga via abjad dan BINGO nyambung deh walau lama mereka tetap sabar.
      Sudah tahu masalahnya, langsung bikin maklumat sakti untuk kepala stasiun. Bla bla bla mohon untuk membantu  Lao ye (bos tua). Hal ini yang salah adalah Pihak JR Tokyo dan ada Catatan Contact Person Pejabat JR Pusat.
      Walau udah beres, namun tetap ada saja tiap ganti prefektur kendala terjadi lagi. Saya keluarkan jurus nakal nya sampai kepala stasiun berkenan keluar kandang nya dengan gunakan Google translate, suara dikencangkan dan heboh kan hehehehe si bocah tua nakal punya mainan baru.








      Fr Alpine2018.docx