Sign in to follow this  
Lyn

Yang Sebaiknya Diketahui Sebelum ke Jepang

24 posts in this topic

Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia Timur yang terkenal dengan budayanya. Kota-kota yang setidaknya harus disinggahi saat datang ke jepang adalah kota Tokyo, Kyoto, Kobe, Hakone, dan Osaka. Kota Tokyo yang menjadi ibukota Jepang merupakan tempat dengan gedung-gedung tinggi yang tentunya ramai, super modern dan sangat terang di saat malam. Kalau kota Kyoto masih sangat terasa Jepang kuno, di mana banyak kuil, dan juga bangunan-bangunan yang bersejarah ada juga beberapa jalan di sana yang masih terlihat sangat kuno mirip saat di jaman edo. Banyak kuil yang menjual jimat-jimat pelindung dan semcamnya. Maka tak jarang sekolah-sekolah di Jepang sendiri banyak yang melakukan study tour ke Kyoto. Kobe merupakan kota pelabuhan. Sedangkan di Osaka banyak makanan enak yang harus dicoba di sana. Masyarakat Osaka adalah orang kansai yang memiliki logat yang berbeda. Orang kansai rata-rata ramah dan bersemangat. Sedangkan Hakone terkenal dengan lokasi pegunungan yang ada museum dan pemandian-pemandian air panasnya atau lebih dikenal dengan nama onsen di Jepang.


Kalau mau berpergian dari kota ke kota di Jepang lebih baik menggunakan JR Pass. Hanya orang paspor asing serta visa sementara yang bisa membeli JR Pass ini tapi dibelinya di luar Jepang. Dengan JR Pass kita bisa berpergian menggunakan kereta di bawah bendera JR dengan gratis mencakup jalur utama kereta api di dalam kota termasuk shinkansen kecuali shinkansen nozomi. Sebelum berangkat menggunakan kereta ke Jepang jangan lupa cek dulu  nama stasiun terdekat dari objek wisata yang dituju, naik keretanya jalur apa, semua bisa dicek di  http://www.hyperdia.com/ sebenarnya papan petunjuk di sana sudah cukup jelas, tapi buat yang lebih pasti bisa juga dicek sendiri sebelum berangkat.


Buat menghemat waktu bisa juga menggunakan loker berbayar di stasiun untuk menitipkan barang-barang belanjaan. Denagn sekali bayar loker tersebut dapat digunakan seharian. Jadi kita tidak perlu kembali lagi ke hotel atau hostel untuk menaruh barang belanjaan. Harga ukuran yang paling kecil sekitar  300 yen atau sekitar 32000 rupiah.
Harga souvernir di jepang rata-rata hampir sama. Baik di pusat perbelanjaan, di bandara maupun di objek wisata, jadi tidak perlu terburu-buru beli souvernir saat mau pulang pun masih bisa dibeli di bandara. Kalau di Jepang jangan terlalu banyak mengunjungi restoran karena harganya cukup mahal. Kunjungi saja yang khas, satu atau dua restoran setelah itu bisa membeli makanan di supermarket seperti bento ataupun onigiri.


Timing yang pas ke Jepang saat di bulan April dan November. Di bulan April pada saat musim semi banyak bunga sakura dan bisa melakukan hanami di taman-taman sekitar. Hanami sendiri adalah duduk berpiknik sambil melihat bunga sakura. Tapi harus cari tempat dulu dan ditandai karena hampir semua masyarakat jepang sangat suka melakukan hanami jadi setiap taman pasti ramai oleh keluarga-keluarga yang berkumpul bersama. Kalau bulan November adalah musim gugur saat daun sedang berwarna merah. Sebenarnya kalau datang di musim panas atau dingin juga tidak apa-apa. Tapi musim panas dan dingin di Jepang panas dan dinginnya cukup ekstrim. Jadi harus menyiapkan persiapan lebih seperti sunblock, baju dingin dan semacamnya. Jika ingin melihat festival di Jepang datang saja pada saat tahun baru. Biasa di dalam festival ada banyak permainan menarik seperti menangkap ikan mas dan tembak hadiah dan semacamnya. Biasa akan ada pertunjukan kembang api dan banyak makanan di sana.


Di Jepang penginapan yang murah biasa adalah hostel. Bisa di cek di hostelbookers.com atu hostelworld.com tarif tergantung dari lokasi dan fasilitas atau kalau tidak, bisa juga mencoba hotel kapsul. Kalau bisa jangan menginap di tempat yang terlalu jauh dari stasiun dan carilah tempat yang nyaman. Kalau mau pengalaman yang lebih berbeda bisa juga coba menginap di Ryokan atau penginapan tradisional Jepang yang suasananya sangat berbeda dari penginapan pada umumnya dan lantainya masih menggunakan tatami.


Sebelum ke Jepang alangkah baiknya pelajari bahasa-bahasa yang umum dipakai di sana. Seperti terima kasih, maaf, selamat pagi/siang/malam, dan kata-kata umumnya jika tau lebih banyak juga mungkin dapat berguna. Bisa di cek di http://www.nhk.or.jp/lesson/indonesian/index.html tidak semua masyarakat Jepang bisa berbahasa Inggris dan banyak yang takut bicara pada orang asing, jadi setidaknya sebelum mau bertanya sapa dulu mereka menggunakan bahasa sehari-harinya.
 

Kira-kira itu dari saya, mungkin kalau ada yang udah sering ke Jepang atau yang lebih pro boleh tolong ditambahin :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Ooo bisa sewa locker ya , sip2 jadi gak perlu bawa brg berat2 haah

 

iya kalau mau belanja banyak juga gak usah repot hehehe

 

 

hmm... taunya bahasa jepang cuman, moshi-moshi, arigatou, itada kimasu (yang ini betul nggak nulisnya?) trus apa lagi ya? 

oh ya, untuk aktivitas hanami sendiri, yang paling enak di jepang di mana tuh? :)

 

hajimemashite (salam kenal), watashi wa ... desu (nama saya adalah...) ohayou (selamat pagi, konnichiwa ( selamat siang) gak tau nih ya penulisannya bener apa kaga hehehe

kalau dari Osaka bisa di The Mint Bureau (Osaka), Taman Expo ’70 (kota Suita), Taman Istana Osaka (Osaka). kalau di Tokyo yang cukup terkenal taman ueno, (Taito-ku), Taman Inogashira (kota Musashino), Taman Koganei (kota Koganei), Taman Shinjuku-gyoen (Shinjuku-ku), Taman Sumida (Sumida-ku). Kalau di Kyoto bisa di Taman Shinsenen.

 

 

soal JR pass ini pernah baca... tapi kalau nggak mau antar kota ya naik yg biasa aja kan ya?? karna katanya mahal, bener ga sih? CMIIW

 

ini info lebih lengkap soal JR Pass ada harganya juga :D

http://www.jalan-tour.com/ver03/ina/jrpass/

Share this post


Link to post
Share on other sites

nambahin ya Sis...menggunakan sumpit, orang Jepang menghargai turis asing yang bisa menggunakan sumpit karena mereka pikir, menggunakan sumpit adalah hal yang tidak mudah untuk orang asing. Jadi mereka akan sedikit terkejut jika kita bisa menggunakan sumpit :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

nambahin ya Sis...menggunakan sumpit, orang Jepang menghargai turis asing yang bisa menggunakan sumpit karena mereka pikir, menggunakan sumpit adalah hal yang tidak mudah untuk orang asing. Jadi mereka akan sedikit terkejut jika kita bisa menggunakan sumpit :D

 

oh gitu ya saya baru tau nih soal ini kalau mau ke sana belajar pakai sumpit dulu ya hehehe thanks ya :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

hhmmm saya lihat2 di tiket pesawat kenapa yg tujuan tokyo haneda lebih murah daripada tokyo narita ya ?

meskipun perbandingannya gak apple to apple; bisa kamu ibaratkan ke KL LCCT dan KLIA..... :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Sangat pengen ke jepang, cuma masalah transportasi yang rasanya sangat rumit,..

kalau pertama kali pasti bingung, apalagi lihat peta subwaynya, urusan kesasar atau salah keluar pintu stasiun biasa; tp dua tiga kali naik pasti sudah biasa. Di Jepang akan merasakan efektif dan efisiennya naik public transportation

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Lingga saya sih blm pernah kesana, tapi saya coba bantu jawab..

kalau menurut saya sih enak-nya naik Bus,

kalau soal murah, lebih murah naik kereta

kalau soal ribet, naik kereta jauh lebih ribet, dikarenakan perpindahan kereta minimal 3 kali (dengan pertimbangan bawa koper yg berat)

 

jadi naik bus turun di station Ginza (Sukiyabashi) , setelah itu nyambung taksi ke hotel (klo kagak mau ribet dan bawa berat) (makin banyak orang makin murah klo pakai taksi)

 

Note : schedule bus-nya bisa di-lihat disini

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

saya gak tau tepatnya dimana Mercure di Ginza, tp kl dari Narita ke Ginza kl naik subway bisa check disini : http://www.tokyo-subway.net/app/flash/norikae/N3?SF=2692&ST=1996&RP=0&OUTPUT=1

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash : Gitu yah. Kirain naik bus lebih murah mengingat wkt perjalanannya lebih lama dibandingkan dgn kereta :) Kalau jalan didaerah Ginza dengan bawa2 koper besar, ribet ga yah? Cari2 info sih katanya dari terminal bus ke Mercure naik taksi sekitar 5-10menit perjalanan saja. Pikir2 mao jalan aja. Biar bisa ngirit duit jajan :D. Thanks banget info nya

Share this post


Link to post
Share on other sites

Friends, minta bantuan info nya donk. Saya mau berangkat ke Jepang bulan Juni nanti. Ambil hotel Mercure Ginza. Enaknya dari Narita naik bus atau kereta yah? Mana yang lebih murah? Mana juga yang lebih ga ribet? Hehehehe. Tolong info nya yaaah. Thank you

kalau mau naik taxi estimasi tarifnya : http://www.numbeo.com/taxi-fare/city_result.jsp?country=Japan&city=Tokyo

Share this post


Link to post
Share on other sites

@widingh : naik subway minimal harus transfer 2x yah dan harga cuma beda dikit dengan bus. Belom lagi bingung2 untuk pindah train nya. Thank you. Info subway nya lengkap.

Sepertinya jarang yah yang jalan2 di daerah Ginza.

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Lingga yah kalo bisa sih di taruh barang-nya dulu di hotel habis itu baru keliling daerah Ginza, (kalau emang blum waktu-nya check-in, yah dititip dulu di front desk)

untuk estimasi waktu jalan kakinya saya kurang tahu, tapi kalau anda terbiasa jalan kaki dengan bawa koper besar, yah silahkan saja :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites

@widingh : naik subway minimal harus transfer 2x yah dan harga cuma beda dikit dengan bus. Belom lagi bingung2 untuk pindah train nya. Thank you. Info subway nya lengkap.

Sepertinya jarang yah yang jalan2 di daerah Ginza.

ya kl menurut saya Ginza cuma pusat perbelanjaan mewah; yach kurang lebih seperti Orchard Road nya Singapore (dengan harga yg lebih mahal) :D, waktu itu ke Ginza krn nyari mainan utk anak saya.

Tergantung kopernya, kl terlalu besar ya repot keluar masuk mall. Jalanan di Tokyo lumayan lancar, jadi naik taxi 5-10menit bisa jauh jaraknya, apalagi sopir taxi di Tokyo sama kayak di Beijing atau Shanghai, hobinya ngebut..... :D

Ampun2an tarif taxi di Tokyo..... 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@glanzend

kalo pembobolan loker jarang denger

apalagi di jepang ini terkenal karena warga nya disiplin, pengalaman teman ketinggalan dompet di keranjang sepeda selama 1 hari di stasiun  kereta aman2 saja, malah keranjang nya ditutupin kardus oleh orang yg lewat biar gk kehujanan

(klo di indo 5 menit saja udah di pastiin ilang itu dompet :P)

 

ya kalo kereta yang di bilang itu shinkansen jadi menggunakan JR Railway Pass seharga 3 juta perorang

bisa digunakan ke semua rute shinkansen jadi memang cukup murah perhitungannya juika kita mau keliling jepang, tapi kalo cuma ke Tokyo - Osaka aja jadi mahal :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Jepang selalu dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia. Biasanya, pembandingnya adalah tingkat kejahatan di Jepang yang jauh lebih kecil dibanding Amerika, serta image bahwa orang Jepang jauh lebih saling peduli dan cukup aktif membantu wisatawan asing dibanding orang Amerika. Sehingga predikat Jepang adalah negara yang aman begitu melekat dan seolah menjadi merk dagang bagi negara tersebut, dan sukses menarik banyak wisatawan asing untuk berkunjung ke negara ini.
      Pertanyaannya: Benarkah Jepang adalah negara yang betul-betul aman?
      Mari kita mulai dari mitos tentang keamanan di Jepang yang mudah didengar di berbagai forum:
      1. Jepang itu aman banget. Buktinya, kita bisa meninggalkan handphone maupun tas untuk menandai meja dan kursi di restoran tanpa takut akan hilang.
      2. Polisi di Jepang cepat tanggap kalau ada laporan, dan mereka rutin berkeliling menggunakan sepeda sehingga lingkungan di Jepang relatif aman.
      3. Sangat aman berjalan di malam hari, untuk wanita sekalipun, karena Jepang memang negara yang aman.
      4. Kalau kita kehilangan barang, tinggal lapor polisi saja. Biasanya yang menemukan barang tersebut akan mengantarkannya ke pos polisi terdekat.
      5. Konon, banyak orang mabuk sampe tidur di pinggir jalan, tapi mereka nggak kehilangan dompet, barang bawaan, maupun baju. Beda banget sama di Amrik sana!
      Dan banyak lagi mitos lainnya tentang keamanan di Jepang, khususnya yang biasa didengar oleh wisatawan asing.
        Itu baru mitos. Sekarang kita bicara tentang fakta-fakta tentang tingkat kejahatan di Jepang untuk membuktikan “benarkah Jepang adalah negara yang aman?
      1.Tingkat kejahatan di Jepang memang terbilang kecil. Kabarnya, jika dirata-ratakan, kurang dari 1 orang terbunuh dari setiap 100,000 populasi. Tepatnya, 0,83/100,000 per-tahun. Sangat kecil jika dibandingkan dengan angka rata-rata di Amerika (4,8) yang berarti 5,7 kali lebih tinggi dibanding Jepang.
      2.Jika dirata-ratakan dari 10 tingkat kejahatan yang biasa terjadi (diantaranya adalah perampokan, pencurian, dan pemerasan), tingkat kejahatan di Jepang berada di urutan kedua terendah dibawah Spanyol. Untuk kejahatan berat pun (seperti pemerkosaan dan pembunuhan) rata-rata tingkat kejahatan di Jepang termasuk salah satu yang terendah di dunia.
      3.Senjata api termasuk ilegal di Jepang, jadi tak sembarang orang bisa memilikinya.
      Dari uraian di atas, bisa disimpulkan jika tingkat kejahatan di Jepang memang relatif rendah, sehingga mungkin ada benarnya jika Jepang dikategorikan sebagai negara yang aman untuk dikunjungi.
      Diagram Crime Victim Rates yang disusun berdasarkan data tahun 2006 dan 2009. Foto:
      sumber Lalu, bagaimana realita tentang tingkat kejahatan di Jepang?
      Sebetulnya, kejahatan ada dimana saja. Walau Jepang di klaim sebagai negara yang aman, kejahatan tetap saja ada dan bisa menghampiri siapa saja. Kejahatan ringan seperti pencurian dan penjambretan, hingga kejahatan berat seperti pemerkosaan dan pembunuhan, masih saja ada di negara ini (walau jumlahnya kecil). Dan jangan lupakan juga beberapa kasus yang terbilang besar pernah terjadi di JEpang, contohnya seperti kasus Tokyo Sarin Gas Attack (1995). Serangan gas di berbagai kereta Tokyo Metro menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 1000 orang. Lalu ada peristiwa Akihabara Massacre (2008), dimana seorang pria berlari ke kerumunan dan menikam orang-orang. 6 pria dan 1 wanita tewas, dan 11 lainnya terluka. Dan masih ada beberapa contoh kejahatan lainnya yang membuktikan jika Jepang tak sepenuhnya aman. Oya, tambahan lainnya, ingat juga jika di Jepang masih ada beberapa kelompok yakuza yang identik dengan dunia hitam. Kesimpulannya: tak ada negara yang benar-benar aman, bahkan Jepang sekalipun.
      Diagram berbagai tingkat kejahatan pencurian di Jepang. Foto:
      sumber Saya ingin coba mengangkat masalah tingkat kejahatan di Jepang dan menghubungkannya dengan berbagai tindak kriminal yang kerap menyasar wisatawan asing. Dalam konteks travelling, berikut ini beberapa kasus kriminal yang beberapa kali terjadi di Jepang dan sayangnya, menimpa wisatawan asing.
      1. Scamming
      Kasus ini terbilang paling sering menimpa wisatawan asing, khususnya yang mencari hiburan malam maupun berniat menjelajah daerah-daerah yang terbilang rawan di Jepang (ya, bahkan di Jepang pun ada daerah yang tergolong rawan). Bahkan pemerintah Amerika pernah mengeluarkan travel warning ke Jepang berkaitan dengan hal tersebut. Biasanya beberapa modus yang digunakan adalah sebagai berikut:
      -Membujuk wisatawan untuk masuk ke sebuah bar (biasanya menggunakan gadis cantik, pria tampan, maupun penyebar selebaran), dan ternyata total tagihan di bar tersebut melebihi dugaan.
      -Meminta wisatawan untuk membayar menggunakan kartu kredit, namun ternyata yang ditagihkan melebihi seharusnya.
      -Memanfaatkan kelengahan wisatawan untuk menyelipkan sejumlah charge ekstra.
      -Membuat wisatawan mabuk di bar maupun di club, dan berbagai hal buruk lainnya akan menyusul (mulai dari dompet hilang, tagihan diluar kewajaran, pencurian kartu kredit, terbangun di pinggir jalan, dan banyak lagi).
      Bagaimana jika wisatawan tak bisa membayar apa yang ditagihkan pada mereka? Untuk bar dan pusat hiburan malam maupun dewasa, perlu diketahui jika tempat tersebut rata-rata dilindungi oleh kelompok yakuza tertentu. Setiap kali ada yang membuat masalah, maka akan berurusan dengan kelompok yakuza tersebut.
      Suasana di sebuah host club di Tokyo. Foto:
      sumber 2. Pelecehan seksual
      Walau terbilang aman, bukan berarti Jepang 100% aman, dan kasus wanita yang dilecehkan di depan umum bukan termasuk hal baru. Salah satu tempat yang paling rawan akan pelecehan adalah di kereta api, khususnya pada jam sibuk (dan dinamakan chikan). Biasanya yang menjadi sasarannya adalah para wanita, dan wanita asing pun tak luput dari resiko chikan.
      Kedua jenis kejahatan tadi termasuk yang paling sering menimpa wisatawan. Namun, bukan berarti itu tak bisa dihindari. Kunci utamanya adalah jangan lengah, tetap waspada, dan percaya pada common sense kalian. Dan yang paling penting, sebisa mungkin hindari daerah-daerah yang dianggap rawan, yang detailnya akan saya bagikan dalam tulisan lainnya. Semoga informasinya bermanfaat!
    • By vie asano
      Lagi-lagi blogwalking di blog forum kita tercinta ini memberikan ide untuk menulis. Setelah sebelumnya saya dapat ide dari blog mimin Jalan2 untuk menulis tentang Seoul Shopping Guide, belanja dimana? (terinspirasi dari tulisan Uniknya Oleh-oleh khas Singapura), kali ini tulisan di blog mimin yang berjudul Sebelum Datang ke Malaysia, yuk Mengenal Ringgit membuat saya tergelitik untuk melihat-lihat lagi isi blog ini. Ternyata, setelah sekian ratus postingan, ternyata saya sama sekali belum pernah mengulas tentang mata uang Jepang. Ding dong. Padahal mengena mata uang sebuah negara yang akan menjadi tempat tujuan wisata termasuk salah satu hal yang paling essensial. Paling penting. Sama pentingnya dengan mencari tahu model colokan listrik yang berlaku di negara tersebut agar kita bisa men-charge gadget (eh?). Jadi intinya, kali ini saya ingin berbagi serba-serbi mata uang yang berlaku di Jepang, yaitu yen.
      Sebelumnya ada yang bertanya-tanya nggak, kenapa sih harus mengenal mata uang Jepang? Bukankah berbekal kartu sakti berlogo jaringan kartu internasional saja sudah menjadi jaminan kemudahan dalam sistem pembayaran? Jangan salah. Walaupun Jepang merupakan negara yang super canggih dan sangat maju, dalam hal pembayaran mereka masih tergolong tradisional. Masyarakat Jepang sudah sangat dikenal sebagai cash society. Hampir semua hal yang membutuhkan pembayaran menerima uang cash. Mengeluarkan kartu kredit saat akan membeli minuman di konbini (convenience store) hanya akan membuat kasir menolak Anda. Dan vending machine pun dengan angkuhnya menolak kartu kredit dan lebih menerima pinangan uang receh. Jadi jangan dulu bangga jika Anda berbekal kartu kredit saat berwisata ke Jepang, karena bisa jadi kartu tersebut hanya tidur manis di dalam dompet tanpa sempat dikeluarkan.
      Sekilas info
      Sudah pada tahu kan kalau Yen merupakan mata uang khas Jepang? Namun apakah teman-teman tahu cerita dibalik Yen? Yen ini baru resmi digunakan oleh bangsa Jepang pada tanggal 10 Mei 1871. Inspirasi utamanya berasal dari koin silver dollar yang awalnya digunakan di Hong Kong. Nama “yen†sendiri memiliki makna benda bulat (yang diambil dari bentuk koin).
      Cara menyebut yen
      Sekalipun namanya adalah yen, namun jangan menyebut nominal tertentu dengan embel-embel yen dibelakangnya ya. Yen dibunyikan sebagai en (dibunyikan eng), jadi jika ingin menyebut nominal tertentu dalam bahasa Jepang, sebutlah sejumlah angka+en. Yang biasa menggunakan kata yen di belakang angka adalah orang asing yang berada di luar Jepang, namun tetap saja jika ingin menyebutnya dalam bahasa Jepang, ganti menjadi akhiran en.
      Pecahan Yen
      Mata uang Yen terdiri dari uang kertas dan uang logam. Untuk uang logam, pecahannya mulai dari 1 yen, 5, 10, 50, 100, dan 500 yen. Sebetulnya masih ada pecahan lainnya yang disebut sen, dimana 1 yen = 100 sen. Namun sen jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan baru digunakan untuk kasus tertentu seperti menghitung stock barang. Uang receh (koin) termasuk penting untuk diketahui oleh wisatawan karena berbagai transaksi umum banyak yang melibatkan uang receh, mulai dari membeli di vending machine, menyewa locker, hingga membeli tiket. Memang sih ada mesin penukaran uang yang dapat menukar uang kertas ke uang logam agar Anda bisa melanjutkan transaksi menggunakan koin, namun tetap saja wisatawan yang akan pergi ke Jepang wajib mengenal koin-koin di sana. Penampakan koin yen kurang lebih sebagai berikut:
      Foto 01:
      Uang logam Jepang. Deretan atas terdiri dari 1, 5, 10 yen. Deretan bawah terdiri dari 50, 100, dan 500 yen [foto: Tokyoship/wikimedia]
      Sedangkan untuk uang kertas, pecahannya dimulai dari 1000 yen, 2000 (sangat jarang digunakan maupun ditemukan), 5000, dan 10000. Penampakannya sebagai berikut:
      Foto 02:
      Uang kertas di Jepang [foto: Tokyoship/wikimedia]
      Kamus singkat
      Berikut contekan cara menyebutkan angka dalam bahasa Jepang.
      Angka-angka dasar
      1 = ichi
      2 = ni
      3 = san
      4 = yon/shi
      5 = go
      6 = roku
      7 = nana/shichi
      8 = hachi
      9 = kyu
      10 = ju
      11 = ju-ichi
      15 = ju-go
      50 = go-ju
      100 = hyaku
      1000 = sen (seng)
      10000 = man (mang)
      Jika diaplikasikan dalam mata uang
      10 yen = ju-en (ju-eng)
      50 yen = go-ju-en (go-ju-eng)
      100 yen = hyaku-en (hyaku-eng)
      200 yen = ni hyaku-en
      300 yen = san-byaku-en (sang-byaku-eng). Khusus untuk 300, 600, dan 800 penyebutannya agak berbeda.
      500 yen = go hyaku-en
      600 yen = rop-pyaku-en (rop-pyaku-eng)
      800 yen = hap-pyaku-en (hap-pyaku-eng)
      1000 yen = sen-en (seng-eng)
      5000 yen = go-sen-en (go seng-eng)
      10000 yen = ichi-man-en (ichi-mang-eng).
      20000 yen = ni-man-en (ni mang-eng)
      50000 yen = go-man (go mang-eng)
      Dan seterusnya
      Contoh yang agak rumit = 10350 yen, dibaca ichi-man san-byaku go ju-en
      Menukar mata uang
      Banyak blog wisata yang menyarankan wisatawan tak perlu repot-repot menukarkan uang ke dalam yen sebelum pergi ke Jepang. Saya berpendapat sebaliknya. Sebelum pergi ke Jepang, tukarkan dulu yen di Indonesia. Kenapa? Hal yang paling mendasar adalah tidak semua money changer menerima rupiah. That's it. Jadi lebih baik berbekal segepok uang yen dibanding harus menggelandang karena sulitnya mencari money changer yang menerima rupiah (untunglah Jepang termasuk salah satu negara teraman di dunia!).
      Namun jika terpaksa harus menukar uang di Jepang, rate terbaik ada di sekitar airport. Jadi jangan menunggu sampai kehabisan yen. Begitu tiba di Jepang, sebaiknya carilah money changer di sekitar airport. Bisa juga menarik uang di ATM, namun perlu diperhatikan tidak semua ATM di Jepang menerima kartu yang berasal dari luar. Pengalaman saya sih kartu BC* bisa digunakan untuk menarik uang di ATM Jepang.
      Tips: Mengingat di Jepang uang receh sangat diperlukan, sebisa mungkin tariklah uang dalam nominal yang kecil atau nominal tanggung. Misalnya saja, menarik uang 9000 yen dibanding 10000. Tujuannya agar Anda mendapat uang 9x1000 yen, karena lebih mudah merecehkan uang 1000 yen dibanding 10000 yen.
      Tips tambahan lainnya
      Sekalipun kartu kredit belum diterima secara luas, namun bukan berarti kartu kredit tak bisa digunakan sama sekali lho. Jadi jangan langsung meninggalkan koleksi kartu kredit Anda di Indonesia dan berbekal sekoper uang yen. Kartu kredit cukup diterima di toko-toko besar, hotel besar, dan transaksi di sekitar bandara. Diluar itu, untuk membeli minuman ringan maupun masuk ke sebuah obyek wisata, uang receh masih berkuasa disana.
      Alternatif lainnya, belilah kartu IC seperti SUICA. Akhir-akhir ini kartu IC mulai banyak diterima sebagai alat pembayaran terutama di konbini, vending machine, dan pada moda transportasi pubik.
      Demikian sekilas info tentang uang di Jepang. Memang sih masih basic banget, namun mudah-mudahan cukup memberikan gambaran tentang mata uang yen. Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      *Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By Bluebell
      Akhirnya saya bersama orang tua bisa ke Jepang juga.. setelah dibantu oleh ko Erick (member sini tp saya lupa namanya)
      Saya travelling dari tgl 17 agustus - 27 agustus 2018.
       
      Hari pertama, 17 agustus 2018
      Sesampainya di bandara osaka, berhubung saya sampai di osakanya malam jam 11 malam lalu paginya saya harus ambil osaka amazing pass makanya melalui diskusi sama ko Erick, saya memutuskan menginap di ruang tunggu bandara osaka. Sewaktu mendarat, saya senang banget campur capek.. lalu ambil bagasi.. dan mencari dimana aeroplaza...
      Karena masih blank.. akhirnya tanya petugas informasi arah ke aeroplaza.
      Sesampainya disana cuma baru melihat lawson tetapi tdk melihat ruang tunggunya..
      Lalu akhirnya saya beli onigiri berikut minuman di lawson.. begitu keluar lawson baru melihat kalo seberang lawson ada tulisan ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu nya terpencil banget..
      Lalu kita tidur lah di ruang tunggu...
       
       
      Bersambung... lagi di sewa kimono...

    • By deffa
      Hola Deffa Here!
      Jadi, waktu saya dan istri babymoon ke Jepang bulan Februari lalu itu dalam kondisi cuaca yang musim dingin/salju. Nah, karena saya tidak punya Winter Coat dan kami akan menuju ke Shirakawago yang bersalju tebal, beli di Indonesia mahal dari 500 ribuan sampai jutaan, saya putuskan untuk beli di Kyoto saja, karena di Kyoto ada banyak Second Hand Stores yang bagus salah satu nya adalah Kyoto Recycling Kingdom.
      Untuk menuju ke toko nya kalian bisa menggunakan bus yang menuju ke Kyoto Gaidai-mae. Nah, karena kami dari Arashiyama, jadi menggunakan Bus no. 28 Arashiyama Station – Kyoto Gaidai-mae Bus Stop, lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke arah selatan (ikuti Google Map). Ini website Kyoto Recycling Kingdom nya KLIK.
      Sayang, saya tidak sempat untuk poto-poto ketika di toko nya, namun bisa saya ceritakan gedung nya 2 lantai, dimana Lantai 1 berupa barang Elektronik dan Otomotif dari Handphone, Komputer, Laptop, Perkakas Mobil, dll. Lalu, di lantai 2 khusus produk Fashion seperti Pakaian, Topi, Dompet dll. Yang semua ini barang bekas.
      Tapi jangan salah, Jepang terkenal sangat apik dengan barang, bahkan barang bekas nya pun masih bagus banget kondisi nya. Saya mendapatkan Winter Coat + Windshield seharga 500 yen saja, sedangkan istri beli juga Winter Coat seharga 1000 yen. Kondisi nya tentu saja super bagus. Ini poto-poto Winter Coat yang kami beli.


      Cocok banget nih, bagi kalian yang doyan belanja tapi budget cekak, barang second tapi berkualitas banget di Kyoto Recycling Kingdom ini. Tapi, kalau untuk elektronik lebih baik di Sofmap, Akihabara - Tokyo, lebih banyak pilihan dan lebih murah.
      Semoga berguna. :) 
       
       
    • By Aleyna Azzahra
      Hi, aku lagi cari teman travelling ke Jepang kira-kira tanggal 9-15 Desember 2018. Nanti nginep di hostfam, kita bisa cari bareng-bareng di Couchsurfing.
      Rencananya mau ke Disneyland, Lake Kawaguchiko (Fuji), Ueno Zoo, dll
      Kalau tertarik bisa contact ke ID LINE aleynazhr, don’t hestitate to contact me ya! Kalau bisa secepatnya, mumpung ada promo dari Airasia!
      FYI, aku mahasiswi, umur 19 tahun. Kalau bisa travelmatenya juga seumuran, tapi kalo engga, juga gapapa!