Sign in to follow this  
AB. Harta

Tradisi Bir Ceko Akan Berubah!!!

1 post in this topic

menurut Wall Street Journal, pemerintah Ceko akan merubah berbagai kebijakan untuk gaya hidup lebih sehat dari warga Ceko. Seperti yang kita ketahui, Ceko merupakan salah satu negara dengan harga bir lebih murha daripada harga air. Peraturan tersebut akan segera berubah!

 

Bir merupakan salah satu tradisi warga Ceko, di berbagai kesempatan dan hampir tiap hari , semua orang minum bir, fakta menunjukan bahwa setiap orang Ceko rata-rata meminum bir 37 galon per tahun. Perdana Mentri Ceko melihat hal tersebut sebagai penurunan kesehatan, dan warga Ceko membutuhkan sesuatu yang lebih sehat, maka Perdana Mentri akan membuat peraturan mengenai hal tersebut.

 

Aturan penerapan kebijakan tersebut akan membuat semua restoran dan bar menurunkan harga air putih hingga di bawah harga bir, bahkan di beberapa tempat air putih harus disajikan gratis. Minimal ada satu minuman non alkohol yang lebih murah dibanding bir.   Namun hal tersebut menuai kontroversi dari berbagai pihak, dari pemerintah sendiri kebijakan tersebut belum di terima, alasannya adalah Bir adalah tradisi Ceko, namun hal tersebut harus dilakukan untuk kesehatan bersama. 

 

Jadi , bagi anda yang ingin berlibur ke eropa dan risih dengan harga bir yang lebih murah dari air putih tenang saja, semua akan berubah!!!! Health is The Most Important Thing !!!

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By norma sofisa
      Halo Jalanerss,
      Ini lanjutan cerita saya kemarin di Polandia. Monggo disimak!
      Pernahkah kalian menginap di hostel?
      Pengalaman pertama tidur di hostel saya alami sewaktu mengunjungi Kraków.
      Sebagai traveler pemula, saya mempersilahkan Kim untuk memilih penginapan selama di Polandia. Tentu saja selanjutnya, kami akan mengecek bersama dan memutuskan apakah tempat itu cukup oke dari segi lokasi, fasilitas, dan harga.
      Hostel tersebut hanya memiliki dua atau tiga kamar yang masing - masing diisi 4 hingga 8 orang atau 2 sampai 4 tempat tidur bertingkat per kamar. Kami sampai pada pukul 11 malam dan ternyata seluruh tempat tidur terisi. Semua penghuni kamar ada yang sudah tidur dan posisi saat itu, lampu telah dimatikan. Saya dan Kim hampir tidak bisa melihat apapun karena beberapa orang keberatan jika kami harus menyalakan lampu.

      Bagian terlucu sekaligus terparah adalah sepanjang malam saya hampir tidak tidur karena masing - masing penghuni kamar (selain kami lho ya!) mulai mendengkur bersahut-sahutan hingga pagi. Menurut rencana awal kami akan menginap di hostel ini selama 2 malam, namun saat sarapan kami bertekad untuk pindah hostel. Kim menemukan sebuah hostel dengan fasilitas kamar pribadi untuk 2 orang dan dekat sekali dengan pusat kota di kawasan Old Town dengan tarif 20 Euro per malam. Saya dengan mantap mengiyakan karena lelah dengan suara orkes tenggorokan tanpa jeda sepanjang malam itu. Tak lupa kami pamit dengan penjaga hostel sebelum pergi. Agak percuma sebenarnya, karena dia tidak lancar juga berbahasa Inggris. Kelak, pengalaman hostel ini akan menjadi joke yang tidak akan tergantikan sepanjang masa antara Kim dan saya.

      Kami harus setengah berlari ke stasiun agar tidak terlambat mengejar kereta ke Auschwitz. Saya melirik tiket saya, menurut jadwal kereta akan berangkat pada pukul 09.10 pagi. Tepat pukul 9 kami sampai ke stasiun. Cobaan kedua kembali menghampiri karena tidak terdapat papan yang memuat tulisan nomer peron. Hanya ada list kereta dengan nama tujuan dan jam keberangkatan. Herannya, kami tidak menemukan kereta yang akan diberangkatkan pada pukul 09.10 di layar. Lagi - lagi tidak ada satu pun petugas yang bisa ditanya.
      Dengan langkah tergesa-gesa, saya memutuskan untuk naik ke salah satu peron dan mengecek kereta mana yang sekiranya siap berangkat. Saya melihat ada satu kereta di peron seberang. Spontan saya berkata kepada Kim untuk menuju ke arah kereta tersebut. Kemungkinan besar ini adalah kereta kami, meskipun jam keberangkatan yang tertera tidaklah cocok. Selain itu, ada beberapa petugas di dekat kereta yang bisa ditanya, pikir saya.
      Kami pun menghampiri kereta, berusaha untuk bertanya apakah kereta ini menuju ke Auschwitz. Petugas ini, sekali lagi tidak bisa berbahasa Inggris. Kami sudah cukup putus asa, bayangan ketinggalan kereta sudah pasti menjadi kenyataan, hingga akhirnya muncul seorang petugas perempuan yang meminta kami masuk ke kereta tersebut. Kami mengikutinya dan di dalam gerbong itu ada empat orang lainnya yang telah duduk disana.
      Petugas itu berbicara dengan  salah seorang penumpang perempuan berambut pirang. Perempuan ini ternyata orang Polandia juga yang puji syukur alhamdulillah, bisa berbahasa Inggris.
      "Kereta ini tidak menuju Auschwitz. Entah bagaimana, kereta Auschwitz yang terjadwal pada pukul 09.10 itu sebenarnya tidak ada. Ada kesalahan di bagian online sepertinya."
      Kim dan saya mengerutkan kening seketika. Kalau ini terjadi di Belanda, pasti kantor NS (perusahaan kereta di Belanda) sudah pasti bakal didemo seluruh penumpang.
      "Jadi nanti kita akan diturunkan di sebuah stasiun dan kereta yang menuju Auschwitz akan menunggu kita disana.", tambahnya lagi. Sejurus kemudian, kereta pun mulai bergerak menjauhi peron. Dalam hati saya berkata, "Keren banget nih! Baru kali ini kereta yang menunggu penumpang." Langsung saya merasa seperti orang penting.
      Sepanjang perjalanan, kami berkenalan dengan 4 orang penumpang lainnya, yang kebetulan sama-sama terjebak kereta fiktif ke Auschwitz. Perempuan pirang tadi sebut saja Amy. Ia asli dari Polandia. Dan di sebelahnya sang pacar, sebut saja Adam, lelaki berkulit cokelat berkewarganegaraan Jerman. Dua orang lainnya, panggil saja Josh dan Tom, dua remaja dari Amerika yang sedang melakukan perjalanan keliling Eropa. Entah dari mana mereka sebelumnya, keduanya membawa tas ransel besar dan papan besar seperti papan snowboarding. 
      Sepanjang perjalanan kami lebih banyak mengobrol dengan Amy dan Adam. Mereka bercerita baru saja pindah ke Singapura dikarenakan Amy mendapatkan promosi dari kantornya. Selain itu, Amy juga banyak berkisah tentang cerita -cerita perang dunia kedua, yang banyak berhubungan dengan Auschwitz.
      Kamp komsentrasi di desa Auschwitz adalah kamp konsentrasi NAZI yang terbesar saat perang dunia kedua. Saat perang dunia kedua berlangsung, NAZI melancarkan propaganda anti semit (anti yahudi) besar - besaran di hampir seluruh daratan Eropa. Tiap-tiap Yahudi diwajibkan untuk memasang simbol Bintang David di lengan mereka. Setelah itu, mereka merelokasi tempat tinggal orang Yahudi ke daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan Ghetto. Para tentara NAZI kemudian memaksa orang Yahudi untuk keluar dari negara mereka. Dengan dalih akan dikembalikan ke negeri asal mereka, tentara NAZI memberangkatkan ribuan orang dengan puluhan kereta, tak lain dan tak bukan menuju kamp-kamp konsentrasi, salah satunya di Auschwitz. Orang - orang Yahudi tersebut tidak sadar bahwa perjalanan ini bisa jadi merupakan akhir dari kehidupan mereka. Mayoritas anak - anak, wanita, dan lansia akan langsung dibunuh secara massal di kamp ini dengan beberapa cara. Sementara pria yang masih kuat akan dijadikan budak, anak -anak kembar dan ratusan lainnya akan dijadikan kelinci percobaan para dokter NAZI. Peristiwa pemusnahan orang - orang Yahudi pada masa ini  disebut Holocaust.
      Saat mendengar cerita Amy, saya hampir menitikkan air mata. Saya tidak terlalu mengetahui detil peristiwa Holocaust. Ingatan saya kemudian terbang ke masa- masa SMP dan SMA. Buku sejarah hanya menyebutkan kata ini dalam satu kalimat. Tidak ada cerita lanjutan setelah itu. Mungkin ada alasan tertentu, mengapa topik ini tidak terlalu dimunculkan dalam buku sejarah sekolah saat itu.
      Pandangan saya kemudian kembali lagi ke pasangan di depan saya ini. Jika kami masih berada dalam masa perang, tidak mungkin seorang dari Polandia dan seorang dari Jerman bisa bersanding mesra di tempat umum begini. Saya berpikir bahwa perang tidak hanya memisahkan banyak orang namun juga mengikis rasa kemanusiaan.
      Saat sedang merenung, kereta mendadak berderit panjang sebelum berhenti. Petugas tadi datang lagi dan memberi tanda agar kami turun. Saatnya ganti kereta.
      Di peron sepi tak beratap itu seorang petugas menyambut kami. Dari bahasa tubuhnya ia menyuruh kami berlari. Saya penasaran dimana posisi kereta Auschwitz, sampai Amy menginstruksikan kami untuk melompat ke peron sebelah dan menerobos melalui pagar kawat berduri di bawahnya.
      "Oh really?!", batin saya. Saya merasa seperti preman. Terakhir saya menerobos pagar kawat itu sewaktu acara kemah SMP di belakang Candi Prambanan. Saya menoleh ke arah Kim dan kami tertawa geli.
      "Okay, everything could be happened here!", katanya sambil geleng-geleng kepala. Segala sesuatu bisa terjadi di tempat ini.
      Petugas kembali meminta kami untuk bergerak lebih cepat. Lewat Walkie Talkie miliknya, sayup sayup saya mendengar kata tourist. Mungkin ia meminta masinis kereta agar sedikit maklum karena kami ini turis.
      Setelah outbond tipis- tipis tadi, kami akhirnya naik ke kereta. Tanpa menunggu lama, kereta langsung berangkat. Menyisakan petugas yang melambaikan tangan dari jauh. Waktu perjalanan kami masih satu setengah jam lagi menuju Auschwitz.

      Perut yang kenyang setelah sebelumnya melahap beberapa potong roti membuat saya lama kelamaan mengantuk. Selesai mengobrol Kim tentang film yang menceritakan kisah seorang pianis pada masa perang dunia kedua, The Pianist, saya pun terlelap.
      Suara rem kereta yang kasar membangunkan saya. Seketika pandangan saya gelap. Apa yang terjadi dengan penerangan keretanya? Bagaimana mungkin di siang hari saya tidak bisa melihat apapun? Sedetik kemudian, saya merasakan udara dingin yang menusuk tulang, sesak, seakan tidak bisa bernapas, dan kelaparan yang amat sangat. Saya semakin panik berusaha meraba-raba sekitar. Seseorang kemudian membuka pintu dari luar. Di hadapan saya kemudian terhampar pemandangan puluhan orang, tua, muda, anak-anak yang menangis. Orang yang membuka pintu tadi berteriak dengan kencang, entah mengapa saya mengerti apa yang dikatakannya. Mereka menyuruh kami turun. Bagai berada di tengah-tengah konser musik, luapan manusia yang berebut turun keluar kereta membuat saya semakin terhimpit. Semakin sesak dan gelap. Kereta kemudian berderit panjang lagi.
      Saya terbangun. Kali ini Kim ada di samping saya, tertidur. Amy dan Adam juga tampak lelap. Dua pemuda dari Amerika terlihat meringkuk di kursi dengan sweater tebal mereka. Oh, saya kembali dari mimpi buruk! Ya, saya yakin, baru saja bermimpi tentang situasi saat orang-orang dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz kala itu.
      Jantung saya masih berdebar - debar jika mengingatnya. Mimpi tadi terasa begitu nyata. Meskipun begitu, saya mengurungkan niat untuk memberitahu Kim tentang mimpi barusan. Sambil menghela napas, saya melirik ke arah jam tangan. Kurang dari 30 menit kami akan sampai ke Auschwitz.
      Apa saja yang kami kunjungi di Aushwitz dan bagaimana kelanjutan perjalanan kami di Kraków? Sampai ketemu minggu depan ya!
      Bisa juga baca dari link berikut ini: https://sofiehurif.wordpress.com/2017/12/04/poland-and-a-once-in-a-lifetime-experience-auschwitz-2/
      Terima kasih dan semoga bermanfaat serta menginspirasi :)
    • By Dian Anggaraini
      https://sheistraveller.com/2018/06/07/perjalanan-hongkong-ke-macau-full-one-day/
    • By Putra Buana Wira
      Pernah ngelirik satu iklan di Google tentang Airy Rooms, mengklaim bahwa mereka punya banyak promo. Tertarik sih, tapi aku ngga pernah percaya dengan promo-promo online yang too good to be true. Trik marketing kan sama aja. Mereka akan menaikkan harga sebelum akhirnya dipotong dengan “diskon”. Sama juga dengan e-commerce online; belum tentu harga yang diberikan adalah benar-benar harga “promo”.
       
      Suatu hari, aku pernah lagi butuh banget tiket pesawat untuk urusan kerjaan, kira-kira bulan Januari lalu. Sempat panik cari tiket pesawat karena harus ada di venue keesokan harinya dan sudah sore. Karena kantorku pakai sistem reimburse, aku juga harus mikir harga tiketnya karena saat itu adalah tanggal tua. Panik karena tiket pesawat di beberapa platform terkenal sudah hampir habis dan menyisakan tiket yang harganya berjuta-juta. Duh!
       
      Akhirnya melirik ke Airy. Bisa dibilang Airy ini adalah pendatang baru dalam hal per-tiket-an, kan? Sebelumnya, Airy lebih dikenal sebagai penyedia kamar hotel yang murahnya ngga masuk akal, menurutku. Hahahahaha. Jadi ngga pernah pesan di sana, takut zonk.
       
      Anyway, balik ke tiket pesawat. Akhirnya aku melirik ke Airy dan melihat daftar tiket pesawatnya dengan hopeless. Hasilnya? Yaa, bener. Akhirnya benar-benar kecewa.
       
      Kecewa kok ngga dari awal aku melihat list tiket dari Airy! Kan jadinya ngga perlu panik! Harga tiket yang sama, penerbangan yang sama, bisa lebih murah di Airy! Kebetulan lagi, mereka punya promo yang iseng aku coba dan ternyata BERHASIL! Asli, aku girang banget! Logikanya, kalau harga mereka udah lebih rendah dari yang lain, pun dikasih promo jadi lebih murah, berarti mereka diskonnya ngga tipu-tipu! Wah. Salut banget sama Airy!
      Setelah booking dan bayar, tiket pesawatnya agak delay. Kira-kira setengah jam. Lumayan deg-degan tuh. Tapi positive thinking aja, mungkin sistemnya yang lagi heavy load. Setelah setengah jam, e-ticket masuk ke email, langsung ploooong! Kerjaan aman, kantong pun aman. Hehehehe.
      Langsung aja nih penampakannya :

      Sembari tadi menunggu e-ticket, aku sempat browsing-browsing kamar Airy. Kepo juga setelah disodori tiket pesawat murah. Kok banyak review yang bilang kamarnya bagus, memuaskan, dan lain-lain. Sepertinya lumayan nih untuk dicobain. Gimana-gimana, produk utamanya Airy Rooms kan kamar hotelnya ini. Bahkan ada beberapa hotel yang ada kolam renangnya! Bayangin, kamar hotel harga dua ratus ribuan, dapat fasilitas kolam renang! Wagelaseh!
       
      Buat yang lain, ngga usah mengulangi kepanikan yang aku alami kemarin, ya! Rugi waktu dan energi. Mending langsung cek harga di Airy. Udah jaminan paling murah dan banyak promo. Tapi aku tetep kecewa sih, kenapa baru ada sekarang-sekarang ini? Harusnya Airy ada dari dulu doong hiks.. Kan jadi bisa hemat dari dulu. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu, yang penting adalah melihat ke depan, semoga ke depannya harga Airy masih murah terus dan banyak promonya.
    • By vie asano
      Entah dengan traveler lain, namun saya termasuk salah satu traveler yang rutin melupakan beberapa benda maupun rutin melupakan beberapa hal setiap kali bepergian. Entah mengapa, walau sudah menyusun detail barang-barang yang harus dibawa dengan tingkat ketelitian level dewa, pastiiiiii ada saja benda-benda yang membuat saya berkata ups dan waduh setiap kali sampai ke tempat tujuan wisata. Mungkin tingkat ketelitiannya baru sampai di level Dewa Bujana kali ya? *ups*
       
      Back to the topic. Kali ini saya ingin sharing beberapa hal yang sering dilupakan oleh traveler, minimal oleh saya, sebelum pergi berwisata. Mudah-mudahan setelah melihat daftar berikut ini teman-teman bisa terhindar dari melakukan kesalahan yang sama (yang entah kenapa sering saya lakukan, hiks).
       
      1. Kantong plastik
       

       
      Foto 01:
      Kantong plastik. Kelihatannya sepele, tapi penting! [foto: Phrontis/wikimedia]
       
      Kenapa benda yang kelihatannya sepele ini menjadi yang pertama saya sebut? Karena benda ini termasuk salah satu yang paling sering saya lupakan. Walau terlihat sepele, kantong plastik punya banyak manfaat lho, mulai dari menjadi tempat penyimpanan baju kotor hingga sebagai kantong muntah. Saya cukup sering melupakan kantong plastik saat pergi berenang. Ujung-ujungnya, jika tidak menemukan kantong plastik di kolam renang, saya harus merelakan tas diisi oleh baju-baju basah (yang akhirnya menghasilkan bau lembab yang aduhai).
       
      2. Sikat gigi
       

       
      Foto 02:
      Benda yang satu ini juga sering terlupakan. Untung saja sikat gigi mudah ditemukan dimana saja dan harganya cukup terjangkau [foto: Jonas Bergsten/wikimedia]
       
      Tak sedikit traveler yang lupa membawa sikat gigi, khususnya yang akan pergi menginap di hotel. Biasanya wisatawan berasumsi jika sikat gigi sudah menjadi bagian dari fasilitas kamar hotel. Padahal tidak semua hotel menyediakan sikat gigi lho. Untungnya sikat gigi cukup murah dan mudah didapat di warung kecil sekalipun, jadi tak perlu khawatir seandainya kelupaan membawa sikat gigi saat akan bepergian.
       
      3. Lotion anti nyamuk
       

       
      Foto 03:
      Contoh produk anti nyamuk [foto: KaurJmeb/wikimedia]
       
      Saya termasuk orang yang gampang digigit nyamuk. Namun herannya, saya selalu saja lupa membawa lotion anti nyamuk. Karena nyamuk termasuk salah satu mahluk yang tidak mengenal batasan wilayah menggigit (alias bisa ada dimana saja), ujung-ujungnya saya kerap menghabiskan malam dengan berperang melawan nyamuk. Semua gara-gara kelupaan membawa lotion anti nyamuk.
       
      4. Produk-produk kebersihan
       

       
      Foto 04:
      Contoh produk hand sanitizer [foto: Wianwian/wikimedia]
       
      Maksud dari produk kebersihan disini bukannya sapu atau kain pel yah, namun aneka produk yang berhubungan dengan kebersihan diri maupun higienitas yang berguna untuk meminimalkan kontak dengan kuman maupun bakteri yang berpotensi mengganggu kesehatan. Misalnya saja hand sanitizer. Benda kecil ini bermanfaat untuk membersihkan tangan secara instan. Namun karena ukurannya yang kecil, terkadang saya lupa meletakkan hand sanitizer yang telah dibeli. Ujung-ujungnya harus beli yang baru (dan entah kenapa setiap kali beli baru, hand sanitizer lama selalu muncul lagi sehingga saya kerap memiliki hingga 3-4 buah hand sanitizer yang telah dibuka). Produk kebersihan lainnya yang kerap dilupakan adalah tisu basah, dan juga cairan pembersih antiseptik. Kelihatannya sepele ya, namun baru terasa penting saat kita mendadak harus menggunakan toilet umum di tempat wisata (yang kadang-kadang level kebersihannya mengkhawatirkan, bahkan minus).
       
      5. Mem-print rencana perjalanan
       
      Siapa yang suka lupa mem-print rencana perjalanan? Ayo ngacung! (saya ngacung pertama). Mungkin mem-print rencana perjalanan terlihat sepele, terlebih jika kita hanya bepergian ke tempat-tempat yang dekat saja, atau jika kita termasuk traveler dengan agenda wisata super free. Namun jika teman-teman memiliki jadwal perjalanan yang ketat, atau jika teman-teman memiliki kesulitan untuk mengingat detail rencana perjalanan, mem-print itinerary termasuk salah satu yang wajib dilakukan. Alternatifnya, kalian bisa mencatat itinerary di gadget kalian selama tidak melakukan point ke-6 di bawah ini.
       
      6. Gadget
       
      Saya pernah secara tak sengaja meninggalkan handphone di rumah saat pergi ke Bandung (waktu itu posisi di Jakarta). Memang sih hanya jaraknya cukup dekat yaitu hanya Jakarta-Bandung. Namun selama beberapa hari nggak terhubung dengan internet portable itu rasanya gimanaaa gitu. Jadi jangan sampai lupa membawa gadget saat akan berwisata. Terlebih jika kalian mencatat aneka itinerary dan detail perjalanan di gadget.
       
      7. Charger dan power bank
       
      Gadget sudah siap untuk diajak jalan-jalan. Bagaimana dengan charger dan power bank, sudah siap belum? Secanggih apapun gadget kalian, jika baterai-nya habis, maka takkan bisa digunakan lagi. Jadi sangatlah penting untuk selalu membawa charger (untuk men-charge gadget di tempat yang memiliki colokan listrik) dan juga power bank (untuk men-charge gadget di perjalanan) setiap kali bepergian. Dan jangan lupa untuk mengisi power bank hingga penuh sebelum bepergian, karena kita tak tahu kapan akan menemukan colokan listrik (terutama jika perginya ke daerah pelosok).
       
      8. Uang tunai
       

       
      Foto 05:
      Membawa uang tunai itu penting, namun tetap jangan berlebihan agar tidak mengundang bahaya [foto: Janos Korom Dr./wikimedia]
       
      Terkadang, ada saja traveler yang berpikir jika ATM ada dimanapun sehingga tak perlu membawa uang tunai. Well, jika kalian bepergian ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, ATM memang seolah berserakan dimana saja. Tapi jika kalian pergi ke daerah yang agak pelosok maupun ke kota kecil, bisa jadi ATM akan sama langkanya dengan air di gurun pasir. Idealnya, setiap kali berwisata, selalu siapkan uang tunai secukupnya. Minimal untuk membayar berbagai tetek bengek yang kelihatannya sepele namun perlu, seperti membayar biaya transportasi.
       
      9. Mengecek prakiraan cuaca
       
      Saya rasa tak sedikit wisatawan yang kerap lupa mengecek prakiraan cuaca. Memang kegiatan tersebut kelihatannya sepele, namun penting. Memastikan prakiraan cuaca akan membantu kita menentukan kostum yang tepat untuk digunakan di daerah tersebut, plus perlengkapan apa saja yang harus disiapkan (contoh: payung, jas hujan, dll dsb).
       
      Kira-kira itulah sebagian benda/aktifitas yang kerap terlupakan saat berwisata. Kalau teman-teman sendiri paling sering melupakan benda maupun lupa melakukan aktifitas apa sebelum/saat berwisata?
       
      ***
       
      *Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Berwisata memang menyenangkan, terlebih jika kita pergi ke tempat yang memang sudah lama sekali ingin dikunjungi. Namun segala rencana wisata yang telah disusun matang-matang bisa buyar dalam sekejap jika sakit melanda sesaat sebelum jadwal wisata maupun saat tengah berlibur. Memang sih siapa yang bisa menduga datangnya penyakit yang bisa muncul kapan saja tanpa permisi dulu, termasuk saat kita sedang hepi-hepi. Walau begitu, bukan berarti kita tak bisa meminimalkan resiko terkena penyakit sebelum/saat berlibur maupun berusaha menjaga agar kondisi badan tetap fit selama berwisata, terlebih karena beberapa penyakit yang kerap muncul sebelum/saat berwisata seperti flu dan diare terkadang muncul karena kecerobohan kita. Yuk, mari intip beberapa tips untuk menjaga kesehatan sebelum/saat berwisata berikut ini yang saya sarikan dari berbagai sumber.
       
      Sebelum berangkat
      -Kumpulkan informasi terkini mengenai situasi daerah/kota/negara tujuan wisata. Informasi disini maksudnya bukan gosip yah, namun lebih ke informasi seputar cuaca, penyakit, kondisi kesehatan masyarakat setempat, dan sejenisnya. Tujuannya agar kita bisa mengantisipasi langkah apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi situasi-situasi di daerah/kota/negara tujuan wisata tersebut, mulai jenis pakaian yang harus dibawa, maupun melakukan vaksinasi tertentu.
      -Siapkan berbagai obat-obatan pribadi. Biasanya jenis obat-obatan yang wajib dibawa antara lain paracetamol (untuk mengurangi nyeri dan menurunkan panas), aspirin (pengurang nyeri ringan-sedang), clorpeniramine (untuk mengatasi alergi dan juga dapat digunakan sebagai obat anti mabuk perjalanan), antasida (mengurangi masalah lambung), dan antidiare.
      -Istirahat cukup dan minum vitamin. Dengan memperhatikan waktu istirahat dan juga menjaga asupan vitamin, diharapkan tubuh bisa berada dalam kondisi terbaik saat waktunya pergi wisata kelak.
       
      Saat berwisata
      -Kenakan pakaian yang sesuai dengan iklim di daerah tujuan. Tujuannya tentu saja untuk menjaga kondisi tubuh agar tidak kaget dengan iklim di daerah wisata dan meminimalkan potensi sakit karena perubahan cuaca. Itulah pentingnya melakukan riset terkini mengenai kondisi iklim daerah tujuan wisata sebelum bepergian.
       

       
      Foto 02:
      Salah kostum bisa jadi salah satu penyebab menurunnya kondisi tubuh. Eh, foto ini mah ilustrasi doang yah! [foto: SUMBER]
       
      -Sebisa mungkin pilihlah menu makanan sehat dan tetap memperhatikan keseimbangan gizi. Memang sih berwisata itu paling sip dan paling mantap untuk menjajal aneka kuliner khas daerah tujuan wisata. Tapi kan nggak lucu kalau kita terkena sembelit akibat terlalu asik makan daging dan lupa mengkonsumsi serat (contoh) maupun terkena berbagai penyakit lainnya seperti kolesterol, asam urat, maupun diare hanya gara-gara kalap menyantap berbagai jenis makanan lokal. Intinya, jangan lupa daratan saat menyantap makanan lokal dan selalu berpeganglah pada kondisi kesehatan pribadi.
      -Perhatikan kebersihan makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Ingat, diare termasuk salah satu penyakit yang rajin menghampiri wisatawan. Jadi tak ada salahnya memperhatikan masalah kebersihan tempat makan, higienitas makanan, dan isu-isu lain yang berkaitan dengan masalah kebersihan makanan.
      -Konsumsi banyak air putih. Berwisata dapat membuat tubuh cepat dehidrasi. Berhubung air minum bisa menjadi salah satu biaya tak terduga saat berwisata, tak ada salahnya berbekal botol air minum yang bisa diisi ulang.
      -Walau tengah berwisata, jangan lupa berolah raga agar badan tetap fit. Cara termudah adalah dengan rajin berjalan kaki untuk mencapai obyek-obyek wisata yang memungkinkan untuk dicapai dengan berjalan kaki.
      -Istirahat yang cukup. Kadang, karena terlalu senang kita lupa untuk beristirahat yang cukup. Padahal kurangnya istirahat bisa membuat badan kaget dan akhirnya kondisi tubuh pun menurun, yang akhirnya malah mengundang penyakit yang dapat membuat rencana liburan jadi berantakan.
      -Rajin mengkonsumsi vitamin untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama berlibur.
       
      Tips meminimalkan kontak dengan kuman
      Berwisata tak bisa dilepaskan dari isu-isu tentang kebersihan, dan tentu saja kuman. Kebersihan termasuk salah satu hal yang paling krusial untuk diperhatikan jika kita ingin tetap sehat selama berwisata, dan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan kontak dengan kuman-kuman jahat yang berpotensi menjadi sumber penyakit. Memang sih kita tak bisa 100% bebas dari kuman (note: kalau takut kuman lebih baik nggak usah kemana-mana yah, hehe), namun setidaknya kita bisa mengurangi resiko terkena kuman jahat dengan beberapa langkah berikut ini.
      -Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Sudah jadi rahasia umum jika tangan merupakan pintu masuk utama bagi kuman untuk masuk ke dalam tubuh. Namun sudah rahasia umum juga jika tidak semua tempat, khususnya toilet umum, menyediakan sabun cuci tangan yang memadai. Solusinya, tak ada salahnya membawa sabun cuci tangan dalam kemasan mini kemanapun kita pergi.
       

       
      Foto 04:
      Langkah-langkah mencuci tangan yang baik dan benar [foto: SUMBER]
       
      -Membawa tisu basah, lebih baik jika mengandung antiseptik. Tisu basah antiseptik wajib jadi sahabat para traveler karena bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari membersihkan tangan hingga membersihkan dudukan toilet.
      -Hand sanitizer termasuk salah satu perlengkapan wajib untuk menjaga tangan tetap bersih, khususnya jika kita kesulitan menemukan air untuk cuci tangan.
      -Khusus bagi wanita, jangan lupa membawa ‘perlengkapan perang’ untuk menghadapi toilet umum. Sudah jadi rahasia umum jika wanita kerap bermusuhan dengan toilet umum yang terkadang kondisinya yaaa begitulah. Beberapa perlengkapan perang yang bisa dipertimbangkan, selain tisu basah, antara lain adalah toilet sanitizer (untuk membunuh kuman di bagian dudukan toilet duduk) dan cairan pembunuh kuman (untuk disiramkan ke lantai toilet jongkok maupun dicampurkan ke dalam air di toilet umum).
      -Jangan lupa untuk selalu berbekal masker. Tujuannya bukan hanya untuk melindungi diri dari kuman maupun penyakit yang bisa ditularkan melalui udara, namun juga agar tidak menulari orang lain kalau-kalau tiba-tiba kita sakit saat berwisata.
      -Jika kalian termasuk sangat peduli pada masalah higienitas, sebisa mungkin bawalah barang-barang pribadi yang mungkin akan digunakan saat perjalanan seperti selimut (khususnya jika pergi menggunakan pesawat) dan bantal traveling. Sudah jadi rahasia umum jika selimut yang disediakan oleh maskapai penerbangan kerap tidak dibersihkan dengan baik. Dan bantal untuk mengistirahatkan kepala mungkin sudah digunakan oleh berbagai orang dan mungkin saja belum dibersihkan dengan baik.
      Semoga bermanfaat!
       
    • By vie asano

      Katanya, traveling hanya untuk orang yang punya banyak duit. Katanya, traveling itu menghamburkan duit alias buang-buang uang. Selain perginya membutuhkan banyak biaya, pulangnya pun harus mengeluarkan biaya ekstra untuk oleh-oleh dan tetek bengek lainnya. Padahal yang didapat hanyalah melihat-lihat tempat baru, yang sebetulnya bisa dilihat dari TV maupun buku. Intinya, traveling itu menghabiskan uang!
        Eits, itu sih katanya. Traveling memang membutuhkan budget tersendiri, yang bagi beberapa orang terlihat nggak penting dan menghamburkan uang. Namun sebetulnya, jika jeli, traveling juga bisa menjadi sarana untuk menghasilkan uang lho. Nah, bagi teman-teman yang hobi traveling dan ingin mendapat uang dari aktifitas jalan-jalan tersebut, berikut beberapa tips yang bisa diintip.   1. Menulis pengalaman saat berwisata   Ini mungkin salah satu tips yang paling umum. Kalian pergi ke tempat baru, lalu menuliskan pengalaman tersebut dan menawarkannya pada media yang sesuai. Kalian mendapat bayaran dari tulisan tersebut (jika dimuat), dan media mendapat sebuah kisah yang original. That's it.   Tapi nembus media kan nggak mudah, mbak. Ada yang berpendapat seperti itu? Well, dalam realisasinya aktifitas menulis tentang traveling ini variasinya bisa sangat banyak. Jangan hanya terpaku pada konsep menulis dan dikirimkan ke koranâ€, karena jaman sekarang variasi media itu banyak sekali. Ada media cetak maupun media online. Coba beragam jenis media sampai kalian menemukan celah untuk memasukkan tulisan tentang traveling yang sudah dibuat. Salah satu langkah yang teman saya lakukan (dia seorang backpacker) adalah mengincar media asing (karena bayarannya biasanya lebih menarik namun tentunya harus punya skill berbahasa Inggris di atas rata-rata). Jika pede dengan kemampuan menulis, kalian juga dapat membuat sebuah buku tentang traveling maupun menuliskan pengalaman kalian dalam blog pribadi. Asal konsisten, bukan tak mungkin suatu saat nanti kalian bisa jadi travel blogger dan mendapat pemasukan dari iklan maupun di endorse oleh pihak tertentu.   2. Menjadi fotografer traveling   Pede dengan kemampuan fotografi kalian? Coba deh saat wisata jangan hanya bengong maupun sibuk berburu oleh-oleh. Jepretkan kamera kalian dan lihat apakah foto kalian layak untuk dijual ke media. Sekali lagi, jangan hanya terpaku pada media cetak saja ya. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh adik saya. Dia memajang hasil fotonya di sebuah situs onlen. Ternyata fotonya disukai oleh sebuah website luar yang akhirnya membeli foto tersebut (dengan tetap menulis credit untuk adik saya).   3. Menjadi tour guide   Merasa yakin punya pengetahuan yang cukup tentang sebuah tempat wisata? Atau mungkin tinggal di dekat sebuah obyek wisata? Manfaatkan potensi tersebut dengan menjadi tour guide. Profesi sebagai tour guide lokal ini mudah ditemukan di berbagai obyek wisata. Misalnya saja di Bali, nggak sulit menemukan orang yang menawarkan jasanya untuk memandu wisatawan mengelilingi sebuah obyek wisata. Tentu saja syarat utamanya kalian harus memiliki kemampuan berbahasa asing (karena biasanya orang asing lebih membutuhkan jasa pemandu wisata), punya pengetahuan yang memadai, dan tentu saja nggak malu-malu menawarkan jasa.   Trus gimana kalau tinggal jauh dari obyek wisata? Coba deh kalian menyusun daftar tempat wisata yang sudah kalian kenal baik. Siapa tahu kalian bisa menjual rute tersebut+menawarkan jasa pemandu sebagai sebuah paket wisata. Akhir-akhir ini banyak lho wisatawan yang mencari tour yang murah meriah tapi maknyus (yang biasanya akan pikir-pikir lagi jika menggunakan jasa tour and travel). Syarat utama agar berhasil, selain memiliki kemampuan berbahasa (Inggris/Indonesia/lainnya) yang memadai, cari strategi marketing yang tepat untuk menjual produk kalian. Jangan lupa sertakan juga kelebihan paket yang kalian tawarkan dibanding paket dari pihak lainnya.   4. Mengkombinasikan hobi dengan aktifitas traveling   Coba deh kalian telaah lagi, kira-kira ada hobi yang bisa dikombinasikan dengan aktifitas traveling yang dapat menghasilkan uang nggak ya? Misalnya saja kalian hobi hiking dan sangat berpengalaman dalam menaklukkan gunung. Kalian bisa lho menjual keahlian itu untuk memandu mereka yang mencari pemandu untuk naik gunung. Atau kalian hobi jalan-jalan naik mobil dan hapal berbagai sudut kota, bisa juga menjadi supir khusus untuk para turis yang ingin melancong. Atau mungkin suka menyelam dan punya sertifikat instruktur selam? Itu juga bisa dijual lho. Bahkan mereka yang hobi makan dan mencicipi kuliner unik juga bisa menyalurkan hobi makan-makannya itu dalam sebuah paket wisata kuliner. Jadi, kenali potensi dirimu dan jangan malu-malu untuk menjual hobi kalian dalam bentuk traveling.   5. Mencari pekerjaan/aktifitas baru di tempat lain/luar negeri   Dewasa ini Bahasa Indonesia mulai diterima di berbagai negara, seperti Australia dan Jepang. Coba deh cari informasi tempat-tempat yang membutuhkan pengajar untuk bahasa Indonesia terutama di luar negeri. Siapa tahu kalian bisa mendapat uang dari aktifitas mengajar, sekaligus berwisata di sela-sela waktu bekerja.   Itu hanya salah satu contoh saja. Masih banyak aktifitas/pekerjaan temporer lainnya yang bisa dilakukan sambil berwisata ke negara lain. Misalnya saja menjadi pekerja paruh waktu untuk tempat-tempat wisata yang menerima pekerja asing, maupun menjadi sukarelawan ke daerah tertentu (dan menghasilkan uang dengan menjual keahlian kita di tempat tersebut).   6. Lainnya   Tips ini mungkin cocok bagi mereka yang jarang bisa bepergian (alias wisatawan virtual) namun ingin menghasilkan uang dari traveling (dan ini yang cukup sering saya lakukan), adalah dengan menjual paket konsultasi tour maupun merancang paket perjalanan wisata mandiri untuk wisatawan. Maksudnya, kalian melayani konsultasi maupun membuatkan paket tour tentatif bagi wisatawan yang membutuhkan, namun tidak sampai mendampingi hingga ke lapangan. Memang sih biayanya lebih murah dibanding menjadi tour guide yang bisa terjun langsung ke lapangan maupun membuka agen tour and travel resmi, tapi jika dijalani dengan serius (dan jika menemukan pasar yang tepat), hasilnya lumayan lho. Tentu saja ada syarat wahidnya, yaitu kalian harus menguasai dengan betul seluk beluk paket tour yang kalian tawarkan (ini harga mati!), termasuk detail kondisi terkini di lapangan (harus rajin-rajin mengecek berita terkini dari sumber terpercaya), dan harus nrimo seandainya ada komplen karena ‘rencana indah di atas kertas dan kenyataan di lapangan memiliki perbedaan.   Semoga bermanfaat!
       
    • By vie asano

      Apakah kalian jones (alias jomblo ngenes) dan kalian selalu merasa galau karena itu? Atau baru putus cinta yang membuat hati hancur berkeping-keping dan dunia terasa akan berakhir? Atau mungkin sahabat kalian adalah jones kelas kakap maupun baru saja patah hati? Jangan buru-buru untuk mendaftar ke biro jodoh maupun ikutan berbagai situs kencan yang belum tentu jelas. Masih ada cara lain untuk mengobati hati yang luka (lagu kali ya?) yang lebih mantap dan tokcer. Traveling.
      Apa hubunganya traveling dengan mengobati masalah perasaan? Tentu saja ada dong. Disadari atau tidak, ada beberapa poin dari traveling yang jika dimanfaatkan dengan semestinya dapat mengobati penyakit patah hati. Nggak percaya? Coba simak beberapa alasan berikut ini yang membuat para jones dan patah hati-ers wajib melirik aktifitas traveling.
       
      1.Traveling memberikan kesempatan untuk berjauhan dengan mantan
      Saat masih pacaran, biasanya telpon atau BBM 3x sehari (atau lebih). Kencan minimal seminggu sekali. Dan bahkan bisa jadi juga setiap hari bertemu karena doi adalah teman sekolah maupun teman kuliah. Begitu status kekasih berubah jadi mantan, bisa jadi kalian akan susah move on karena masih terikat dengan kenangan akan aktifitas yang dilakukan bersama mantan, atau karena masih rutin bertemu dengan mantan.
      Itulah gunanya traveling. Dengan bepergian ke tempat yang jauh setidaknya kalian dapat menjauhkan diri sejenak mantan dan menjauhkan diri dari tempat-tempat yang berpotensi memberikan kenangan indah pada masa-masa pacaran. Apalagi jika kalian pergi ke tempat yang susah sinyal handphone sehingga kesulitan untuk men-stalking status BBM, facebook, maupun path milik mantan. Dengan memaksa menjauhkan diri dari mantan, mudah-mudahan kalian akan lebih cepat move on dan patah hati akan lebih cepat pulih.
      Lalu apa gunanya traveling untuk jones? Dengan pergi ke tempat baru, setidaknya kalian bisa melarikan diri sejenak dari pertanyaan kapan nikah, atau mana pacarnya, dan sejenisnya. Betul nggak?
       
      2.Merencanakan traveling akan mengalihkan perhatian kita untuk sementara dan fokus pada diri sendiri
      Jika ingin perjalanan wisatanya lancar, kalian harus membuat daftar perencanaan tertentu. Minimal daftar barang-barang yang akan dibawa, dan aktifitas itu biasanya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dengan berkonsentrasi pada aspek perencanaan, kalian akan fokus pada diri sendiri dan juga agenda wisata sehingga bisa melupakan mantan (maupun status Jon Law a.k.a Jomblo Ngenes Galaw) walau untuk sementara waktu.
       
      3.Traveling memberikan suasana baru yang baik untuk perubahan mood
      Pergilah ke tempat-tempat wisata dengan pemandangan indah, maupun tempat wisata yang memberikan tantangan tersendiri. Carilah suasana baru yang dapat mengubah mood kalian yang suram, agar setelah traveling selesai kalian siap menghadapi hari dengan suasana baru (yang mudah-mudahan lebih cerah).
       
      4.Traveling dapat memberikan sudut pandang baru yang mungkin bisa mengubah cara pandang kita
      Saya pernah mendapat petuah bagus ini dari sebuah film beberapa tahun silam. Bunyinya kira-kira seperti ini: “Jika kamu memiliki masalah, cobalah pergi ke tempat tinggi dan lihatlah ke arah bawah. Lihatlah betapa banyak orang di bawah sana yang mungkin memiliki masalah yang lebih besar, dan kamu akan merasa jauh lebih baik. Ada yang tahu itu dari film apa? Intinya, perubahan perspektif itu penting agar kita dapat lebih bijak melihat masalah, dan mungkin saja itu bisa ditemukan dalam perjalanan kalian ke tempat baru.
       
      5.Traveling membuat kita lebih menghargai diri sendiri
      Saat traveling kita bertanggung jawab pada diri sendiri, terutama jika kita merencanakan segala sesuatunya sendiri. Segala aktifitas mengurus diri sendiri itu, jika dilakukan tanpa mengeluh, dapat membuat kita lebih menghargai diri sendiri lho. Dan menghargai diri sendiri merupakan obat mujarab agar cepat bisa move on dari mantan maupun dari suasana galau.
       
      6.Traveling dapat membuat kita melihat keindahan dan juga perbedaan dari suatu tempat
      Salah satu alasan klasik mengapa sebuah hubungan bisa berakhir adalah karena sudah tidak ada kecocokan lagi. Nah, dengan bepergian ke banyak tempat kalian akan belajar melihat keindahan dan menghargai perbedaan dari suatu tempat. Mudah-mudahan setelah traveling kalian mendapat beberapa pelajaran baru, mulai dari pelajaran menghargai perbedaan karakter manusia, melihat kelebihan dan keindahan seseorang, yang intinya adalah meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain.
       
      7.Traveling dapat membuat kita keluar dari zona nyaman dan meningkatkan kualitas dirimu
      Ya, traveling dapat memaksa seseorang untuk keluar dari zona nyaman, apalagi jika kalian berani bepergian dengan cara/gaya di luar kebiasaan kalian. Dengan begitu, kalian menantang diri kalian untuk lebih tegar, lebih berani, dan akhirnya memberikan rasa percaya diri karena kualitas hidup kalian telah meningkat. Kalau rasa percaya diri sudah tumbuh dan kalian nyaman terhadap diri sendiri, urusan patah hati maupun galau sudah bukan masalah lagi.
       
      8.Traveling memberikan kenangan baru untuk menggantikan kenangan lama
      Bepergian ke tempat baru tentu akan memberikan kenangan baru. Jadi jangan hanya berdiam di hotel dan merenung saja saat traveling. Ayo keluar dan bersenang-senanglah! Lakukan aktifitas yang dapat memberikan kenangan indah yang tak hanya menghibur kalian, namun dapat menggantikan kenangan lama bersama mantan.
       
      9.Traveling dapat memberikan inspirasi baru yang diperlukan untuk menata hidup
      Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari traveling. Dengan bepergian ke tempat baru dan menyerap hal-hal bijak dari tempat tersebut maupun dari masyarakat setempat, mudah-mudahan kalian mendapatkan inspirasi dan pencerahan yang berguna untuk menata hidup, termasuk pencerahan untuk melepas status galau.
       
      10.Traveling memungkinkan kita untuk bertemu dengan orang baru dan mungkin juga jodoh baru
      Ya, betul sekali. Pergi ke tempat baru = bertemu dengan orang baru, entah dari tempat yang kita kunjungi maupun dari rombongan tour. Siapa tahu jodoh sejati kita ternyata berada di tengah-tengah orang baru tersebut. Betul nggak? Jadi tunggu apa lagi, ayo siapkan diri dan pergi traveling yuk!