1. Jalan2

    Jalan2

  • Similar Content

    • By Daniyah Isa
      Hayhay, 
      Sedang ingin melokal dulu saja nih, ke tempat yang dekat sebelum melunvcur lagi ke tempat yang jauh
      Diantara kalian ada yang orang Yogya ? atau pernah stay lama di Yogya ?
      Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan petunjuk dan arah ini yaa
      Siapa yang tidak kenal dengan Yogyakarta? Daerah Istimewa yang tidak ada habisnya untuk rekomendasi wisata. 
      Long weekend 16-19 Agustus 2018 saya berkesempatan mengunjungi Yogya. Niat saya memang untuk menaiki transportasi umum di tempat ini. Untuk kalian yang senang berpergian sendiri, tanpa memesan paket wisata, semoga cerita saya bisa jadi referensi.
      Tepat pukul 04.00 Subuh saya tiba di stasiun Tugu Yogya. Saya keluar, belok kiri dan menelusuri jalan hingga menemui perempatan. Sampai di perempatan, saya ambil ke kanan untuk mengunjungi Jalan Malioboro.
      Nah buat kalain yang ingin menginap di kawasan Malioboro, dalam satu gang ini dari depan sampai belakang semuanya Hotel terjangkau loh :
      Jl. Kp.Sosromenduran
      Saya memilih menginap di Malioboro, karena aksesnya sangat dekat. Ini loh Hotel pilihan saya :
      Hotel Larasati 
      Selain Hotel itu, di dalam satu gang terdapat pilihan beberapa hotel, dari ujung depan sampai ke ujung belakang. 
      Baiklah, hari pertama tujuan tempat wisata saya adalah :
      1. Candi Prambanan 
      Tidak jauh dari hotel, saya berjalan menuju halte Malioboro 1. Saya menunggu transJogja 1A. Turun di Halte Pasar Prambanan. 
      TransJogja 1A Halte Malioboro – Halte Pasar Prambanan
      Saran Saya, jangan malas jalan yaa! Memang sih ada banyak pilihan seperti bentor (becak motor), Ojek, dan Delman. Buat pelancong seperti saya, agak sayang sih! Ini tinggal ke sebrang saja, sudah sampai ke pintu masuk kawasan wisata prambanan. Jadi, jangan malas jalan! Tetap siapkan stamina *kalau bisa. 
      Kawasan Candi Prambanan
      Harga tiket Masuk saat itu, 17 Agustus 2018 Rp 40,000 untuk turis Domestik. Saya rasa ini cukup mahal, mengingat harga itu hanya untuk ke candi Prambanan saja, tidak untuk satu komplek candi disekitar Prambanan. 
      2. Candi Borobudur 
      Nah, siapa yang tidak kenal dengan candi ini ! Pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dan masih menjadi warisan sejarah dunia. 
      Berangkat dari Halte Pasar Prambanan, saya memutuskan untuk lanjut saja ke candi Borobudur. Saya naik transJogja 1A arah balik menuju Malioboro, namun berhenti di halte Bandara Adisujipto lalu sambung transJogja 5B. 
      Menaiki transJogja 5B, turun di terminal Jombor. Memang banyak juga yang menyarankan naik dari terminal Giwangan, tapi kebetulan saya dapat saran dari petugas transJogja untuk berhenti di terminal Jombor.
      Tapi memang dibutuhkan kesabaran bila kalian memutuskan berpergian menggunakan transportasi umum. TransJogja bisa dibilamg berputar hampir ke seluruh pusat kota Jogja. 
      Turun di terminal Jombor, kalian akan temui kenek bus yang berteriak “Ayo Borobudur, Borobudur!” sayang saya nggak foto busnya karena terburu-buru waktu itu. 
      Bus itu seperti kopaja kalau di Jakarta. Waktu beroprasi bus ini 05:00am-03:00pm dari terminal Jombor. Dari terminal Magelang, bus paling terakhir pukul 05.30pm (setengah enam sore), lepas itu tidak ada bus lagi ke Yogya. 
      Tarif bus ini relatif sih! Jadi pengalaman saya, pas pertama berangkat pakai bahasa Nasional 25RB setara dengan turis asing di belakang saya. Nah, pas pulang saya pakai bahasa Jawa! Yaa memang kebetulan orang Purwokerto sih hehehe, tarifnya 20RB.  Sejen lah, karo wonge dewek aja larang-larang! Hahaha. Beda lah, sama orangnya sendiri jangan mahal-mahal! Gituuh. 
      Halaman utama Borobudur menghadap Gunung Merapi
      Turun dari terminal, kalian akan ditawari Ojek menuju pintu masuk Borobudur. Tawar saja 10RB, karena tempatnya hampir 1km dari terminal Magelang. 
      HTM borobudur dikenakan 40RB untuk wisatawan Domestik. Kalian bisa memandang Gunung Merapi dari ketinggian. Tetap waspada dan hati-hati yaa! Tangga menaiki candi cukup curam.
      Patung Budha di atas Candi Borobudur
      Menunggu Sunset ataupun Sunrise disini memang sungguh indah. Melihat keagungan ciptaan Sang Illahi, Masha Allah. Aslinya lebih bagus daripada fotonya. 
      3. Keraton Kesultanan
      Tidak lengkap rasanya kalau kalian datang ke Yogya tanpa melewati Keraton Kesultanan. Lokasinya hanya lurus saja dari jalan Malioboro. Ditempuh jalan kaki sekitar 25 menit saja.
      Keraton Kesultanan Yogyakarta
      Yaps, gambar halaman depan Keraton Kesultanan Yogyakarta ! Saya tidak masuk ke dalamnya, karena bagi saya cukup melihat dari luar saja, heheh.
      Lapangan di depan Keraton Kesultanan
      Kebetulan, saat itu sedang 17 Agustus perayaan hari Merdeka. Malamnya, akan diadakan konser musik dan beberapa pameran. Di samping jalan, terdapat dua pohon beringin Kramat.
      4. Nol Kilometer
      Jalanan ini hampir mirip kota tua bagi saya. Bangunan tua bekas kolonial Belanda masih berdiri kokoh, yang sekarang digunakan sebagai gedung perkantoran. 
      Perempatan Jalan Nol Kilometer
      Jalanan ini cukup bersih, udaranya segar, ramai juga. Waktu itu cuaca cukup terik sekitar 38C.
      Tapi semua terbayar dengan semilir angin dan pohon-pohon besar yang teduh, heheh. 
      Bangunan Pos Indonesia di Nol Kilometer
      5. Jalan Malioboro 
      Sengaja saya tempatkan diurutan terakhir untuk wisata di Malioboro. Saya menginap di kawasan Malioboro karena di tempat ini cukup strategis untuk akses transpotasi umum, ataupun bagi yang mau pick up taxi-ojek Online. 
      Dari Stasiu Tugu,  hanya keluar lalu belok kiri, menemukan perempatan dan belok kanan. Sampai deh, di Malioboro.
      Kawasan sekitar Jalan Malioboro
      Tempat ini menjajakan berbagai macam kuliner Yogya, ada toko pakaian, tas, sepatu dan macam-macam. Dari harga murah sampai yang menengah. Kawasan ini cukup padat, ramai dan tidak cocok untuk berfoto bagi saya. 
      Kalau ingin berfoto di Malioboro, buat saya lebih baik bangun sebelum subuh dan mengelilingi jalan Malioboro yang sepi. 
      Malioboro saat pagi hari
      Nampak di atas gerobak yang ditutupi terpal biru. Kalau malam, di depan itu semua para pedagang kaki lima menjajakan kaos dan oleh-oleh khas Yogya.
      Maaf itu kakinya nebeng narsis heheh .
      Sebenarnya jika kalian memiliki stamina yang cukup kuat, kalian bisa mendatangi kelima tempat itu dalam waktu satu hari. 
      Ambil kereta malam,  agar sampai pagi di Yogya. Jadi begitu sampai bisa langsung ke Borobudur lalu lanjut ke kawasan wisata sekitar pusat kota Yogya. 
      Sekian cerita jalan-jalan saya, semoga bermanfaat untuk kalian uang sedang bingung ingin berwisata kemana.
      Tapi jangan dipaksain loh yaa, nanti sakit tipes lagi heheh
       
       
    • By Burhan Abdillah Sanjaya
      Objek wisata alam merupakan destinasi paling diminati ketika memasuki musim liburan, namun seiring memasuki era globalisasi di kota-kota besar, maka wisata alam pun mulai tersisihkan. Namun tetap saja manusia memerlukan tempat hiburan guna menjernihkan pikiran mereka setelah dibuat lelah oleh rutinitas pekerjaan maupun berbagai kegiatan sekolah. Oleh sebab itu di jaman modern seperti sekarang, pihak pemerintah telah bekerja sama bareng swasta mendirikan berbagai objek wisata buatan mengusung konsep theme park di kota-kota besar salah satu nya di kota Tangerang Banten. Tempat rekreasi Citra Raya World Of Wonders Tangerang Banten mungkin bisa dijadikan referensi wisata menyenangkan bersama keluarga maupun kerabat. Objek Wisata Tangerang ini menyediakan berbagai sarana hiburan berupa permainan seru yang dapat menghibur wisatawan.

      Selain menjadi arena bermain menyenangkan, sepertinya pihak pengelola juga menyisipkan nilai-nilai pendidikan disana. Terlihat dari sejumlah miniatur keajaiban dunia, misal disana ada miniatur candi Borobudur, Menara Pisa, Piramida, Candi Prambanan, Colloseum, Spinx, gerbang Ishtar, kuil Karnak-Ziggurat dan Mercusuar Iskandariyah. Dari miniatur tersebut setidaknya pengunjung diharapkan menyaksikan langsung bangunan-bangunan bersejarah serta budaya-budaya didalamnya.
      Terdapat juga banyak wahana permainan di Citra Raya World of Wonder Tangerang seperti Taman Satwa, Kincir Jurrasic, Cangkir Puntir, Kuda Ria, Arena Tangkas, Katak Kejut, Outdoor Playground, Perahu Tembah, Paralayang, Perahu Liberty, Rumah Angker, Sepeda Layang, Keliling Dunia, Kebat Kebit, Mobil Gladiator, Ayunan Kaisar, Kereta Minoan, Gasing Alexandria, Cinema Phartenon dan masih banyak wahana permainan lainnya.

      Keberadaan wahana permainan serta wahana edukasi yang disediakan tentu menjadi daya tarik utama wisata Banten ini, belum lagi tersedianya sejumlah fasilitas wisata disediakan untuk pengunjung yang diharapkan semakin memberikan rasa aman dan nyaman, sehingga mereka betah berlama-lama ditempat wisata. Fasilitas umum tersedia disana antara lain area parkir luas, kamar mandi umum, tempat-tempat istirahat, berbagai spot-spot foto corner kekinian dan peta lokasi wisata yang tertera di depan pembayaran tiket masuk.
      Nah, bagaimana kawan-kawan jalan2.com dari informasi diatas sudah dapat gambaran dari destinasi wisata Tangerang ini kan. Supaya bisa mencoba berbagai wahana permainan dan berswafoto disana, tentunya kawan wajib mengeluarkan biaya tiket masuk terlebih dulu. Tiket masuk Citra Raya World Of Wonders Tangerang Banten dibagi menjadi dua yakni hari selasa hingga jum'at(weekday) sebesar Rp. 65.000 sedangkan tiket weekend dan musim liburan dikenakan biaya sebesar Rp. 75.000 per wisatawan.
      Jam buka Citra Raya World Of Wonders mulai buka pada pukul 10.00 WIB hingga tutup kembali pada pukul 18.00 WIB untuk weekday sedangkan weekend buka mulai pukul 09.00 WIB dan tutup kembali pada pukul 18.00 WIB. Theme park Tangerang ini berada di perumahan Citra Raya Blok KH 01Sektor 3.1, Kawasan Wisata Mardigrass Citra Raya, Cikupa, Mekar Bakti, Panongan, Kota Tangerang, Banten.
    • By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
        Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.
       
       
       
       
    • By Jakjazzy
      Selamat malam rekaners jalan2.com
      saya punya rencana destinasi perjalanan ke jogja.
      ini list nya :
      1. Pantai timang
      2.  taman wisata alam kalibiru
      3. curug luweng sampang
      4. air terjun sri gethuk
      5. candi borobudur
      6. museum ullen sentalu
      7. gunung merapi
      kira- kira ini udah satu arah belum ya ?? misalnya utara ya diutara aja destinasi wisatanya.  
      mohon bantuannya, soalnya saya bulan februari depan mau kesana
       

       
      Terima kasiih