Sign in to follow this  
Banyusmom

BERWISATA SAMBIL MENGENAL SUKU DAYAK DI SAMARINDA

11 posts in this topic

Bangsa Indonesia terkenal dengan beragamnya suku dan budaya. Keragaman ini menyatu dalam Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Indonesia. Salah satu keragaman suku yang dimiliki Indonesia terdapat di Samarinda. Samarinda sebagai ibu kota Kalimantan Timur menyimpan banyak pesona dan keunikan. Pesona wisata di Samarinda telah dikenal luas di kalangan pelancong baik lokal maupun mancanegara. Kota Samarinda yang dilalui sungai Mahakam menjadi pilihan wisatawan untuk menemukan beragam keindahan dan keunikan Indonesia.

 

post-34-0-55498600-1359735376_thumb.jpg

 

Tak hanya keindahan alam yang ditawarkan Samarinda, dari sisi budaya setempat Samarinda tergolong daerah dengan kebudayaan yang beragam dan unik. Salah satu wisata budaya yang ditawarkan oleh Samarinda yaitu desa Pampang. Desa Pampang yang terletak kira-kira 20 km dari pusat kota Samarinda menyuguhkan kehidupan suku Dayak Kenyah yang unik. Jika anda hendak mengunjungi Desa Pampang perjalanan dapat ditempuh denga jalur darat dengan kendaraan bermotor melewati jalan raya Samarinda-Botang.

 

Suku Dayak merupakan salah satu suku primitive yang terdapat di Kalimantan. Salah satu klan terbesar dalam suku Dayak adalah klan Dayak Kenyah. Suku Dayak Kenyah mendiami  desa Apo Kayan denga jumlah penduduk sekitar 4700 jiwa. Mata pencaharian mereka umumnya bertani. Mereka masih menerapkan sistem berladang perbindah da nada beberapa yang bermata pencaharian berniaga. Kepercayaan yang mereka anut saat ini mayoritas beragama Kristen dan Katholik, namun seiring dengan perkembangan jaman, agama Islam mulai merambah suku ini. Akan tetapi orang-orang tua suku Dayak masih memegang teguh sistem kepercayaan animism sebagai warisan leluhur mereka. Sebagai sarana berkomunikasi sehari-hari, masyarakat Dayak menggunakan bahasa Kenyah yang terdiri dari 14 dialek. Beberapa kaum muda suku Kenyah yang mendiami Apo Kayan sudah mengenal bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan mulai banyaknya pendatang yang mengunjungi mereka dan sifat suku Dayak Kenyah ini yang terbuka.

Sebagai klan terbesar dalam suku Dayak, suku Dayak Kenyah menurut sejarah merupakan keturunan para pedagang Cina dan suku Barunai atau Brunai Darussalam. Karena seringnya berperang antar saudara (suku Barunai lainnya), maka mereka berpencar dengan mendiami empat wilayah berbeda. Masing-masing wilayah dikepalai satu kepala adat dan salah satunya mendiami Apo Kayan hingga saat ini.

Banyak keunikan yang disajikan jika anda memutuskan berwisata ke pemukian Dayak Kenya ini. Daya tarik yang ditawarkan suku Dayak Kenya ini adalah Lamina atau Uma Da’du, rumah adat suku Dayak yang khas. Lamin ini terbuat dari kayu ulin dan beratap siram. Lamin dihiasi dengan hiasan lukis menyerupai tumbuhan paku yang didominasi warna kuning dan putih. Karakter yang dihadirkan lukisan ini sangat kuat. Lukisan serupa juga bisa dijumpai menghias tangan beberapa perempuan Dayak sebagai tattoo. Tetapi saat ini hanya kaum tua saja yang masih menggunakan tattoo tersebut.  

 

post-34-0-01750900-1359735392_thumb.jpg

 

Perempuan-perempun Dayak memang terkenal kecantikannya, tak hanya cantik perempuan Dayak juga dapat dikenali dengan acesoris yang mereka kenakan. Anting panjang dan gelang yang banyak menjadikan perempuan Dayak berbeda dari perempuan kebanyakan. Dalam tradisi suku Dayak, jika perempuan memiliki telinga panjang ia akan merasa cantik dan menunjukkan strata bangsawan yang mereka sandang. Selain itu telinga yang panjang juga menjadi penanda umur perempuan Dayak. Jumlah anting yang menggantung ditelinga menjadi rangkaian jumlah umur si pemakai, jadi jangan heran jika anda berwisata ke kampung adat Dayak Kenya ini menemukan perempuan yang mengenakan anting berjumlah 60 atau lebih itu artinya usianya berkisar 60an tahun.

 

post-34-0-02906600-1359735411_thumb.jpg

 

Suguhan lain dari kampung adat ini adalah tarian adat serta upacara adat Dayak Kenyah. Tarian yang sekarang menjadi komoditi wisatawan adalah tari Burung Enggang dan tarian Gong. Kedua tarian ini dahulunya hanya ditarikan pada pesta-pesta adan tertentu seperti perkawinan. Taria diperagakan oleh muda-mudi suku Dayak Kenya yang dibalut pakaian khas adat Dayak. Pakaian tradisional ini mempunyai motif yang sangat unik yang mencirikan budaya dan tradisi Dayak. Pengiring tarian ini adalah musik khas Dayak pula yang dinamakan sampek. Atraksi budaya ini diselenggarakan setiap hari Minggu pada pukul 14.00 wita. Biaya masuk ke perkampungan adat dan wisata suku Dayak Kenya ini hanya Rp 15.000 per orang.

Rasaya wisata budaya anda tak lengkap jika tak membawa oleh-oleh khas suku Dayak. Di sini masyarakatnya mahir membuat kerajinan seperti Mandau yang juga sebagai senjata khas suku Dayak, aneka rupa kerajinan manik-manik, juga patung totem yang hanya ada di sini.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this