Sign in to follow this  
baehaki

Akihibara, Surga para Otaku Di Jepang

10 posts in this topic

Otaku, istilah yang satu ini cukup familier di beberapa kalangan, termasuk saya :D. Menurut Wikipedia, Otaku sendiri adalah orang yang terobsesi dengan keinginan yang tinggi, secara khusus kepada anime dan manga. Namun, tak sedikit juga yang beranggapan mereka yang menyukai game juga termasuk dalam kategori otaku, termasuk juga tokusatsu. Bagi yang kurang ngeh dengan istilah tersebut, Tokusatsu itu adalah istilah yang biasa digunakan untuk tayangan televisi dengan tokoh utama superhero. Contoh paling mudah tokusatsu ya berbagai seri Kamen Rider atau Ksatria Baja Hitam. Tahu dong kalau ini... :D

 

Secara umum, emang biasanya orang yang suka manga dan anime Jepang, kebanyakan akan menyukai hal-hal lain berbau Jepang. Makanya tidak heran orang yang ngefans dengan tokusatsu dan game juga termasuk dikategorikan dalam otaku.

 

Kalau di tanah air, rasanya akan cukup sulit menemukan daerah atau wilayah yang secara khusus menjadi tempat berkumpulnya para otaku (atau mungkin ada yang tahu?). Nah, untuk yang ada di Jepang sono, ada sebuah tempat khusus bernama Akihibara yang sangat terkenal di kalangan para otaku.

 

Saya sendiri pertama kali mengenal tempat ini pada saat nonton drama jepang berjudul Densha Otoko, di mana tokoh utamanya adalah seorang otaku :D. Nah, di Akihibara inilah yang menjadi tempat bersejarah si tokoh utama dengan wanita yang dicintainya.

 

Tempat ini berada di pusat kota Tokyo dan juga kerap disebut sebagai Akiba. Awalnya, kawasan ini bukanlah setenar yang sekarang. Di sana, dulunya hanya terdapat deretan toko-toko elektronik. Mungkin kalau di Jakarta semacam Glodok atau kalau di Surabaya seperti Hi-tech Mall kali ya.

 

Nah, sebagai tempat yang menjadi lokasi berkumpulnya para otaku, hari minggu pun menjadi hari yang spesial di sini. Pada hari tersebut, jalan utama di Akihibara sengaja ditutup untuk kendaraan umum, alias car freeday yang dilaksanakan dari pukul 13.00 hingga 18.00 (namun pada Oktober hingga Maret ditutup pada 17.00).

 

3003_map_06.gif

 

 

Nah, dari sekian banyak tempat-tempat di Akihibara, terdapat beberapa yang sangat terkenal dan menjadi rujukan para otaku. Mana-mana saja tempat itu? Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

 

Maid Cafe

 

Daya tarik sebuah manga dan anime salah satunya adalah karakternya yang cantik. Dan, entah ya kenapa, karakter anime dan manga yang memakai kostum pembantu kenapa kerap dinilai seksi. Soalnya, bagi saya sih nggak begitu... :D.

 

320px-Maid-rose.jpg

 

Nah, untuk mereka yang menganggap bahwa karakter manga dan anime berkostum pembantu aka maid itu seksi dan imut, bisa datang ke Maid Cafe. Kafe ini memiliki desain yang menarik bagi para otaku, karena para pelayannya secara khusus menggunakan kostum maid. Dan, tempat ini pun muncul dalam Densha Otoko yang saya ceritakan di atas. Dan, sepertinya menyenangkan nih kalau ke tempat ini... hehehe

 

 

Super Potato

 

3003_20.jpg

 

Nah, tempat yang satu ini menjadi lokasi bagi otaku yang ingin mencari berbagai tipe video game serta konsol game. Koleksi game yang dipunyai oleh tempat ini pun sangat banyak. 

 

 

Mandrake

 

3003_22.jpg

 

Pemilik tempat ini menjuluki Mandrake sendiri sebagai toko anime dan manga terbesar di dunia, tidak mengherankan memang, selain karena Akihibara merupakan pusat para otaku Jepang juga menjadi negara tempat lahirnya anime dan manga. So, bebas aja mereka mengklaim seperti itu bukan? Di tempat ini, para otaku pun bisa menemukan berbagai jenis barang yang menjadi kesukannya, seperti anime figure, manga, boneka anime dan manga, CD, mainan dan aksesoris lain yang berhubungan dengan manga n anime.

 

Gundam Cafe

 

20100423090502-29948.jpg

 

Kalau Anda para otaku kurang menyukai suasana Maid Cafe, bisa menuju ke Gundam Cafe. Seperti namanya, kafe yang satu ini memiliki desain khusus untuk para pecinta anime dan manga gundam. Tak hanya dekorasinya yang berbau gundam, bahkan makanan yang ditawarkan pun berbau gundam juga. 

 

 

Ishimaru Denki

 

3003_03.jpg

 

Terdapat tiga toko Ishimaru Denki yang ada di daerah Akhibara. Masing-masing toko menjual barang-barang yang berbeda. Untuk toko pusatnya lebih mengkhususkan diri untuk menjual perangkat komputer dan handphone. sedang toko cabangnya menyediakan barang-barang berbau otaku, DC ataupun DVD.

Share this post


Link to post
Share on other sites

hahaha ada-ada aja ya ada gundam cafe segala, emang makanan berbau gundam itu kayak gimana hahaha densha otoko lumayan tuh, tapi saya wktu itu cuma baca manganya sih bukan nonton filmnya hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

hahaha ada-ada aja ya ada gundam cafe segala, emang makanan berbau gundam itu kayak gimana hahaha densha otoko lumayan tuh, tapi saya wktu itu cuma baca manganya sih bukan nonton filmnya hahaha

justru saya nggak tau kalau ada manganya itu densha otoko... --"

Share this post


Link to post
Share on other sites

Akihabara emang tempatnya para penggemar otaku. Banyak banget toko-toko yang ada di Akihabara. Penggemar barang-barang elektronik antik sama alat musik juga bisa ke Akihabara. Alat musik murah n alat elektronik murah juga banyak kok disini.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Akihabara emang tempatnya para penggemar otaku. Banyak banget toko-toko yang ada di Akihabara. Penggemar barang-barang elektronik antik sama alat musik juga bisa ke Akihabara. Alat musik murah n alat elektronik murah juga banyak kok disini.

wah, baru tahu nih kalau di sini juga jual alat musik. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Sudah tahu apa itu shukubo? Sudah tahu apa yang membuat shukubo menarik untuk dicoba oleh wisatawan? Kalau belum, baca disini dulu ya, karena tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Disini saya ingin berbagi aneka info dimana bisa melakukan shukubo, perkiraan harga, dan juga info lainnya yang masih berkaitan dengan kegiatan menginap di kuil tersebut.
      Sebelumnya, sudah dijelaskan jika tidak semua kuil menyediakan fasilitas untuk shukubo. Namun jumlah kuil yang menerima shukubo pun jumlahnya tak sedikit dan tersebar di berbagai penjuru Jepang. Biasanya, kuil-kuil yang menyediakan shukubo adalah kuil-kuil yang populer sebagai tempat tujuan wisata, terutama wisata religi. Bisa karena kuil tersebut menjadi pusat aliran tertentu, memiliki sejarah yang unik, dan sebagainya.
      Jika ditanya dimana tempat yang paling populer untuk melakukan shukubo, jawabannya tentu saja adalah Gunung Koya, atau Koyasan, yang terletak di prefektur Wakayama, Kansai. Koyasan sudah lama dikenal sebagai salah satu tempat wisata religi terbaik di Jepang, dan telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Sites "Sacred Sites and Pilgrimage Routes in the Kii Mountain Range" (bersama dengan 2 lokasi lain di Kii Peninsula). Kenapa? Karena gunung ini merupakan pusatnya dari aliran Shingon Buddhism, salah satu aliran Budha yang telah masuk ke Jepang sejak Periode Heian. Kobo Daishi (atau Kukai), tokoh penting yang membawa Shingon Buddhism ke Jepang, membangun kuil Garan di Gunung Koya pada tahun 826. Seiring dengan perkembangan aliran Shingon Buddhism, di sekitar kuil pusat itu kini terdapat lebih dari 100 kuil yang berada di sepanjang jalan di Gunung Koya. Menariknya, lebih dari 50 kuil menyediakan fasilitas shukubo yang dapat digunakan oleh para peziarah maupun wisatawan yang sekedar ingin merasakan shukubo.
      (1), (2), (3) Berbagai suasana di Koyasan [foto: Danirubioperez, crystalline radical, akuppa]
      Ada beberapa hal yang membuat shukubo di Gunung Koya ini menarik selain dari pengalaman ber-shukubo itu sendiri. Yang paling utama, tentu saja karena banyaknya kuil yang terdapat di gunung ini sehingga suasana religius sekaligus mistis sangat terasa disini. Suasana Gunung Koya yang dipenuhi oleh hutan yang masih asri menjadi daya tarik lain yang membuat wisatawan terus datang kesini. Selain itu, rata-rata kuil di Gunung Koya ini telah melengkapi shukubo-nya dengan fasilitas yang ramah untuk wisatawan asing. Bahkan mayoritas shukubo di Koyasan ini sudah dapat di booking melalui berbagai situs booking hotel.
      Selain Koyasan, masih banyak kuil di kota lain yang juga menerima shukubo. Berikut beberapa nama kuil yang menerima shukubo di beberapa kota besar di Jepang:
      1. Tokyo: kuil Komadori-sanso dan kuil Seizanso di Gunung Mitake (atau Mitake-san).
      2. Kyoto: kuil Ninna-ji memiliki fasilitas shukubo (di Omuro Kaikan Hall) yang menyediakan makanan non-vegetarian. Kuil lainnya di Kyoto yang menyediakan fasilitas shukubo antara lain Myoren-ji, Hiden-in, Roku-in, Myoshin-ji, Kosho-ji, Hokyo-in, Chion-in, Chishaku-in, Jyorengin, Hongan-ji , dan Cyoraku-ji.
      3. Osaka: kuil Jyokoenman-ji, Shippotaki-ji, dan Katsuou-ji.
      4. Nara: kuil Senko-ji, Shigisan (Senjyu-in, Gyokuzo-in, Jyohuku-in), Yoshinosan (Kizo-in, Tonan-in, Chikurin-in, Sakuramoto-bo)
      (4), (5), (6) Kuil Ninna-ji di Kyoto [foto: Carles Tomas Marti]
      Lalu, berapa biaya untuk melakukan shukubo?
      Biayanya bisa bervariasi, tergantung dari masing-masing kuil dan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh kuil tersebut. Biasanya tarifnya dimulai dari ¥3000, seperti yang terdapat di kuil Jyokoenman-ji di Osaka. Tarif tersebut berlaku jika menginap saja (tanpa makan), dan harganya akan menjadi ¥4500 jika ingin mendapat makan pagi dan makan malam. Harga shukubo di kuil Ninna-ji berbeda lagi, mulai dari ¥5200 (tanpa makan), ¥6000 (termasuk makan pagi), dan ¥9500 (termasuk makan pagi dan makan malam, ¥7500 untuk anak-anak). Kuil Shigisan (Gyokuzo-in) di Nara memiliki rate ¥8000-¥12000, dan jika ingin mengikuti Nun Experience Plan, tarifnya antara ¥8000-¥14000. Sedangkan untuk kuil-kuil di Koyasan, rate-nya kira-kira ¥9500-¥15000 per-orang per-malam, sudah termasuk makan pagi dan makan malam. Shukubo itu mahal? Tergantung dari persepsi dan deskripsi tentang kata mahal. Harganya memang lebih tinggi dari hostel maupun hotel kapsul. Tapi jika dilihat dari segi pengalaman, shukubo jelas menawarkan pengalaman lebih dari akomodasi lainnya.
      Tertarik melakukan shukubo? Walau saat ini sudah banyak fasilitas shukubo yang ramah terhadap wisatawan asing, ada beberapa hal yang perlu diketahui agar tidak terkena culture shock.
      1. Bagaimana pun, ingatlah selalu jika fasilitas shukubo merupakan bagian dari fasilitas kuil. Jadi jangan berharap ada pelayanan sekelas hotel saat melakukan shukubo.
      2. Kuil yang menerima shukubo mungkin saja memiliki website dalam bahasa Inggris yang dikelola dengan profesional. Namun perlu diketahui, staff yang dapat berbahasa Inggris tidak selalu ada di setiap kuil (terutama untuk kuil-kuil kecil). Solusinya, bicaralah lebih pelan dan gunakan bahasa tubuh setiap kali membutuhkan sesuatu.
      3. Menginap di ruangan bergaya Jepang juga memiliki konsekuensi tersendiri lho. Dinding pembatas antar kamar biasanya sangat tipis karena betul-betul terbuat dari dinding kertas, sehingga Anda bisa saja mendengar hela nafas dari kamar sebelah. Bagi Anda yang sangat mementingkan privasi, dinding tipis bisa jadi akan mengurangi kenyamanan tidur. Namun jangan khawatir soal kenyamanan kamar. Di luar masalah dinding yang ekstra tipis, kamar untuk shukubo rata-rata cukup nyaman untuk wisatawan.
      4. Program religi yang diadakan oleh kuil juga bisa menjadi salah satu faktor yang memicu culture shock. Terlebih karena aktifitas tersebut rata-rata dimulai sejak dini hari. Jadi jika memang hanya ingin menikmati suasana menginap di kuil, bisa memilih kuil yang hanya menyediakan akomodasi saja.
      5. Sebetulnya, siapa saja boleh melakukan shukubo. Namun jika Anda termasuk tipikal partygoers, suasana kuil yang tenang dan sepi (terutama di malam hari) bisa jadi akan terasa mengejutkan. Di kuil jelas tidak ada fasilitas hiburan, dan bahkan Anda diharapkan untuk ikut menjaga ketenangan dengan bersikap tenang. Belum lagi jika kuil yang Anda pilih hanya menyediakan menu vegetarian ala pendeta Budha. Jadi pertimbangkan juga kesiapan mental Anda sebelum memutuskan untuk melakukan shukubo.
      6. Terakhir dan yang paling penting, ada satu tips agar terhindar dari culture shock sewaktu melakukan shukubo. Nikmati saja suasana shukubo, dan bersikaplah open minded. Mungkin masih ada 1-2 hal yang membuat Anda kaget, tapi selama Anda bisa menikmati setiap kejutan tersebut, maka shukubo pasti tetap akan terasa menyenangkan. Ingat selalu bahwa inti dari shukubo bukanlah sekedar untuk berwisata, namun sekaligus menjadi momen untuk mengenal lebih dekat budaya setempat, serta mencari ketenangan setelah sehari-hari sibuk dengan suasana perkotaan.
      Selamat mencoba!
      * Seluruh foto diambil dari flickr via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      Baca juga:
      Siapa Bilang Akomodasi di Jepang Mahal?
      Capsule Hotel, Salah Satu Akomodasi Unik di Jepang
      Uniknya Love Hotel ala Jepang
      From A to Z Seputar Ryokan, Penginapan Tradisional Khas Jepang (bagian 1, bagian 2)
      Minshuku VS Pensions, Pilih Mana?
      Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini.
    • By vie asano
      Masih tentang aneka frequently asked question tentang Jepang. Pada tulisan bagian pertama,
      Saya sudah berbagi informasi tentang aneka hal mendasar yang biasa ditanyakan sebelum berwisata ke Jepang. Pada bagian kedua,
      Obyek Wisata
      T: Saya baru pertama kali pergi ke Jepang. Ada rekomendasi kemana saya harus pergi jika berwisata ke Jepang.
      J: Jika kalian termasuk first time traveler ke Jepang, disarankan untuk mencoba pergi ke Tokyo lebih dulu. Ibukota negara Jepang ini cocok untuk mengawali perkenalan kalian terhadap wisata Jepang. Di kota ini ada wisata sejarah, budaya, arsitektur modern, hingga aneka taman bermain. Sedangkan jika kalian lebih tertarik mencari sesuatu yang otentik dan tradisional, pergilah ke Kyoto maupun Nara. Kedua kota tua tersebut relatif asli dan menarik dikunjungi oleh mereka yang suka sejarah.
      ____________________ T: Selain Tokyo, Kyoto, dan Osaka, kota mana saja yang jadi tujuan wisata terpopuler di Jepang?
      J: Untuk kota-kota wisata terpopuler di Jepang, silahkan baca ini:
       
      ___________________________________________________________
      T: Denger-denger Kyoto itu kota yang mahal? Apa benar wisata ke Kyoto lebih mahal dibanding Tokyo?
      J: Sepintas, Kyoto memang terasa lebih mahal dibanding Tokyo. Itu karena di kota ini mayoritas tempat wisatanya (seperti kuil dan istana) menerapkan tiket masuk. Namun bukan berarti kota ini nggak ramah bagi budget traveler, karena sebetulnya masih banyak wisata gratisan yang bisa ditemukan disini. Informasi lebih lengkap bisa baca
       
      Arashiyama Bamboo Forest, Kyoto. Foto:
      sumber ___________________________________________________________
      T: Hokkaido itu dimana? Apa saja yang menarik disana?
      J: Hokkaido merupakan nama sebuah pulau sekaligus prefektur yang letaknya berada di sisi utara Jepang. Untuk informasi tentang Hokkaido dan aktifitas menarik yang bisa dilakukan disana, bisa baca
      dan
       
        _______________
      T: Saya berencana untuk wisata ke Tokyo, tapi inginnya sih sekaligus wisata ke kota lain. Kota mana saja yang bisa dijadikan side trip dari Tokyo?
      J: Ada beberapa kota yang posisinya tak begitu jauh dari Tokyo dan populer sebagai side trip yang bisa dikunjungi pulang pergi, mulai dari Yokohama, Kawasaki, Kamakura, Enoshima, Narita, Hakone, Nikko, hingga Kinugawa Onsen. Detail tentang masing-masing kota tersebut bisa dibaca disini: Side Trip from Tokyo (1): Yokohama,
      Side Trip from Tokyo (3): Kamakura,
      Side Trip from Tokyo (5): Narita,
      Another Trip from Tokyo (2): Nikko.
        T: Apa bedanya kuil Shinto dan kuil Budha? Mana yang lebih menarik untuk dikunjungi?
      J: Kuil Shinto merupakan kuil yang dibangun untuk melakukan kegiatan peribadatan ajaran Shinto yang merupakan kepercayaan asli penduduk Jepang, sementara kuil Budha jelas merupakan kuil untuk agama Budha. Namun pernah ada masa dimana kedua agama tersebut mengalami akulturasi dan akhirnya melahirkan arsitektur kuil yang memadukan kedua ajaran tersebut, sehingga tak heran jika kalian menemukan ada kuil Shinto yang juga memasang patung Budha, maupun melihat kuil Budha yang dilengkapi dengan patung dewa-dewa Shinto. Baik kuil Shinto maupun kuil Budha memiliki daya tarik yang membuatnya menarik untuk dikunjungi.
      ___________________________________________________________
      T: Berapa harga rata-rata tiket masuk ke obyek wisata di Jepang?
      J: Tergantung jenis obyek wisatanya dan juga kotanya. Misalnya saja untuk kuil. Di Tokyo, rata-rata kuilnya bisa dimasuki secara cuma-cuma. Namun di Kyoto, rata-rata kuilnya menerapkan tiket masuk dengan harga antara 100-500 yen* (kecuali untuk Kokodera Temple yang tiket masuknya 3000 yen*). Sedangkan untuk taman bermain, bisa mulai dari 800 yen* hingga ribuan yen.
      ___________________________________________________________
      T: Apa di Jepang selalu turun salju saat musim dingin?
      J: Sayangnya tidak. Hanya daerah tertentu saja yang mengalami musim dingin bersalju, sementara daerah lainnya hanya merasakan udara dingin saja. Informasi lebih lengkap, bisa baca disini:
      Shirakawa-go di musim dingin. Foto:
      sumber ___________________________________________________________
      T: Saya penasaran dengan Gunung Fuji! Gimana caranya pergi kesana dari Tokyo?
      J: Saya pernah mengulas tentang Gunung Fuji dan juga area Fuji Five Lakes. Untuk lebih jelasnya, bisa baca disini:
       
       
       
       
      ___________________________________________________________
      T: Apa bedanya onsen dan sento? Jika saya ingin mencoba onsen, dimana onsen terbaik yang direkomendasikan?
      J: Secara mudah, sento merupakan pemandian umum yang sumber air panasnya menggunakan air yang dipanaskan; sementara onsen merupakan pemandian dengan air panas alami. Detail tentang sento bisa dibaca disini: Sento (Public Bath) di Tokyo part 1, Sento (Public Bath) di Tokyo part 2. Sedangkan jika ingin menikmati onsen di Jepang, silahkan mengintip dulu beberapa tulisan berikut ini:
       
       
       
      dan
      ___________________________________________________________
      Semoga informasinya bermanfaat!
      Baca seri lengkapnya:
    • By vie asano
      Saat melakukan sebuah perjalanan wisata, mampir ke obyek wisata ternama tentunya menjadi salah satu agenda yang wajib masuk ke dalam itinerary. Sayangnya tak semua obyek wisata bisa menjadi sahabat bagi budget traveller, entah dari harga tiketnya yang mahal maupun transportasi menuju ke lokasi tersebut yang cukup menguras kantong.
      Nah, kali ini saya ingin berbagi tips mencari aneka tempat wisata yang murah meriah tapi tetap seru selama berwisata di Jepang. Selain tips, saya juga ingin berbagai ide aktifitas wisata hemat tanpa harus masuk ke berbagai obyek wisata yang menguras kantong. Tulisan ini sendiri masih lanjutan dari seri hemat-hemat di Jepang yang pernah saya janjikan sebelumnya. Bagi yang ingin membaca tentang tips mencari makanan hemat, bisa dibaca disini. Sedangkan bagi yang mencari akomodasi murah, bisa diintip disini.
      Datang ke tempat wisata gratisan
      Lupakan Tokyo Disneyland maupun Universal Studio jika budget wisata terbatas! Jika ingin masuk ke berbagai obyek wisata, carilah aneka tempat wisata yang bisa di akses secara cuma-cuma. Di Tokyo ada beberapa obyek wisata ternama yang dapat di akses secara cuma-cuma, seperti observation deck di Tokyo Metropolitan Government Building, Ueno Park, Tsukiji Fish Market, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan kota-kota lainnya, banyak tempat wisata gratisan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.
      (1) Tokyo Metropolitan Government Building [foto: Bizmac, via community commons], (2) Ueno Park [foto: Svachalek, via community commons]
      Eksplorasi distrik tertentu
      Tak ada budget untuk masuk ke obyek wisata ternama? Tak masalah. Sebagai gantinya, kenapa nggak mengeksplorasi distrik maupun kawasan tertentu saja? Kota-kota besar di Jepang biasanya memiliki banyak distrik/kawasan yang memiliki keunikan tersendiri sehingga menarik untuk dijelajahi. Misalnya saja Tokyo memiliki distrik elektronik Akihabara; Shibuya, Harajuku dan Ginza yang terkenal sebagai pusat mode, serta Odaiba yang memiliki banyak fasilitas unik dan menarik. Di Kyoto ada distrik Gion dan Higashiyama yang memiliki suasana ala kota tua. Dan masih banyak distrik menarik lainnya yang bisa dijelajahi secara cuma-cuma, tentunya selama nggak keberatan berjalan kaki dan juga nggak pakai acara belanja maupun hangout di kafe ya..
      (3) Shibuya [foto: DubsarPR, via community commons], (4) Gion [foto: Mrhayata, via community commons]
      Berkunjung ke kuil
      Rasanya belum lengkap berkunjung ke Jepang kalau nggak melakukan wisata kuil. Untungnya sih mayoritas kuil terbilang bersahabat dengan kantong, terutama jika melakukan wisata ke Tokyo yang kuil-kuil ternamanya seperti Sensoji Temple, Yasukuni Jinja, maupun Meiji Jingu dapat dikunjungi secara cuma-cuma. Namun lain halnya dengan Kyoto. Sebagian besar kuil di kota tersebut menerapkan sistem tiket masuk, yang biasanya masih relatif terjangkau yaitu berkisar antara ¥100 hingga ¥500 (kecuali untuk kuil tertentu seperti Saihoji/Kokodera yang tiketnya saja mencapai ¥3000/orang). Ada juga yang hanya menerapkan tiket masuk untuk area tertentu di kuil tersebut, seperti kuil Kiyomizudera. Jadi jika ingin melakukan wisata hemat dengan mengunjungi kuil, nggak ada salahnya melakukan survey terlebih dulu apakah kuil yang akan dikunjungi menerapkan tiket masuk atau tidak, dan apakah harga tiketnya cukup bersahabat atau tidak.
      (5) Saihoji/Kokodera Temple [foto: Norio.Nakayama, via community commons]
      Main ke taman kota
      Sama seperti kuil, sebagian taman dapat dikunjungi secara cuma-cuma. Sebagian lainnya menerapkan tiket masuk, namun biasanya cukup terjangkau (antara ¥100-¥500) sehingga masih bersahabat dengan budget. Berkunjung ke taman juga bisa menjadi alternatif wisata hemat bagi yang melakukan wisata bersama keluarga, karena hampir seluruh taman memiliki kebijakan memberikan diskon tiket bagi anggota keluarga di atas 65 tahun maupun untuk anak di bawah usia tertentu. Taman juga biasanya menawarkan diskon menarik bagi wisatawan yang datang bersama rombongan (biasanya mulai 20 orang ke atas).
      (6) Yoyogi Park [foto: Skl8em, via community commons], (7) Rikugien [foto: Vera46, via community commons]
      Mengunjungi aneka landmark kota
      Saat berwisata ke suatu daerah, rasanya belum sah jika belum mampir ke landmark daerah tersebut. Misalnya saja Tokyo dengan Tokyo Tower maupun Tokyo Skytree-nya; Nagoya dengan Nagoya Castle dan Oasis 21; Kyoto dengan Kinkaku-ji (Kuil Paviliun Emas) dan Kyoto Tower, dan lain-lain. Beberapa landmark populer, seperti Tokyo Tower maupun Tokyo Skytree memang tidak dapat dimasuki secara cuma-cuma. Untuk menyiasatinya, Anda bisa datang ke aneka landmark tersebut namun jangan sampai masuk ke bagian berbayarnya. Cukup hingga ambil foto di sekitar lokasi landmark saja. Solusi lainnya, carilah landmark yang bisa di akses secara gratis. Salah satu contohnya adalah Rainbow Bridge di Tokyo, maupun Arashiyama Bamboo Forest dan Fushimi Inari Taisha di Kyoto.
      (8) Rainbow Bridge [foto: Fakelvis, via community commons], (9) Oasis 21 [foto: Emrank, via community commons]
      Ikut tour gratisan
      Jepang memiliki banyak sekali istana kekaisaran yang tersebar di Tokyo dan Kyoto, seperti Tokyo Imperial Palace, Imperial Palace Garden, Sento Imperial Palace, dan banyak lagi. Menariknya, aneka obyek wisata tersebut bisa dikunjungi secara cuma-cuma lho. Wisatawan hanya perlu melakukan registrasi untuk mengikuti tour resmi yang diselenggarakan oleh Imperial Household Agency, karena hanya dengan cara itulah wisatawan dapat masuk ke istana-istana tersebut.
      Selain tour ke istana kaisar, masih ada beberapa tour gratis lainnya yang tak kalah menarik untuk diikuti. Misalnya saja Toyota Factory Tour (tour mengunjungi pabrik Toyota) di Nagoya (harus reservasi terlebih dulu), maupun mengikuti tour Museum of Yebisu Beer di Tokyo (gratis untuk tour mengunjungi museum dan hanya perlu membayar ¥500 jika ingin mencicipi bir sepuasnya).
      Berburu aneka gratisan untuk wisatawan asing
      Di Jepang, ada obyek wisata yang menawarkan diskon khusus maupun menggratiskan tiket masuknya khusus untuk wisatawan asing. Salah satunya adalah Yoshikien, sebuah taman bergaya Jepang yang terdapat di Nara. Selain Yoshikien, banyak tempat wisata lain di Nara yang menawarkan gratisan untuk wisatawan asing. Jadi tak ada salahnya melakukan sedikit browsing untuk mencari informasi penawaran khusus untuk wisatawan asing di kota tujuan wisata Anda.
      Menghadiri matsuri maupun aneka event gratisan lainnya
      Banyak event yang bisa dihadiri secara cuma-cuma, salah satunya adalah menghadiri matsuri (festival khas Jepang) yang berlangsung pada waktu wisata Anda. Selain bisa merasakan langsung meriahnya budaya lokal, mengunjungi matsuri juga membuka kesempatan untuk melakukan icip-icip aneka kuliner khas matsuri.
      Info hemat lainnya
      Beberapa tempat wisata di Jepang membebaskan tiket masuknya pada tanggal tertentu, biasanya pada hari ulang tahun tempat wisata tersebut, tanggal 4 Mei (hari penghijauan), dan tanggal 1 Oktober (Tokyo Citizen's Day). Ada juga yang membebaskan tiket masuk maupun memberikan diskon khusus pada hari ulang tahun kaisar. Informasi tentang diskon maupun tiket gratis tersebut biasanya tersedia di website masing-masing wisata. Hanya saja perlu diketahui, pada tanggal-tanggal tersebut biasanya berbagai tempat wisata akan penuh sesak oleh wisatawan lokal. Jadi jika Anda lebih mengutamakan kenyamanan wisata, hindari berkunjung di tanggal-tanggal tersebut ya..
      Info lainnya, biasanya ada diskon maupun penawaran khusus untuk wisatawan asing. Salah satunya adalah Tobu Nikko Free Passes yang menawarkan diskon tiket tempat wisata dan juga transportasi untuk masuk ke aneka obyek wisata di Nikko dan Kinugawa. Informasi aneka diskon khusus tersebut bisa di dapat di berbagai pusat informasi wisata di kota tujuan Anda.
      Banyak tempat wisata yang suka memberikan kupon diskon bagi wisatawan. Kupon diskon tersebut biasanya disebar di berbagai pusat informasi wisata maupun dibagikan secara cuma-cuma melalui website masing-masing obyek wisata. Jadi sebelum waktu kunjungan wisata yang direncanakan, nggak ada salahnya berburu aneka tiket diskon di kota tujuan yang diinginkan.
      Untuk info hemat lainnya, tunggu tulisan selanjutnya ya..
    • By vie asano
      Apa moda transportasi paling murah di Jepang?
      Wisatawan asing yang belum pernah pergi ke Jepang pun mungkin sudah tahu jika jawabannya adalah kereta api. Tak hanya murah, kereta api juga menjadi moda transportasi paling praktis karena jaringannya telah menjangkau berbagai sudut kota dan menghubungkan berbagai kota di seluruh Jepang. Tak heran jika kereta api menjadi moda yang paling banyak digunakan baik oleh warga Jepang dan juga wisatawan asing.
      Bicara tentang kereta api di Jepang, selalu ada banyak hal yang bisa dibahas. Mulai dari hal-hal teknis seperti jalurnya yang rumit (konon jaringan kereta api di Tokyo termasuk yang terumit di dunia), cara pembelian tiket, dan banyak lagi. Biasanya, wisatawan yang baru pertama pergi ke Jepang yang paling banyak mencari informasi seputar hal-hal teknis. Maklum, perbedaan sistem pastilah akan membuat wisatawan asing sedikit bingung dan mungkin juga terkena culture shock melihat bagaimana kereta api menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan orang Jepang. Namun diluar hal-hal teknis tersebut, sebetulnya ada hal lain yang tak kalah penting untuk diketahui oleh pengguna kereta api, yaitu etika dalam berkereta api.
      (1) Kereta di Jepang [foto: Tiseb], (2) Tipikal interior kereta di Jepang [foto: Hitachiota]
      Seberapa penting sih mengetahui etika berkereta api di Jepang? Penting banget. Saking pentingnya, beberapa common sense pun seringkali ditempel dalam bentuk poster himbauan yang mudah ditemukan di berbagai sudut stasiun maupun di dalam kereta. Wajar saja, mengingat kereta api merupakan moda transportasi favorit, masalah kenyamanan bersama merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Lalu apa yang akan di dapat jika melanggar aturan maupun etika tersebut? Memang sih di Jepang tak ada sanksi maupun denda yang akan dikenakan. Paling-paling Anda akan dipelototi maupun ditegur oleh penumpang lainnya. Namun jika ingin sama-sama nyaman dalam menggunakan kereta api, tak ada salahnya kan mengetahui apa sih yang boleh dan tak boleh dilakukan di kereta api di Jepang?
      (3)(4) Contoh poster himbauan [foto: Tenaciousme]
      Bagi traveller yang ingin tahu tentang etika berkereta api di Jepang, berikut sebagian etika yang diambil dari berbagai poster di stasiun maupun kereta. Sebagian besar sebetulnya termasuk common sense yang juga berlaku di Indonesia. Bagi yang ingin mengetahui hal-hal teknis seputar kereta api, sebagian bisa dibaca disini ya.. (1) (2) (3)
      Umum
      -Ini aturan paling dasar yang wajib dipatuhi oleh semua pengguna moda transportasi masal baik di Jepang maupun di Indonesia: antrilah sebelum masuk ke dalam kereta api. Konsep antri di stasiun kereta Jepang terbilang baik karena memiliki garis antrian yang jelas. Nekat menyerobot? Siap-siap di tegur oleh penumpang lain ya!
      -Dahulukan kenyamanan bersama. Jangan melakukan hal-hal yang dapat mengganggu orang lain (baik di dalam kereta maupun di area stasiun), seperti makan makanan yang beraroma menyengat, bergerombol di area pintu kereta dan menghalangi penumpang lain, mengayunkan payung seperti bermain golf, maupun tidur bersandar di bahu orang lain.
      -Jika membawa anak-anak, pastikan anak Anda tidak melakukan aktifitas yang mengganggu orang lain seperti: berisik, menangis, menaikkan kaki ke kursi, menyalakan mainan yang berbunyi kencang, tidak membiarkan anaknya berkeliaran dalam kereta, dan sebagainya.
      -Jangan berdandan dalam kereta. Maksud dari berdandan disini bukan sekedar memakai bedak dan menggunakan lipstik, tapi berdandan lengkap mulai dai menggunakan foundation hingga blush on (biasanya dilakukan oleh gadis-gadis muda yang terlambat bangun). Hindari juga aktifitas yang mungkin mengganggu orang lain, seperti membersihkan cat kuku dengan cairan pembersih.
      -Jangan membuang sampah sembarangan di dalam kereta.
      -Dilarang merokok selama perjalanan.
      -Sakit batuk atau pilek? Gunakan masker agar virus tak menyebar pada orang lain.
      -Jangan menerobos kereta yang akan berangkat (biasanya dilakukan oleh karyawan yang terlambat mengejar kereta pagi).
      (5) Antrian sebelum naik kereta [foto: ShunEndoPhotos], (6) Tidur di bahu penumpang lain [foto: MShades]
      Seputar penggunaan alat elektronik dan masalah suara
      -Jangan menerima maupun mengangkat telepon di dalam kereta. Browsing maupun membuka email masih dimaklumi.
      -Sebaiknya ubah telepon ke silent mode sebelum masuk ke dalam kereta. Lebih baik lagi jika dimatikan, karena khawatir akan mengganggu penumpang lain yang mungkin saja menggunakan alat pacu jantung.
      -Boleh-boleh saja menggunakan earphone dan mendengarkan musik dalam kereta. Namun pastikan suara musik tidak bocor atau siap-siap diomeli pengguna kereta lainnya. Yaa, minimal dipelototi atau sekedar ditegur.
      -Jangan bicara dengan suara terlalu keras. Jika hendak mengobrol, lakukan dengan suara sepelan mungkin.
      Suasana di dalam kereta api yang relatif tenang 
      Tentang tempat duduk
      -Kereta di Jepang biasanya memiliki 2 jenis tempat duduk: tempat duduk biasa dan priority seat. Priority seat ditujukan untuk orang-orang berikut ini: ibu hamil, orang yang membawa anak kecil, penyandang cacat, orang sakit, dan orang tua. Jadi jangan duduk di priority seat kecuali terpaksa, dan dahulukan tempat duduk untuk mereka yang membutuhkan sekalipun tidak duduk di priority seat.
      -Di kereta, jangan membuka kaki terlalu lebar karena bisa mengganggu kenyamanan pengguna lainnya.
      -Duduklah di tempat duduk yang telah disediakan. Jangan duduk di lantai. Himbauan ini muncul karena banyaknya anak muda yang sengaja santai duduk di lantai kereta.
      -Jika bermaksud membaca koran dalam kereta, jangan membuka koran terlalu lebar.
      -Jangan menghabiskan area kursi penumpang untuk tidur. Biasanya ini dilakukan oleh penumpang yang pulang terlalu larut, atau bahkan sedang mabuk.
      Priority seat [foto: Ffg]
      Masalah barang bawaan
      -Jika membawa barang bawaan, letakkan di atas rak yang tersedia sekalipun Anda berdiri sepanjang perjalanan. Dengan meletakkan barang bawaan di rak, akan tersedia tempat yang lebih luas untuk pengunjung lain.
      -Seandainya barang terlalu besar untuk dinaikkan ke rak, setidaknya usahakan agar posisi barang bawaan tidak menghalangi pergerakan orang lain (terutama ke arah pintu keluar).
      Tak sulit kan mengingat do dan don't dalam berkereta api di Jepang? Gunakan saja insting Anda. Selama tidak melakukan hal-hal yang berpotensi mengganggu orang lain, biasanya semuanya akan baik-baik saja. Oya, sebetulnya masih ada lagi etika lainnya, yaitu jangan menggoda maupun memandangi orang lain terlalu lama. Dan bagi penumpang pria, hati-hati dengan tangan Anda. Jangan sampai menyentuh apalagi memegang bagian tubuh penumpang lain (khususnya wanita). Salah-salah Anda akan dianggap melakukan chikan, atau pelecehan seksual. Bagi traveller wanita yang merasa dilecehkan, Anda bisa berteriak chikan untuk menarik perhatian orang lain, atau mengadukannya pada petugas. Bisa juga menghindari chikan dengan naik gerbong khusus wanita yang hanya berlaku pada jam tertentu.
      Gerbong khusus wanita [foto: Chris_eden]
    • By vie asano
      Saya pernah menulis disini tentang salah satu tips hemat makan di Jepang, yaitu hindari vending machine. Vending machine, alias mesin penjual otomatis, memang menjadi salah satu musuh utama bagi first time traveller ke Jepang. Apalagi untuk budget traveller, lebih baik jangan sampai melihat vending machine deh. Tapi ada yang tahu nggak kenapa bisa demikian?
      Bagi yang telah membaca tulisan dalam link tadi mungkin sudah mendapat sedikit gambaran mengapa vending machine menjadi musuh para budget traveller. Salah satunya adalah selisih harga yang lumayan antara vending machine dengan toko biasa seperti supermarket maupun mini market. Sebuah air mineral yang dijual melalui vending machine harganya bisa mencapai ¥120, sementara di toko hanya berkisar ¥80-100. Kalikan saja dengan 3 botol perhari, maka selisihnya bisa mencapai ¥60-120. Lumayan, bukan? Tapi jika selisihnya betul-betul sebesar itu, lantas apa yang membuat vending machine tetap diminati terutama oleh traveller (dan juga penduduk setempat)? Berikut beberapa alasannya:
      Vending machine everywhere!
      Ya, benar! Populasi vending machine di Jepang memang luar biasa banyaknya. Wikipedia bahkan menyebut Jepang sebagai negara dengan jumlah vending machine tertinggi per-kapita. Berbeda dengan di Indonesia yang mungkin hanya terdapat di 1-2 mesin dalam satu lokasi. Di Bandung saya hanya sempat menemukan 1-2 tempat yang memiliki vending machine (dan sepertinya juga nggak bertahan lama), sementara di Bandara Soekarno-Hatta jumlah vending machine pun tak banyak. Sementara di Jepang, vending machine bisa terdapat dimana pun. Di pusat perbelanjaan, stasiun, bandara, toilet umum, tempat parkir, bahkan hingga di jalan yang sepi dilalui oleh pengunjung. Keberadaan vending machine yang ada dimana-mana itu secara tak langsung akan menarik perhatian wisatawan, bahkan yang sering melihat mesin penjual otomatis tersebut.
      Vending machine di jalan sepi [foto: MarkDoliner, via ccsearch]
      Jarak antara vending machine yang satu dan lainnya cukup berdekatan
      Selain mudah ditemukan dimana pun, jarak antara satu vending machine dengan mesin lainnya kadang bisa sangat berdekatan. Sebagai contoh, sewaktu menginap di daerah Kitashinagawa, di depan mansion terdapat sebuah vending machine yang menjual minuman ringan. Supermarket di sebelah mansion juga memiliki vending machine. Lapangan parkir yang hanya berjarak beberapa langkah dari mansion memiliki beberapa vending machine sekaligus. Belum lagi dengan vending machine yang terdapat di bagian jalan lainnya, sehingga dalam radius 50 meter saja mungkin sudah mencapai lebih dari 10 vending machine.
      Lain halnya dengan di pusat keramaian seperti stasiun, bandara, maupun tempat wisata. Tak jarang vending machine terlihat bergerombol di satu tempat, alias berderet berdampingan. Terkadang barang yang ditawarkan pun bervariasi antara mesin satu dengan lainnya, sehingga otomatis menarik perhatian siapa saja yang melintas. Apa yang terjadi setelah perhatian tertarik? Kemungkinan besar akan berlanjut ke mengeluarkan uang receh dan akhirnya belanja.
      Vending machine berjejer berdekatan [foto: Kojach, via ccsearch]
      Semua bisa dibeli lewat vending machine
      Di Jepang, bukan hanya minuman yang bisa dibeli lewat vending machine,tapi hampir semua hal yang bisa dibayangkan. Berikut sebagian vending machine unik yang terdapat di Jepang:
      Minuman, Makanan, Rokok, Permen, Minuman Beralkohol
      Vending machine jenis ini termasuk paling mudah ditemui dimanapun. Jenis mesinnya pun bervariasi, mulai dari mesin biasa hingga touch screen. Uniknya, di beberapa kota terdapat vending machine yang menyajikan aneka makanan hangat (seperti kentang goreng) dan juga minuman alkohol berbentuk botol kaca. Mie cup serta potato chips juga bisa dibeli via vending machine lho.
      (1) Makanan panas via vending machine, (2) mie cup vending machine [foto: Kalleboo, Jaybergesen, via ccsearch]
      Merchandise
      Perlu gantungan kunci? Atau bahkan jimat kuil? Vending machine yang menjual aneka merchandise juga mudah ditemukan dimanapun, bahkan dalam kuil sekalipun.
      Es krim dan es lainnya
      Beli es krim di vending machine? Sudah biasa. Namun bagaimana dengan es batu? Tinggal masukkan uang, dan es batu pun siap digunakan.
      Sayur, Buah, Telur, Beras
      Petani dan peternak ayam pun tak ingin ketinggalan jaman. Aneka sayuran hingga telur pun bisa dibeli di mesin penjual otomatis. Vending machine yang menjual pisang bahkan dapat ditemukan di Shibuya, berdampingan dengan tempat sampah yang disediakan khusus.
      Telur dalam vending machine [foto: JoshBerglund19, via ccsearch]
      Bunga
      Perlu bunga untuk hadiah maupun sekedar ingin merayu seseorang, tapi malas bernegosiasi dengan tukang bunga? Mampir saja ke vending machine yang menjual buket bunga aneka ukuran.
      Smart Car
      Oke, mesin ini memang tidak akan mengeluarkan mobil. Tapi jika Anda tergoda ingin mengetahui spesifikasi dari mobil ini, vending machine menyediakan beragam brosur dan juga stiker yang bisa dibaca-baca.
      Benda unik lainnya
      Dasi, payung, baterai, mainan anak, sepatu, celana dalam, hingga berbagai majalah dan keperluan dewasa juga bisa dibeli di vending machine. Bahkan kepiting hidup dan asuransi pun bisa dibeli via vending machine. Dan masih banyak jenis vending machine lainnya yang bisa ditemukan di Jepang.
      Praktis
      Ya, membeli di vending machine jelas menjadi solusi praktis bagi wisatawan. Terlebih jika merasa tak memiliki kemampuan ber-cas cis cus dalam bahasa Jepang. Bandingkan jika membeli di supermarket. Setidaknya Anda harus berkomunikasi dengan kasir dan menghitung jumlah total maupun kembalian yang akan diterima. Apalagi jika berbelanja di pasar tradisional, harus melalui proses tawar menawar yang membutuhkan skill bahasa cukup mumpuni. Lain halnya dengan vending machine. Cukup dengan memasukkan sejumlah koin, barang yang diinginkan bisa langsung dibeli. Enaknya sih karena vending machine di Jepang juga menyediakan uang kembalian. Jadi berapapun uang yang Anda keluarkan, uang kembalian pasti akan tersedia.
      Efek psikologis dari perbedaan nominal
      Dan inilah rahasia mengapa vending machine bisa begitu diminati oleh wisatawan asing, khususnya wisatawan Indonesia (maksudnya saya sih, haha). Tak lain dan tak bukan karena adanya perbedaan nominal antara rupiah dan yen. Contohnya begini: di Bandara Soekarno Hatta terminal 2 ada vending machine yang menjual beragam minuman, dan juga coklat. Walau saya tergila-gila dengan vending machine, namun dompet sulit diajak berkompromi dengan kedua mesin tersebut. Kenapa? Karena saya harus mengeluarkan mulai dari Rp.5000 hingga Rp.10000 untuk membeli 1 item saja. Berbeda dengan di Jepang, sebotol Milk Tea merk Kirin ukuran 500 ml via vending machine harganya berkisar di ¥150 atau setara dengan Rp. 19200 (untuk kurs ¥1 = Rp.128). Harganya sebetulnya jauh lebih mahal, namun nominal ¥150 yang notabene adalah uang receh atau koin membuat nominal tersebut rasanya nggak seberapa. Ujung-ujungnya, recehan demi recehan terus mengalir ke mesin-mesin tersebut dan voila, tiba-tiba saya kehabisan uang untuk membeli tiket kereta (yang juga menggunakan uang receh).
      Jadi tak salah kan jika menurut saya vending machine wajib menjadi musuh bagi first time traveller, khususnya budget traveller?
    • By vie asano
      Kyoto sudah lama dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata populer di Jepang. Di kota tua ini banyak terdapat beragam kuil, istana, museum, serta nuansa ala kota lama yang pastinya akan disukai oleh pecinta wisata sejarah. Bagi yang ingin bepergian ke Kyoto, setidaknya ada 20 hal yang wajib Anda lakukan disana, antara lain adalah sebagai berikut (untuk review lengkap, klik nama tempat/aktifitas):
      1. Kinkaku-ji Temple

      Coba perhatikan wallpaper desktop Anda. Pernahkah menemukan gambar kuil yang berwarna emas? Kuil tersebut bukan hasil editan komputer lho, karena kuil emas memang betul-betul terdapat di Kyoto. Adalah Kinkaku-ji, atau Pavilion of Golden Temple, termasuk salah satu atraksi wisata yang paling banyak menarik perhatian wisatawan karena memiliki paviliun yang berlapis emas.
      2. Fushimi Inari Taisha

      Kuil ini menjadi salah satu atraksi yang wajib dikunjungi di Kyoto karena memiliki torii, atau gerbang kuil. Sebetulnya wajar jika sebuah kuil memiliki torii. Namun jika jumlahnya ratusan hingga membentuk lorong, tentu akan menjadi pemandangan yang unik.
      3. Kiyomizu-dera Temple

      Selain Kinkaku-ji, Kiyomizu-dera termasuk salah satu kuil yang populer digunakan sebagai wallpaper desktop. Tak heran jika kuil ini terasa familiar sekalipun Anda belum pernah berkunjung ke kuil tersebut. Kiyomizu-dera terkenal karena memiliki panggung kayu yang sangat tinggi, dan dari sana pemandangan kota Kyoto akan terlihat jelas.
      4. Kyoto Imperial Palace
      Sudah pada tahu kan jika Kyoto pernah menjadi ibu kota negara Jepang, sebelum Tokyo. Nah, Kyoto Imperial Palace merupakan tempat tinggal Kaisar Jepang dan keluarganya sebelum hijrah ke Tokyo. Tempat ini menarik untuk dikunjungi selain karena faktor sejarahnya, juga karena tidak dipungut tiket masuk alias gratis.
      5. Arashiyama Bamboo Forest

      Sebetulnya, jalan ini hanya jalan biasa. Yang membuatnya luar biasa adalah karena jalan ini menembus hutan bambu yang tingginya bisa mencapai beberapa meter sehingga menciptakan atmosfer yang unik.
      6. Gion Area

      Pergi ke Kyoto belum lengkap jika tidak mengunjungi area Gion. Di distrik ini suasana khas kota lama masih sangat terjaga. Tempat ini memiliki beberapa ochaya (rumah minum teh) dan restoran yang menawarkan kaiseki (kuliner haute couture ala Jepang). Gion juga menjadi salah satu distrik terbaik untuk melihat geisha yang sebenarnya.
      7. Kyoto Station
      Sebagai stasiun utama di Kyoto, Stasiun Kyoto dirancang dengan desain yang modern dan menarik. Sebelum mengelilingi Kyoto, tak ada salahnya menjelajah stasiun Kyoto yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas menarik.
      8. Nijo Castle

      empat kediaman Tokugawa Ieyasu (shogun pertama) saat berada di Kyoto. Nijo Castle memiliki lantai khusus yang dirancang agar berderik saat diinjak. Tujuannya untuk mencegah menyusupnya ninja ke dalam kastil.
      9. Toei Kyoto Studio Park
      Ingin menikmati Universal Studio ala Jepang? Datanglah ke Toei Kyoto Studio Park. Bedanya, disini pengunjung tak akan menemukan wahana permainan modern, melainkan sebuah tiruan kota pada periode Edo dan Meiji yang digunakan sebagai shooting film klasik.
      10. Kyoto Tower

      Walau Kyoto dikenal sebagai kota tua, bukan berarti Anda tak bisa mengamati kota ini dari ketinggian. Cobalah naik ke Kyoto Tower. Walau tingginya hanya 131 meter, bangunan ini merupakan yang tertinggi di Kyoto sehingga pemandangan kota jelas terlihat dari sini.
      11. Philosopher's Path
      Ini dia salah satu jalan paling ikonik di Kyoto. Jalan setapak ini menyusuri pinggiran kanal Danau Biwa. Philosopher’s Path terkenal memiliki keindahan yang berbeda di keempat musim. Salah satu saat terbaik berkunjung kesini adalah saat musim semi, yaitu saat koridor jalan dihiasi oleh bunga sakura.
      12. Sanjusangendo Temple
      Sebuah kuil memiliki patung, itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika terdapat lebih dari seribu patung yang seluruhnya berukuran skala manusia? Pergilah ke kuil Sanjusangendo. Tak hanya bisa melihat 1000 patung berukuran manusia, Anda juga dapat melihat salah satu bangunan kayu terpanjang di Jepang.
      13. Kyoto International Manga Museum

      Suka dengan manga? Maka Anda wajib mengunjungi Kyoto International Manga Museum. Museum yang berdiri di bangunan bekas sekolah ini memiliki puluhan ribu manga dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
      14. Ginkaku-ji Temple

      Jika Kinkaku-ji merupakan kuil emas, maka Ginkaku-ji dapat diterjemahkan sebagai kuil perak. Uniknya, disini sama sekali tak ada bangunan berlapis perak. Sebagai gantinya, Anda dapat melihat taman pasir yang konon menjadi salah satu yang terindah di Kyoto.
      15. Kyoto Aquarium
      Tempat ini menarik untuk dikunjungi jika melakukan wisata bersama keluarga. Walau terbilang baru, Kyoto Aquarium dapat menjadi alternatif wisata keluarga disela-sela mengunjungi kuil maupun istana.
      16. Arashiyama Monkey Park Iwatayama
      Tempat penangkaran monyet ini letaknya berada di jalur hiking, jadi cocok dikunjungi oleh Anda yang senang melakukan aktifitas alam dan bosan dengan suasana ala kota tua.
      17. Gion Matsuri

      Festival terbesar di Kyoto, sekaligus salah satu yang terbesar di seluruh Jepang. Gion Matsuri diadakan di sekitar distrik Gion selama sebulan penuh (pada bulan Juli). Selama masa festival, akan digelar banyak event menarik termasuk aneka jenis parade.
      18. Berdandan ala Geisha
      Mumpung sedang berada di Kyoto, tak ada salahnya Anda sekaligus mencoba berdandan ala geisha. Saat ini banyak studio yang menyewakan kostum sekaligus mendandani dengan make up seperti geisha yang sebenarnya. Lakukan sedikit browsing untuk mencari jasa penyewaan tersebut dan bersenang-senanglah.
      19. Ohara
      Daerah Ohara merupakan kawasan suburban Kyoto yang memiliki nuansa khas. Disini terdapat beberapa kuil yang menarik, dan pemandangan alam yang masih sangat terjaga.
      20. Berkunjung ke sekitar Kyoto (Osaka, Nara, Amanohashidate)

      Saat berwisata ke Kyoto, jangan hanya berkeliling di pusat kota saja. Terdapat beberapa kota menarik lain di sekitar Kyoto yang dapat ditempuh dalam waktu singkat, diantaranya adalah Osaka dan Nara. Anda juga dapat berkunjung ke Amanohashidate yang berada di prefektur Kyoto.
    • By vie asano
      Jepang boleh saja dikenal sebagai salah satu negara dengan jaringan kereta api dan subway terumit di dunia. Kereta dan subway pun menjadi moda transportasi andalan bagi penduduk Jepang dan juga wisatawan yang berwisata ke Jepang. Namun perlu diketahui juga jika bus pun memegang peranan penting dalam moda transportasi di Jepang. Bus menjangkau tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kereta dan subway, dan bahkan untuk beberapa kota yang tak terlalu besar seperti Kyoto, bus menjadi moda transportasi utama mengalahkan kereta dan subway. Jadi nggak ada salahnya bagi wisatawan untuk mengenal sedikit tentang moda transportasi bus di Jepang.
      Bus di Jepang, foto:
      thanhnientudo Sebagai Gambaran Awal, Inilah Macam Bus di Jepang
      Secara mudah, bus di Jepang dapat dibedakan dalam kategori berikut ini: bus dalam kota, highway bus (atau bus jalan tol), dan bus wisata. Bus dalam kota, atau bus lokal, merupakan bus yang bergerak di dalam kota saja. Bus ini menjadi moda transportasi kedua di kota besar seperti Tokyo, namun menjadi moda transportasi utama di kota kecil dan menengah. Highway bus merupakan bus yang bergerak di jalan tol dan fungsinya sebagai alat transportasi untuk berpindah kota dari satu kota ke kota lainnya. Sedangkan bus wisata merupakan jenis bus yang dioperasikan dengan tujuan untuk wisata dan bukan untuk digunakan sehari-hari. Yang termasuk dalam jenis bus wisata ini seperti shuttle bus dan sightseeing bus.
      Sightseeing bus di Tokyo, foto:
      wikimedia commons Khusus untuk tulisan ini, saya akan membahas lebih lanjut tentang bus lokal. Untuk highway bus maupun jenis bus lainnya akan saya ulas terpisah.
      Mengapa Wisatawan Asing Perlu Mengetahui Seluk Beluk Bus di Jepang?
      Di Jepang, tidaklah sulit jika ingin menggunakan kereta dan subway sekalipun kalian tidak menguasai bahasa Jepang. Seiring dengan semakin tingginya perhatian akan sektor wisata, saat ini kalian bisa dengan mudah menemukan berbagai petunjuk arah maupun informasi dalam bahasa Inggris di berbagai stasiun dan kereta di Jepang.
      Namun itu tidak berlaku untuk bus. Setidaknya, hingga saat ini mayoritas bus di Jepang masih minim dari sentuhan bahasa Inggris. Umumnya informasi masih disajikan dalam bahasa Jepang, pun dengan supir bus yang tidak mengerti bahasa Inggris. Itulah mengapa naik bus di Jepang bisa cukup mengintimidasi bagi wisatawan asing, khususnya jika kalian pergi ke kota-kota dimana bus menjadi moda transportasi utama.
      Beginilah Caranya Naik Bus di Jepang
      Sekalipun bus di Jepang terasa mengintimidasi, bukan berarti kalian nggak bisa menaklukkan hal tersebut. Berikut ini beberapa tips umum yang bisa dicoba saat naik bus di Jepang.
      1. Naiklah bus dari halte bus. Untuk masuk ke dalam bus, umumnya menggunakan pintu belakang maupun pintu tengah, dan turun lewat pintu depan. Kecuali jika bus hanya memiliki satu pintu, maka masuklah dari pintu tersebut.
      Tambahan: timetable bus bisa dilihat di halte bus.
      Naik bus dari pintu tengah atau belakang, foto:
      weshare 2. Saat baru masuk, kalian akan menemukan mesin kecil yang akan mengeluarkan tiket. Ambil tiketnya dan perhatikan nomor yang tertera di tiket tersebut. Gunanya nomor itu adalah untuk menentukan biaya perjalanan yang harus dibayar (yang akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jarak tempuh, kecuali jika bus yang dinaiki menggunakan flat rate). Sedangkan jika kalian menggunakan kartu IC seperti Suica atau Passmo, jangan lupa men-scan kartu saat akan masuk ke dalam bus.
      3. Di dekat supir bus biasanya akan ada monitor yang menunjukkan angka-angka. Untuk mengetahui biaya yang harus kalian bayarkan, cari nomor yang sesuai dengan nomor tiket dan lihat harga yang tertera disebelahnya. Untuk bus dengan tiket flat rate, mungkin saja display ini tidak tersedia.
      Foto:
      reviewmylife 4. Saat mendekati halte tujuan, tekan tombol yang terdapat di dinding maupun tiang di dekat tempat duduk. Tombol tersebut berfungsi untuk memberitahu supir bus jika kalian akan turun di pemberhentian berikutnya.
      Tips: hapalkan dengan benar halte bus tujuan, jika perlu catat namanya, karena mungkin saja informasi yang tersedia hanya menggunakan bahasa Jepang.
      Tombol untuk berhenti di tiang bus, foto:
      closertojapan 5. Saat akan turun, bayarkan biaya perjalanan dengan memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak di dekat supir. Bayar dengan uang pas ya! Jika nggak punya uang kecil, kalian bisa menukarkan uang tersebut di mesin penukar uang yang juga terletak di dekat supir. Jangan lupa masukkan juga tiket yang diambil saat masuk ke dalam bus.
      Catatan tambahan: untuk bus yang menggunakan flat rate, ada kemungkinan biaya harus dibayarkan di awal saat naik ke dalam bus.
      Berapa Sih Biaya Untuk Naik Bus di Jepang?
      Harga tiket bus berbeda-beda untuk setiap kota. Sebelumnya, ketahui dulu jenis harga yang berlaku dalam sebuah bus. Ada bus yang menerapkan harga berdasarkan zona, yaitu tarif bertambah seiring dengan bertambahnya jarak tembuh; dan ada juga yang menerapkan regular charge/flat charge. Untuk tarif berdasarkan zona, harganya bisa mulai dari 100-200 yen untuk dewasa, dan diskon 50% untuk anak-anak. Sedangkan untuk tarif flat rate, bisa mulai dari 200 yen-an.
      Cara Untuk Mengetahui Bus yang Harus Dinaiki
      Sama seperti kereta dan subway, bus di Jepang juga bergerak berdasarkan rute/jalur tertentu. Biasanya jalur tersebut diwakili oleh angka maupun warna yang bisa dilihat di peta rute bus. Untuk mencari tahu bus mana yang harus dinaiki, cari tahu halte bus mana yang terdekat dengan tempat tujuan dan bus mana yang berhenti di halte tersebut. Kalian mungkin saja harus pindah jaur beberapa kali sebelum bisa mencapai halte yang dituju.
      Sebagai contoh, inilah rute bus di Kyoto. Silahkan diklik untuk melihat langsung jalur bus di kota Kyoto. Misalnya saja jika ingin pergi ke Gion, kalian harus naik bus no 12, 46, 100, 201, 202, 203, 206, atau 207 yang berhenti di halte bus Gion. Jika kalian berangkat dari depan Stasiun Kyoto (yang dilalui oleh bus no 4, 5, 9, 17, 26, 28, 50, 100, 101, 205, 206), maka kalian bisa naik bus nomor 100 maupun nomor 206. Silahkan coba melihat sendiri obyek wisata favorit kalian dan halte bus terdekat, sambil menerka-nerka bus mana yang seharusnya diambil untuk bisa sampai ke halte bus yang diinginkan.
      Semoga bermanfaat!