Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

tki

Raja Ampat - Liburan Menyelam Bersama Keluarga

Recommended Posts

Nama yang gagah untuk alam yang begitu indah, dipermukaan terlebih dibawah air. Bahkan bisa dikatakan raja Ampat lebih populer sebagai tujuan wisata bawah air, impian para penyelam dan fotografer bawah air.

 

Untuk mencapai Raja Ampat dari Jakarta tidaklah sulit, ada beberapa penerbangan dari Jakarta ke Sorong dengan stopover di bandara Sultan Hassanudin Ujung Pandang yang sangat modern.

Namun tidak demikian halnya dengan bandara Sorong yang merupakan pintu gerbang ke Raja Ampat. Tidak terlalu salah kalau banyak penyelam asing yang bilang airport Sorong sebagai So Wrong. .

Tempat pengambilan bagasi sempit, sumpek, panas karena nggak ada AC, bau asap rokok sangat mengganggu, dan para porter yang tampak sangar membuat suasana semakin tidak nyaman. WC nya juga alamak.

Untung petugas dari Papua Diving telah menanti kami, dengan sigap mereka mengorganisir para porter untuk menangani bagasi kami dan juga tamu mereka lainnya yang semuanya adalah turis asing. Hanya kami sekeluarga yang merupakan wisnu (wisatawan nusantara). Saya perkirakan jumlah tamu yang datang berjumlah lebih dari 25 orang tamu - terbagi untuk kedua resort mereka, yaitu Kri Eco resort serta Sorido bay resort yang merupakan resort mewah.

Dibutuhkan 7 taksi Kijang untuk membawa kami semua ke pelabuhan yang tidak terlalu jauh dari bandara, yang kemudian di lanjutkan 2 jam perjalanan menggunakan 2 boat menuju pulau Kri, yang terletak di bagian utara Raja Ampat.

Kedua resort yang terletak tidak berjauhan tersebut dimiliki oleh Max Ameer yang juga pioneer penyelaman di Raja Ampat.

 

Pilihan kami jatuh ke Kri Eco, bukan karena masalah eco friendly ataupun back to nature. Untuk kami berempat tinggal dan menyelam selama seminggu di Sorido butuh hampir Euro 10,000. Bisa-bisa harus kerbau dan sawah harus digadaikan untuk bisa tinggal disana. Begitupun, Kri Eco tidak bisa dikatakan murah.

 

Kri_31.jpg

 

Pintu gerbang Kri Eco resort, kita langsung disambut oleh kamar mandi/toilet pertama yang tampak dikejauhan.

 

Kri_9.jpg

 

Jadilah kami tinggal di gubuk berdinding dan beratap rumbia, di atas laut - mengingatkan lagunya Phil Collin Home by the sea.

Kami tinggal di family room yang terdiri dari 2 ruang dipisahkan oleh sekat. Penerangan sangat minimum, cuma mengandalkan lampu SL 10 watt yang dipasang didalam lampu petromak. Kecuali untuk sistim kelistrikan saya tidak melihat komponen logam pada bangunan tsb.

 

Kamar mandi/toilet terletak sekitar 30 - 50 meter dari kamar; tidak ada shower, apalagi hot water, air agak payau, mandi pakai gayung - namun menggunakan toilet model duduk, bersih dan yang cukup penting untuk tamu wisman, toilet paper selalu tersedia dalam jumlah memadai.

Buat yang terbiasa bangun malam untuk ke kamar kecil akan terasa kurang nyaman, apalagi kalau pas hujan.

 

Inilah penampakan malam dari kamar mandi bersama di eco resort yang tarifnya lebih mahal dari hotel bintang 5 di Bali.

 

8459750875_67c6240622_z.jpg
Kri 20 by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Secara keseluruhan suasana di Kri cukup nyaman. Pelayanan yang diberikan oleh staff resort yang hampir seluruhnya masayarakat lokal tidak kalah dengan hotel ataupun resort berbintang di daerah tujuan wisata utama seperti Bali.

Untuk dive guide 100% adalah orang lokal, masyarakat setempat, hasil gemblengan pak Abie Carnadie (Bubble Diver). Dari perbincangan dengan tamu-tamu lain yang pernah beberapa kali mengunjungi Raja Ampat dan menggunakan Liveboard; saya bisa mengambil kesimpulan bahwa kemampuan mereka lebih baik dari umumnya dive guide di liveboard. Bisa jadi karena setiap hari mereka menyelam di lokasi yang sama sehingga jam selam mereka jauh lebih tinggi dibanding dive guide liveboard.

 

Kecuali salah seorang supervisor, seluruh petugas dapur juga diambil dari masyarakat setempat. Namun jangan salah, untuk masakan, Kri eco saya kasih acungan 2 jempol - bukan cuma kami sekeluarga, tamu-tamu asing lain juga memuji makanan di Kri eco resort. Kue2 dan buah tersedia melimpah. Untuk minuman, setiap saat diruang makan tersedia air panas, teh, sekoteng dan berbagai jenis kopi instant.

 

Kri_7.jpg

 

Saya pribadi salut dengan Max Amer yang mendidik, menyiapkan dan mengembangkan potensi lokal yang tentunya bukan hal yang mudah. Bagaimanapun juga hospitality industry adalah sesuatu yang baru untuk masyarakat Papua.

Dia juga menyempatkan menemui kita dan berbicara panjang lebar mengenai vision terhadap papua & passion nya yang lain terhadap nautical map.

 

Di Kri Eco resort hampir semua tamu mengambil paket mingguan – yaitu datang hari minggu dan check-out hari minggu juga. Meskipun dimungkinkan, Papua Diving tidak menyarankan untuk berkunjung kurang dari satu minggu – selain rate nya lebih mahal juga harus membayar extra cost untuk boat transfer.

Umumnya tamu Kri eco berasal dari luar Indonesia, tidak banyak tamu penyelam lokal yang tinggal di sana selama satu minggu, apalagi membawa keluarga. Menurut mereka, kami sekeluarga, adalah satunya keluarga Indonesia yang mengambil paket menginap dan menyelam selama seminggu penuh.

Beberapa waktu sebelum kami datang, ada rombongan tamu lokal, karyawan Telkomsel, menginap selama 3 hari, namun hanya dua orang yang menyelam, 3 orang ikut snorkeling, dan sisanya bahkan tidak bisa berenang sama sekali.

Periode saat kami tinggal disana, seluruh kamar terisi penuh, terdapat 24 orang penyelam yang dilayani oleh 4 perahu dengan didampingi oleh 2 orang dive guide untuk setiap perahu.

Jadi resort saat itu benar-benar beroperasi pada kapasitas penuh. Pengaturan cukup baik meskipun realisasi tidak selalu tepat waktu.

 

Kri_26.jpg

 

Bicara mengenai diving di Raja Ampat, adalah mengenai keanekaragaman, ikan dan ikan, warna-warni dan arus yang cukup kuat, bahkan bisa sangat kuat.

Kita akan kecewa kalau mengharapkan air yang sangat jernih – seperti Wakatobi, Bunaken atau Marantale.

Selama kami diving disana visibility rata-rata berkisar antara 10 – 15m; mungkin sedikit lebih, tapi banyak partikel-partikel halus di air.

Di beberapa lokasi juga banyak jelly fish kecil; yang agak mengganggu apalagi kalau kena leher

No current, no fish, katanya. Tapi tidak juga berarti kalau strong current selalu banyak ikan.

Nah, disinilah peran penting dive guide lokal yang sangat berpengalaman untuk membuat memorable diving experience terlaksana. Sebaliknya, dive guide yang kurang berpengalaman akan membuat orang kapok untuk diving di Raja Ampat.

Di scubaboard (forum komunitas selam terbesar di dunia), ada penyelam mancanegara yang menulis pengalamannya mengikuti liveaboard "W" (berbasisdi Thailand) dan baru satu musim masuk Raja Ampat.

Dia sangat kecewa, karena sudah traveling separuh bola dunia selama 3 hari utk sampai Sorong, tapi “katanya†Raja Ampat tidak ada apa-apanya, kecuali arus kuat yang menciutkan nyali dan membuatnya kapok untuk kembali ke Raja Ampat.

 

Di Raja Ampat, umumnya arus akan masuk atau keluar menuju/dari gundukan ataupun bukit bawah air akan terbelah dua. Di area tersebut, biasanya merupakan arena bermain berbagai gerombolan ikan dalam jumlah yang luar biasa besar - sebut saja, Spanish mackerel, yellowtail, jackfish, tuna, barracuda, bumphead, dan sekali-sekali melintas black tip, atau white bahkan saya sempat melihat gray reef berukuran lumayan bergerak cepat menimbulkan suara luncuran yang bikin jantung deg-degan.

Nah, tujuan kita adalah mencapai “sweet spot†yaitu lokasi kecil diantara 2 arus, dimana arusnya relative “enak†untuk menyaksikan atraksi tersebut.

Namun kalau meleset, baik karena pengaturan yang kurang pas, atau lokasi turun kurang memperhitungkan kemampuan penyelam, maka begitu sampai dibawah tidak ada apa-apanya.

 

Sebelum cerita dilanjutkan, boleh dong kita sekeluarga sedikit narsis dulu,

 

mel dengan kamera Olympus OMD EM-5 dan UW housing Nauticam

8437190772_253fe1cd22_z.jpg
Melati and batfish by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

may dengan kamera Olympus EPL-1 dan UW housing 10bar

8437190792_353318b3ec_z.jpg
Mayang and seafan by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

emak pakai gopro

8436108049_6202cd5b94_z.jpg
Celwithgopro by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

and me

8461831494_5b8c8d3aa7_z.jpg
Me and fish by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Arus kuat juga bukan jaminan tempat berkumpulnya ikan, sepertinya mereka punya suatu criteria untuk menentukan lokasi tertentu untuk ngumpul. Kadang, mereka juga ngumpul ditempat yang arusnya relative enteng.

Itulah sebabnya, meskipun waktu sudah diatur dengan mengacu ke tide table, sampai dilokasi dive guide kami akan mengamati kondisi permukaan, dan turun ke air – kadang free diving ke bawah, kemudian memutuskan kelayakan lokasi.

Selama seminggu disana, sempat 3 kali kita harus berpindah lokasi diving karena tidak ada arus sama sekali dan tidak ada ikan; atau arusnya terlalu kuat dan berbahaya untuk kemampuan kami.

Yang menarik, saat kita mau pindah tempat, datang boat dari liveaboard yang saya maksud diatas yang kebetulan berada di area tersebut, dan begitu sampai, 8 penyelam langsung turun di lokasi yang kita batalkan. Dive guide kami cuma nyengir, sambil menempelkan jari ke kepala.

Menurut dive guide kami, beberapa hari yang lalu mereka menolong seorang penyelam dari Liveboard tersebut yang terpisah dan muncul dipermukaan sendirian.

 

Paket seminggu di Kri eco terdiri dari 5 hari penyelaman, 3x penyelaman dengan perahu setiap harinya serta penyelaman malam kalau ambil paket unlimited.

Saya tidak ingat nama lokasi diving hari pertama, karena tidak terlalu istimewa dan kurang berkesan, hanya satu yang saya ingat, yaitu kuburan. Namun mulai hari ke 2, kita diving di lokasi titik penyelaman unggulan, yaitu: Manta point, Arborek, Blue Magic, Sleeping Barracuda, Cape Kri, Chicken Reef, Chicken Bay, Sardine Reef, Five rocks, Mike Point, Freewenbonda, serta penyelaman malam di Jetty Yenbuba dan Kri House reef.

 

Beberapa jepretan - sayang visibility kurang begitu bagus.

 

8452463063_2707b19a73_z.jpg
May Seascape 2 by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

8453556020_9d26b34041_z.jpg
May Seascape by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

8452462509_9186402366_z.jpg
Mel Seascape by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Dan tentunya tidak ketinggalan, walking shark - endemic raja ampat

8452455975_472cd37987_z.jpg
1 walking shark by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Wobegong sharks alias hiu karpet mudah dijumpai

8452468445_e4033a1292_z.jpg
Mayang wobegong by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Yang juga istimewa dari Kri eco resort adalah house reefnya. Tanpa perlu berbasah-basah, kita bisa melihat sejumlah black tip bermain-main di house reef, bergerak diantara kaki-kaki penopang bangunan, terutama saat makan siang dan sekitar jam 16:30 yaitu saat kitchen staff mulai menyiapkan makan malam.

Anak saya sempat bermain-main dengan sharks penghuni house reef

 

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Di lokasi yang lebih dalam dibawah jetty merupakan lokasi yang sangat cantik untuk pemotretan bawah air - apalagi kalau arusnya mulai keras akan banyak sekali ikan bergerombol.

 

8453551572_3a69fe1b30_z.jpg
Seafan Kri jetty by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

8429585548_5613d2e109_z.jpg
Kri Jetty 2 by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

8453550414_572b495349_z.jpg
Fish Kri Jetty by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Keindahan dan kehebatan bawah laut Raja ampat juga sempat kita abadikan dalam video. Sayang bulan Desember, visibility kurang bagus, banyak partikel dan plankton - namun setidaknya kita bisa melihat betapa padatnya Raja Ampat underwater

 

 

Senja, Raja Ampat

8436111203_c5751ab6ac_z.jpg
Kri 16 by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Malam menjelang, gubuk sederhana pun tampak menawan

8437195750_478206379b_z.jpg
Kri 21 by Wisnu Purwanto Family, on Flickr

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah mantap!!, pengalaman begini nih, yang tidak bisa dilupakan.. :wub:

 

emang bener juga , udah jauh2 datang, klo tidak menemukan sesuatu yang di-inginkan / yg seharus-nya didapatkan, pasti akan kecewa :(

Share this post


Link to post
Share on other sites

waw keren banget neh jadi ngiler :(

ada itinerary nya gak :D

Betul mr mod, R4, memang luar biasa, terutama bawah airnya - itu pula yang membuat banyak diver manca negara nggak segan2 mengeluarkan biaya rata2 200 s/d 600 USD/hari untuk bisa menikmati keindahan bawah air R4.

Saat ini sudah banyak land diving resort; tapi memang masih relatif mahal. Sebagai gambaran, untuk Kri eco saat ini paket unlimited diving 7 hari adalag Euro 1455 / orang sedang kalau tanpa diving, adalah Euro 850 / orang. Untuk WNI ada diskon 10%.

 

Mengenai itneray, trip kami saat itu agak panjang nggak langsung ke R4. lengkapnya Atyrau - Almaty - Bangkok - Jakarta - Bali - Ujung Pandang - Sorong - R4 dan baliknya  Sorong - Jakarta langsung.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah mantap!!, pengalaman begini nih, yang tidak bisa dilupakan.. :wub:

 

emang bener juga , udah jauh2 datang, klo tidak menemukan sesuatu yang di-inginkan / yg seharus-nya didapatkan, pasti akan kecewa :(

betul sekali apalagi untuk perjalanan itu, pas akhir tahun dan musim dingin. Kita sempat nyangkut di Almaty sekitar 20 jam karena salju. dan mesti beli tiket pesawat baru lagi di bangkok, karena dari bangkok jakarta pakai air asia tiketnya hangus.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bagusnya :D, kalo mau diving , level nya musti uda apa tuh ? musti uda jago kali ya ? kalo baru pemula gak bisa kali ya haha..

 

temen saya gak bisa diving, kalo snorkeling doank disana rugi kali ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

ada beberapa lokasi diving di R4 yang cocok untuk pemula, namun the best nya R4 adalah marine diversity and density - the best in the planet; nah masalahnya ikan2 itu khan senengnya main ditempat yang arusnya kuat (untuk manusia) - jadi memang the best nya R4 adalah untuk advance diver. Disana moto nya no current no fish.

 

untuk snorkeling, di R4 tentunya juga bagus ... banyak lokasi yang shallow dan terumbu karangnya sangat bagus

saya ketemu sejumlah turis asing dari eropa yang kesana untuk snorkeling, dan mereka tidak merasa rugi ..

 

Namun, inilah enaknya hidup di Indonesia, banyak pilihan tempat lain yang lebih murah yang juga sangat bagus untuk snorkeling ... di Bali misalnya bisa di Pulau Menjangan, Tulamben atau Nusa Penida.

Kalau mau snorkeling bener2 puas sih ke pantai tanjung karang donggala; ini salah satu tempat untuk snorkeling yang paling panjang pantainya didunia dengan kondisi terumbu karang yang sangat prima.

nanti kalau ada waktu saya akan ulas terpisah ..

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo nusa penida saya udah pernah emang bagus tuh utk snorkeling

saya sempet snorkeling di phi phi island phuket tapi gak begitu bagus

btw saya penasaran mas tki sekarang tinggal di indonesia atau di luar negri heheh

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo nusa penida saya udah pernah emang bagus tuh utk snorkeling

saya sempet snorkeling di phi phi island phuket tapi gak begitu bagus

btw saya penasaran mas tki sekarang tinggal di indonesia atau di luar negri heheh

 

Sudah lama memang kami tidak tinggal di Indonesia - tapi setiap tahunnya paling tidak 3x kami mudik untuk menikmati keindahan Indonesia.

Favorit saya memang Indonesia timur. Padahal, buat kita liburan ke eropa jauh lebih mudah dan murah.

 

Cuma kalau masalah keindahan laut dan pantai, nggak ada yang ngalahin Indonesia - bayangin aja 17000 pula dengan garis pantai trepanjang di dunia.

Tinggal di cari maunya yang sperti apa ...

kita juga pernah diving ke Koh Phi phi, racha yai, racha noi, lanta ...lumayan tapi nggak special - sekali cukup, tapi kalau ke sulawesi utara dan bali bisa dikatakan hampir setiap tahun.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Sudah lama memang kami tidak tinggal di Indonesia - tapi setiap tahunnya paling tidak 3x kami mudik untuk menikmati keindahan Indonesia.

Favorit saya memang Indonesia timur. Padahal, buat kita liburan ke eropa jauh lebih mudah dan murah.

 

Cuma kalau masalah keindahan laut dan pantai, nggak ada yang ngalahin Indonesia - bayangin aja 17000 pula dengan garis pantai trepanjang di dunia.

Tinggal di cari maunya yang sperti apa ...

kita juga pernah diving ke Koh Phi phi, racha yai, racha noi, lanta ...lumayan tapi nggak special - sekali cukup, tapi kalau ke sulawesi utara dan bali bisa dikatakan hampir setiap tahun.

saya juga target tahun ini bisa ke sulawesi utara / raja ampat lah amin :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah jadi tergantung sama dive guide nya juga ya biar bisa dapat tempat strategis, tapi biar dibilang banyak partikelnya juga tetep keren keliatannya mas.. orang indonesia bener-bener jarang ada yang ke sana ya

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah jadi tergantung sama dive guide nya juga ya biar bisa dapat tempat strategis, tapi biar dibilang banyak partikelnya juga tetep keren keliatannya mas.. orang indonesia bener-bener jarang ada yang ke sana ya

sebetulnya nggak cuma di Raja Ampat, diberbagai tempat lain juga begitu - lebih enak kalau kita kesuatu tempat dengan seseorang yang tahu tempat tersebut.

nah utk raja ampat, kalau kita salah tempat bisa kena arus yang kuat atau sepi karena ikan2 gedenya pada jalan2.

Kalau ikan2 kecil sih nggak masalah, dimana-mana banyak.

Share this post


Link to post
Share on other sites

ammmmmmazing.... raja ampat masuk list idaman untuk spot menyelam.... semoga bisa sampai ke sana... banyak operator selamnya?

saat ini cukuk banyak operator selam di R4; sebagian besar LOB. Saya perkirakan ada sekitar 30 LOB serta 15 land based diving resort disana.

 

 

mimpi yang belum terwujud untuk sampai k R4...terima kasih info-info nya.

tidak terlalu sulit ke R4, saat ini setiap harinya ada beberapa penerbangan ke Sorong. Tapi memang untuk kesana dibutuhkan biaya yang relatif tidak sedikit.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Ingin sekedar menambahkan.

Biasanya saya paling nggak suka copas, namun kali ini saya sengaja copas beberapa julukan Raja Ampat yang diberikan oleh sejumlah scientist, underwater photographer dan nature explorer kondang:

 

Reef on Setroids
The Kingdom of Coral
The world's Richest Reef
Heart of the Coral Triangle
Apex of Marine Biodiversity
Ultramarine
Vistual Species Factory
The Heart of Marine Diversity
The Marine World's Epicentre of Biodiversity.
The pinnacle of worldwide marine biodiversity
The undisputed record for marine biodiversity
Simply nowhere else on the planet that offers as much marine life.
Bulls eye of diversity
Home to richest reef on the planet
The most fishy dives found anywhere on earth

 

dari segi marine diversity - seluruh caribean + maldives, masih kalah jauh dibanding Raja Ampat.

Gerald R. Allen, Ph.D, Ichthyology kondang dunia - saat diving di house reef Kri, memecahkan record dunia dengan mencatat 374 species yang berbeda untuk sekali diving.

Share this post


Link to post
Share on other sites

@tki

dari kmaren aku baca sepotong2 thread ini..dan hari ini baru beres bacanya,, :)

bingung mau nulis apa.. tapi intinya SUBHAANALLAAH.. beruntung ya om wisnu dikasih kesempatan bisa menikmati keindahan alam yang diberikan Sang Pencipta ..

aku liat hasil fotonya sangat menakjubkan..hobi banget diving ya om??.. hhehe :D  ..mantep banget om Report nya :salut  ...

rencana InsyaAllah bulan oktober nanti aku mau ke Raja Ampat ,,pengen liat Festival Bahari..explore sampe Wayag ..mudah2an lancar ..mohon doanya ya om :cintaindo :cintaindo

Share this post


Link to post
Share on other sites

@tki

dari kmaren aku baca sepotong2 thread ini..dan hari ini baru beres bacanya,, :)

bingung mau nulis apa.. tapi intinya SUBHAANALLAAH.. beruntung ya om wisnu dikasih kesempatan bisa menikmati keindahan alam yang diberikan Sang Pencipta ..

aku liat hasil fotonya sangat menakjubkan..hobi banget diving ya om??.. hhehe :D  ..mantep banget om Report nya :salut  ...

rencana InsyaAllah bulan oktober nanti aku mau ke Raja Ampat ,,pengen liat Festival Bahari..explore sampe Wayag ..mudah2an lancar ..mohon doanya ya om :cintaindo :cintaindo

Terima Kasih mas ,,, silahkan mengunjungi R4 - bulan Oktober waktu yang bagus,  Ditunggu reportnya

akhir bulan agustus ini anak saya juga mau kesana lagi setelah mengujungi Komodo

Share this post


Link to post
Share on other sites

  • Similar Content

    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
×
×
  • Create New...