Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

  1. daffa

    daffa

  • Similar Content

    • By satria11
      Dihari kedua setelah selesai istirahat kami memutuskan untuk mengeksplor daerah wisata sekitar sebelum melanjutkan perjalanan ke jogja,  Mau tau keseruan kita? Check link dibawah
      Kritik dan saran silahkan comment dibawah hehehe
    • By satria11
      Jadi di part 1 ini kita @Aviafamily melakukan perjalanan yang singkat ke Dieng dan Jogja pada libur pemilu 18 april - 21 april 2019 kemarin. Semoga bisa menjadi referensi jalur yang singkat bagi sobat sekalian
      https://www.youtube.com/watch?v=br46Cw6L06g&t=27s
    • By Titi Setianingsih
      Awalnya takjub ketika membaca dan melihat postingan2 teman di facebook perihal keindahan Curug Nangga di Desa Pekuncen Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, secara saya kan orang asli Banyumas juga. Akhirnya rasa penasaran saya terbayar ketika ada libur harpitnas kemarin tanggal 15-17 Mei 2015.
       
      Sungguh, penuh perjuangan untuk menuju Curug Nangga. Dari Jakarta kami naik kerete ekonomi AC, KA Serayu dari Pasar Senen menuju Stasiun Purwokerto, tiket hanya Rp. 70.000,-. Jika mau lebih cepat bisa menggunakan kereta lainnya semisal yang bisnis ataupun eksekutif, kami sengaja menggunakan kelas ekonomi supaya lebih efisien. Sesampainya di Purwokerto kami rental mobil karena kebetulan kami berlima, jd kami pilih mobil kijang agar bisa muat banyak. Sewa mobil plus sopir plus bahan bakar sehari Rp 650.000,-. Ini akan murah karena kami menggunakan sistem share cost, sehingga per orang dikenakan biaya transport Rp. 130.000,- saja.
       
      Dari Purwokerto perjalanan menuju arah utara kearah kota Bumiayu, namun ketika sampai di Ajibarang bisa bertanya ke warga sekitar untuk menuju ke desa Petahunan Pekuncen Ajibarang, ketika itu kami ke arah kiri (diarahkan warga), terus menelusuri jalanan yang menanjak. Disini diperlukan sopir yang berpengalaman karena tanjakannya luar biasa curamnya, kamipun sempat terhenti karena mobil tidak kuat nanjak, sehingga kami ramai2 mencari batu untuk mengganjal ban mobil. Supaya aman kamipun berjalan saja, biarkan mobilnya mendahului kami, namun ternyata berjalan kaki menanjak itupun terasa berat,,,sungguh,,,capainya luar biasa, mungkin akan terasa ringan bagi pendaki gunung.
       
      Huufftttt,,,dua kali kami melalui jalanan menanjak, namun kurang lebih 1,5 jam menggunakan mobil akhirnya sampai juga ke lokasi parkir tempat wisata Curug Nangga. Dari tempat parkiran menuju Curug kurang lebih berjalan 2 km, naik turun bukit, persawahan dan hijaunya alam pegunungan.
      Amaziiing,,,sangat segar dipandang mata, padi yang masih menghijau, pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin yang semilir. Pelan-pelan kami jalan, setelah sebelumnya bayar tiket masuk yang hanya Rp. 3.500,-. Wooowwww,,,Subhanallah,,,dari kejauhan sudah tampak air terjun yang bersusun-susun, benar kata orang, indahnya luar biasa,,,,,,,takjub, kagum dan inilah salah satu keindahan Indonesia,,,,luar biasa.
       
      Capai memang,,,tapi kami tidak cukup puas hanya sampai ke lokasi saja, kamipun harus naik menuju tingkat yang paling atas. Mau gak mau kamipun harus menaiki bukit,,,,,,huuffff licin dan terjal berbatu.
       
      Gak percaya akan keindahan Curug Nangga ? Lihatlah foto-foto kami.,,,,luar biasa bukan ???
      So....datanglah ke Purwokerto, wisata indah yang murah meriah, jika hanya ke Curug Nangga hanya menghabiskan kocek anda sebesar Rp 373.500 dengan perincian sebagai berikut :
      Tiket KA PP : 140.000 Sewa mobil ber 5 : 130.000 per orang Tiket masuk : 3.500 Makan kurang lebih : 100.000 Total Rp 373.500.....cukup ekonomis kan ???? Tunggu apa lagi,,,,,,,mari berpiknik, supaya kalian tahu bahwa Indonesia itu indaaahhhh...!!!!!

    • By Nofan
      Pantai Kartini adalah Pantai yang terletak di Pantai Utara Jawa, tepatnya di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara - Jawa Tengah. Pantai Kartini hanya berjarak 2 km dari pusat Kota Jepara. 
      Sengaja diberi nama Pantai Kartini karena daerah tersebut merupakan daerah di mana dulu RA. Kartini tinggal. Kota Jepara merupakan tempat kelahiran tokoh emansipasi wanita yaitu RA. Kartini.
      Pantai Kartini merupakan salah satu tempat wisata favorit yang terdapat di wilayah Jepara. Banyak wisatawan luar kota yang datang ke Pantai Kartini untuk menikmati keindahan yang disuguhkan oleh Sang Maha Kuasa.
      Di pantai ini, terkadang diadakan berbagai macam event dan kopdar dari komunitas-komunitas tertentu.
      Pantai Kartini merupakan pantai berpasir putih yang mempunyai pesona alam yang cukup indah. Di tempat ini juga terdapat Kura – kura Ocean Park (KOP) yang di dalamnya terdapat aquarium yang berisi berbagai macam ikan. Ada ikan pari, ikan kakap, ikan hiu, hingga ikan anemon dapat dijumpai di Kura - kura Ocean Park. 
      Kura - kura Ocean Park merupakan bangunan dua lantai dengan beberapa wahana di dalamnya. Di lantai dua, kamu bisa menikmati film 3D. Tiket masuk ke Kura - kura Ocean Park cukup terjangkau. Cukup dengan merogoh kocek Rp 5000, kamu bisa menikmati berbagai macam wahana yang ada didalamnya.
      Sanagt cocok untuk kamu yang membawa anak-anak. Di samping mengajak mereka berwisata, kamu juga dapat sekaligus mengedukasi mereka mengenai berbagai macam satwa laut. Di mana mereka akan lebih tahu, dan mencintai semua makhluk hidup yang ada disekitarnya.
      Di lantai dua juga terdapat tempat untuk berfoto ria dengan background Pantai Kartini yang terlihat lebih jelas. Tetapi kamu harus siap mengantri apabila hendak berpose untuk mendapatkan gambar terbaik. karena bukan hanya kamu yang ingin eksis untuk mendapatkan hasil kenang-kenangan terbaik di Pantai Kartini.
      Ketika hari libur, tentu saja antrian akan lebih banyak, karena Pantai Kartini akan dikunjungi oleh lebih banyak wisatawan, baik dari dalam, maupun dari luar kota Jepara.
      Tetapi itu untuk hari kerja ya, apabila hari libur, harganya melonjak menjadi Rp 17.500/ orangnya. Hehe… naiknya signifikan sekali ya, lebih dari 200%.
      Ada beberapa spot yang sangat sayang apabila dilewatkan ketika kamu menyambangi Pantai Kartini. Tepatnya di area sekitar tulisan Pantai Kartini, yang berdekatan dengan kolam renang dengan jarak tak begitu jauh dari lautan lepas.
      Apabila kamu dari luar kota dan turun di Terminal Bus kota Jepara, kamu tidak perlu khawatir, karena di sana sudah ada angkutan umum yang siap mengantarkan kamu ke Pantai Kartini dengan tarif yang cukup terjangkau, yaitu hanya Rp. 4000,-.
      Di sepanjang pantai, terdapat beberapa hotel yang bisa kamu jadikan tempat beristirahat. Fasilitasnya-pun tidak mengecewakan, kamu bisa istirahat di tempat yang nyaman dengan Background Pantai Kartini yang memanjakan mata.
      Di Pantai Kartini kamu juga dapat menikmati matahari terbenam (sunset), di mana langit jingga berhiaskan matahari yang mulai menyembunyikan sinarnya. Lautan yang tampak tenang di sebelah barat menambah kesyahduan di kala senja.
      Di pantai Kartini, kamu bisa menikmati semilir angin yang membuat suasana hati lebih rileks dan nyaman. Deburan ombak yang tidak terlalu besar kian menambah ceria.
      Pantai Kartini merupakan salah satu tempat yang paling tepat apabila kamu yang ingin melakukan liburan ke tempat yang indah dengan akses yang mudah. Jangan lupa ajak orang terdekat untuk ikut menikmati keindahan Pantai Kartini yang populer di wilayah Jepara.
      SUMBER
    • By Mulyati Asih
      Bermain-main dengan awan. Foto: Aldani
       

      Cuaca tampak cerah ketika mobil yang membawa kami dari stasiun Poncol Semarang, memasuki basecamp Mawar jalur pendakian Gunung Ungaran. Suasana tampak sepi, hanya beberapa orang terlihat di sekitar camping ground. Hal pertama yang kami cari adalah Riyan, kami janjian di sini untuk mendaki bersama. Saya dan Abdi mengurus SIMAKSI dan membayar biaya sebesar Rp.5.000 per orang. Kebetulan basecamp sepi, masih ada waktu untuk bersih-bersih. repacking dan membagi beban logistik.
       
      Kurang lebih pukul 11.00 kami bersembilan, saya, Dwi, Muly, Nur, Tio, Anis, Dani, Abdi dan Riyan mulai meninggalkan basecamp. Kami sepakat akan berjalan santai selama pendakian, kemudian berjalan mengikuti Riyan. Pohon pinus menghiasi sepanjang jalur pendakian,  20 menit berjalan sampailah kami di pos 1. Pos disediakan untuk beristirahat, kami pun tak menyia-nyiakannya meskipun hanya untuk makan cokelat. Melanjutkan perjalanan memasuki  hutan heterogen dengan trek masih landai.
       

      Istirahat bagian dari perjalanan yang menyenangkan, melemaskan otot-otot kaki sambil tarik napas
       
      Kami sampai di pos 2, sebuah bangunan beratap seng dan beristirahat di sini. Cepat sekali untuk menemukan pos 2 pikir saya, jaraknya kurang lebih 30 menit dari pos 1. Meninggalkan pos 2, trek masih landai. Suara gemuruh air dari pipa-pipa yang terpasang di pinggir jalan menggundang perhatian saya. Sampailah kami di area terbuka, sebuah pertigaan menuju perkebunan teh. Dari landai, trek berganti mulai menanjak dan berbatu kerikil. Jalannya lebar, beberapa kendaraan motor berseliweran. Petak-petak perkebunan teh menjadikan pemandangan yang menyejukkan mata, lumayan buat menghilangkan kebosanan. Beberapa orang mendirikan tenda di sini. Kami berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju puncak yang terpasang di pertigaan Promasan. Saya, Muly, Dwi dan Nur sempat tertinggal rombongan karena terlalu lama berfoto di sini.
       
       
      Jalan Terjal Menuju Puncak
       
      Meninggalkan perkebunan teh, jalanan semakin menanjak. Sesekali pandangan saya masih mengarah pada hamparan pucuk-pucuk daun teh. Bonus kali ini adalah hijaunya hamparan perkebunan teh. Treknya menanjak bukan pada tanah miring, tapi kami harus menaiki tangga-tangga dari batu. Dari batu ukuran kecil hingga berukuran besar.
       
      Bukan hal mudah untuk melewati trek berbatu. Beberapa kali saya harus meraih batang pohon untuk pegangan sebelum kaki menaiki batu atau pegangan erat pada akar pohon yang menjalar. Bahkan tangan mencengkeram erat batu dan kaki mulai menaiki batu lainnya. Baru satu jam berjalan rasanya sudah ngos-ngosan, saya lihat Nur mulai keletihan. Saya mengulurkan tangan membantu Nur menaiki batu. Riyan masih setia menemani yang tertinggal sedangkan Abdi berjalan di depan diikuti yang lain.
       
      Kami masuk ke hutan rapat tapi trek masih berbatu, sepertinya trek akan berbatu sampai puncak. Tio duduk di salah satu dahan pohon yang rendah, yang lainnya mengikuti cara Tio termasuk saya. “Buat video mannequin challenge bagus nih,” kata Tio. Akhirnya tidak jadi karena tidak ada yang mau mengambil video, tiga laki-laki Riyan, Abdi dan Dani sudah jalan duluan dan kami berenam mengikutinya. Kami berpapasan dengan rombongan yang habis turun dari puncak, sepertinya mereka tidak nge-camp di atas, terlihat dari daypack yang mereka bawa.
       
      Banyak yang bilang kalau gunung Ungaran sangat cocok untuk pemula, mungkin karena hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl. Tapi meskipun hanya memiliki ketinggian 2050 mdpl, jangan pernah anggap remeh. Treknya  yang berbatu bukanlah hal mudah untuk pendaki pemula, karena benar-benar menguras tenaga. Kebetulan kami mengajak Anis yang baru pertama kali naik gunung. “Iya, main ke pantai aja naik gunung capek,” itulah komentar Anis ketika kami tanya apa rasanya naik gunung. Beberapa kali Muly membantu Anis melewati trek terjal, meskipun sering terpeleset dan jatuh tapi Anis tampak masih bersemangat.
       

      Semakin ke puncak jalur berbatu semakin sulit. Foto: Tiolas Melati
       
      Kami sampai di area terbuka, tak ada pohon yang menghalangi pandangan mata. Dari tempat kami berdiri, panca indera saya tertuju pada dasar lembah hijau seperti savana, puncak bukit dan petak-petak rumah penduduk. Tio mengarahkan telunjuknya sambil berkata “kita jalan sejauh itu dari bawah,” sedangkan Anis hanya berkomentar “belum sampai puncak, sedikit lagi”. Angin bertiup kencang suaranya bergemuruh, kabut mulai datang dan menghalangi pandangan mata. Abdi, Riyan dan Dani sudah tidak ada di antara kami, mereka sudah melanjutkan perjalanan. Nur berjalan duluan dan kami menyusulnya.
       
      Meskipun saya sudah tahu dari beberapa artikel yang saya baca bahwa trek gunung Ungaran berbatu, tapi sungguh saya tidak mengira bahwa trek berbatu ini akan dilalui sepanjang jalur pendakian.  Bongkahan batu besar seolah-olah menghalangi dan memperlambat langkah kami. Semakin ke puncak, batu-batu yang menghadang di depan ukurannya semakin besar. Kami berjalan di antara himpitan batu-batu besar ataupun merangkak menaiki batu. Jalurnya semakin terjal karena kemiringannya pun kurang lebih 45 derajat. Tak ada pemandangan selain batu-batu yang berserakan, sedangkan di atas kepala ada batu besar dan runcing tegak berdiri. Puncak sudah ada di atas pikir saya, tapi napas semakin ngos-ngosan, energi saya sudah mulai terkuras habis.
       

      Trekking melewati jalur berbatu, rasanya lutut mau copot
       
      Tertatih-tatih kami melewati jalan terjal berbatu, Dwi dan Nur berjalan di depan. Sesekali pandangannya menoleh ke belakang menunggu kami yang berjalan semakin pelan. Sampailah kami di atas dengan selamat, pekik Allahuakbar terdengar dari suara Muly. Dia terlalu senang akhirnya bisa sampai puncak dan melewati jalan terjal berbatu.
       
       
      Kehilangan Jejak
       
      Di puncak ini pemandangan indah yang kami lihat di bawah tadi justru semakin jelas terlihat. Puncak yang memiliki area cukup luas untuk mendirikan empat sampai lima buah tenda. Sekilas pemandangan batu-batu yang berserakan di atas puncak, mengingatkan saya pada Stone Garden yang ada di Padalarang Bandung. Kemudian pandangan saya tertuju pada pergerakan awan putih yang menggumpal di bawah. Lagi-lagi kami terlalu asik, sehingga tidak menyadari akan keberadaan tiga laki-laki dalam robongan kami.
       
      Angin bertiup semakin kencang, kabutpun sudah menghalangi pandangan mata. Ada rasa kahwatir dalam diri saya karena di puncak ini tidak ada tempat berlindung. Kami berenam berjalan ke tengah, hanya ada satu tenda kuning berdiri di sana. Dan kami sudah menebak itu bukan tenda milik Abdi, Riyan ataupun Dani. Lalu di mana mereka? cepat sekali mereka berjalan. Di bawah tadi Tio melihat Dani ada di puncak ini. Wajah-wajah cemas dan kesal mulai terlihat di antara kami. Dari angin yang bertiup kencang dan kabut yang mulai menyelimuti, kini butiran air mulai menetes mengenai tubuh saya. Saya mulai menggigil, buru-buru saya keluarkan jas hujan dan mengenakannya.
       

      Berdiri di puncak sambil menikmati panorama indah awan dan perbukitan. Foto: Aldani
       
      Kami masih berdiri penuh kebingungan sambil menebak di mana mereka mendirikan tenda. Teriakan panggilan nama Dani, Abdi dan Riyan sering kami pekikkan, tapi yang dipanggil tak pernah menyaut. Tio yakin kalau mereka ada di puncak sana di balik batu,  lalu pandangan saya tertuju pada batu besar yang ada di atas. Lagi-lagi puncak ditandai dengan berdirinya batu besar. Setelah berdiri di puncak tapi masih ada puncak lagi, sedangkan fisik mulai melemah. Mungkin ini yang namanya puncak Botak, sedangkan puncak yang di atas baru puncak Ungaran.
       
      Tio mulai berjalan ke arah puncak, saya menyuruh yang lainnya untuk naik supaya kami tidak terpisah lagi. Kabut mulai tebal dan menghalangi pandangan. Saya mengikuti langkah Tio tapi baru setengah perjalanan, samar-samar Tio meneriakkan sesuatu ke arah saya. Sayang suara itu hilang terbawa angin sebelum telinga ini berhasil menangkapnya. Entahlah apa yang ingin Tio sampaikan, tak lama Tio muncul di balik batu. Tio tidak berhasil menemukan mereka, kami berbalik arah hendak turun. Dalam kondisi angin seperti ini yang kami butuhkan adalah tenda untuk berlindung, celakanya semua tenda ada pada laki-laki. Kami berpapasan dengan pendaki lain yang akan ke puncak, kepada mereka kami titip pesan siapa tau mereka bertemu dengan Riyan, Abdi dan Dani bahwa kami ada di bawah.
       

      Puncak yang dipenuhi batu.
       
      Belum jauh kami melangkah ada suara Riyan memanggil, ada perasaan lega karena tak perlu terlunta-lunta mencari tempat berlindung. Seketika itu juga Riyan dikeroyok pertanyaan “ada di mana sih kalian?” mereka ada di puncak dan sudah mendirikan tenda, syukur-syukur sudah ada teh panas dan nasi yang matang. Camping Area letaknya ada di balik tugu, Riyan membantu membawakan keril milik Anis dan Nur. Saya bergegas melangkah melewati batu-batu besar, Alhamdulillah setelah kurang lebih 5 jam berjalan melewati trek terjal berbatu, akhirnya sampai juga di tugu puncak gunung Ungaran.
       
      Di balik tugu ada rimbunan pohon, saya bisa menarik napas lega akhirnya berhasil menemukan tenda kami setelah sebelumnya saya nyasar ke tenda rombongan lain. Saya menemukan Dani dan Abdi meringkuk di dalam tenda, yaa kami kira mereka sedang masak nasi atau membuat minuman hangat. Setelah sholat Ashar dijamak Djuhur kami mulai merebus air untuk membuat minuman hangat.
       
       
      Angin Bertiup Sepanjang Malam
       
      Angin terus bertiup kencang, tak mudah untuk menyalakan kompor. Hanya trangia yang mampu bertahan dengan api besar. Sudah ada teh, kopi, susu, sereal, cokelat panas siap untuk menghangatkan badan. Riyan bilang mendirikan tenda di sini aman saat angin kencang, tapi habislah kita klo hujan. Soalnya ini lembah tempat aliran air turun.
       
      Untungnya flysheet terpasang rendah, jadi mampu menghalang angin masuk ke tenda. Tio bilang “jago nih yang pasang flysheet, tapi tidak dengan yang pasang tenda karena masih ada air yang rembes ke dalam”. Senja mulai beranjak mengejar malam, suasana berganti gelap sedangkan angin terus berhembus. Daun-daun membawa tetesan air dari kabut mengenai tenda, suara gemericiknya seperti hujan turun. Malam semakin syahdu, kami sudah sibuk menyiapkan makan malam. Dinginpun mulai menyusup menembus tulang, buru-buru jaket saya pakai sebelum badan menggigil
       
      Tio, Riyan dan Dani duduk rapat membuat formasi untuk menghalangi angin mengenai kompor, di trangia ada nasi siap menunggu matang. Muly dan Dwi mengupas bawang, sedangkan saya dan Anis mengupas labu siam. Karena Nur sedang tidak fit, makanya dia hanya rebahan di tenda. Abdi hanya melihat aktifitas kami dari tenda, akhirnya kami panggil dengan sebutan Mandor.
       
      Dani menyerah tidak kuat menahan dingin, dia buru-buru masuk tenda dan posisinya digantikan Abdi untuk menggoreng ayam. Nasi sudah matang tapi harus menunggu sayur matang, setelah sayur matang harus menunggu ayam goreng matang. Benar kata Riyan setelah semuanya matang nanti sudah dingin, ya sudahlah akhirnya kami buru-buru untuk makan lagi pula jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
       

      Siap-siap masak untuk makan malam, yang lain keletihan di dalam tenda. Foto: Aldani
       
      Malam semakin larut, kami sudah berada di dalam tenda masing-masing. Saya menyusup di antara Nur dan Dwi, meringkuk di dalam sleeping bag mencari kehangatan. Tak ada malam yang sunyi, gemuruh suara angin terus berhembus, gemericik tetesan angin terus terdengar. Saya mulai memejamkan mata, berusaha tidur untuk menghilangkan letih.
       
      Menjelang subuh saya terbangun dan tak terdengar lagi suara angin ataupun tetesan air. Suasana berganti riuh karena satu persatu dari kami mulai terbangun. Tio menawarkan untuk melihat sunrise tapi tak ada yang tertarik karena cuaca mendung.
       
      Selamat pagi, kami keluar tenda untuk menghirup udara segar. Ketika terang saya bisa melihat dengan jelas di sekeliling saya. Kami seperti berada di hutan hujan tropis, dimana pohon-pohon ditumbuhi lumut dan udaranya lembab. Seperti berada di Bukit Raya yang ada di Kalimantan.
       

      Mari berdoa semoga turun selamat, lupakan treknya karena ada view cantik di depan. Foto: Aldani
       
       
      Turun Dengan Selamat
      Pukul sembilan pagi, setelah sarapan kami mulai meninggalkan puncak. Cuaca tampak cerah, puncak tugu sudah dipenuhi rombongan laki-laki. Akhirnya kami memilih tempat lain untuk berfoto. Berdirilah di dekat tebing, maka ada gumpalan awan putih yang indah di bawah. Saya buru-buru mengabadikannya dengan smartphone yang saya bawa sebelum awan gelap datang. Cuaca memang cepat sekali berubah dan anginpun mulai bertiup kencang. Di sudut lain, terlihat puncak gunung Andong, Merbabu dan Merapi di antara gumpalan awan putih.
      Nur dan Dwi turun duluan disusul Riyan dan Abdi, saya pun tak ingin berlama-lama di sini segera beranjak untuk menyusul mereka. Saat turun sama sulitnya saat mendaki, tidak ada pilihan selain melewati jalan terjal dan berbatu. Kabut semalam menyisakan batu-batu yang basah, tanah yang becek dan licin. Terkadang saya harus duduk dulu supaya kaki bisa menyentuh dasar.
       

      harus hati-hati karena keselamatan adalah hal utama. Foto: Aldani
       
      Anis mulai kepayahan menuruni batu dengan keril yang dia bawa, akhirnya Abdi membantu untuk membawanya. Meskipun sudah berjalan tanpa beban, nyatanya Anis masih sempoyongan. Entah sudah berapa kali dia harus terpeleset dan jatuh. Kami harus mengajarinya cara mencari pijakan kaki supaya tidak terpeleset. Hujan mulai turun dengan lebat, butiran-butiran airnya mengenai wajah dan kami harus mengenakan jas hujan supaya badan tidak terlalu basah. Nur, Dwi, Abdi dan Dani sudah terlalu jauh berjalan di depan. Saya masih menemani Anis menuruni batu, sedangkan di belakang masih ada Tio, Muly dan Riyan yang berjalan santai. Saat turun kami harus bergantian dengan rombongan lain yang akan naik. 
       
      Tiga jam berjalan sampailah saya di kawasan perkebunan teh. Ada yang aneh dengan sepatu yang saya pakai, ketika saya cek aaahh ternyata sepatu ini sudah tak mampu lagi diajak berjalan jauh. Saya menggantinya dengan sandal jepit yang saya bawa. Untungnya trek sudah landai, jadi saya bisa mempercepat langkah. Sambil lari-lari kecil saya mulai meninggalkan gunung Ungaran menuju basecamp Mawar. Selamat tinggal Ungaran, semoga suatu saat bisa kembali.
       
       

      Tak pernah ada jalan menurun jika tak pernah didaki
       

      Cara Menuju Gunung Ungaran:

      Gunung Ungaran di Semarang Jawa Tengah dapat ditempuh melalui tiga jalur yaitu jalur Jimbaran atau basecamp Mawar, jalur Gedong Songo dan Jalur Medini atau Promasan. Sedangkan kami memilih jalur basecamp Mawar.

      Jika Anda berasal dari Jakarta, bisa naik kereta api tujuan stasiun Poncol atau stasiun Tawang Semarang. Cara termudah menuju basecamp Mawar adalah dengan menyewa mobil. Kami menyewa untuk pulang pergi dengan biaya Rp. 700.000 sudah termasuk supir, BBM dan tiket tol, lokasi penjemputannya di stasiun Poncol Semarang. Di stasiun Poncol sendiri banyak yang menawarkan sewa mobil, pintar-pintarlah untuk menawar.

      Alternatif lainnya dari stasiun Poncol atau Tawang menuju terminal Terboyo naik mikrolet, dari Terboyo ganti bis tujuan Ambarawa atau Salatiga mintalah turun di daerah Tegal Panas atau Rumah Sakit Ken Saras atau Pasar Babadan. Kemudian bisa memilih moda trasportasi mikrolet menuju pasar Jimbaran. Dari Pasar jimbaran ke basecamp  Mawar bisa ditempuh dengan ojek.
    • By Rawoniste
      Yuhuuu....
      Ini liburan solo backpakeran saya yg ke3 di tahun 2016, ada "janji dalam diri sendiri" selama tahun 2016 saya musti liburan tiap bulan, mentok2nya yg dekat saja 
      Liburan bulan maret alias sudah basi hehehe tp gak apa2 yah saya RF sekarang.
      Perjalanan di mulai naik KA BDG-TAWANG. baru nyadar ternyata rutenya ke pantura beda dgn bdg-jogja.
      Nyampe statsiun tawang jam 4an, sholat istirahat sebentar nunggu jemputan mobil rentalan 400k all in one 12 jam.
      Mlipir keluar statsiun ternyata ada kolam gede dan kursi tempat duduknya, melamunlah disana sambil nunggu matahari terbit. 
      Nah sunrisrnya sudah datang
      Gak pake lama sebelum jam 6, driver dgn mobil agyanya tlp. Udah dilokasi. lets go...
      Sarapan dulu , meskipun saya tdk biasa sarapan tapi menghormati driver saya minta dianter ke ... Pokoknya makanan khas Semarang lah.
      Mobil pun meluncur ke pujasera jln kiayi saleh. Katanya yg ngetop2 ada disana 

      Ini penampakan nya, msh sepi yg beli jam 6 lebih dikit sih tp udah pada buka. 
      Saya masuk ke lapak bu nasimah spesialis mangut . penasaran dgn mangut welut (belut) nya hehehe. 
      Enak menurutku, kuahnya beda dgn yg di jual di bdg (ikan) habis 65k makan berdua dgn driver termasuk rokok 1 bungkus.
      Mobil pun melaju ke daerah unggaran, yup tujuan pertama adalah Candi gedong songo. 
      Baru buka pintu....Walah panas nya. Baru jam 9an padahal. Dgn semangat sayapun jalan menyusuri 9 candi tsb. Ada kuda kalo gak mau cape, tp saya lebih asik Jalan kaki . cukup rame jam segitu. 

      Mejeng dulu ninggalin jejak 

      Gak sampe ke 9 candi, hanya ketemu 7 Candi. Candi nya emng sama bentuknya hanya jaraknya saja yg berjauhan gak kira2 , yg pasti nanjak lah. Lumayan beruntung byk kabut dan awan, jd tdk terlalu panas waktu ada dipuncaknya.
      Disini jg ada kawah2 yg ketutup, hanya asap Dan baru blerang saja . buat rendaman jg Ada. Tp males bgt 

      Kepulan asap blerang.
      Puas main disini, saya pun turun lg. Ah making ke bawah makin panas saja.
      Tujuan ke2, umbul sidomulti. Cukup dekat jaraknys turun ke bawah belok kanan. Tp lumayan jauh kesana nya jln sempit Dan nanjak tanpa henti. Sepanjang jalan berjamur tempat karaoke berbagai nama. Banyak bgt ih ... 
      Nyampe disana, meskipun diatas bukit waduh meleleh deh kepalaku. 
      Inilah penampakan kolam umbul sidomukti nya yg terdiri dr 3 kolam bertingkat. 
      Awalnya pengen bgt nyamplung disini, tapi naluri saya bilang, jangan ! Jangan ! Bisa tumbeng ntar Hahaha.
      Ya sudah hanya bisa memandang Dan nyentuh air nya saja yg dingin 

      Rest dulu disini sambil pesen minuman dan tahu goreng. Karena niat ngafe di atas nya.
      Lanjut .... Mobil dinaikin ke atas lagi dan ketemu di kafenya. Penuh 
      Jalan2 dulu kesekitar, ada gua...eh bayar lg masuk sini (5k) udah di kasi penerangan ternyata gua tsb sengaja di jebol ke luar gawir. Lalu di bangun semacam balkon dan dikasi pagar. Spot buat poto2 dgn latar belakang jurang dan pucuk pohon mirip tebing keraton di bandung. Gak sempet di poto disini keburu muak ulah abg yg gak mau2 pindah sehabis poto2 malah ngobrol. Dlm hati sukurin deh kalo sampe jatuh hahahaha.
      Keluar gua , yaelah kafe masih penuh mulu. Ahirnya saya putuskan turun saja nyari  makan di luar. Setelah masuk jln unggaran lg mobil pun belok ke kiri. Dan saya makan tahu gimbal. Euih ngantri jg disini. TG nya enak bgt porsi banyak sampe saya kesusahan ngehabisinnya murah pula 13k ato 15k yah lupa lg , cuma 40k an makan berdua sama minum
      Beres makan driver nanya lg mau ke mana lg ? Pulangggg.... Kepala udah nyut2an bgt.
      Dan saya pun meluncur pulang, tp begitu lewat sam pho khong saya minta turun dulu. Panas gilak2an disini. Cekrek2
      Nyampe di hotel jam 4an, saya mandi dan tidur sebentar.
      Pas bangun udah merasa gak ok ini badan. Minum antangin lah.
      Selepas magrib, meskipun gak fit kluar lah lihat kehidupan malam semarang. Dan ternyata hotel dimana saya menginap itu byk psk nya hehehe (jl. Iman bonjol. Kirain siapa gitu nyapa sambil stanbye di motornya. Jualan toh mbak. hahahaha.
      Killing naik beca sampe pecinan cina yg terkenal dgn warung semawisnya. Gilak penuh bgt !! Mau jajal makanan gak ada tempat, jd pesen juice doang sambil manyun. Oya,disini byk bgt B2 nya jd hati2 bagi yg Muslim.
      Pulang ke hotel, ongkos naik beca 50k 
      Pagi2 saya sudah bangun Dan siap jalan2 lg, rental motor saja. Mulur 1 jam rentalnya. 
      Mumpung masih pagi saya ke Sam pho khong lg , horee msh sepi dan tdk panas. Tiket 15k.
      Sepiiii karena kepagian...
      Pulang dulu buat cek out Dan mandi 
      Lanjut ke mesjid raya Semarang yg konon paling megah. Tp baru seperempat perjalanan hati saya sudah ciut, pulang ! Pulang ! Kepala nyut2an lg, panas jgn ditanya. Ahirnya saya puter lg ke jln pandanaran buat beli oleh2. Waktu msh banyak, klayapan di siang hari sudah nyerah , jadwal KA jam 7an. Ngadem lah di Paragon mall sambil ngopi2 ringan. Setelah segeran Dan fit lg saya pun keluar Dr mall, grhhhh.... Ada ada arak2an yg entahlah acara apaan, motor tdk bisa keluar ...
      Drpd bete nikmati saja atraksi INI,cukup deg2an jg gimana kalo sampe jam 6an gak kluar2an. 
      Jam 17an mulai reda Dan byk motor yg maksa lewat, saya pun ikutan lewat.
      Lanjut lihat lawang sewu yg konon mistik tsb
      Canghih jg yah, tiketnya di scan masuk sini he he he.
      Lanjut kota tua...... 
      Sayang yah, bangunsn bagus2 tp terbengkalai . hantunya pasti banyak ... 
      Puas poto2 di kota tua, azdan magrib. Sayavpun mengahiri petualangan sendiri di Semarang yg super hot jeletot ini, balik lg ke bdg jam 7an.
      Nyampe di Bandung subuh, badan udah gak karuan. Ahirnya saya tumbeng. Badan panas dingin gak karuan. Langsung ke dokter sorenya Dan nambah istirahat seminggu di kasur 
      Kapok ? Gak, puas ? Gak 
      Ada yg kelewat setelah pulang Dr umbul sidomukti itu saya ke gua kreao dulu. Gak ada yg istimewa hanya lihat gua,bendungan Dan monyet2. 
      Super hot bgt.

    • By Titi Setianingsih
      Selamat sore JJ'er...!!
      Lebaran kemarin pada kemana jalan2nya ? Kalau di Purwokerto Jawa Tengah mah banyak sekali objek wisata yang bisa dikunjungi, tapi kalau mudik biasanya sangat macet, karena sebagian besar warga Banyumas dan sekitarnya banyak yang gawe di Jakarta, sehingga kalau lebaran kampung halaman menjadi penuh sesak, juga kondisi lalu lintasnya semrawut. Alhasil saya hanya bisa berkunjung 1 lokasi wisata yang memang menjadi prioritas, karena se-umur2 belum sekalipung melihatnya. Dialah sebuah telaga di Kaki Gunung Slamet yang orang kasih nama Telaga Sunyi.


      Saya ke Telaga Sunyi diantar Om, diapun bingung, Telaga Sunyi namanya ? Kok kayak judul lagu Koes Plus ? Jangan2 orang2 saja yang membuat nama itu ? Bisa jadi yaaaa,,,cuma asal muasal diberi nama Telaga Sunyi karena memang lokasi telaga sangat sunyi, sepi, hanya ada suara kali yang gemericik mengalir dengan derasnya, air tersebut berasal dari kolam yang merupakan tempat menampung curahan air dari curug yang ada di atas telaga itu.
      Karena lokasinya di bawah kaki Gunung Slamet di sebelah timur lokawisata Baturaden, pastilah airnya dingin, sangat menggoda untuk mandi2. Sayangnya di tempat masuk wisata belum ada yang menyediakan sewaan alat2 snorkling, jadi tidak ada yang terlihat bermain snorkling kecuali TIM SAR yang entah sedang ada pekerjaan apa sehingga mereka nyebur ke telaga dan seperti sedang mengukur kedalaman kolam.
      Yaaaaa,,,katanya kedalaman telaga cukup dalam, tapi saking beningnya air telaga sehingga dasar telaga kelihatan. Orang dewasa bisa bermain air sambil berenang disini, tapi anak kecil tidak disarankan, khawatir nanti malah tenggelam.


      Tiket masuk ke Telaga Sunyi Rp. 10.000,- dan parkir kendaraan roda 4 Rp. 5.000,-. Tempat parkir lumayan luas, dan kalau hari libur cukup banyak pengunjung kesini, jadi jangan takut sama sepinya.
      Bagi yang sudah pernah ke Baturaden tentu tidak akan bingung untuk menuju ke Telaga Sunyi. Jika kita sudah melewati tempat parkir utama yang ada di kanan jalan sebelum pintu masuk lokasi wisata Baturaden, kita lanjutkan saja perjalanan ke arah Wanawisata / ke arah kanan sebelum pintu masuk Baturaden, disitu sudah ada nampak petunjuk arahnya menuju Telaga Sunyi. Tapi masuknya bukan dari pintu masuk Wanawisata, di sebelah gerbang pintu masuk ada jalan ke kanan, ikuti saja, kurang lebih 3 km. Jalannya tidak terlalu lebar tapi sudah beraspal. Pemandangan kanan kiri jalan pepohonan rindang jadi memang terkesan sepi. Tak berapa lama akan nampak pintu gerbang Telaga Sunyi.


      Dari tempat parkir kurang lebih 100 meter sudah sampai di Telaganya, tidak ada nanjak2an, jadi bagi yang alergi dengan nanjak2an sebaiknya jangan dilewatkan untuk berkunjung kesini. Lokasinya yang asri cocok untuk menenangkan pikiran kusut, duduk diatas batu sambil memandang curahan air terjun dan aliran air telaga yang sangat eksotis. Begitu juga pemandangan di sekitar telaga, banyak sekali pohon2 pinus yang menjulang tinggi.





      Silahkan nikmati sepuasnya keasrian kaki Gunung Slamet ini, sambil menikmati jajanan khas Purwokerto seperti pecel dan mendoan dan lain2 cemilan yang bisa dibeli di warung sekat lapangan parkir, tapi jangan lupa sampah2nya di buang di tempat sampah. Jika sudah puas, maka sambil menuju pulang nanti akan melewati Curug Pinang yang lokasinya ada di pinggir jalan, jadi bisa dilihat dari pinggir jalan sambil ber-foto2 ria atau singgah di terapi ikan yang ada di seberang Curug Pinang. Untuk tiket ke terapi ikan Rp. 5.000,- selama 30 menit.
       

      Terapi ikan juga bagus untuk menghilangkan stres, entah dari sisi ilmiahnya seperti apa, namun rupanya saking gelinya di gigit2 ikan kecil, maka kita bisa tertawa sepuasnya dan secara tidak langsung akan mengurangi stress, itu kali manfaat terapi ikan ini. Dan ternyata, setelah telapak kaki  di-gigit2 ikan ini akan terasa halus, rupanya ikan2 kecil akan menggigit bagian kulit yang keras dan kasar. Naahhh,,,,jadi double fungsi kan jadinya, disamping untuk mengurangi stress juga berfungsi untuk kecantikan.
      Bagi yang berada di luar kota Purwokerto, tentunya bisa menggunakan angkutan umum berupa kereta api dan berhenti di stasiun Purwokerto, atau kalau naik bus terminalnya di terminal Bulu Pitu Purwokerto Jawa Tengah. Untuk kemudahan, disarankan jika menuju wisata Baturaden dan sekitarnya menggunakan sepeda motor, karena kalau menggunakan angkot disana akan lama sekali. Kecuali jika datangnya rombongan bisa rental kendaraan roda 4 yang ada di sekitar Stasiun Purwokerto, biasanya mereka menawarkan jasanya di depan stasiun begitu ada kereta yang berhenti.
      Saya ada referensi sopir mobil untuk wisata ke Baturaden dan sekitarnya yaitu Sdr Ipung (no hp 085725709460) dan Sdr Rian (No hp 085647903887), silahkan bernego sendiri karena kebutuhannya yang berbeda-beda.
      Selamat mencoba ya JJ'er...!!
      Salam Jalan2 Indonesia...!!
×
×
  • Create New...