1. Jalan2

    Jalan2

  • Similar Content

    • By Sirwal San Hiksan
      Sulawesi Selatan adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sulawesi. Makassar adalah ibu kota provinsi ini yang disebut sebagai Ujung Pandang.
      Penduduk lokal yang tinggal di Sulawesi Selatan didominasi oleh orang Bugis dan Makassar, tetapi etnis Toraja adalah suku asli dari Sulawesi Selatan. Islam adalah agama yang kebanyakan orang di Sulawesi Selatan miliki, kecuali di Toraja yang kebanyakan memiliki aluk, yang berarti "jalan". Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan animisme ini sebagai Aluk Todolo (Jalan Para Leluhur)
      Toraja masih hidup di pegunungan, berdasarkan arti nama mereka pada bahasa Bugis, "to riaja" disebut "orang-orang dari dataran tinggi". Inisiasi budaya Toraja yang populer adalah tentang upacara pemakaman menguburkan orang yang meninggal. Mereka menempatkan kematian orang-orang diukir ke tebing berbatu. Ukiran itu melambangkan orang yang mati bernama Tau-tau. Tau-tau terbuat dari kayu nangka, kayu yang kuat, kayu yang kuat, kayu yang kuat, kayu yang kuat, dan mata Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau.
      Di masyarakat Toraja, ritual pemakaman adalah peristiwa mahal yang diadakan untuk "selamat tinggal" orang yang meninggal. Orang yang lebih kaya dan lebih kuat, yang lebih mahal adalah pemakaman. Dalam agama Aluk, hanya bangsawan yang berhak memiliki pesta kematian yang luas yang biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan ditahan selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
      Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom, di mana mereka mempraktikkan animisme dan tidak dapat disentuh dari luar masyarakat. Pada awal 1900-an, para misionaris Belanda dikonversi ke dataran tinggi Toraja ke Kristen. Setelah tahun 1970-an, Toraja dibuka untuk dunia luar dan menjadi ikon Pariwisata Indonesia.
      Oleh karena itu, tujuan wisata dari Sulawesi Selatan sebagian besar berasal dari Tanah Toraja.
      Bagaimana menuju ke sana
      Sulawesi memiliki 6 (enam) provinsi dan semua provinsi adalah penerbangan reguler yang menghubungkan berbagai kota dan kota di Indonesia. Tetapi hanya dua provinsi memiliki bandara internasional. Mereka adalah Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan dan Manado di Sulawesi Utara. Kedua bandara ini sekarang menjadi pintu gerbang ke pulau itu.
      Kuala Lumpur di Malaysia terbang dengan AirAsia 4 (empat) kali aweek. Sedangkan penerbangan internasional Manado dilayani oleh Silk Air (3 kali seminggu) dan AirAisia (juga 3 kali seminggu). Berikut detailnya
      Makassar: bandara utama di pulau itu. Ini adalah pusat dan titik distribusi penerbangan di Indonesia Timur.
      Penerbangan internasional: terbang dengan AirAsia 4 kali seminggu menghubungkan Makassar dengan Kuala Lumpur / Malaysia
      Penerbangan domestik: diterbangkan oleh berbagai maskapai penerbangan yang setiap hari menghubungkan Makassar dengan Denpasar / Bali, Jakarta, Surabaya, Jogyakarta, Bandung, Medan, Manado, Ambon, Jayapura, dll. Maskapai yang terbang ke dan dari Makassar: Garuda Indonesia, maskapai Merpati, Lion Air, Sriwijaya Air, Mandala Airlines, Celebes Air, dll
      SUMBER
    • By IVACANZA
      OPEN TRIP TOGEAN 5D4N Start Gorontalo / Ampana – Paket Wisata Trip Gabungan eksplore Taman Nasional Kepulauan Togean 5D4N, menikmati keindahan bawah laut tak terbatas, dan pulau-pulau nan cantik di sekitarnya. Destinasi ke spot-spot snorkeling dengan terumbu karang beraneka macam, berkunjung ke jembatan kayu sepanjang 1800m, dan bermain bersama ikan hiu paus. Rencanakan liburanmu ke Togean bersama kami!

       
      JADWAL TRIP
      19-23 Januari 2018 (Gorontalo) 20-24 Januari 2018 (Ampana) 16-20 Februari 2018 (Gorontalo) 17-21 Februari 2018 (Ampana) 16-20 Maret 2018 (Gorontalo) 17-21 Maret 2018 (Ampana) 27 April – 1 Mei 2018 (Gorontalo) 28 April – 2 Mei 2018 (Ampana) 11-15 Mei 2018 (Gorontalo) 10-14 Mei 2018 (Ampana) 15-19 Juni 2018 (Gorontalo) 16-20 Juni 2018 (Ampana)  
      MEETING POINT
      Bandara Gorontalo / Bandara Tanjung Api Ampana
       
      HARGA
      Start Gorontalo : Rp 2.000.000,- / Start Ampana : Rp 2.250.000,-
       
      ITINERARY
      Start Gorontalo
      Day 1 : Gorontalo – Wakai
      Berkumpul di bandara Gorontalo pukul 12:00. Makan siang di resto local sup kuning woku dan ikan belarica goring khas gorontalo biaya masing-masing. City Tour Kota Gorontalo (Situasional & Bonus), belanja camilan untuk di pulau dan makan malam untuk di kapal lanjut keberangkatan menuju Wakai dengan Kapal Ferry (estimasi waktu 10-12 jam perjalanan laut).
      Day 2 : Togean – Danau Ubur-ubur – Karina Beach
      Sekitar pukul 07.00 tiba di Wakai, dari Wakai peserta dijemput dan diantar menuju penginapan. Setelah Sarapan peserta dapat beristirahat dan bersantai di sekitar cottage/ penginapan. Setelah makan siang peserta akan diajak menuju danau ubur-ubur dan karina beach. Bermain dan mengeksplore hingga sore hari.
      Day 3 : California Reef – Reef 4 – Sera Beach – Pulau Papan
      Setelah Sarapan, Trip dilanjutkan dengan Hoping Island menuju Callifornia reef, Reef 4,dan Sera beach. Makan siang di Pantai Sera, kemudian melanjutkan trip ke Pulau Papan untuk melihat kehidupan asli masyarakat Bajo. Eksplore pulau hingga sore hari kemudian kembali ke penginapan.
      Day 4 : Snorkeling di perairan Togean – Gorontalo
      Hari terakhir di Kepulauan Togean, setelah Sarapan diajak untuk snorkeling di perairan sekitar cottage. Setelah itu peserta dipersilahkan berkemas-kemas dan bersiap-siap untuk perjalanan dari Wakai menuju Gorontalo.
      Day 5 : Gorontalo – Whaleshark Point – Pasar Tua
      Sekitar pukul 05.00 tiba di Gorontalo. Mampir untuk sarapan kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Whaleshark Point (Jika Muncul). Eksplore Whaleshark Point sampai pukul 10.00. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Pasar Tua, Pasar khas kota gorontalo ditemani penganan dan kopi khas gorontalo (personal expense). Pembelian oleh-oleh di pasar souvenir (kalo waktu cukup) kemudian menuju Bandara Gorontalo

      Start Ampana
      Day 1 : Ampana – Kadidiri – Pulau Salaka
      Peserta dijemput pukul 11 siang di Bandara Tanjung Api Ampana, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Togean (perjalanan 1-2 jam). Cek in Penginapan, istirahat sejenak lalu dilanjutkan aktivitas snorkeling di sekitar cottage. Sore Hari trip ke Pulau Salaka untuk menikmati Sunset
      Day 2 : Karina Beach
      Setelah sarapan peserta akan meninggalkan cottage di Kadidiri untuk menginap di Fadhila Cottage / Bolilanga. Sebelum menuju ke cottage berikutnya peserta akan diajak untuk berenang bersama ubur-ubur di Pantai Karina, serta menikmati pantai yang sangat bersih. Siang hari menuju ke cottage baru, makan siang dan istirahat. Sore hari diajak snorkeling kembali ke spot sekitar cottage lalu acara bebas.
      Day 3 : California Reef – Reef 4 – Sera Beach – Pulau Papan
      Setelah Sarapan, Trip dilanjutkan dengan Hoping Island menuju Callifornia reef, Reef 4,dan Sera beach. Makan siang di Pantai Sera, kemudian melanjutkan trip ke Pulau Papan untuk melihat kehidupan asli masyarakat Bajo. Eksplore pulau hingga sore hari kemudian kembali ke penginapan.  Makan malam dan Istirahat
      Day 4 : Wakai – Ampana
      Setelah sarapan peserta persiapan check out dari penginapan dan kembali menuju Pelabuhan Wakai. Dari Wakai melanjutkan perjalanan menuju Kota Ampana, check in hotel karena tidak ada jadwal penerbangan yang sesuai dengan kapal dari Wakai ke Ampana. Acara bebas.
      Day 5 : Ampana – Airport
      Pagi hari peserta akan diantarkan menuju Bandara, Trip Berakhir.
       
      INCLUDE
      Mobil bandara – pelabuhan PP City Tour Ferry Gorontalo / Ampana – Wakai PP (bisnis class) Island hopping boat 2N cottage tepi pantai di Pulau Kadidiri (non AC, 1 kamar 2 orang, Kamar Mandi dalam) 1N di Ampana (Untuk peserta yang start ampana) Makan selama di Kepulauan Togean  Segala perizinan Guide Lokal Dokumentasi Underwater Program tour sesuai itinerary  
      EXCLUDE
      Transportasi menuju meeting point Peralatan Snorkeling (IDR 50.000/orang) Biaya optional tour (overtime / di luar itinerary yang sudah ada) Tipping Guide  
      CONTACT PERSON
      Email : info@ivacanza.co Line @ : @ivacanza Whatsapp : 081299367326
    • By Ahmad Andi Affandi
      Dear teman teman

      Saya ada rencana untuk Trip ke Togean 4D3N rencana Jumat tgl 30 Maret - Senin 2 April 2018 (Belum Fix).  Alasan pemilihan waktu tersebut krn kondisi musim yg sdh memungkinkan utk island hopping setelah berkomunikasi dengan operator trip lokal di Ampana

      Kegiatan trip ini sifatnya private trip paket menggunakan operator lokal yg biayanya tergantung dari jumlah peserta yg ada. Minimal peserta utk private trip 6 orang lebih dari itu biaya akan menurun.


       
      Untuk trip ini ada 2 alternatif yaitu melalui Gorontalo-Ampana atau Ampana-Ampana untuk ke Taman Nasional Togeannya.

      Estimasi Biaya Trip 2Jt diluar Biaya Tiket, Estimasi biaya keseluruhan 4-4.5Jt

      Biaya Include Trip menyusul


       
      Detail Itinerary sbb:

      ITINERARY GORONTALO+TOGEAN 4D3N


       
      Hari 1: Trip Gorontalo

      Pertemuan dan Perkenalan di Bandara Gorontalo
      Trip Benteng Otanaha
      Makan Siang
      Trip Hiu Paus (WhaleShark) atau Pantai Olele*
      Ke Pelabuhan Fery
      Persiapan Berangkat ke Wakai
      Makan Malam di Kapal Fery
      Hari 2: Meet The Stingless Jellyfish  

      Tiba di Wakai
      Transfer Boat Trip. Menuju Pulau Bolilanga
      Check Inn Pulau Bolilanga Resort
      Sarapan, Kopi/Teh
      Berenang/Snorkeling Pulau Bolilanga
      Makan Siang
      Trip Snorkeling Danau Ubur-Ubur (Jellyfish)
      Trip Pantai Karina
      Sunset Program
      Makan Malam
      Hiburan dan Acara Bebas
      Hari 3: Snorkeling Day Dan Trip Pulau Papan

      Sarapan
      Trip Snorkeling California Reef
      Trip Snorkeling Atol Pulau Angkaiyo
      Makan Siang di Pantai Sera
      Trip Snorkeling Reef Lima
      Trip Pulau Papan
      Makan Malam
      Acara Bebas
      Hari 4: Trip Pulau Kabalutan – Kota Tujuan

      Sarapan dan Check Out
      Trip Seratus Pulau Kabalutan
      Makan Siang
      Menuju Ampana
      Kembali Ke Kota Tujua

       
      ITINERARY TOGEAN 4D3N

      Hari 1: Meet The Stingless Jellyfish

      Jemput Hotel atau Bandara Tanjung Api Ampana
      Transfer ke Pelabuhan Ampana
      Tiba di Wakai
      Makan Siang
      Explore Snorkeling House Reef
      Makan Malam
      Free Program
      Hari 2: Meet The Jellyfish Dan Trip Kabalutan (B/L/D)

      Sarapan
      Trip Snorkeling Pantai Karina
      Trip Snorkeling Danau Ubur-Ubur (Jellyfish)
      Makan Siang
      Trip Kampung Bajo Pulau Kabalutan
      Makan Malam
      Free Program
      Hari 3: Snorkeling Day Dan Trip Pulau Papan

      Sarapan
      Snorkeling California Reef
      Snorkeling Atol Pulau Angkaiyo
      Makan siang di Pantai Sera
      Snorkeling Reef Lima
      Sightseeing Pulau Papan
      Foto-foto di Pantai Lestari
      Menikmati Sunset di Perjalanan
      Makan Malam
      Free Program
      Hari 4: Togean – Ampana – Kota Tujuan

      Sarapan
      Check Out
      Menuju Wakai
      Transfer ke Publik Speedboat
      Tiba di Ampana
      Antar Hotel atau ke Bandara Tanjung Api
      Trip selesai

       
      Untuk sementara ini apabila teman teman berminat untuk bergabung atau sekedar bertanya boleh kontak saya.



      Terima Kasih
      Andy

      WA ; 08111-698889
    • By jajaq
      Beberapa tahun lalu, saat saya masih dinas di Manado, saya sempat mengunjungi tempat ini.
      Walau tujuannya bukan untuk jalan-jalan, namun desa Werdhi Agung sungguh menarik untuk ditengok. Tak hanya menengok kultur yang masih kental, namun juga menggali sejarah dan asal usul dari adanya kampung Bali ini.   Tulisan ini saya copy dari blog saya http://jejalanjajan.com/jejalan/ada-kampung-bali-di-ujung-sulawesi/ ------------------------------------------------------------------------------------------------------   Alunan rekaman gamelan Bali yang keluar dari sound system terdengar di belakang rumah salah satu warga Werdhi Agung ketika rombongan kami baru turun dari mobil Kijang kapsul milik kantor. Di halaman belakang itu, warga desa sedang berkumpul memandikan jenazah kemudian berdoa dipimpin Pedande. Saya bersama rombongan dari kantor mengunjungi Werdhi Agung karena salah satu kerabat rekan kantor saya meninggal. Eits jangan kira desa ini berada di pulau Dewata, tempat ini berada di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, sekitar hampir 5 jam perjalanan dari kota Manado. Yap, ada kampung Bali di ujung Sulawesi.   Pedande   Desa ini dihuni transmigran dari Bali setelah gunung Agung meletus tahun 1963. Terpisah jauh dari pulau Dewata tak membuat warga melupakan asal usulnya, begitu memasuki Werdhi Agung nuansa arsitektur Bali masih kental terasa, lengkap dengan bangunan di persimpangan jalan. Mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani, tak heran pasokan beras se-Sulawesi Utara kebanyakan berasal dari Bolaang Mongondow.       Pura Untuk mencapai Werdhi Agung, kita harus melewati dulu Kotamobagu lalu tanya saja warga sekitar di mana letak kampung Bali. Sebenarnya ada 1 atau 2 desa lagi yang berisi warga keturunan Bali, namun saya lupa namanya, letaknya cukup jauh dari Werdhi Agung dan jalannya tidak terlalu bagus.    
      Sembahyang  
      Warga  
      Iringan Jenazah  
         
      Sesajen
    • By chrizz_msweb
      Bunaken adalah taman laut pertama di Indonesia, keindahan bawah lautnya terkenal sampai
      manca negara. Saya telah membuktikannya sendiri, selama freediving beberapa kali di
      Indonesia, yang terbaik menurut saya adalah di Bunaken.
      Sayang keindahan Indonesia ini tampaknya lebih banyak dinikmati orang asing daripada
      orang Indonesia sendiri. Terutama sejak Cina membuka penerbangan langsung ke Menado.
      Sepanjang saya di sana, hanya satu rombongan turis lokal yang saya temui. Sisanya adalah
      orang asing. Maklum kegiatan yang menarik di Bunaken adalah diving, bahkan snorkeling 
      seperti dianggap kegiatan nomor dua di sini. Mungkin olahraga diving masih terlalu mahal
      untuk ukuran kantong orang2 Indonesia.

      Karena tujuan utama saya adalah untuk freediving, susah susah gampang di Bunaken. Kapal
      dari operator diving hanya mau mengantarkan turis yang diving. Seperti nebeng turis lain
      yang diving ceritanya. Saat saya sedikit memaksa, mereka mengatakan mau mengantarkan
      tapi tetap dengan tarif diving.  Rugi, saya membawa perlengkapan seperti snorkel dan fin
      sendiri,  juga tidak memerlukan BCD atau regulator seperti orang diving.

      Tidak kehabisan akal, saya mencari penduduk lokal di warung yang bisa menyewakan kapal
      unuk snorkeling. Tak lupa juga mengajak turis lokal lain (satu-satunya rombongan turis
      lokal yang satu hotel dengan kami) untuk patungan. Mereka juga tidak diving, tentu saja
      mereka lebih senang dengan kapal penduduk lokal ini daripada kapal dari diving operator
      yang harganya gila gila an bila tidak dibarengi turis yang diving. Lumayan, kami
      mendapatkan harga 500 ribu untuk 5 orang. Tentu saja kapal nya kalah jauh dengan kapal
      dari diving operator, tapi inilah yang lebih pas di kantong.
      Banyak sekali spot yang menarik untuk snorkeling atau diving di bunaken. Keunggulan
      utamanya adalah jenis terumbu karang yang berbentuk wall. Di tempat lain jarang saya
      menemukan wall sebagus di Bunaken. Yang terbaik menurut saya adalah spot bernama Cela 
      Cela. Disebut Cela Cela karena banyak terdapat lubang atau celah di kumpulan terumbu
      karang,  di celah ini saya menemukan Lion Fish. Agak susah mengambil gambar nya,  saya
      harus sedikit masuk ke celah tersebut, dan harus berhati-hati juga jangan sampai terkena
      Lion Fish tersebut. Lion Fish memiliki racun di duri nya yang indah.
      Spot lain yang saya rekomendasikan adalah Lekuan. Di sini banyak terdapat penyu. Mereka
      suka bersarang di celah terumbu karang yang berbentuk wall. Guide kita menunjukkan ada
      penyu sedang tidur di sarangnya. Mungkin ini pengalaman sekali seumur hidup memotret
      penyu di sarang nya yang alami, biasa saya melihat penyu di perarian saja. 
      Di spot yang dangkal, lebih banyak ikan berwarna-warni. Salah satu yang menarik adalah
      Trumpet Fish berwarna kuning. Tidak setiap tempat bisa menjumpai Trumpet Fish. Tidak
      seperti Nemo (Clown Fish) yang bisa dijumpai di hampir semua tempat yang banyak Anemon
      nya.

      Sayang tidak terdapat ikan besar di Bunaken. Tidak ada Manta atau Whale Shark seperti di
      Lombok atau Kalimantan. Memang di Bunaken lebih terkenal dengan sususan terumbu karang
      nya. Namun yang menarik difoto bukan cuma ikan, banyak juga jenis tanaman yang menarik.
      Selain ikan, penyu, dan tanaman,  yang menarik difoto tentu saja turis lain yang sedang
      diving. Di Bunaken banyak orang belajar diving atau sekedar Fun Diving. Fun Diving
      adalah diving ditarik oelh instruktur, tidak perlu sertifikat, namun di kedalaman
      maksimal sekitar 6 meter.  Fun Diving inilah yang paling gampang difoto. Ingat bahwa
      semakin dalam maka cahaya matahari makin sedikit dan warna makin cenderung kebiru-
      biruan.
      Tidak banyak saya melihat turis yang freediving seperti saya. Freediving adalah kegiatan
      diving tanpa menggunakan tabung oksigen. Hanya mengandalkan fin, masker, dan kekuatan
      tahan nafas. Cara ini lebih praktis untuk saya, tidak perlu pusing memikirkan tetek
      bengek seperti safety stop, decompression time, license, dan lain lain. Dan tentunya,
      lebih bersahabat di kantong. Di kedalaman sekitar 6 meter saya menemukan kerang.
      Apa yang bisa kita nikmati di Bunaken selain pemandangan bawah laut nya ?  Jujur, tidak
      banyak. Hampir tidak ada apa-apa di sini. Bila tidak ada rencana basah-basahan, tidak
      disarankan untuk ke Bunaken. Beruntung saya mendapatkan foto sunset yang lumayan.
       
      Foto Lengkapnya : http://chrizz-photography.blogspot.co.id/2017/08/freediving-di-bunaken.html
       
       
       



    • By Endar
      Hai semua...

      Saya ada rencana ke Luwuk  31Des - 2 Jan, adakah yang bisa ditanya-tanya tentang Luwuk?
      Terima kasih,
      Salam,
      Endar
    • By Tarmizi Arl
      71 tahun sudah negeri kita ini merdeka. Ribuan atau bahkan jutaan pahlawan telah memperjuangkan segala upaya untuk mencapai titik kemerdekaan itu di masa-masa sulit era penjajahan. Dari sekian banyak pahlawan itu, baik yang tercatat maupun tidak, ada 2 nama yang bisa dikatakan paling dikenal. Ya, sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia yang juga menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama negeri ini, Soekarno dan Hatta.
      Dalam buku sejarah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah, tercatat bahwa kedua sosok hebat ini mengalami berbagai peristiwa baik manis ataupun pahit yang mengharuskan mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Jejak jejak sejarah peninggalan inilah yang bisa kita telusuri sembari berwisata sejarah.
      Tentunya ada banyak lokasi yang pernah memiliki kenangan dengan kedua sosok proklamotor ini, tetapi dalam artikel ini kita hanya membahas beberapa diantaranya saja. Apa kamu sudah pernah mengunjungi salah satunya?
       
      1.Rumah Kelahiran Bung Karno – Jl. Pandean IV, Surabaya
      Kita awali penelusuran sejarah sang proklamator bahkan dari kelahirannya. Presiden Soekarno sendiri menurut penelusuran sejarah yang dilakukan, lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni tahun 1901. Beliau lahir dan tinggal di masa kanak-kanak di kawasan Pandean, Kota Surabaya.
      Saat ini rumah kelahiran Putra ‘Sang Fajar’ ini dihuni oleh Ibu Djamilah dan keluarga, alias bukan berbentuk museum yang bisa bebas di datangi dan di masuki bagian dalamnya. Jadi bagi pengunjung, cukup menapaki jejak-jejak Bung Karno dengan menikmati sisi luar bangunan dan termasuk kawasan daerah tersebut.
       
      Rumah Lahir Soekarno (foto : Foto: Nurul A/okezone)
      Meskipun bukan museum, tetapi bangunan rumah seluas 5x14 meter itu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sejak 2013 silam oleh Pemerintah Kota Surabaya. Hal itu dipertegas juga dengan adanya prasasti warna emas yang ditempel tepat di atas pintu masuk rumah.
      Semenjak itulah, rumah tersebut menjadi dikenal oleh warga dan wisatawan.
      Lokasi rumah ini sendiri tidak begitu sulit ditemukan. Kalian bisa langsung menuju Jalan Peneleh, lalu dilanjutkan mencari gang Pandean IV. Tak perlu takut kesulitan karena selain bisa bertanya, didepan gang juga terpasang sapnduk besar bergambar BungKarno dengan tulisan ‘Di Sini Tempat Kelahiran Bapak Bangsa Dr. Ir. Soekarno. Penyambung Lidah Rakyat, Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi’.
       
      2. Rumah Lahir Bung Hatta – Bukittinggi
      Sosok Bung Hatta memang sangat identik dengan Minang. Beliau memang putra asli dari Tanah Minangkabau tepatnya Bukittinggi. Di Bukittinggi pula, sang proklamator itu di lahirkan. Bukti terbangunnya ialah sebuah rumah yang kini sudah berbentuk museum yaitu Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.
      Beralamat di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittingi, tidak akan membuat sulit menemukan lokasi museum ini karena berada di tepi jalan dan tentunya memiliki plang nama. Bangunan perpaduan kayu dan bambu nampak sangat tradisional dan melambangkan kesederhanaan serta tampak sangat homey. Bangunan ini sendiri sudah berdiri diperkirakan sekitar 1860an. Bung Hatta sendiri lahir di tahun 1902 dan menempati rumah tersebut di masa kecilnya hingga tahun 1913. Kemudian beliay hijrah ke Kota Padang untuk meneruskan penidikannya.
       
      Tampak bagian depan Rumah Lahir Bung Hatta via dkputri.wordpress.com
      Memasuki bagian dalam rumah, nuansa kuno tradisional akan langsung menyapa. Beberapa perabotan merupakan asli sejak dulu dan sebagian lainnya merupakan hasil pemugaran. Di museum ini juga terpajang foto-foto yang memberikan potret berbagi hal seputar Bung Hatta dan keluarga.
      Dari berbagai ruang di rumah 2 tingkat itu, ada 1 ruang yang paling inti. Itulah kamar dimana Bung Hatta di lahirkan oleh Ibundanya, Saleha. Kamar itu berada di lantai 2. Masih dengan suasana klasik, kamar tersebut terasa sangat hangat dengan dinding dari anyaman bambu. Ranjang tempat kelahirannya, lemari, meja rias, dan tak ketinggalan foto-foto juga menjadi bagian kamar yang cukup luas itu.
       
      Kamar tempat Lahir Bung Hatta via wisatanagari.co.id
      Selain kamar itu, ada satu hal lagi yang terbilang paling menyita perhatian yaitu ‘bugi’ sebutan untuk bendi yang dahulu dipakai Bung hatta untuk pergi kesekolah. Bugi ini berada di bagian belakang rumah dekat sebuah istal kuda. Jika tidak menggunakan bugi, Beliau juga biasanya menggunakan sepeda yang juga tersimpan di museum tersebut.
       
      3. Istana Gebang, Rumah Masa Kecil Soekarno - Blitar
      Nama Kota Blitar memang sangat identik dengan sosok Soekarno, hal ini karena memang Blitar menjadi salah satu kota yang dihuni beliau di masa mudanya, bahkan makamnya pun berada di sana. Peninggalan jejak sejarah Bung Karno juga masih bisa disaksikan di Blitar yaitu berupa rumah yang menjadi saksi keceriaan masa kecil Sang Putra Fajar tersebut.

      Istana Gebang di Blitar via ranselsibungsu
      Rumah Masa Kecil Soekarno atau biasa juga disebut Istana Gebang beralamat di Jalan Sultan Agung no.69, Kota Blitar, tidak begitu jauh dari komplek makam beliau sendiri. Bangunan utama rumahnya sendiri memang tidak begitu besar, tetapi tampak cukup megah dan khas dengan pelataran luas didepannya. Selain tiang bendera, tepat di depan rumah juga terdapat patung Soekarno tengah berdiri dengan gaya khas nya yang seolah menunjuk ke arah atas seolah menyimbolkan semangat menggebu seperti dalam gaya pidato-pidatonya.
      Bangunan rumahnya sendiri nampak khas bangunan kolonial Belanda dengan batu alam sebagai pondasi bawah. Sedankan atapnya nampak lebih tradisional dengan rangka kayu dan berupa susunan genteng. Warna putih dan biru muda menjadi yang paling dominan dan membuatnya nampak teduh dipandang.
      Memasuki dalam rumah, pengunjung hanya cukup mengisi buku tamu. Tidak ada biaya masuk kecuali untuk biaya parkir jika membawa kendaraan pribadi. Bagian dalam rumah sebagian besar masih merupakan perabotan asli sehingga nuansa klasik sangat kental terasa. Selain perabotan rumah seperti lampu kuno, almari, kursi, dan meja, dinding-dinding Istana Gebang ini juga mencolok karena banyak dihiasi dengan foto-foto yang berkaitan dengan Soekarno.
      Tak ketinggalan, kamar tidur dan ruang kerja lengkap dengan mesin tik nya menjadi bagian sisi rumah yang menarik bagi wisatawan untuk menapaki jejak Sang Proklamator. Bahkan, di rumah ini juga masih terimpan mobil kodok tua yang juga dipercaya memiliki sejarah dengan Soekarno.
       
      4. Rumah Pengasingan Soekarno – Ende, NTT
       
      Rumah Pengasingan Soekarno di Ende via KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA
      Perjalanan hidup Soekarno dan Hatta memang tidaklah mudah. Beberapa kali tercatat mereka mengalami pengasingan di berbagai daerah. Bagi Soekarno, pengasingan dirinya juga pernah terjadi hingga ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Pengasingan ini terjadi pada 14 Januari tahun 1934 selama 4 tahun.
      Bung Karno di asingkan di Kota Ende ini bersama dengan istrinya, Ibu Inggit Garnasih. Pada awalnya, beliau ditempatkan di markas Polisi Militer, namun kemudian Abdullah Amburawa memberikannya rumah yang dikenal saat ini sebagai rumah pengasingan itu. Dengan waktu selama 4 tahun, Soekarno tentunya banyak memiliki pengalaman dan kedekatan dengan Ende dan warga kala itu.
      Rumah Pengasingan yang beralamat di Jalan Perwira ini, berukuran cukup kecil dengan 4 ruang didalamnya. Bagian ruang depan merupakan ruang tamu dengan perabotan yang dipercaya masih sebagai mana aslinya. Ruang tidur Bung Karno sendiri berada di bagian tengah, disusul dapur dan kamar mandi di bagian belakang. Di halaman belakangnya juga sendiri terdapat juga halaman dengan sumur timba. Kondisinya sekarang sudah dipugar sehingga nampak lebih baik dan nyaman.
      Bagi pengunjung, tidak ada biaya resmi untuk masuk ke sana, namun disediakan kotak sumbangan seikhlasnya. Situs sejarah ini bisa dikunjungi setiap hari dari jam 8 pagi hingga 4 sore waktu setempat.
       
      5. Taman Renungan Pancasila, tempat Soekarno merenung dan melahirkan Pancasila – Ende, NTT
       
      Patung Bung Karno di Taman Pancasila Ende via blog.travelish.net
      Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu sudah sangat mengenal dasar negara kita yaitu Pancasila. Kita juga tahu bawa Bung Karno lah yang menyusunnya hingga menjadi ideologi bangsa yang bisa diterima semua kalangan. Namun, mungkin masih banyak diantara kita yang belum tahu bahwa dalam pengasingan di Ende lah beliau menyusun falsafah butir-butir Pancasila itu.
      Bung Karno menyusun rancangan Pancasila di bawah sebuah pohon Sukun bercabang lima. Di sanalah biasanya Soekarno menghabiskan waktu sore untuk merenung dan membaca buku-buku. Hal tersebut ternyata dikuatkan lagi dengan pengakuan beliau sendiri ketika datang lagi ke Ende di tahun 1955.
      Namun sayangnya, pohon asli tempat Bung Karno bernaung sudah terlanjur tumbang secara alami tahun 1960an karena faktor usia. Sekarang, pohon itu digantikan dengan duplikasinya yang juga bahkan bercabang 5 seolah menegaskan 5 sila dalam Pancasila.
      Di lokasi yang sekarang dinamai Taman Pancasila itu, persis di samping pohon sukun duplikat asli, dibangun juga sebuah monumen dengan patung Soekarno yang tengah duduk seolah tengan merenung. Lokasi taman ini sendiri hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah pengasingan sehingga tak ada salahnya menyinggahi keduanya ketika berada di Ende.
       
      6. Rumah Pengasingan Bung Hatta – Banda Neira, Maluku
      Banda Neira mungkin kita kenal sebagai salah satu surga wisata bahari di Timur negeri ini. Banyak tentu diantara kita yang memimpikan untuk bisa berlibur ke sana untuk menikmati keindahan pantai dan lautnya. Namun ternyata Banda Neira di Provinsi Maluku ini juga memiliki cerita sejarahnya tersendiri dengan Proklamator Bung Hatta.
       
      Rumah Pengasingan Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir via pecintawisata.wordpress.com
      Muhammad Hatta pernah diasingkan di pulau seluas 19,33 km persegi tersebut bersama dengan Sutan Sjahrir. Mereka diasingkan dalam kurun waktu cukup lama yaitu sekitar 6 tahun dari 1936 hingga 1942. Bahkan sebelum itu, mereka juga diasingkan dulu ke sebuah area terisolasi bernama Boven Digoel, Papua.
      Kondisi pengasingan di Banda Neira mungkin jauh lebih baik karena setidaknya Bung Hatta bisa bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Bahkan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir juga sempat membuka sekolah sore bagi warga pribumi.
      Menapaki jejak sejarah Sang Proklamator tersebut bisa langsung dirasakan di rumah pengasingannya yang berada di Banda Neira itu sendiri. Di rumah sederhana ini, tersimpan benda-benda pribadi milik Bung Hatta dari mulai buku hingga pakaian beliau. Perabotan di sana juga masih merupakan yang asli seperti dahulunya. Bahkan ruang tempat Bung Hatta mengajar sekolah sore nya juga berada di rumah bernuansa kuno tersebut.
       
      ---
      baca juga bagian 2 artikel ini disini