Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
asep2012

Kata yang bahasa Inggris yang berarti buruk di luar negeri

Recommended Posts

Dikutip dari Smarter Traveler, berikut adalah beberapa kata yang mempunyai arti buruk bila digunakan di negara2 tertentu.

 

1. Pants

Pants mempunyai arti celana, tapi di negara tertentu khususnya Inggris, Pants dapat juga berarti Celana dalam, jadi lebih baik menggunakan Trousers

 

2. Pissed

Pissed bisa menunjukkan expresi marah, tapi di negara seperti Amerika atau Australia, ini juga dapat berarti mabuk

 

3. Knob

Di Amerika, Knob berarti gagang pintu, tapi di negara Inggris dan Australia, Knob itu mempunyai arti yang jorok. jadi sebaiknya berhati2 dalam menggunakannnya

 

4. Pull

Pull mempunyai arti tarik dalam arti sebenarnya, tapi di Inggris kata Pull juga dapat berarti tawaran untuk melakukan kegiatan Seks.

 

5. Fanny

Fanny dalam arti sebenarnya berarti tas pinggang, Tapi di negara Inggris dan Australia, ini bisa menjadi kata yang jorok yang berarti kemaluan wanita.

 

6. Bugger

Bugger mempunyai arti serangga, tapi bisa juga digunakan sebagai kata yang berarti pengganggu.

 

123641_thinkstockpenipu3.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

beberapa kata saya memang sudah tahu, nice....thx infonya jadi tambah pengetahuannya deh :)

 

sama sis, ada beberapa yang benar2 baru saya ketahui...terkadang kita sering bercanda pakai kata2 di atas, wah bisa bahaya nih kalo sampai salah ngomong ke foreign, terutama yang hoby chating...thanks ya, nice info

Share this post


Link to post
Share on other sites

mungkin solusinya paling aman pakai bahasa yang formal kali yaa? biasanya bahasa yang formal itu lebih aman meskipun jadi agak susah ngomongnya hehehe....di indonesia juga begitu sih sebenarnya, kalo ngga bisa daerah lebih baik bahasa indonesia aja :P

Share this post


Link to post
Share on other sites
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Pada thread ini: http://jalan2.com/forum/topic/15200-wah-ternyata-negara-negara-tujuan-wisata-populer-ini-tidak-familiar-dengan-bahasa-inggris/ saya sudah menulis tentang beberapa negara yang akan mengubah cara pandang kita terhadap bahasa Inggris. Ternyata, walau bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, dan bahkan tak sedikit orang yang pede mengatakan jika hanya diperlukan bahasa Inggris untuk bisa menaklukkan semua tempat di seluruh dunia, pada kenyataannya bahasa Inggris hanya digunakan oleh 1/3 penduduk di planet Bumi ini. Itu berarti mayoritas orang tidak terlalu familiar atau bahkan tidak mengenal bahasa Inggris. Bagi wisatawan yang hobi melancong ke berbagai tempat, fakta di atas juga berarti besar kemungkinan akan terkena kendala bahasa saat akan berwisata ke negara lain. Khususnya jika wisatawan tersebut hanya menguasai bahasa Inggris saja sebagai bahasa asingnya.
       
      Tenang, tak perlu jadi takut untuk pergi kemana-mana. Kendala bahasa saat pergi ke negara lain memanglah sesuatu yang sulit untuk dihindari. Namun, bukan berarti tak ada cara untuk mengatasi hal tersebut. Minimal untuk mengakali agar kita nggak kesulitan untuk bertanya arah saat tersesat, maupun saat meminta pertolongan. Berikut ini beberapa tips jitu untuk mengatasi faktor kendala bahasa saat berwisata.
       
      1. Menguasai beberapa kata dasar dalam bahasa setempat
       
      Bagaimanapun, saat kita berwisata ke negara lain, salah satu cara jitu untuk mengatasi kendala bahasa tentu saja adalah dengan mempelajari bahasa nasional di negara tujuan. Jika akan pergi ke Jepang, ya belajarlah bahasa Jepang. Begitu juga jika ingin pergi ke Thailand, setidaknya usahakan untuk belajar bahasa Thailand. Namun, seandainya nggak sempat untuk mengambil kursus bahasa, atau waktu wisata terlalu singkat, setidaknya sempatkan diri untuk mencari tahu bahasa lokal dari kata-kata dasar yang mungkin saja akan kalian perlukan di tempat tujuan nanti. Berikut ini beberapa kata/kalimat sederhana yang bermanfaat untuk mengatasi kendala bahasa, silahkan dicari sendiri seperti apa bunyinya dalam bahasa negara tujuan wisata kalian.
       
      -Nama saya _____________________
      -Apa Anda dapat bicara dalam bahasa Inggris?
      -Terima kasih.
      -Tolong.
      -Maaf.
      -Maaf, saya perlu bantuan.
      -Tolong bicara pelan-pelan.
      -Dimana saya bisa menemukan bus/taksi?
      -Dimana saya bisa menemukan stasiun?
      -Dimana kantor polisi?
      -Berapa harganya?
      -Saya dari Indonesia.
      -Saya tersesat.
      -Saya lapar/tidak lapar.
      -Saya haus/tidak haus.
       
      Tambahan untuk wisatawan muslim.
      -Apakah ini mengandung alkohol?
      -Apakah ini mengandung daging babi?
      -Saya tidak bisa makan babi atau alkohol.
      -Dimana saya bisa menemukan restoran halal?
       
      Saran saya, jika tak pede untuk mengucapkan kata-kata di atas dalam bahasa lokal, teman-teman bisa mencoba mem-print kalimat-kalimat tersebut dan tunjukkan kalimat mana yang ingin kalian ucapkan pada lawan bicara saat memerlukan sesuatu.
       
      Alternatif lainnya, coba deh usahakan membeli buku percakapan untuk wisatawan dalam bahasa negara yang dituju (lebih baik lagi jika buku tersebut dilengkapi dengan huruf asli dari bahasa tersebut). Buku-buku seperti itu biasanya memiliki banyak contoh percakapan untuk berbagai situasi. Untuk keadaan darurat, teman-teman bisa mencari kalimat yang paling cocok dengan situasi yang dihadapi dan tinggal tunjukkan saja pada lawan bicara.
       
      2. Mengukur kemampuan berbahasa Inggris lawan bicara
       
      Jika seandainya karena satu dan lain hal teman-teman tetap ingin menggunakan bahasa Inggris, minimal coba deh ukur kemampuan berbahasa Inggris lawan bicara. Walau tidak semua orang dapat berbahasa Inggris, biasanya selalu saja ada satu atau dua orang yang mengerti beberapa patah kata dalam bahasa Inggris. Semakin nol kemampuan berbahasa Inggris lawan bicara, maka bicaralah dengan semakin lambat, jelas, dan gunakan kalimat yang pendek dan umum untuk dimengerti.
       
      Misalnya, alih-alih mengucapkan my bag is stolen and I need to find a police, akan lebih mudah dimengerti jika teman-teman mengatakan police saja. Dikombinasikan dengan bahasa tubuh, teman-teman bisa berharap lawan bicara akan mengerti maksud kalian.
       
      3. Jika sudah kepepet benar.
       
      Jangan ragu untuk menggunakan berbagai software penerjemah bahasa yang bisa diunduh di smartphone. Teman-teman bisa melihat daftar aplikasi apa saja yang dibutuhkan oleh wisatawan dalam thread ini: http://jalan2.com/forum/topic/14383-inilah-aneka-aplikasi-penting-untuk-traveler/
      Atau, kalian bisa masuk ke berbagai situs web populer yang berkaitan dengan traveling dan menanyakan hal-hal yang ingin kalian tanyakan di forum tersebut. Kalian bisa juga mencari member yang merupakan penduduk lokal di forum itu (tentunya lebih baik jika dia dapat berbahasa Inggris) yang dapat membantu masalah kalian (misalnya, seputar menanyakan restoran di suatu kota maupun menanyakan tentang petunjuk arah, sehingga meminimalkan potensi untuk bertanya pada random orang di jalanan).
       
      Oya, walau dari tadi saya mengemukakan aneka tips untuk mengatasi kendala bahasa bagi wisatawan yang hanya bermodalkan bahasa Inggris, bukan berarti saya mengatakan jika bahasa Inggris itu tidak penting ya. Walau pada kenyataannya 2/3 penduduk di Planet Bumi ini tidak terlalu familiar dengan bahasa Inggris, masih banyak kegunaan lain dari bahasa ini bagi wisatawan:
      -Bahasa Inggris rata-rata diterima di berbagai bandara, hotel, dan pusat informasi wisata.
      -Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling banyak digunakan oleh backpacker. Jadi, dengan menguasai bahasa Inggris, setiap kali kalian bepergian ke tempat lain, selalu ada kemungkinan menemukan wisatawan lain yang juga berbahasa Inggris.
      -Tambahan lainnya, mengenal bahasa Inggris akan membantu kita meminimalkan kemungkinan terkena masalah yang tidak diharapkan. Masih ingat dengan kasus wisatawan yang tertipu saat membeli produk elektronik di Lucky Square, Singapura?
       
      Jadi, tetaplah pede sekalipun kalian hanya menguasai bahasa Inggris ya!
       
      Lalu bagaimana jika bahasa Inggris kita pun pas-pasan, alias hanya bermodalkan bahasa Indonesia saja? Tak perlu kecil hati. Kalian tetap bisa berpetualang ke negara lain dengan bermodalkan bahasa yang paling alami, yaitu bahasa tubuh. Setiap kali kalian membutuhkan bantuan dari penduduk lokal, gunakan gesture tubuh yang sopan dan jangan sungkan untuk menunjuk maupun memperagakan maksud kalian. Jangan lupa juga untuk selalu berbekal buku notes dan pulpen. Siapa tahu akan kalian perlukan untuk menggambarkan maksud pertanyaan kalian.
       
      Semoga informasinya bermanfaat!
       
      *** 
    • By vie asano
      Saya pernah menulis dalam thread
      bahwa salah satu mitos yang kerap menghampiri wisatawan adalah mitos tentang bahasa Inggris. Ada sebuah kepercayaan (dan memang sejak dari masa sekolah kita selalu diajarkan untuk percaya) jika bahasa Inggris adalah bahasa Internasional yang bisa diterima dimanapun. Karenanya, yang paling penting itu belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa lain itu nggak penting-penting amat, karena cukup dengan menguasai bahasa Inggris kalian bisa pergi kemanapun dan diterima dimanapun.
       
      Well, faktanya, tahukah teman-teman jika di Planet Bumi ini bahasa Inggris hanya digunakan oleh kira-kira 1,8 milyar orang saja, yang berarti kira-kira hanya digunakan oleh 1/3 populasi manusia. Itu berarti 2/3 nya tidak mengerti bahasa Inggris dan tentu saja itu jumlah yang cukup banyak. Tak percaya?
       

       
      Foto 01:
      Gambar peta dunia negara yang menggunakan bahasa Inggris. Warna biru tua menggambarkan negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi, dan warna biru muda menggambarkan negara dimana bahasa Inggris jadi bahasa resmi namun bukan bahasa utama [foto: Shardz/wikimedia]
       

       
      Foto 02:
      Peta penyebaran jumlah pengguna bahasa Inggris dalam berbagai negara. Warna hijau tua menggambarkan 80-100% dan secara bertahap gradasi menuju hijau muda menunjukkan prosentase jumlah pengguna 60-80%, 40-60%, 20-40%, dan warna hijau paling muda 0-20% [foto: Wikipedia]
       
      Nah, bagi yang masih belum percaya jika bahasa Inggris tidak seinternasional yang dibayangkan, yuk mari mengintip beberapa negara berikut yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya, dan malahan tidak terlalu familiar dengan bahasa Inggris. Namun uniknya, negara-negara berikut termasuk populer sebagai negara tujuan wisata. Berikut daftarnya.
       
      Indonesia
       
      Saya akan mulai dari negara kita tercinta terlebih dulu. Sebagai negara yang memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Inggris memang tidak digunakan secara luas disini. Sekalipun dewasa ini pelajaran Bahasa Inggris sudah mulai diberikan sejak usia Sekolah Dasar (dan bahkan sejak pra-sekolah), tetap saja akan sulit menemukan orang yang dapat berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, khususnya jika melancong ke daerah yang jauh dari pusat keramaian dan juga bukan di pusat kota besar. Pengecualian jika kalian pergi ke daerah wisata populer seperti Bali yang memang kebanyakan penduduknya (yang hidup dari pariwisata) menguasai beberapa bahasa sekaligus. Walau begitu, siapa yang bisa menyangkal jika Indonesia memang memiliki segudang obyek wisata menarik yang terus saja mengundang wisatawan asing untuk datang kemari.
       

       
      Foto 03:
      Pantai Dreamland, Bali [foto: Krismartin/wikimedia]
       
      Jepang
       
      Saat pertama mendengar jika Jepang merupakan negara yang tidak familiar dengan bahasa Inggris, saya sempat tak percaya. Masa iya negara semodern dan juga salah satu negara termaju di dunia ini nggak familiar dengan bahasa Inggris? Pada kenyataannya memang demikian. Orang Jepang, walau rata-rata akan dengan senang hati membantu wisatawan yang membutuhkan bantuan, mayoritas tidak menguasai bahasa Inggris (dan bahkan menghindar jika ditanya dalam bahasa Inggris). Yang semakin membuat wisatawan kesulitan, adalah karena Jepang memiliki bahasa nasional dan juga huruf tradisional yang khas (yaitu hiragana, katakana, kanji). Untungnya dewasa ini beberapa petunjuk jalan maupun informasi publik sudah dilengkapi dengan bahasa Inggris, sehingga wisatawan yang hanya bermodalkan bahasa Inggris nggak akan terlalu buta arah saat berwisata ke Jepang.
       

       
      Foto 04:
      Gunung Fuji di Jepang [foto: Midori/wikimedia]
       
      Thailand
       
      Thailand juga termasuk salah satu surga wisata di dunia. Seorang blogger traveling bahkan pernah mengatakan, Coba kalian pejamkan mata dan membayangkan tentang surga. Siapa tahu yang kalian bayangkan adalah Thailand, untuk menggambarkan betapa indahnya negara Thailand. Namun, walau di pusat kota dan di berbagai hotel bahasa Inggris cukup bisa diterima, lain halnya jika berwisata ke daerah pinggiran dimana penduduk lokalnya rata-rata tidak menguasai bahasa Inggris. Yang lebih mantap, adalah karena harga untuk turis dan penduduk lokal dibuat berbeda, dimana harga untuk penduduk lokal ditulis dalam bahasa Thai, sementara warga asing biasanya mendapat harga yang lebih mahal.
       

       
      Foto 05:
      Maya Beach, Thailand [foto: Diego Delso/wikimedia]
       
      Vietnam
       
      Vietnam juga termasuk salah satu negara populer untuk wisata yang tidak terlalu familiar dengan bahasa Inggris. Di pusat informasi wisata, mungkin ada beberapa yang bisa menguasai sedikit bahasa Inggris. Namun diluar itu, khususnya di daerah pinggiran, akan sangat jarang menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris.
       

       
      Foto 06:
      Lanskap Tam Coc, Vietnam [foto: [Tycho], http://shansov.net/wikimedia]
       
      Cina (kecuali Hong Kong dan Macau)
       
      Sudah jadi rahasia umum jika penduduk Cina (kecuali Hong Kong dan Macau yang memang rata-rata fasih berbahasa Inggris) rata-rata tidak menguasai bahasa Inggris. Bahkan di kota-kota besar seperti Tibet, Yunnan, dan Xian, bahasa Inggris kurang familiar disana (dan bagian yang paling menyulitkan adalah karena bahasa Cina ditulis dalam huruf Cina yang sulit dibaca oleh orang asing!). Namun bukan tak mungkin kalian akan menemukan orang yang dapat berbahasa Inggris 1-2 patah kata jika berwisata ke kota besar, walaupun tetap saja jangan berharap lebih jika berwisata ke daerah pinggiran.
       

       
      Foto 07:
      Air terjun Jiulong di Yunnan, Cina [foto: Zhangmoon618/wikimedia]
       
      Eropa
       
      Eropa termasuk salah satu destinasi wisata populer, khususnya bagi yang mencari wisata romantis seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu. Namun ternyata sebagian negara di Eropa memiliki bahasa masing-masing dan ada juga yang tidak terlalu familiar dengan bahasa Inggris, terutama di wilayah Eropa Barat seperti Rusia dan Prancis. Di beberapa negara, bahasa yang lebih familiar digunakan antara lain bahasa Prancis, Jerman, maupun Spanyol. Namun tak perlu khawatir karena kalian masih akan cukup mudah menemukan mereka yang dapat berbahasa Inggris di wilayah Eropa barat (terutama karena orang-orang di wilayah tersebut masih mau berusaha untuk bicara dalam bahasa Inggris sekalipun mereka tidak terlalu bisa).
       
      Itu baru sebagian negara populer saja yang saya sebut disini. Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan daftar negara tujuan wisata populer yang kurang familiar dengan bahasa Inggris? Namun, walau banyak negara kurang familiar dengan bahasa Inggris, jangan takut untuk pergi berwisata ke negara-negara tersebut. Masih banyak kok tips dan trik untuk mengatasi halangan bahasa, yang kapan-kapan akan saya tulis dalam kesempatan terpisah.
       
      ***
       
      *Foto-foto, kecuali foto 01 dan 02, diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
       
       
    • By redocean
      Pernah punya mimpi jalan-jalan ke Eropa? Sudah terkabulkah mimpi itu? Eropa emang jadi magnet yang besar banget buat dikunjungi. Jalan-jalan ke Eropa kayak sebuah pencapaian tersendiri untuk mereka yang mengidolakan benua indah itu. Dengan banyaknya negara yang beragam suasana, budaya, dan keindahannya, Eropa nggak akan pernah habis untuk diimpi-impikan. 
      Sayangnya, ke Eropa nggak segampang ke negeri tetangga. Biaya perjalanan dengan pesawat yang mahal, biaya hidup yang mahal, dan juga visa yang lumayan susah jadi kendalanya. Nggak heran, banyak yang cari cara gratis seperti melalui beasiswa belajar ke Eropa atau melalui pekerjaan yang bisa membawa seseorang ke sana. Sebenarnya, kenapa sih pada pengen ke Eropa? Menurut saya, ini beberapa alasan yang membuat semua orang ingin terbang ke sana.
      1. Pengaruh Film dan Media
      Pertama, yang pastinya karena pengaruh film dan media massa yang mengangkat gambaran tentang Eropa. Dari sanalah dibangun sebuah image kecantikan Eropa dari berbagai sisi yang membuat kita tergiur untuk menginjakkan kaki di sana. Sering kita melihat lokasi syuting film di berbagai kota di negara-negara Eropa. Dari Inggris, Barcelona, Paris, dan lain sebagainya. Keindahan lokasi yang ditampilkan tentu akan membuat kita sangat ingin berkunjung ke sejumlah tempat di Eropa, bahkan semuanya.
      2. Nuansa historikal
      Dari media masaa juga kita pelajari bagaimana Eropa memiliki sejarah yang panjang dan memang sudah besar sejak dulu. Banyak tokoh-tokoh dunia yang berasal dari Eropa dan sejarahnya dikenal luas ke berbagai penjuru negara. Karena itulah, kita juga jadi termotivasi ingin melihat sendiri saksi bisu kisah-kisah besar, keren, mengharukan, menggugah itu. Cerita kebesaran kerajaan Roma hingga kisah cinta picisan Romeo dan Julietnya adalah secuil contoh daya tarik Eropa. Belum lagi kebesaran kerajaan Inggris dari mulai Elizabeth hingga Kate Middleton. Dan berbagai cerita lainnya.
      3. Arsitektur
      Arsitektur bangunan di Eropa nggak pernah gagal bikin saya terpesona. Klasik, vintage, tapi keren dan canggih. Banyak yang masih mempertahankan model-model kuno kayak gothic atau victorian style tapi tetep keren dengan kesan misterius antik. Selain itu, gaya yang lebih modern juga punya ciri khas dan selalu menarik perhatian. Buat saya, bangunan-bangunan bergaya Eropa emang selalu keren.

      4. Kota-kota besar
      Siapa yang nggak tahu Inggris? Paris? Roma? dan lain sebagainya. Kota-kota besar di dunia ada di Eropa. Seolah tak akan pernah habis ide perjalanan kita untuk menyusuri kota-kota besar di Eropa ini. Di sana, kita bisa menemukan suasana yang berbeda-beda sehingga tak akan membosankan. Tata kotanya juga keren-keren. Tentunya kita tahu gimana terkenalnya sungai kota yang bisa kita jelajahi di tengah kota kayak di Venice. Atau bunga-bunga yang hampir memenuhi semua sudut bangunan di Colmar. Kota besar tapi rapi, bersih, cantik, anggun, romantis. 
      5. Keindahan alam
      Ke desa-desanya atau pinggr kota, kita akan disuguhkan oleh pemandangan alam yang sangat keren. Coba ingat-ingat sederet film yang berlatar pegunungan, pantai, salju di Eropa. Kita nggak akan berhenti berdecak kagum dan selalu ngiler untuk bisa datang ke sana, iya, kan?
      6. Orang-orang (bahasa dan budaya)
      Selain pemandangan alam dan kotanya, Eropa juga sangat menarik untuk dikunjungi karena orang-orangnya. Banyak kita mendengar cerita bagaimana budaya orang-orang yang tinggal di Eropa. Dari mulai keteraturannya, disiplinnya, dan lain sebagainya. Atau, bila kamu memang pecinta bahasa-bahasa di Eropa, di sini kamu bisa merasakan betapa indahnya bahasa di sana. Meski semua rata-rata bisa berbahasa Inggris, tapi berbeda-beda aksennya. Bahasa asli mereka juga bikin lidah kita geregetan karena enak didengar telinga.

      7. Makanan
      Lalu tentunya untuk pecinta kuliner. Eropa punya banyak sekali menu yang bisa dicicipi. Salah satu yang paling terkenal memang di Italia. Masakan Italia mungkin sudah akrab di lidah orang kita, tapi bagaimana sensasinya kalau makan langsung di sana ya?
      8. Fashion
      Eropa, seperti Paris dan Inggris menjadi pusatnya mode dunia. Brand-brand fashion dan kosmetik ternama lahir dari Eropa. Di sana juga dikenal murahnya (relatif). Nggak heran banyak banget yang ngeborong belanjaan sepulangnya dari Eropa. 
    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      “I'm so patriotic, I think every British kid should have a chance to grow up to be our head of state.” (Johann Hari)
       
      Inggris sudah lama terkenal sebagai salah satu negara yang paling diminati untuk dijadikan tujuan destinasi wisata. Begitu banyak wisatawan datang berkunjung ke Inggris untuk berbagai kepentingan, salah satunya wisata.
      Nah, sebelum kamu pergi mengunjungi Inggris, sebaiknya kamu mengetahui seluk beluk tentang visa Inggris. Visa Inggris sendiri sangat kamu butuhkan sebelum kamu memutuskan untuk mengunjungi Inggris.
      Inggris menerapkan kebijakan visa yang terpisah dari visa Schengen, yang merupakan kebijakan visa yang diterapkan oleh sebagian besar negara di Eropa. Inilah sebabnya, kamu perlu untuk melakukan aplikasi pengurusan visa yang berbeda dari visa Schengen jika kamu berminat untuk mengunjungi Inggris.
      Yang harus kamu ketahui adalah jika kamu mengurus visa United Kingdom, maka kamu juga memiliki kesempatan untuk berlibur di negara-negara Britania Raya lainnya yaitu Scotlandia, Irlandia Utara dan Wales.
      Nah, apakah kamu penasaran dan ingin segera mengetahui seluk beluk tentang visa Inggris? Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasnya dalam ini dia hal-hal yang sebaiknya kamu ketahui sebelum kamu melakukan aplikasi pengurusan visa Inggris.
       
      Cara Mengurus Visa Inggris

      VFS Global via https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f3/VFS_Global_Logo_Reverse.jpg
       
      Berbeda halnya dengan pengurusan visa lainnya yang mengharuskanmu untuk mengunjungi kedutaan besar tertentu, maka untuk pengurusan aplikasi visa Inggris, kamu dapat melakukannya di VFS Global.
      VFS Global sendiri merupakan mitra kerja dari United Kingdom Visas and Immigration yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Inggris untuk melayani aplikasi visa.
       
      1. Mengisi Aplikasi Permohonan Visa Secara Online

      Mengisi Aplikasi Permohonan Visa Secara Online via http://visa4uk.fco.gov.uk.
       
      Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengisi aplikasi permohonan visa secara online. Ya, kamu dapat melakukan pengisian aplikasi permohonan visa secara online di website .
      Proses pengisian aplikasi visa Inggris ini akan membutuhkan waktu selama sekitar 30 menit. Kamu dapat membuat akun terlebih dahulu di website tersebut. Kemudian, kamu dapat mencetaknya serta menambahkan tanda tangan di form aplikasi tersebut.
      Setelah itu, kamu akan mendapatkan email berisi GWF. Di dalam GWF tersebut, terdapat nomor untuk janji bertemu. Untuk masalah pembayaran, kamu dapat membayar biaya visa Inggris tersebut langsung di tempat dengan menggunakan uang tunai ketika melakukan janji untuk bertemu.
       
      2. Menghadiri Janji Temu dengan Dokumen Lengkap untuk Mendapatkan Visa Inggris

      Aplikasi GWF via https://www.vfsglobal.co.uk/indonesia
       
      Selanjutnya, setelah kamu mengisi aplikasi permohonan visa secara online, kamu dapat menghadiri janji temu sesuai dengan jam yang telah ditentukan.
      Kamu dapat mengakses https://www.vfsglobal.co.uk/indonesia dan memasukkan nomor GWF. Selanjutnya, kamu dapat memilih hari terbaik dari pilihan tiga hari yang disediakan oleh VFS Global. Setelah memilih hari, selanjutnya jam sudah akan ditentukan oleh pihak VFS Global.
      Pada waktu janji temu, kamu dapat menyerahkan formulir permohonan visa yang sudah ditandatangani. Selanjutnya kamu dapat menambahkan formulir permohonan visa tersebut dengan dokumen yang asli serta fotokopi.
      Jangan lupa untuk melampirkan pas foto sesuai dengan kriteria spesifik yang diminta oleh VFS Global. Pas foto tersebut setidaknya diambil sekitar 6 bulan terakhir.
      Kamu dapat mengurus aplikasi permohonan visa Inggrismu di VFS Global Jakarta atau Bali. Alamat VFS Global Jakarta adalah di Kuningan City Mall, 2nd Floor, Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 Setiabudi Kuningan.
      Sementara itu, alamat VFS Global Bali adalah di Benoa Square, 3rd Floor no. 7-9 3/A, Jl. Bypass I Gusti Ngurah Rai no. 21 A Kedonganan Kuta. Pilihlah VFS yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggalmu agar tidak merepotkanmu ketika mengurus aplikasi permohonan visa.
       
      Dokumen yang Dibutuhkan

      Mempersiapkan Paspor via images.google.com
       
      Untuk mengurus aplikasi permohonan visa Inggris, dokumen yang dibutuhkan adalah paspor (dengan masa berlaku sekitar 6 bulan), pas foto dua lembar sesuai dengan spesifikasi, fotokopi Kartu Keluarga dan akte lahir, serta surat keterangan kerja.
      Selain itu, kamu dapat pula melampirkan surat undangan dari saudara atau teman di Inggris, rekening bank yang berisi transaksi selama 3 bulan terakhir serta referensi dari bank bahwa kamu merupakan nasabah bank tersebut.
       
      Reservasi Pesawat dan Hotel Sebagai Dokumen Pendukung
      Untuk mendukung proses pengajuan aplikasi visa Inggrismu, kamu dapat pula melampirkan dokumen berisi reservasi tiket pesawat pulang-pergi Indonesia-Inggris dan juga reservasi hotel. Dokumen pendukung ini sebaiknya masih dalam bentuk booking.
       
      Sebagai rekomendasi jika kamu ingin melakukan reservasi untuk hotel, kamu dapat melakukan reservasi di situs www.agoda.com. Situs ini menyediakan jasa untuk melakukan reservasi hotel di berbagai destinasi dan masih dalam bentuk reservasi.
      Jika kamu jeli, kamu juga dapat memilih untuk melakukan reservasi terhadap penginapan dengan gratis. Namun, kebijakan bebas biaya ini dikenakan hingga waktu tertentu sekitar beberapa hari sebelum waktu check-in-mu. Jangan lupa untuk memastikan kebijakan bebas biaya ini pada reservasi hotelmu di Inggris.
       
      Keputusan Visa Diterima atau Ditolak
      Untuk mendapatkan keputusan bahwa visamu diterima atau ditolak, kamu dapat menunggu selama sekitar 3 hingga 12 minggu setelah tanggal pengajuan permohonan. Selain itu, untuk mengetahui apakah visamu sedang diproses atau tidak, kamu dapat mengeceknya di website VFS Global.
      Jika aplikasi visamu telah selesai diproses, maka kamu akan diberi tahu oleh pihak VFS Global. Jika nanti ternyata aplikasi visamu ditolak, maka kamu akan mendapatkan email yang berisi alasan mengapa aplikasi visamu ditolak.
      Pada proses aplikasi pengurusan visa secara normal, biasanya akan memakan waktu sekitar 10 hari kerja. Namun, kamu juga memiliki alternative lain jika ingin aplikasi visa Inggrismu selesai lebih cepat lagi.
      Dengan jenis express, aplikasi visa Inggrismu akan selesai dalam jangka waktu 5 hari kerja. Tetapi biasanya, jika kamu memilih untuk menggunakan jenis express pada aplikasi pengurusan visamu, maka kamu akan mendapatkan harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan aplikasi pengurusan visa secara normal.
       
      Itulah dia pembahasan mengenai ini dia hal-hal yang sebaiknya kamu ketahui sebelum kamu melakukan aplikasi pengurusan visa Inggris. Semoga artikel ini dapat membantumu dalam mengetahui seluk beluk mengenai pengurusan visa Inggris dari mulai proses awal hingga akhirnya mendapatkan visa Inggris.
      Happy traveling!
    • By pleasejackys
      Kebiasaan Buruk Turis yang Paling Tidak Disukai
       
      Ketika menjadi turis di tempat asing, seringkali kita menemui warga lokal yang ramah.Nampaknya, mereka merasa senang dan bangga melihat ada orang dari jauh untuk melihat dan menikmati suasana di lingkungannya. Perasaan positif inilah yang membuat mereka terdorong untuk bersikap baik kepada kita sang turis. Harapannya, kita akan merasa betah dan senang telah berkunjung.
       

      Warga Lokal Menyapa Turis
      (Sumber: Flickr. Credit: Aaron Concannon)
       
      Akan tetapi, hal tersebut tak selalu berlaku.Terkadang, ada warga lokal yang justru merasa sebal dengan kedatangan para turis.Keberadaan turis di lingkungan mereka kadang justru dianggap menggangu dan menyebalkan.Bukan tanpa alasan mereka dapat merasa seperti ini. Umumnya, hal ini terjadi ketika sang turis memiliki kebiasaan atau tingkah laku yang buruk. Beberapa kebiasaan buruk bisa membuat kita tidak disukai bukan hanya oleh warga lokal saja, namun juga oleh para turis lain. Akibatnya, tidak ada orang yang akan bersikap ramah dengan kita.
       
      Terkadang kita memiliki sifat atau kebiasaan yang menyebalkan tanpa kita menyadarinya.Padahal, memelihara kebiasaan seperti itu bisa jadi sangat merugikan kita, apalagi saat kita sedang berwisata ke tempat yang asing dan jauh. Untuk itu, mari kita simak bersama beberapa kebiasaan buruk yang seringdimiliki oleh para turis supaya kita bisa menghindarkan diri dari kebiasaan tersebut.
       
       
      1. Merusak Lingkungan
       
      Suatu obyek wisata dapat dibilang menarik jika memiliki keindahan dan keunikan tersendiri.Para turis rela menempuh jarak yang begitu jauh ke suatu tempat hanya agar dapat menikmati keindahan dan keunikan tersebut.Agar obyek tersebut bisa tetap menarik, maka keindahannya harus dijaga dan dirawat dengan baik.Sayangnya, banyak turis yang terkesan menyepelekan hal tersebut dengan melakukan berbagai tindakan tidak bertanggung jawab yang dapat merusak atau mencemari obyek tersebut.
       
      Tindakan yang umum dilakukan turis Indonesia adalah corat-coret. Banyak turis Indonesia yang suka membawa spidol atau pilox saat mengunjungi suatu tempat wisata. Nantinya di sana mereka akan mencoretkan nama mereka di dinding atau batu sebagai tanda bahwa mereka pernah berkunjung ke sana. Padahal jika setiap pengunjung melakukan hal seperti ini, dapat dibayangkan betapa keindahan suatu obyek menjadi tercemar karena dipenuhi coretan di sana-sini.Selain corat coret, tindakan merusak lain yang umum dilakukan antara lain membuang sampah sembarangan, buang air sembarangan, merusak fasilitas umum, dan lain sebagainya.
       

      Indahnya Pantai Rusak Akibat Coretan
      (Sumber: Flickr. Credit: sundafreak)
       
      Hal-hal semacam itu bukan saja merugikan, namun juga memalukan.Sungguh sangat disayangkan jika keindahan sebuah tempat harus terhalang oleh coretan spidol di batu karang.Jangan sampai kita jadi turis yang memiliki kebiasaan buruk seperti ini.Sebagai traveler yang bertanggung jawab, hendaknya kita sadar bahwa menjaga kebersihan, keindahan, dan kerapian selalu penting untuk dilakukan di setiap tempat.
       
       
      2. Tidak Mengikuti Norma Lokal
       
      Berkunjung ke tempat yang bukan tempat kita berarti kita adalah tamu di sana. Maka, sudah sewajarnya jika kita mengikuti aturan yang ada di tempat tersebut. Logikanya, jangan datang ke suatu tempat jika kamu tidak suka dengan apa yang berlaku di sana karena tidak ada yang memaksamu datang ke sana. Hal itulah yang kadang dilupakan oleh sebagian traveler.
       
      Kebiasaan yang kita miliki mungkin memang hal yang wajar di tempat asal kita.Namun, hal tersebut bisa jadi hal yang tidak baik di tempat yang kita datangi.Bersikap seolah kita berada di tempat asal kita dengan tidak mematuhi aturan yang ada akan membuat kita terkesan seperti tidak menghargai norma setempat. Hal itu akan membuat kita terkesan sok dan tidak sopan. Orang-orang mungkin tahu bahwa apa yang kita lakukan tersebut dapat dibilang wajar di tempat asal kita. Namun, mereka tetap akan merasa kesal dan tidak dihargai. Akibatnya, mereka pun akan berbalik tidak menghargai kita juga.
       

      Turis Mabuk-Mabukan di Tempat Umum
      (Sumber: Flickr. Credit: Alex Serge)
       
      Sebagai contoh, menggunakan bikini saat di pantai bisa jadi hal yang sangat lumrah bagi kita yang tinggal di Bali.Namun, saat berkunjung ke daerah Aceh, jangan pernah menggunakan bikini tak peduli sepanas apapun cuacanya. Di sana, norma berpakaian termasuk hal yang sangat serius.Contoh lain misalnya saat kita datang ke India. Di negara tersebut, sapi bisa berkeliaran bebas di jalan raya dan tidak ada orang yang mengusirnya.Ini karena budaya mereka mempercayai bahwa sapi adalah binatang yang suci.Mengusir sapi adalah hal yang sangat buruk untuk dilakukan.Sebagai orang bukan India, kita tentu merasa sapi adalah binatang yang biasa saja.Akan tetapi, bukan berarti kita bisa seenaknya mengusir sapi di jalan untuk melancarkan jalan kita.
       
      Saat akan berkunjung ke suatu daerah, sebaiknya kita mencari tahu terlebih dahulu tentang budaya sosial yang ada di sana. Pastikan kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk dilakukan. Mungkin tanpa sengaja kita akan melakukan sesuatu yang melanggar norma di sana. Begitu menyadari hal tersebut, segeralah meminta maaf dan menjelaskan bahwa kita bukan bermaksud tidak sopan.
       
       
      3. Mengambil Gambar Seenaknya
       
      Banyak hal menarik yang bisa akan kita lihat setiap kali berkunjung ke tempat yang baru. Bahkan sebenarnya memang inilah yang kita harapkan saat memutuskan untuk travelling.Maka wajar saja jika hal tersebut membuat kita ingin mengambil gambarnya dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa memotret pun ada etikanya.
       
      Mintalah ijin setiap kali ingin mengambil foto seseorang.Jika orang tersebut merasa keberatan, hargailah privasi mereka dengan tidak memaksakan diri mengambil foto secara diam-diam. Apabila yang ingin kita potret merupakan sebuah tempat atau benda, mintalah ijin kepada pemiliknya.Warga lokal yang sedang melakukan hal normal dalam keseharian atau tradisinya memang menarik untuk diabadikan dalam sebuah foto.Namun, jangan sampai mereka merasa terganggu akibat kita mengambil foto mereka.
       

      Jangan Mengambil Gambar Seenaknya
      (Sumber: Flickr. Credit: Made Yudistira)
       
      Kasus mengambil gambar seenaknya ini pernah cukup menghebohkan pariwisata Indonesia ketika para tokoh Buddha merayakan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur. Perayaan Waisak yang unik rupanya menarik minat dan rasa penasaran yang sangat besar dari para turis. Dengan penuh semangat, para turis dari dalam dan luar negeri bergerak mendekat dan mengambil gambar para biksu saat mereka sedang khusyuk bertapa dan memanjatkan doa pada Para Dewa. Bahkan, beberapa turis memotret dengan blitz yang menyilaukan dan suara yang cukup terdengar. Aksi ini tentu sangat mengganggu proses peribadatan umat Hindu ini.
       
       
      4. Menyalahkan Penduduk Lokal yang Tidak Berbahasa Inggris di Negara Non-Berbahasa Inggris
       
      Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang resmi.Ini berarti dalam forum-forum internasional yang bersifat resmi, sudah sewajarnya semua orang menggunakan bahasa Inggris.Umumnya para traveler menguasai bahasa Inggris dengan baik dengan harapan mereka dapat berkomunikasi dengan lancar kemanapun mereka pergi berkunjung.Nyatanya hal ini memang sangat bermanfaat dalam memudahkan komunikasi.
       
      Namun perlu kita ketahui, kemampuan berbahasa Inggris bukanlah hal yang wajib dimiliki oleh setiap orang dari seluruh negara.Seperti Indonesia, banyak negara yang tidak mewajibkan warganya untuk menguasai apalagi menerapkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti, seberapapun kita ahli dalam berbahasa Inggris, komunikasi kita tetap akan terhambat ketika kita berhadapan dengan penduduk lokal yang tidak berbahasa Inggris.
       

      I Speak English
      (Sumber: Flickr. Credit: jmaral)
       
      Pada dasarnya, hal itu adalah hal yang wajar.Namun sayangnya, masih banyak turis yang gagal memahami hal tersebut.Ada turis yang merasa sebal ketika sulit berkomunikasi dengan penduduk lokal gara-gara penduduk tersebut tidak paham bahasa Inggris.Dipikirnya, semua orang seharusnya belajar berbahasa Inggris, terutama pada daerah-daerah yang banyak dikunjungi wisatawan.
       
      Saat berkunjung ke suatu negara yang bahasa resminya bukan bahasa Inggris, justru kitalah yang seharusnya mempelajari beberapa kalimat sederhana dalam bahasa lokal.Memang agak sulit, namun setidaknya hal itu menunjukkan kita menghargai bahasa mereka.Jika kita kebetulan bertemu dengan warga lokal yang mahir berbahasa Inggris, anggaplah hal tersebut sebagai suatu keberuntungan.
       
       
      5. Egois dalam Group Tour
       
      Ikut serta dalam sebuah group tour memang menarik untuk dilakukan sesekali bahkan bagi seorang solo traveler sekalipun. Dalam group tour, kita bisa mengunjungi banyak tempat menarik dalam sebuah kota sembari mendapat informasi yang lengkap dari sang pemandu. Selain itu, kita juga berkesempatan bertemu dengan traveler lain yang mungkin bisa kita jadikan teman baru. Group tour biasanya cenderung murah sehingga kita bisa jalan-jalan dengan lebih hemat.
       
      Masalahnya, kadang ada turis yang seolah tidak menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya turis dalam tour tersebut. Dalam sebuah group tour, turis ini bersikap seolah sang pemandu wisata adalah pemandu pribadinya. Turis seperti ini suka melontarkan banyak pertanyaan dan berbicara panjang lebar kepada sang pemandu wisata sampai turis lain dalam group tersebut tidak berkesempatan untuk berbicara. Terkadang, obyek bahasannya pun tidak berkaitan dengan kegiatan yang tengah dilakukan saat itu.Ada lagi turis yang seolah menganggap bus tour adalah mobil pribadinya.Turis semacam ini suka berjalan-jalan sendirian ketika rombongan sampai di sebuat obyek wisata, namun kembali ke bus terlambat.Akibatnya, rombongan tersebut harus menunggunya.
       

      Banyak Orang dalam Sebuah Group Tour
      (Sumber: Flickr. Credit: Mid Atlantic Center)
       
      Masih banyak lagi sikap egois yang sering dilakukan turis dalam sebuah rombongan group tour.Biasanya, yang seperti ini adalah solo traveler karena mereka terlalu terbiasa bergerak sendiri. Mereka umumnya kurang peka terhadap kenyamanan orang lain saat berwisata. Apalagi jika obyeknya sangat menarik, solo traveler tentu akan mudah terlarut dan terlena dengan suasana sampai lupa akan rombongannya.
       
       
      6. Mengkritisi Isu yang Ada di Tempat yang Dikunjunginya
       
      Kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi telah memudahkan kita untuk mengetahui hal apa saja yang sedang terjadi di berbagai tempat di dunia. Sebagai seorang traveler, mungkin kita sudah terbiasa untuk mencari berita di berbagai media untuk mengetahui isu apa saja yang sedang hangat di suatu tempat yang akan kita kunjungi.
       
      Beberapa isu atau berita tersebut kadang bisa sangat heboh dan menjadi perbincangan banyak orang di mana-mana. Bahkan kita pun bisa saja memiliki pendapat sendiri terhadap isu tersebut atau bahkan senang memperdebatkan hal tersebut dengan orang lain. Namun, perlu kita sadari bersama bahwa memperdebatkan hal tersebut dengan warga lokal bukanlah hal yang bijak dilakukan saat kita sedang berkunjung sebagai turis.
       
      Hindari mengkritisi sebuah isu terhadap suatu daerah saat kita datang mengunjunginya.Kita bisa saja merasa bahwa pendapat kita benar dan kita tahu segala hal yang terjadi karena rajin mengikuti beritanya di media.Akan tetapi, ingatlah bahwa warga lokal tentunya tahu jauh lebih banyak dari kita.Mereka bahkan merasakan atau mengalaminya langsung.Belum lagi berita yang ada di media belum tentu mencakup semua fakta. Kita pun bisa saja salah menginterpretasikan apa yang diberitakan.
       

      Jangan Terlibat dalam Perdebatan Mengenai Isu Lokal
      (Sumber: Flickr. Credit: The US National Archives)
       
      Mengemukakan pendapat memang hak setiap orang.Namun perlu kita ingat juga bahwa menjaga etika juga merupakan hal yang penting.Jika kita memiliki komentar buruk terhadap sebuah isu, sebaiknya kita simpan sendiri saja dalam hati daripada membuat warga tersinggung.Terlepas dari pendapat kita benar atau salah, sebaiknya kita tidak mencari pertentangan dengan masyarakat lokal agar tidak terlibat ke dalam masalah yang lebih serius.
       
       
      7. Menyombongkan Tempat Asal dan Membandingkannya dengan Tempat yang Dikunjungi
       
      Keadaan di tempat yang dikunjungi tentu akan berbeda dengan keadaan di tempat kita berasal. Ketika menemukan suatu perbedaan itu, seringkali kita membandingkannya antara tempat asal dan tempat tersebut.Terkadang, tempat yang kita kunjungi memiliki keadaan yang lebih baik dalam suatu hal, begitu pula sebaliknya.Bagi kita, perbedaan tersebut mungkin terasa menarik untuk dipikirkan.Namun ketahuilah bahwa itu bukanlah hal yang baik untuk diperbincangkan dengan warga lokal, apalagi jika kita merasa bahwa keadaannya lebih baik di tempat kita berasal.
       

      Perbedaan bukan untuk Dibandingkan
      (Sumber: Flickr. Credit: Luke Domy)
       
      Mengkritisi tempat yang kita kunjungi terhadap warga lokal dan membanding-bandingkannya dengan tempat asal kita akan membuat mereka tersinggung. Apalagi jika kita menceritakan tentang tempat asal kita dengan nada yang sombong. Itu akan membuat mereka berpikir, “Untuk apa kau datang kesini jika tempat asalmu lebih baik? Pulang saja sana!â€.
       
      Tempat apapun yang kita kunjungi, rasanya tetap tidak ada yang sebaik rumah sendiri.Itulah yang seringkali dirasakan oleh para traveler. Rasa bangga akan tanah tempat tinggal sendiri memanglah sesuatu yang baik. Namun, bukan berarti kita harus menjelek-jelekan tempat lain. Terkadang, kita memang harus menyimpan pendapat kita dalam pikiran kita sendiri agar tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman.
       
      Bahkan sebaliknya pun jika tempat yang kita kunjungi memiliki suatu keadaan yang lebih baik dari tempat asal kita, tetap sebaiknya kita tidak usah membanding-bandingkannya. Karena, hal itu akan membuat orang merasa tidak nyaman dan mengesankan bahwa kita tidak suka dengan tempat kita berasal. Perbedaan yang ada sebaiknya disikapi dengan santai. Lagipula, bukankah salah satu tujuan travelling adalah menemukan kondisi yang berbeda dari tempat kita berasal?Untuk itu, lebih baik kita fokus untuk menikmati suasana yang ada dan tidak perlu mencari mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.
       
       
      Berkelana di tempat yang asing sebagai seorang turis memanglah suatu petualangan yang menyenangkan. Apalagi jika kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan penduduk lokal yang ramah maupun sesama turis lain yang menyenangkan.
    • By Gabriella Giovani
      Bahasa Spanyol adalah bahasa yang dipakai oleh lebih dari 20 negara sebagai bahasa resmi dengan jumlah pengguna lebih dari 400 juta orang. Bahkan di Amerika Serikat bahasa Spanyol telah menjadi bahasa kedua. Hayo yang pada mau ke bagian Eropa apalagi benua Amerika yang sebagian masyarakat nya menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa sehari hari seperti negara Spanyol, Brazil, Argentina, Meksiko, Peru, juga portugal yang sebagian juga menggunakan bahasa portugis.

      Bahasa Spanyol juga memiliki gramatika yang cukup rumit karena mereka juga memiliki gender yaitu : feminimo (feminim) dan masculino (maskulin). Bagi mereka yang ingin mempelajari bahasa Spanyol tidak di anjurkan untuk mempelajari gramatika terlebih dahulu.

      Mari kita belajar kata dasar untuk penggunaan sehari sehari bahasa Spanyol:

      Si = ya
      No = tidak
      ¡Buenos días! = selamat pagi
      ¡Buenas tardes! = selamat siang/ sore ¡Buenas noches! = selamat malam
      Gracias = terima kasih
      ¡Por favor! = please. Tolong . Silahkan
      Perdón = maaf
      ¿Cómo estás? = apa kabar?
      ¿Qué tal? = apa kabar? (Formal)
      Estoy bien = kabar saya baik
      Muy bien = kabar saya sangat baik
      ¿Cómo te llamas? = Siapa namamu?
      Me llamo Gabriella = nama saya Gabriella
      Yo también = saya juga
      Usted = kamu(Formal untuk yang lebih tua)
      ¿de dónde eres? = kamu berasal dari mana?
      ¿Dónde estas? = kamu dimana?
      ¿Dónde vives? = tinggal dimana?
      Soy Indonesia = saya orang indonesia
      Yo vivo en Bali = saya tinggal di bali
      ¿Cuántos años tienes? = kamu umur berapa?
      ¿cuánto este precio? = Berapa harganya?
      Hasta mañana = sampai bertemu besok
      Adios / hasta lavista/ hasta luego = sampai jumpa lagi
      Mucho gusto =senang bertemu
      Encantado= senang bertemu
      Bienvenido = selamat datang
      Uno = 1
      Dos = 2
      Tres = 3
      Cuatro =4
      Cinco = 5
      Seis =6
      Siete = 7
      Ocho = 8
      Nueve = 9
      Díez = 10


      Sekian kata kata dasar dan salam sehari sehari dalam bahasa Spanyol. Mudah mudah an bermanfaat untuk kalian yang akan go Spanyol atau negara latin disana. Kalau mau belajar perbendaharaan kata juga gramática bisa tanya tanya langsung ke saya.

      Gracias
      Hasta la vista
    • By vie asano
      Sesekali kita ngobrol santai diluar traveling, yuk. Dan berhubung bulan ini adalah bulan Desember, yang mana merupakan bulannya pelaksanaan JLPT, sekarang saya ingin ngobrol-ngobrol ringan saja seputar JLPT.

      Saya rasa, diantara teman-teman yang kerap mampir ke blog ini, pastilah ada beberapa yang tertarik untuk bekerja maupun melanjutkan studi ke Jepang. Jika teman-teman belum sempat mampir ke postingan-postingan saya beberapa bulan lalu, informasi tentang studi ke Jepang sudah pernah saya tulis disini: Belajar ke Jepang? Ini Alasan yang Harus Dipertimbangkan, Beberapa Skenario Untuk Sekolah ke Jepang, Kuliah ke Jepang? Ini Tips dan Trik-nya, dan Mau Dapat Beasiswa Sekolah ke Jepang? Begini Caranya. Sementara informasi seputar kerja di Jepang pernah saya ulas juga disini: Mau Kerja di Jepang? Begini Caranya, Magang ke Jepang, Ini Rangkaian Proses dan Persyaratannya, Kerja di Jepang, Apa sih Enaknya?. Ya, Jepang memang masih menjadi salah satu magnet bagi mereka yang bermimpi untuk bisa menuntut ilmu di negara Matahari Terbit tersebut maupun ingin mencoba bekerja disana. Biasanya nih, yang menjadi ‘bumbu’ utama dari mimpi-mimpi menjejakkan kaki ke Jepang dengan berstatus pelajar maupun kenshuusei (pegawai magang) adalah harapan untuk dapat melihat langsung keunikan dan keindahan Jepang, pesonanya, gaya hidup otaku yang ada disana, dan sebagainya. Namun, saya rasa tak sedikit yang melupakan salah satu kunci utama yang harus dimiliki bagi mereka yang bermimpi untuk menaklukkan Jepang, yaitu memiliki kemampuan untuk menaklukkan bahasanya, yang dibuktikan dengan lulus mengikuti JLPT. Nah, apa itu JLPT?

      Tentang JLPT

      Teman-teman yang belajar bahasa Inggris mungkin sudah familiar dengan TOEFL alias Test of English as a Foreign Language yang merupakan sebuah tes kemampuan berbahasa Inggris bagi mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya. Nah, JLPT (alias Japan Language Proficiency Test) itu sejenis TOEFL. Bedanya, JLPT (atau dalam bahasa Jepangnya lebih dikenal sebagai Nihonggo Noryoku Shiken, disingkat NS/Noken) ini merupakan tes kecakapan kemampuan berbahasa Jepang.

      Berbeda dengan TOEFL yang pelaksanaannya bisa diadakan sewaktu-waktu tergantung dari penyelenggaranya, JLPT ini diadakan serentak di Jepang dan di beberapa negara lain yang ditunjuk karena program ini memang dikelola oleh Kementrian Pendidikan melalui Japan Educational Exchanges and Service (JEES) dan Japan Foundation yang terdapat di berbagai negara. Untuk pelaksanaan di Jepang, dilakukan 2x dalam setahun yaitu pada hari Minggu pertama di bulan Juli dan Desember; sementara di negara lainnya diadakan 1x dalam setahun, yaitu pada hari Minggu pertama di bulan Desember (UPDATE: sekarang di Indonesia pun diadakan 2x dalam setahun, yaitu bulan Juli dan Desember). Jadi, seandainya kita melewatkan kesempatan untuk mendaftar JLPT di tahun ini (untuk periode Juli maupun Desember), bisa dipastikan kita baru bisa mengikutinya lagi tahun depan.

      Pentingnya mengikuti JLPT

      Pertanyaan standar yang sering muncul adalah, emang penting ya mengikuti JLPT? Bukankah jika kita ingin pergi ke Jepang ya tinggal pergi saja?

      Kalau tujuan kita ke Jepang sekedar untuk berwisata, maka JLPT jelas nggak penting-penting amat (dan malah nggak penting). Siapa sih yang akan tanya-tanya ijasah jika kita sekedar ingin jalan-jalan saja? Namun jika teman-teman ingin mendaftar sekolah di Jepang, maupun ingin bekerja disana, maka lulus JLPT di tingkat tertentu biasanya menjadi sebuah syarat yang mutlak. Ada yang mensyaratkan untuk memiliki ijasah JLPT level 1 atau 2, tergantung dari jenis pekerjaannya. Bahkan saya pernah membaca ada mangaka Jepang yang berdomisili di Jakarta mencari asisten dengan JLPT minimal level 3. Padahal itu tinggalnya di Indonesia dan bukan di Jepang, yang membuktikan jika JLPT ini memang cukup penting jika kalian tertarik untuk mencari pekerjaan yang berhubungan dengan Jepang-jepangan. Jadi apakah teman-teman akan mengikuti JLPT ini atau tidak, semua tergantung pada kebutuhan masing-masing. Namun jika kalian memang belajar bahasa Jepang, nggak ada salahnya kok mengikuti JLPT untuk sekedar mengukur kemampuan berbahasa Jepang yang telah dimiliki.

      Aneka level JLPT

      Ini dia satu lagi perbedaan JLPT dengan TOEFL. Jika TOEFL menggunakan sistem skor yang menandakan besaran nilai TOEFL kita, maka JLPT ini menggunakan sistem level. Jadi, bukan besaran angka yang akan diperoleh, melainkan sebutan apakah seseorang itu telah lulus level 1, 2, 3, dan seterusnya. Memang sih skor kita tercantum, namun itu sebagai pelengkap karena yang akan dilihat adalah apakah kita telah lulus level tertentu atau tidak.

      Pada awal diselenggarakan di tahun 1984 hingga 2009, JLPT ini hanya terdiri dari 4 tingkatan level, yaitu N1, N2, N3, dan N4; dimana N1 merupakan level tersulit dan N4 merupakan level termudah. Ilustrasi perbedaan level antara N1, N2, N3, dan N4 adalah sebagai berikut:

      Level N4 ditujukan untuk mereka yang memiliki tingkatan Bahasa Jepang level dasar, dengan perkiraan jam belajar 150 jam. Materi ujiannya terdiri dari Kanji (±100 kanji), 700-800 kosa kata, dengan level listening di tingkat dasar.

      Level N3 ditujukan untuk mereka yang berada di level intermediate, dengan perkiraan jam belajar mencapai 300 jam. Adapun jumlah kanji yang diujikan antara 200-300 kanji, ±1500 kosa kata, dengan level listening di tingkat intermediate.

      Level N2 untuk mereka yang jam terbangnya kira-kira mencapai 600 jam belajar bahasa Jepang (level intermediate). Jumlah kanji yang diujikan kira-kira 1000 kanji, 6000 kosa kata, dan listening level intermediate.

      Level N1 adalah yang tersulit karena ditujukan untuk mereka yang sudah berada di tingkatan advance dengan jam belajar kurang lebih 900 jam. Kanji yang diujikan mencapai 2000-an dan 10000-an kosa kata. Menurut informasi, tidak semua dosen bahasa Jepang lulus tahap N1 ini, sehingga bisa dibayangkan bukan betapa sulitnya level ini.

      Namun sejak tahun 2010 hingga kini, JLPT terdiri dari 5 tingkatan level, yaitu N1, N2, N3, N4, dan N5; dimana N1 merupakan level tersulit dan N5 adalah level termudah. Apa saja perbedaan antara JLPT terbaru dengan versi sebelumnya? Dan seperti apa sih prosedur untuk mengikuti JLPT ini? Tunggu tulisan selanjutnya ya.




      ***


      Baca juga:

      Ngobrol Santai tentang JLPT (Japan Language Proviciency Test) Yuk! (1)
      Ngobrol Santai tentang JLPT (Japan Language Proviciency Test) Yuk! (2-end)
×
×
  • Create New...