fallout

Rumput Di Chengdu di Cat Semprot Hijau

10 posts in this topic

Ini agak unik nih....saya baru tau ternyata di Kota Chengdu rumputnya lebih hijau. Ini bukan karena lebih segar atau apa ya...tapi ini karena di semprot seperti cairan pewarna hijau gitu.

 

China-green-grass_2499021b.jpg

 

Baru denger kan ada yang sampe begini. Kira2 bakal di tiru di Jakarta ga ya :D . Di sana kan rumputnya rada coklat gitu.

Nama bahan kimia yang mereka pakai, Top Green Turf Greening Agent. Banyak orang yang komplain karena menurut mereka ini bakal mencemari lingkungan. Tapi menurut yang membuat kimia ini dan si penjual, cat ini enggak berbahaya karena ini hanya pewarna aja. Kata mereka juga, mereka sudah menjual pewarna ini ke kota Chengdu selama 5-6 tahun. Tapi mereka juga menjual ke kota lain seperti Tianjin dan kota2 di utara barat. Mereka juga jual ke lapangan golf.

 

Menurut Top Green, pewarna ini akan bertahan selama 10-14 minggu dan juga akan menhijaukan tanah, dan warnanya tidak akan hilang kalo ujan.

Tapi menurut warga di sana, kalo mereka berjalan di rumput itu, sepatu mereka akan jadi hijau :lol:

 

grass_2499043c.jpg

 

Pemerintah kota situ juga bilang itu sebenarnya cairan nutrisi agar rumput bisa tetap hidup pas musim dingin. Tapi anehnya menurut yang buat Top Green, dalam cairan pewarna itu ga ada cairan nutrisi :lol: ...haha bisa gitu ya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wwwowwwwwwww.........

unik juga ya beritanya :)

kenapa g disemprot warna warni aja yaa.........hahaahahaa

 

haha...itu sih udah di pake di charlie n the chocolate factory.

Share this post


Link to post
Share on other sites

ckckck, itu cat tahan 10 minggu, kalau rumputnya tahan berapa lama ya kena cat? trus salah satu petugas yg nyemprot ada yg pakai masker. apa cat itu berbahaya kalau terhirup? 

Share this post


Link to post
Share on other sites

ckckck, itu cat tahan 10 minggu, kalau rumputnya tahan berapa lama ya kena cat? trus salah satu petugas yg nyemprot ada yg pakai masker. apa cat itu berbahaya kalau terhirup? 

 

bisa bikin paru2 hijau..haha

kayaknya sih sama kaya spray paint yang di kaleng itu. kalo bahaya atau enggak pasti di tutupin sama pemerintah.

Share this post


Link to post
Share on other sites

yaelah hahahahaha apa tujuannya, kenapa harus diwarnain gitu ya, yang namnya rumput emang harus hijau banget apa ya hahaha yang namanya bahan kimia gini pasti bahaya kalau kena manusia, ada-ada aja

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalau menurut saya hijaunya alami lebih bagus ya, go green kan tidak harus memakai pewarna atau sejenis apapun :)

 

iya alami emang lebih bagus. tapi mungkin karena polusi rumputnya ga bisa hijau banget kali ya.

 

yaelah hahahahaha apa tujuannya, kenapa harus diwarnain gitu ya, yang namnya rumput emang harus hijau banget apa ya hahaha yang namanya bahan kimia gini pasti bahaya kalau kena manusia, ada-ada aja

 

kalo wisatawan ngeliat pasti pikir rumputnya bagus banget hijaunya...tapi dibalik itu....

 

baru tahu juga, kalau ada rumput yang warnanya coklat...kebanyakan warna rumput bukannya memang hijau ya :D

 

haha..bukan rumput coklat sis..saya hanya being sarcastic, maksudnya ga ada rumput cuma tanah karena rumputnya pada mati :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Ahook_
      Mei 2017.
      Nah selama 3 hari 2 malam di Chengdu, aku main ke beberapa tempat yang menurutku prioritas deh. Dengan waktu sesingkat itu, sebenarnya kurang puas untuk mengeksplore satu kota. Tapi ya sudahlah, manfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin.

      Kota Chendgu yang rapi, bersih dan tertata. 
      Setelah checked in di Mrs. Panda Hostel ( bisa baca disini ), hal pertama yang aku lakukan adalah cari makan. Erhmm.. kan 3 hari kemaren, sejak hari pertama naik kereta dari Lhasa, bisa dikatakan belum makan. Yalah, cuma biskuit dan pop mie sehari sekali saja. Bisa baca disini.

      Banyak sekali atraksi dari anak muda Chengdu..
      Dari hotel, aku jalan kaki ke arah Hong Xin Road, sekitar 20 menit jalan kaki. Okey disini, menjadi pusat keramaian. Anak mudanya banyak. Mall bergengsi. Restoran banyak bertebaran. Tempat shopping kelas atas. Dan jika sudah ada di Chengdu, makanan yang wajin dicoba adalah hot pot-nya.

      Makan Hot Pot//
      Aku makan di Wonderful Hot Pot di Mall Silver. Bayar 68 CNY per orang. Makan sepuasnya. Semacam Hanamasa kalau di Indonesia. Buat lidahku, kurang cocok. Ya gak salah sih kalau untuk mencobanya. Banyak restoran yang menawarkan hot pot. Aku lihat sih, harganya hampir sama.
      Entah dimana saja, pasti ramai. Orang lalu lalang. Ya, anak- anak muda Cina, yang katanya kaya- kaya itu. Pas aku disana, sedang ada pre-event untuk satu acara dari salah satu radio terkenal di Cina. Siapapun, boleh ikutan event itu. Buat sekedar berfoto dan sebagainya.

      Artinya, aku sedang berada di Chengdu...
      Panda sebagai icon kota Chengdu, jelas terlihat dipusat keramaian tersebut. Ada panda besar yang berdiri ditengah dan ada satu panda yang sedang memanjat keatas gedung, yang kelihatan hanya pantat pandanya saja. Mau kesini sih gampang banget, ada Metro line. Kawasan ini ternyata besar sekali. Dan keramaiannya merata disetiap sudut jalan. Aku sendiri, eksplor sampai setiap jalanannya. Hahahaha…
       

      Panda sedang memanjat..
      Yang tidak boleh dilewatkan adalah melihat panda aslinya di Giant Panda Research yang berjarak 30 menit perjalanan dari hostel ini. Kamu bisa pergi sendiri naik bus, seharusnya. Tapi karena dari pihak hostel ada penawaran harga bagus, aku pakai jasa dari mereka saja. Sudah termasuk transport pulang pergi dan tiket masuk. Aku bayar 120 CNY per orang. Karena rasa letih dan lelah yang masih terasa dari sisa perjalanan di Tibet dan perjalanan 44 jam naik kereta api tersebut. Harga asli tiket masuk per orang 60 CNY. Paket yang ditawarkan itu adalah paket setengah hari. Jadi jam 11 siang sudah jalan pulang lagi ke hostel.
       

      Turis sedang antri mobil, aku pilih jalan kaki... di dalam Giant Panda Research..
      Betul kata pihak hostel, untuk kunjungi panda, waktu yang cocok adalah pagi hari. Kalau bisa lebih pagi kesana. Biar bisa melihat panda- panda itu sarapan pagi. Sarapan? Iya, sarapannya, bambu. Kalau sudah lewat jam makannya, panda – panda itu kebanyakan sudah tidur, sudah malas- malasan.
       

      Sedang sarapan..
      Aduh, sumpah, ngakak lihat panda – panda itu bertingkah. Setelah kenyang makan, mereka itu ya, sebelum bermalasan tidur- tiduran, mereka itu main dulu. Saling ganggu satu dengan lainnya. Ada saja tingkah panda yang buat ngakat pengunjung pagi itu. Malahan ya, yang paling buat tertawa geli ketika 2 ekor panda saling mesra- mesraan, manja-manjaan, saling mengganggu. Jangan lupa, ambil peta lokasi Giant Panda Research.
       

      Sedang bermesraan..
      Setelah diantar pulang ke hostel, waktu sudah menunjukkan jam 11.30. Manfaatkan wifi hostel untuk mencari informasi tempat yang bisa dikunjungi setengah hari dan berada ditengah kota. Dengan catatan, ada akses mudah menuju ke sana.
       

      Suasana di dalam Jin Li Street.
      Pilihannya adalah Jinli Street. Kawasan belanja yang ramai turis lokal maupun asing itu boleh kamu kunjungi. Yang aku suka kawasan ini, bangunannya yang masih kental dengan nuansa Cina jaman dulu. Sepanjang kawasan tersebut, yang ditawarkan sudah pasti restoran, jajanan, jual souvenir, ada taman dan arsitektur bangunannya yang menarik mata.
       

      Jin Li Street.
      Dari hostel, jalan kaki ke Bin Jiang Street, cari bus stop, tunggu bus no.182. Bayar 2 CNY per orang, kamu akan langsung diantar sampai didepan Wu Hou Temple. Loh kok Wu Hou Temple? Jinli Street tepat berada disebelahnya vihara ini. Jadi sekali dayung 2 pulau terlampui, begitulah kira- kira. Jalan – jalan di kawasan Jinli Street, mungkin bisa habiskan waktu minimum 2 jam kali ya. Atau bisa lebih buat kamu yang betah keliling. Kawasan ini luas sekali. Aku sempat coba makan mie lokal Chengdu. Entahlah, lidahku, untuk mie ini juga kurang cocok. Kalau coba juice mangga sih aku suka.
       

      Jin Li Street.
      Sedangkan untuk Wu Hou Temple, kalau kamu mau masuk, harus bayar 60 CNY per orang. Komplek ini sangat luas. Lebih tepatnya, tempat ini semacam museum sih, menurutku. Kuil ini dibangun untuk menghormati Zhu Ge Liang, seorang Perdana Menteri dan Penasihat terkemuka di era Kaisar Liu Bei pendiri kerajaan Shu.
       
       

      Wu Hou Temple.
      Sebelum menginggalkan Chengdu dihari terakhir, aku putuskan untuk kunjungi Le Shan Ta Fo – Giant Buddha yang terletak di kota Le Shan, 2 jam perjalanan naik bus dari Chengdu. Tinggal ngesot saja ke sebelah hostel, terminal bus antar kota. Beli tiket dilantai 2. Bayar 53 CNY per orang. Kebetulan waktu itu, jam-nya pas. Tidak perlu tunggu lama, bus tipe minivan isi 6 orang langsung berangkat ke Le Shan.
      Pagi itu, hujan deras melanda kota Chengdu hingga Le Shan. Untungnya, ketika sudah tiba di Le Shan Ta Fo, hujan berhenti. Oh ya, kalau mau kesini, ada baiknya kamu cari bus yang langsung dari Chengdu ke Le Shan Ta Fo, jangan naik bus yang cuma sampai ke terminal Le Shan saja. Kamu harus naik bus umum lagi ke Le Shan Ta Fo. Repot.
      Aku diturunkan dipinggir jalan, sudah dikawasan Giant Buddha. Aku sih kemaren tidak baca review-an tentang cara ke Giant Buddha. Dari pengalamanan aku ini, aku cerita deh. Supir minivan itu akan minta kamu pindah ke mobil kecil. Kamu akan diantar sampai di dekat pintu masuk utama. Ini tumpangan gratis.
      Begitu turun, kamu akan langsung ditawarkan tiket pulang ke Chengdu. Mereka akan bilang, bus ada jam 3, jam 4 dan jam 5. Tergantung kamu keluar jam berapa, bus jam berapa-pun boleh kamu naik. Nah, disini, sebenarnya tidak perlu. Maksudnya tidak perlu ikut naik mobil gratis tersebut ke atas.

      Giant Buddha.. view dari samping tangga. Foto diambil, sembari tangan gemetaran...
      Karena, kamu tinggal jalan kaki saja beberapa saja ke arah atas, sudah ketemu pintu masuk ke Giant Buddha. Kalau kamu ikut naik tumpangan gratis itu seperti aku, bisa juga. Tapi dari pintu masuk utama itu, harga tiketnya jadi mahal, bayar 80 CNY + 90 CNY = 170 CNY per orang. Dimana 80 CNY untuk melihat objek wisata lainnya, baru kemudian yang tiket 90 CNY khusus untuk masuk ke kawasan Giant Buddha.
      Nah, karena tujuanku memang ke Giant Buddha, ngapain bayar esktra 80 CNY. Karena tidak bayar tiket yang 80 CNY, tidak bisa masuk dari pintu utama sini. Jadi, jalan kaki turun lagi kebawah sekitar 1,5 KM sampai dipintu masuk khusus ke Giant Buddha. Pahamkan maksudku tadi, untuk apa ikut tumpangan gratis itu ke atas? Toh kamu harus jalan kaki turun ke bawah lagi. Kecuali kamu memang mau eksplore dari objek wisata yang ditawarkan dari pintu masuk utama tadi.

      Antri untuk turun ke bawah...
      Tidak perlu khawatir soal beli tiket pulang balik ke Chengdu, dekat pintu masuk maupun pintu keluar timur dari Giant Buddha, banyak kok yang tawarin tiket bus pulang. Harganya sih aku tidak tahu berapa, tapi aku beli sama yang menawarkan tiket pas turun dari mobil tumpangan diatas, bayar 50 CNY.
      Mau ke Le Shan Giant Buddha, ada baiknya datang lebih pagi. Biar tidak terburu- buru dan bisa lebih menikmati. Antrian untuk turun ke bawah melihat secara utuh Giant Buddha itu butuh waktu 1 jam loh. Belum lagi kamu harus naik mendaki ( pakai tangga ), tetap butuh waktu kan?

      Tangga turun ke bawah...
      Aku sendiri, datangnya sudah siang. Dan harus berburu waktu karena mau kejar pesawat malam buat pulang. Jadinya, aku seadanya saja. Ikutan antri turun kebawah. Selebihnya, pemandangan dan objek lainnya, aku sudah tidak menikmatinya lagi.
       

      Akhirnya, di bawah juga.... 
      Sudah sampai disini, ya wajib turun-lah. Le Shan Ta Fo, kerap dijadikan tempat syuting film Cina. Aku sendiri tertarik kesini, juga karena rekomendasi dari film yang aku tonton. 
      Kamu juga bisa ambil paket kapal yang akan membawamu keliling, pastinya, melihat Giant Buddha lebih dekat lagi, tapi tidak bisa turun dan mendekat ke Giant Buddha-nya. Hanya boleh di kapal saja.
      Puas? Tidak … Masih banyak tempat lain yang bisa dikunjungi. Keterbatasan waktu memang menyebalkan. Hahahah… Mungkin, suatu hari lagi, jika punya kesempatan, aku akan balik ke Chengdu.
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
    • By Ahook_
      Tanggal 13 Mei 2017.

      Dari Lhasa berpindah ke Chengdu lewat jalur darat dengan menumpang kereta api yang menempuh 44 jam perjalanan. Bisa baca disini.

      Kemaren itu, aku juga sempat galau, ingin lebih cepat sampai di Chengdu dengan memakai pesawat terbang agar bisa nyambung ke Jiu Zhai Guo. Setelah pikir, kalau mau mencoba jalur kereta api Lhasa ke Chengdu di lain kesempatan, tentu akan sangat sulit lagi. Karena, bagiku, trip ke Tibet, cukup sekali dalam seumur hidup deh. Karena itu, aku baru beli tiket kereta api Lhasa – Chengdu 1 minggu sebelum berangkat dari Jakarta.

      Aku menghabiskan 2 malam 3 hari di Chengdu dari sisa perjalanan yang aku mulai dari Bali ke Nepal kemudian Tibet. Entahlah, entah cukup atau tidak 3 hari itu. Yang jelas, aku maksimalkan 3 hari itu di Chengdu, notabene adalah ibukota dari provinsi Si Chuan. Sebenarnya ya, kota Chengdu itu diluar dari ekpektasi aku, diluar dari dugaanku. Yang menurutku sih hanya sebuah kota kecil saja, ternyata, yang ada malah lebih dari sebuah kota modern.

      2 malam di Chengdu, aku nginap di Mrs. Panda Hostel, yang terletak di Lin Jiang Middle Road. Aku pesan via agoda.com seperti biasanya, dan baru aku pesan dihari terakhir aku di Lhasa, Tibet. Keputusan untuk nginap disini boleh dikatakan sangat tepat. Letaknya yang strategis, dekat banget dengan stasiun bus Xin Nan Men dan Metro Line Xin Nan Men. Jalan kaki sekitar 5 sampai 10 menitan. Tetanggaan doang.

      Kalau mau ke Jinli Street atau ke Wu Hou temple, bus stop 182 juga dekat kok. Tidak perlu pindah bus, langsung sampai ditujuan. Paling penting adalah ketika harus ke airport, tinggal jalan kaki saja, sekitar 20 menitan lah. Kamu bisa dapatkan petunjuk arah ini di mading hostel.

      Aku bayar Rp 338.231,- untuk 2 malam di Mrs. Panda Hostel, private room dengan kamar mandi diluar. Tidak ada sarapan pagi, ada AC, Wifi yang kadang lancar, kadang lemot, padahal mereka ada beberapa ID. Ada air minum gratis. Staffnya, erhm… cewe- cewe kece sih, kebanyakan sih ramah, kecuali ada 1, ntah bosnya atau managernya, bukan tidak ramah, tapi agak jutek kelihatannya. Bisa Bahasa Inggris. Hostel ini, banyak bule dan orang Jepang. Beberapa turis lokal dari kota lain juga ada. Tempatnya sih adem,  nyaman dan bersih. Okey-lah. Tempat nongkrongnya juga ada, santai banget. Seperti biasa, setelah check out, kamu boleh titip tas kamu. 

      Aku kalau ada kesempatan ke Chengdu, aku akan balik nginap disini saja. Mau kemana – mana gampang dan dekat, termasuk ke shopping center, pusat keramaian di Chengdu. Jalan kaki sekitar 20 menit atau kamu bisa naik Metro Line, 1 kali stop saja.
      With Love,
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia---
       
       
    • By Ahook_
      Tanggal 4 Mei 2017.
      Aku sengaja naik kereta api ke Chengdu dari Lhasa. Perjalanan yang ditempuh sekitar 46 jam – an itu menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Terlebih ketika kereta baru mulai melaju sampai ketika kereta masih berada diatas ketinggian 2.000 m.
      Aku sempat ragu untuk mengambil rute ini, bukan karena lamanya perjalanan, lebih kepada banyaknya review yang mengatakan, semacam neraka saat ingin ke toilet. Iyalah, sepanjang 46 jam itu, yang menghabiskan 2 malam 3 hari, sudah pasti harus bolak- balik ke toilet. Kita tahu sama tahu saja, bagaimana prilaku orang lokal terhadap kebersihan yang satu ini. Nilainya NOL BESAR.

      Pemandangan sepanjang perjalanan.
      Sungguh disayangkan, Cina begitu hebat dalam hal apapun, tapi kalah telak tentang kebersihan toilet. Sudah menjadi rahasia umum, jika kamu akan mendapatkan zonk besar ketika masuk ke toilet. Aroma yang super menyengat akan menyambutmu. Dimanapun itu, termasuk sepanjang trip aku di Tibet, beberapa kali mendapatkan zonk yang tidak bisa dihindari. Karena itu, lebih baik carilah toilet alam. Itu lebih manusiawi.
      Rasa keingintahuan aku lebih besar dibandingkan dengan keraguan dan kekhawatiran akan joroknya isi toilet didalam kereta. Masa bodoh-lah. Akhirnya seminggu sebelum berangkat dari Jakarta, aku menghubungi travel agent yang mengurus perjalananku selama di Tibet, untuk membantuku membeli tiket kereta. Kenapa tidak beli online sendiri saja?
      Ya, kamu bisa online kok. Kemaren itu, waktu sudah mepet, terus jika beli online, kamu tidak bisa pilih tempat tidur. Artinya, itu secara sistem akan menentukan. Nasib baik saja, jika kamu bisa menempati bagian bawah. Kenapa harus bawah? Jelas, bagian bawah itu lebih leluasa, lebih lega, punya jendela besar, colokan listrik juga dekat dan tidak perlu memanjat.
      Setahu aku, ada pilihan untuk 4 orang dan untuk 6 orang, baik soft sleeper maupun hard sleeper, kemudian ada pilihan tempat duduk juga. Bayangi saja sendiri, kalau harus duduk selama 46 jam. Aku sendiri pilih 1 kamar isi 4 orang. Dan berdoa sekuat tenaga supaya tidak sekamar dengan orang lokal, hahaha… takut saja, kalau dia tiba- tiba bisa kencing atau eek dalam kamar. Mati gak loe kalau sampai seperti itu? Berempat juga tidak terlalu berisik jika memang harus sekamar dengan mereka. 
      Karena bantuan travel agent, aku pastikan mereka untuk membeli tiket tempat duduk bagian bawah. Bantuan itu bukan tanpa pamrih, harga tiket keretaku lebih mahal dibandingkan dengan jika beli secara online. Ya sudahlah.
      Ketika baru memasuki ruang tunggu, ya ampun, satu ruangan penuh isinya penduduk lokal, sebagian besar dari mereka adalah dari kampung gitu. Dari cara berpakaian kan bisa ditebak. Alamak, semoga saja selama 46 jam itu, aku tidak mendapatkan pengalaman seperti yang banyak orang alami.
      Kereta berangkat jam 18.20 waktu setempat, jam 17.45, penumpang baru dipersilahkan masuk ke kereta. Deg- deg- an menemaniku mencari gerbong dan nomor kamar yang tertera ditiket. Okey, interior-nya okey, bersih, tidak bau, ada wastafel, ada colokan listrik, TIDAK ADA WIFI. Disediakan air minum, aku sih bilang bersih, ada air panasnya juga.

      Tempat aku menghabiskan 44 jam selama perjalanan.
      Setelah taruh tas, hal pertama yang aku lakukan selanjutnya adalah periksa toilet. Halah… belum dibuka. Selama kereta tidak jalan, toilet tidak boleh digunakan. Kemudian, aku menanti datangnya teman sekamar lainnya, sisa 2 orang yang menempati bagian atas. Tidak muncul- muncul juga sampai kereta jalan. Yiha… artinya, malam pertama bebas. Tidur bisa nyenyak dan khawatir hal- hal aneh akan terjadi.
      Baru setelah hari kedua, entah dari stasiun mana dari kota apa, naiklah satu mama muda bawa anaknya yang berumur sekitar 3 tahun, ketok- ketok pintu. Yups, mereka menempati tempat tidur bagian atas. Pikiranku mulai kacau, mampus, bawa anak kecil lagi. Bisa- bisa, emaknya suruh anaknya pipis saja di kamar. Ya, gimana dong, sudah terlanjur baca review negatif, wajar dong kalau aku sampai parno sebegitunya.
      Dari mereka naik, menjadi teman sekamar, hingga mereka turun entah di stasiun apa keesokan harinya, tidak terjadi satu hal aneh apapun. Mereka lebih banyak berada diluar kamar, makan juga diluar, ngobrol dengan orang lokal lainnya. Mama muda ini lumayan bersih, ya, sopan juga, beretika baik. Entah mungkin dia malu karena sekamar dengan turis atau entah apa, atau mungkin dia pembawaannya seperti itu, bersih dan berbeda dengan teman- teman senegaranya.

      Koridor, bisa duduk santai menikmati pemandangan..
      Dari Lhasa, kereta berangkat tepat jam 18.20, kemudian aku harus transit di stasiun Xi Ning, bagi yang ingin melanjutkan perjalanan, kalau aku jelas, ke Chengdu. Pindah kereta, gerbong dan nomor kamar juga tetap sama seperti tiket yang telah dibeli. Jadi tidak perlu rebutan. Aku pindah kereta tepat setelah 21 jam perjalanan dari Lhasa.
      Selama perjalanan, kereta berhenti dibeberapa stasiun untuk menurunkan penumpang dan ambil penumpang baru lagi. Setelah mama muda itu turun, tidak berapa lama, naiklah satu anak muda tanpa bawa apapun.

      Ya inilah...
      Karena khawatir toiletnya banyak zonk, aku hanya banyak minum, makan pop mie dan ngemil biskuit. Tidak berani beli nasi yang dijual di kereta, pedas semua. Kalau sampai sakit perut, bisa berabe. Kalau cuma kencing saja, ya sudahlah, paling tahan napas, jangan lihat ke bawah.
      Tentang zonk yang ada di toilet, bahkan ada yang bahas, dia menemukan banyaknya zonk bertebaran diluar toilet, kenapa? Mungkin karena tidak tahan lagi, didalam toilet masih ada orang, mau tidak mau, ya eek diluar toilet. Kebayang gak sih kamu? Ini cerita orang.

      Pintu kedua, toilet.
      Yang aku alami,
      Bersyukur banget, semuanya tidak separah itu. Mendapati teman sekamar yang bersih dan tidak berisik, anaknya juga tidak rewel, tidak kencing sembarangan, tidak  buang sampah sembarangan. Toiletnya juga tidak seperti yang dialami traveler lainnya.
      Memang, ada toilet yang baunya minta ampun, tapi tidak ada zonk, ada toilet yang ada zonk-nya, tapi bukan dalam jumlah yang luar biasa, semacam muncratan atau sisa-an karena flush-nya tidak berfungsi dengan baik. Kayak seperti flush di toilet pesawat gitu. Ada juga toilet yang tidak bau dan tidak ada zonk-nya sama sekali. Jadi aku bilang, aku cukup beruntung selama 46 jam perjalanan dari Lhasa ke Chengdu dengan menumpang kereta api. Tidak ada pengalamanan seseram itu, tidak ada zonk diluar toilet. Bisa tidur nyenyak 2 malam berturut- turut, bisa kerjakan laporan dan bisa menulis artikel seperti sekarang ini.
      Cina itu hebat,
      Entah sudah berapa puluh kali kereta ini melewati terowongan, artinya, entah sudah berapa puluh kali kereta ini menembus gunung. Mereka sanggup membuat perjalanan ini menjadi perjalanan tidak terlupakan. Tidak heran, kenapa banyak traveler yang bilang, tidak salahnya untuk mencoba rute ini. Karena memang, semuanya telah diperhatikan dengan baik oleh pemerintah. Dari view yang akan disuguhkan, dari tata letak kamar tidurnya dengan desain jendelanya yang bisa mendapatkan pemandangan alam semesta yang indahnya sudah tidak bisa tertandingi lagi.

      Pemandangan sepanjang perjalanan.
      Aku,
      Puas banget dengan keputusanku mengambil rute ini. Pengalaman sekali dalam seumur hidup. Cukup sekali dalam seumur hidupku. Harga tiket kereta lebih mahal dari tiket pesawat Lhasa – Chengdu. Tapi pengalamannya, apa yang didapatkannya, jauh berbeda antara naik kereta dengan naik pesawat. Sama seperti, ketika dari Kathmandu, Nepal ke Lhasa, pengalaman itu juga cukup sekali dalam seumur hidupku. Pemandangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata- kata ketika pilot menurunkan secara perlahan pesawat sampai berada sekitar 2000 m diatas pegunungnan Himalaya. Memang, ketika itu, tidak terlalu jelas, karena sebagian besar gugusan gunung Himalaya tertutup awan tebal. Tapi, kami semua, semua penumpang pesawat itu, bisa melihat dari dekat, puncak Everest.
      Darahku berdesir kencang, senang, seru dan tegang bercampur aduk menjadi satu. Kebayang, pesawat diturunkan secara perlahan, badan pesawat terasa sekali diguncang angin. Sambil jeprat- jepret, doa juga terus dipanjatkan. Hahahah…
      Begitu juga, saat pesawat mulai meninggalkan gugusan gunung tertinggi didunia itu dan mulai terbang naik ke ketinggian normal, apa yang didapatkan tidak kalah dengan pemandangan dari Himalaya. Terlebih lagi, ketika mulai memasuki wilayah Tibet, sungguh luar biasa Tuhan, sungguh tiada ada tandingan-Nya lagi. Tuhan sungguh maha besar. Tuhan, Sang Pencipta.
      Aku semakin tegang, saat pilot mengumumkan kalau pesawat akan segara mendarat di Lhasa. Serius, aku tegang. Biasanya kan kalau sudah diumumkan demikian, ya pesawat tinggal ambil posisi lurus dan semakin menurun. Ini tidak….
      Pesawat harus manuver dulu, pesawat dimiringkan dulu ke kiri, terus ke kanan, ya kek gitu, untuk menghindari gunung – gunung yang mengelilingi Lhasa, ya baru kemudian perlahan turun sambil badan pesawat masih dimiringkan sesuai dengan lapangan yang ada. Hingga pada akhirnya, badan pesawat benar- benar dalam posisi lurus ( entahlah, kalau istilah penerbangannya apa ), baru kemudian pesawat mendarat dengan sempurna, dengan panjang runway yang tidak seberapa itu.

      Pemandangan sepanjang perjalanan.
      Dengan demikian,
      Jalur penerbangan dari Kathmandu ke Lhasa yang diyakini sebagai penerbangan tercantik didunia dan jalur darat kereta api dari Lhasa ke Chengdu yang diyakini menjadi jalur kereta api yang menyuguhkan pemandangan alam super indah dan sebagai jalur kereta api tertinggi didunia hingga saat ini, aku telah mengalaminya. Ya, sekali lagi, cukup sekali dalam seumur hidupku. Jika punya kesempatan kedua, berarti bonus.

      Pemandangan barisan Himalaya, dari atas pesawat dari Kathmandu ke Lhasa, 
      Dan,
      Ternyata, aku sampai di Chengdu 2 jam lebih cepat dari jadwal. Artinya, hanya 44 jam saja dari Lhasa ke Chengdu. Setelah melewati beberapa gerbong kereta saat mau keluar, aku baru sadar, orang- orang yang aku temui ketika masih di ruang tunggu di Lhasa Railway Station itu ada digerbong yang pakai tempat duduk atau 4/6 hard sleeper. Itulah sebabnya, apa yang sering aku baca tentang zonk itu tidak aku alami separah itu. Karena tidak satu gerbong bareng mereka.
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By mariakuntarti
      Mengikuti jejak Ko Acong  maka perjalanan tahun ini di jadualkan ke Chengdu..di bulan November  8 -16,2016
      Tiket Air Asia Jakarta - Chendu PP Rp 2.933.000/orang + makan 2 kali (pp) + asuransi + bagasi pulang 20 kg menjadi = Rp 3.612.000
      tgl 8 selasa day 1 dimulai dari jakarta menuju ke KL naik AA dan bermalam dibandara
      tgl 9 rabu day 2 jam 9.15 naik pesawat dr KL ke bandara Shuangliu di Chendu..pertualangan dimulai..
      Dari  dibandara aku naik bus nomor  line 1 dari terminal 1 menuju dalam kota sampai pemberhentian terakhir yaitu halte Minshan Hotel
      seharga Y10 menuju ke Chengdu Mrs Panda Hostel harga permalam Y 138 ( akan diceritakan  tersendiri).
      Untuk rute bus bandara bisa dilihat di link ini https://www.travelchinaguide.com/cityguides/sichuan/chengdu/airport.htm
      Dari Halte Minshan Hotel cukup jalan kaki aja ke hostel. Chengdu adalah kota yang bersih dengan trotoar yang lebar dan nyaman.
      Sampai dihostel aku segera check in , tarif permalam Y138 karena aku booking dua malam total jadi Y276 + deposit Y100 ( checkout uang dikembalikan )dan dapat peta wisata gratis kota Chengdu. Setelah menyimpan barang dikamar aku langsung ke stasiun bus  Xinnanmen dengan berjalan kaki karena stasiunnya terletak disamping hotel +/- 50 meter jalan kaki. ( link https://www.travelchinaguide.com/cityguides/sichuan/chengdu/xinnanmen-station.htm )
      untuk membeli tiket bus ke Leshan Giant Budha ( bus jam 7 tgl 10 ) seharga Y 51,
      Note : Sebaiknya tiket bus dibeli sehari sebelum keberangkatan.
      Setelah semua urusan tiket selesai , aku jalan-jalan di area sekitar hotel saja karena udara yang dingin sekalian cari makan malam
      pengeluaran hari 2 : bus bandara             Y 10
                                       Hotel 2 malam           Y 276 kamar twin sharing perorang jadi Y 138
                                       tiket bus ke Leshan   Y 51
                                       makan                        Y 19
                                       beli air minum 1.5 liter Y 3.5
        Total                                                            Y  221.5
       
       
       
       
       
                                                                 

    • By ko Acong

      MASIH INGAT KAN DENGAN CERITA PENDEKAR Sin Tiao Hiap lu  /PENDEKAR RAJAWALI
      dari Gunung Goby /Omei/kini Emei Shan
      Emei Shan Adalah  salah satu gunung Terkenal Di Chengdu Selatan (+180 km)
      ke Emeisan Bisa Langsung Dari Bandara Atao Dari Chengdu Stasiun Pake CRH  Ke Emeisan Melalui STT Chengdu Selatan   74/61 yuan
      Lanjut Ganti Pake bus no 5A dan 8Menuju Baoguo STT Bus kurleb 5 yuan
       Lanjut  bus Pariwisata taman 85 Yuan PP
       Bisa Juga Langsung Jos Dari terminal Xian Nanmen bus STT  Kurleb 51 yuan 3 jam sampe Sampai Di XiaoBa Stt Bus Lanjut  Menuju STT bus Baogou  
      Lanjut Bus Taman pintu Masuk85 yuan  Batas Midle gunung
      lanjut naik Gondola Yang lumayan Ektreem Sekali angkut 150 Orang Berbayar 120 yuan  turun dan naiknya
      Dan turun di STT  Gondola ,,,,,Kita jalan Kaki Yang Lumayan Memeras Tenaga dengan Ektra ,  Kira kira  5 km dengan Jalan Setapak yang telah Di bikin tanga tangga, yang lumayan Curam  Menuju Puncak Golden Summitnya ,   
      Namun Pemandangan Di ketinggian Lebih Dari 3ribuan Km itu saaaangaaaaat Indah
      Dan Dilanjut lah Menuju temple,  satu persatu Seperti wan Nian Fo,  tempat para pendekar  silat Wanita Dari   gunung Goby  dan Temple2 Lainya
      sampe titik ketinggian tertinggi.,   disinilah kita sangat takjub , dengan penampakan bangunan berlapis emas  ,  yang sangat MEGAH.   dengan diselingi awan saling bergantian melewati muka  kita .. sementara kita bener2 berada di negri atas awan .  
      Puncak Yuen Ching / GOLDEN SUMMIT 
      Catt , Paling Pas Kunjungannya Di satu paket kan dengan Ke leshan Big Buddha  2 D 1 n 
      Durasi Trip  Emei Shan , Dari Kaki Gunung Emei  sekitar 8 sampai 10 jam
       Sebaiknya jam 7 pagi sudah Start dari kaki gunung emei
      Nginap di kota Baogou kaki gunung Emei Sangat Indah Dan Rame
       Pesta Makanan /Kulineran Vegetarian
      segala jenis Sayuran Yang Segar ,/ aneka kacang2 rebus ., jagung rebus yang legit rasa ketan,/ aneka buah buahan segar baru metik darik pohon

       























    • By ko Acong
      Terima kasih Kepada TUHAN  YME
      Sbb
      Berawal racun keindahan Kutebar ,tentang desa kecil 9 paqngeran Naga,   diujung perbatasan Kaki gunging HIMALAYA, Jiuzhaigou … idaman para kepala Negara seluruh dunia tuk mengunjunginya .
       
      Maka terbentuk lah Grup goes to Chengdu.   yang Di motori juga oleh Ibu Elinar Heryawan,  Ketua TMC
      Dan terkumpulah, lebih dari 2 puluhan peserta  dari multi komunitas ,  CC .Hargiyanto Aja dan Kawan2 di BI  . dengan Sistim Share Cosh Murni
      Tanpa ada uang ditransfer Serupiah pun , untuk keperluan tiket pesawat/ hotel dll Semua bayar masing2 baik tiket , maupun selama di tiongkok.   dan kita semua WAJIB kerja sama , tidak ada pelayanan sedikitpun  (walo memang ada saling bantu biking tiket pesawat namun itu membantu sesame teman dekat dan saya tau itu tanpa fee dan UP harga
       
      Puji Syukur Terhadap TUHAN yang maha esa 
      Trip ini Berjalan Sukses ,  dengan ending penuh kekeluargaan,  dan canda tawa .   walo ada trobel 1 peserta,  terserang AMS .   karena ketidak tahuannya ada penyakit bawaan ,  yaitu Jantung (jadi kurang diantisipasi)   beruntung UGD local,  berhasil menanganinya,   walo pasien Harus keluar dana ektra tak terduga  , namun Kami semua juga gotong royong membantu,  sebagian dana silkulir,  untuk meringankan beban , teman trip kita .   indahnya berbagi,  sangat terlihat pada momen ini,  dengan tanpa Pamrih tentunya
      Demi untuk melihat Ciptaannya yang Indah,   dan Agung . Kami rela menempuh perjalanan,  lintas Negara ribuan mile ,  dan lintas darat Ribuan KM,   juga tenaga ektra tuk Hiking puluhan KM .   serta Tal Lupa jalan kaki  puluhan Km , Untuk demi SHOPING  kegemaran BUIBU 
       
      Tapi Endingnya semua Enjoy
      Semoga Kita Masih terus diberikan kesehatan untuk Ekplor ke indahan lainnya
       











       
















      Tentang Bagaimana Cara Kesana  Silahkan Di sini Jalan2.com tempat semua Bertanya jangan Sungkan silahkan bila ada yang mau kesana
    • By benny.wijaya
      Hi all,
       
      Saya rencana mau backpacking/flashpacking ke China, lebih tepatnya ke Chengdu ibukota provinsi Sichuan. Bagi yang belum ada gambaran tempat ini seperti apa, saya kasih bocoran sedikit.
       
      Chengdu merupakan tempat di China yang sedikit mendapat sinar matahari, artinya tempat ini cukup dingin dan tak heran makanan disini mostly pedas semisal makanan hotpot. Udah kebayang enaknya street food disana. Slurrrppp...
       
      Untuk objek wisata alam tidak perlu diragukan lagi. Kita bisa mengunjungi danau 9 warna di Jiuzhaigou (Jiu = sembilan) dengan jarak 10 jam perjalanan dari Chengdu by Bus. Kemudian ada patung Buddha raksasa di Leshan, dan kita bisa mengunjungi Emeishan (pegunungan Emei yang sering ada di film-film silat).
       
      Dan satu lagi, di Sichuan ini tempatnya para panda yang lucu. 80% populasi panda dunia ada disini. Jadi bagi yang pengen ketemu dan meluk2 panda harus dateng ke Chengdu :)
       
      Rencana saya akan pergi awal Oktober selama seminggu. Kebetulan saya punya teman orang asli Chengdu yang bisa berbahasa Indonesia (pernah kerja di Indo 2 tahun) dan dia bersedia menemani selama disana, ya lumayan lah bisa sedikit berhemat karena kita jalan sendiri bukan pakai tour.
       
      Yang berminat ingin gabung, bisa PM me yah. Siapa tau nanti kita bisa jalan bareng dan share cost disana. Terimakasih :)