field report Menapaki Jejak menuju Pusuk Buhit (1982 MDPL) - Gunung Sakral Etnis Batak

44 posts in this topic

Posted

Setelah sekian lama memendam rasa penasaran untuk bisa menapakkan jejak di Gunung Pusuk Buhit, akhirnya pada beberapa waktu lalu kesampaian juga menapakkan jejak di gunung yang satu ini.. :)

Pusuk Buhit, gunung ini memang tidak populer di mata para pendaki..

Tak seperti Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang hampir selalu ada di list kegiatan para Pecinta Alam di Sumatera Utara.

Tapi taukah Anda bahwa Pusuk Buhit ini merupakan satu-satunya gunung di Sumatera Utara yang sangat disakralkan oleh etnis Batak ? Baik etnis Batak yang bermukim di Sumatera Utara, di Indonesia, bahkan di dunia..

post-124-0-74745400-1363794853_thumb.jpg

Gunung Pusuk Buhit, gunung ini terletak di Kabupaten Toba Samosir, Kota Pangururan - Pulau Samosir. Dan merupakan titik tertinggi di sekitar objek wisata Danau Toba.

Menurut informasi, Gunung Pusuk Buhit adalah satu-satunya anak Gunung Api Toba (Purba) yang masih aktif ketika 17.000 tahun yang lalu letusan Gunung Api Toba tersebut meluluh-lantakkan dataran Sumatera hingga kemudian membentuk Danau Toba yang kini dikenal sebagai danau terbesar ke-2 di dunia. Bahkan letusannya sendiri lebih dahsyat di bandingkan letusan Gunung Krakatau yang ada di Selat Sunda.

Nah, kabarnya Gunung Pusuk Buhit inilah yang pada saat peristiwa letusan dahsyat tersebut tidak / belum meletus !!

Gunung Pusuk Buhit juga diyakini sebagai lokasi pertama di turunkannya Siraja Batak, nenek moyang etnis Batak oleh Mula Jadi Na Bolon ratusan tahun silam. Dan di atasnya juga terdapat sebuah pendopo silsilah Siraja Batak yang dinamakan Sopo Guru Tatea Bulan..

***

Kisah pendakian ini bermula dari informasi yang di sampaikan oleh salah seorang teman saya yang juga hobbi meng-eksplor tempat-tempat indah di seluruh Sumatera Utara. Beliau menginformasikan kegiatan pendakiannya menuju Puncak Pusuk Buhit.

Maka di sekitar bulan Januari saya dan teman-teman membuat planning untuk melakukan kegiatan pendakian ke gunung yang satu ini. Apalagi sebahagian besar teman-teman saya adalah etnis Batak dengan marga-marga Batak yang tercantum di belakang nama mereka..

Ya, pastinya mereka semangat sekali untuk mendaki gunung yang satu ini !

"Pulang kampung" kata mereka.. hehehe.. :D

* Hari Pertama (I)

Dari Terminal Amplas - Kota Medan, kami menggunakan Bus Sejahtera dengan tujuan Kota Wisata Parapat yang terletak di Kabupaten Simalungun. Dengan membayar ongkos Rp. 35.000,- / orang yang akan memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan..

Kemudian, tibalah kami di Kota Wisata Parapat setelah melalui 5 jam perjalanan yang rasa-rasanya cukup menjemukan. Namun, karena waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB, kami urungkan niat kami untuk melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Tigaraja, pelabuhan dimana kami dapat menemukan ferry yang akan membawa kami menuju Pulau Samosir. Kami memilih menginap di rumah salah seorang teman yang kebetulan berdomisili di kota Parapat..

Lumayan, gratis..!!

Ya, hari itu kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota Parapat saja. Udaranya sejuk dengan panorama Danau Toba di depan mata. Indah sekali..

Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika tiba di kota Parapat ini, saya melihat sebuah angkot berwarna putih dengan tulisan "Wonderful Indonesia" lengkap dengan gambar burung garuda di sisi kanan dan kirinya. Saya pun berpikir, jarang-jarang ada angkot yang "nasionalis" seperti ini..!!

Tapi, kebiasaan "ngetem" sembarangannya nampaknya juga belum bisa di hilangkan.. Hehehe.. :D

* Hari Kedua (II)

Pagi hari, kami sibuk dengan agenda persiapan pendakian dan rapat koordinasi kecil-kecilan. Semua perlengkapan pendakian serta logistik di persiapkan dan di periksa kembali. Siapa tau ada sesuatu yang terlupakan..

Pukul 7.30 WIB kami menggunakan ferry dari Pelabuhan Tigaraja - Parapat dengan tujuan wilayah Tomok yang terletak di Pulau Samosir. Dengan ongkos sekitar Rp. 6.000,- dan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit perjalanan akhirnya kami pun tiba di pelabuhan Tomok. Panorama Danau Toba di sepanjang perjalanan tadi begitu memanjakan mata, apalagi dari kejauhan juga tampak tulisan besar berwarna putih yang bertuliskan SAMOSIR. Mirip tulisan yang ada di Hollywood..

Namun, karena cuaca pagi hari yang masih berkabut.. Tulisan tersebut hanya terlihat samar-samar saja dari kejauhan..

post-124-0-89172100-1363795334_thumb.jpg

Di sepanjang perjalanan menggunakan ferry ini, terdengar alunan musik Batak yang mengalun dengan kencang. Mulai dari list tembang-tembang Batak seperti Sinanggar Tulo, Butet, Poda hingga Pos Ni Uhur dan semua tembang yang begitu familiar di telinga.

Benar-benar terasa sekali nuansa Batak di sepanjang perjalanan ini..

Setelah tiba di Tomok, kemudian kami menggunakan mini bus yang akan membawa kami ke kota Pangururan - sebuah kota kecil dengan jarak 50 KM yang dapat di tempuh dalam waktu 1,5 jam dari wilayah Tomok. Perjalanan dengan waktu selama itu sama sekali tidak membuat kami lelah karena panorama Danau Toba terlihat sangat indah di sepanjang perjalanan..

Malah salah seorang teman saya sibuk sekali dengan acara ber-narsis ria di depan kamera..

post-124-0-42706200-1363795075_thumb.jpg

post-124-0-78387000-1363795162_thumb.jpg

post-124-0-70504300-1363795239_thumb.jpg

* Di Kota Pangururan

Setelah tiba di kota Pangururan kami memilih beristirahat sejenak sebelum melakukan pendakian. Kami beristirahat di sebuah warung dengan membeli beberapa perbekalan lagi. Waktu istirahat ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum menempuh perjalanan untuk melakukan pendakian menuju puncak Pusuk Buhit.

Suasana kota Pangururan ini sendiri berbeda dengan kota Parapat, kota ini terlihat lebih kecil dan masih terlalu "tradisional" di bandingkan dengan kota Parapat. Tak banyak aktivitas masyarakat di kota Pangururan ini yang sebahagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang..

**

Setelah 20 menit kami beristirahat, kami pun mulai melakukan pendakian ke Gunung Pusuk Buhit.

Start pendakian kami tempuh dari Desa Sianjur Mula-Mula, ini adalah start pendakian yang biasa di gunakan oleh para pendaki yang masih "awam" dengan Pusuk Buhit yang letaknya pun tepat berada di kaki Pusuk Buhit. Menurut informasi yang di dapat dari warga sekitar, pendakian Pusuk Buhit melalui Desa Sianjur Mula-Mula ini terbilang sangat singkat. Ya, hanya sekitar 2 jam perjalanan saja..

Di sepanjang perjalanan dari Desa Sianjur Mula-Mula, ada banyak sekali jenis wisata budaya etnis Batak yang dapat kami saksikan. Seperti Aek Sipitu Dai (Mata Air Tujuh Rasa), Batu Hobon, Batu Cawan hingga kawasan pemakaman Raja-raja Batak yang usianya di sinyalir sudah ratusan tahun sejak di bangunnya wilayah pemukiman oleh generasi-generasi awal Siraja Batak di kaki Pusuk Buhit ini.

Namun sangat disayangkan sekali. Semua wisata budaya tersebut masih dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Batak yang bermukim di desa ini, tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk melestarikan situs-situs yang mengandung nilai-nilai historis pada semua objek wisata tersebut.

* Ntah apa sebabnya..

Seandainya saja pemerintah ikut memberikan kontribusinya, mungkin objek wisata di Desa Sianjur Mula-Mula ini akan menjadi populer di mata wisatawan..!!

post-124-0-18342100-1363795554_thumb.jpg

Tiba di lereng Pusuk Buhit setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Desa Sianjur Mula-Mula, kami pun berniat untuk menyinggahi Sopo Guru Tatea Bulan. Ya, ini adalah sebuah tempat dimana kita dapat menyaksikan silsilah keturunan generasi awal Siraja Batak melalui media patung. Tempat ini sendiri adalah sebuah tempat pemujaan bagi etnis Batak yang masih bermukim di Samosir dan tentunya sangat di sakralkan. Sehingga siapa saja yang ingin memasuki Sopo Guru Tatea Bulan ini harus mempunyai niat yang suci tanpa adanya maksud terselubung..

post-124-0-18935400-1363795456_thumb.jpg

post-124-0-67676300-1363795662_thumb.jpg

Sopo Guru Tatea Bulan ini sangat terkenal dengan kesan mistisnya. Terang saja, letaknya yang jauh dari pemukiman penduduk serta berada di lereng gunung yang terkenal "keangkerannya" membuat Sopo Guru Tatea Bulan ini identik dengan nuansa angkernya. Menurut salah seorang penjaga tempat ini, terkadang muncul makhluk halus yang mirip seorang kakek tua berjalanan mengelilingi kawasan ini..

Tak peduli apakah cerita tersebut adalah realita ataukah hanya isapan jempol semata, tetapi mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk ini merinding.. :(

Setelah puas menelusuri Sopo Guru Tatea Bulan di lereng Pusuk Buhit, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke titik tertinggi di Pusuk Buhit.

Tak terasa hari semakin siang, kami pun dengan semangat menapaki jejak demi jejak untuk menggapai 1982 mdpl, dimana puncak Pusuk Buhit ini berada..

Jalur pendakian Pusuk Buhit ini sendiri bisa dikatakan tidak terlalu sulit bagi para pendaki pemula, apabila di bandingkan dengan jalur pendakian Gunung Sinabung yang dipenuhi bebatuan serta bukit-bukit yang terjalnya mencapai 75 derajat. Justru sebahagian besar jalur pendakian menuju ke Puncak Pusuk Buhit ini telah di aspal, sehingga memudahkan siapa saja untuk menapakinya. Meskipun pada beberapa jalur masih terlihat bebatuan yang tajam serta tebing-tebing jurang yang curam, tetapi jalur tersebut masih bisa untuk dilalui dan kami tidak menemukan kesulitan yang berarti..

Di sepanjang perjalanan menelusuri puncak Pusuk Buhit ini, tampak panorama Danau Toba dari titik tertinggi yang semakin terlihat jelas. Kabut yang tadinya tampak menyelimuti Danau Toba sudah tak terlihat lagi dan telah berganti dengan cuaca cerah yang seakan-akan mulai membuka "tabir" Danau Toba untuk mempertunjukkan keindahannya bagi siapa saja yang menyaksikannya..

Sementara, temperatur udara ketika menapaki jejak demi jejak menuju Puncak Pusuk Buhit ini pun kian lama kian rendah, sehingga suhunya menjadi sangat dingin. Kami pun memilih untuk beristirahat sembari meneguk air mineral dan membuka makanan-makanan ringan yang kami bawa sebelum melanjutkan pendakian menuju puncaknya yang hanya berjarak 200 meter lagi..

Setelah beristirahat sejenak, kami pun kembali melanjutkan pendakian untuk menggapai Puncak Pusuk Buhit yang dengan angkuh mempertunjukkan kemegahannya di tengah Danau Toba ini. Segera kami langkahkan kaki untuk menggapainya..

Air mineral dan makanan-makanan ringan yang kami santap, tentunya akan menghindari kami dari gejala Hipotermia. Sebab setiap jejak yang kami tapaki, temperatur udara kian menusuk tulang..

Dingin sekali..!!

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan, akhirnya kami pun tiba di Puncak Pusuk Buhit.

Ya, puncak yang sangat kental dengan nilai-nilai historis Siraja Batak.

Puncak yang sangat kental dengan aroma mistis Pusuk Buhit yang keberadaannya masih sangat di sakralkan oleh sebahagian besar etnis Batak

Puncak yang memaksa kami untuk menyaksikan panorama Danau Toba dari atas titik tertinggi yang benar-benar sangat luar biasa..!!

Sungguh maha karya Sang Pencipta yang tiada duanya..

post-124-0-60277500-1363796036_thumb.jpg

post-124-0-60751200-1363796141_thumb.jpg

post-124-0-10319100-1363796224_thumb.jpg

post-124-0-33610900-1363796310_thumb.jpg

Puncak Pusuk Buhit di tandai dengan sebuah plakat yang terbuat dari bebatuan. Plakat ini merupakan plakat untuk menginformasikan titik tertinggi Pusuk Buhit bagi siapa saja yang melakukan pendakian. Di sebelah plakat tersebut terdapat lokasi pemujaan agama Parmalim berupa cawan berwarna putih yang di dalamnya tedapat jeruk purut.

Agama Parmalim sendiri merupakan salah satu lokal yang masih di anut oleh sebahagian kecil etnis Batak di Pulau Samosir. Kabarnya, mereka juga membangun pemukiman di Puncak Pusuk Buhit ini. Hanya saja karena kurangnya informasi, sangat disayangkan sekali karena kami tidak mengetahui pasti dimana letak pemukiman para penganut kepercayaan Parmalim tersebut berada..

Di Puncak Pusuk Buhit yang berdiri megah di atas panorama Danau Toba, kami pun akhirnya memilih beristirahat sembari melakukan kegiatan masak-memasak di atas puncak.

Ya, ini waktunya makan siang setelah hampir 2 jam perjalanan menapaki jejak-jejak untuk menuju Puncak Pusuk Buhit ini yang cukup melelahkan dan menguras energi.

Kemudian, kami pun melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah di atas ketinggian Pusuk Buhit - di tengah maha karya Sang Pencipta yang luar biasa indahnya.

Setelah menunaikan kewajiban 5 waktu tersebut, kami pun mulai menyusuri kawasan-kawasan lain di sekitar Puncak Pusuk Buhit ini yang terlihat sangat luas..

Hari pun semakin sore. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB.

Syukurlah, akhirnya kami pun berhasil menyelesaikan kegiatan pendakian ini dan kembali turun melewati jalur yang sama seperti jalur yang kami lewati untuk sebelumnya.

Keanehan pun terjadi, jalur yang membawa kami ketika menapaki puncak dengan jalur yang membawa kami untuk turun ke Desa Sianjur Mula-Mula ini ternyata lebih singkat dari biasanya.

Ya, tak sampai 1 jam kami pun sudah tiba di Desa Sianjur Mula-Mula..

Sungguh suatu fenomena yang tak dapat di terima logika, tetapi kami memilih untuk tetap positive thinking tanpa banyak berbicara untuk membahas peristiwa yang baru saja kami alami.

Habisnya seram juga kalau dibayangkan.. :(

Demikianlah pengalaman kami dalam meng-eksplor jejak-jejak historis pada gunung yang sangat di sakralkan oleh etnis Batak ini.

* Pusuk Buhit, semoga di lain waktu kami dapat menapaki puncakmu kembali,

dan bercengkrama dengan aroma kesakralanmu yang sangat di sucikan oleh etnis asli di dataran Sumatera Utara ini..

Sekian.. :)

Yoan, denorra, Jalan2 and 2 others like this

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes wah udah pernah trekking gunung ya wah keren

dan field report nya juga bagus :D

thx u sharing nya mba amalia

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes wah udah pernah trekking gunung ya wah keren

dan field report nya juga bagus :D

thx u sharing nya mba amalia

Yup, sama-sama Mas Deffa.. :D

Lumayan sering juga trekking gunung, karena hobbinya mendaki.. :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes mantap saya feature di homepage ya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes mantap saya feature di homepage ya :D

hehe.. Oke deh, Mas.. :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

Mbak @AmaliaHolmes reviewnya keren banget.. Itu kampung halamanku, tapi ngga pernah sampe mendaki Pusuk Buhit. So :salut buat mbak

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

wah... keren banget ni... :salut
saya baru tau ni ada gunung pusuk buhit di sumatra utara
 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

Hmm, sangat menginspirasi untuk balik lagi ke Medan dan coba mendaki gunung ini. Parapat ya? Bisa sekalian nginep di Toba nanti. Makasih ya mbak dan foto pemandangan dari atasnya, sungguh amat cantik. :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

halo mba kemana aja neh ayo cerita2 lagi dnk pengalaman jalan2 nya

FR nya bagus neh :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

Mbak @AmaliaHolmes reviewnya keren banget.. Itu kampung halamanku, tapi ngga pernah sampe mendaki Pusuk Buhit. So :salut buat mbak

Wah, kampung halaman mbak Yoan yah..?

Kapan2 boleh nih mendaki bareng ke Pusuk Buhit.. :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

wah... keren banget ni... :salut

saya baru tau ni ada gunung pusuk buhit di sumatra utara

Ada, di Pesisir Samosir dekat kota Pangururan, Mas.. :D

Gunungnya belum terlalu familiar seperti halnya Sinabung dan Sibayak, pendakinya juga belum banyak.. kebetulan waktu itu pengen banget mencoba pengalaman baru ke Pusuk Buhit, sekaligus wisata religi dan budaya Batak disana,,

Habisnya, ke Sibayak dan Sinabung udah cukup sering sih.. Hehe.. :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

Hmm, sangat menginspirasi untuk balik lagi ke Medan dan coba mendaki gunung ini. Parapat ya? Bisa sekalian nginep di Toba nanti. Makasih ya mbak dan foto pemandangan dari atasnya, sungguh amat cantik. :)

Sama-sama, mbak..

Saya juga berada di Jawa Barat sekarang dan kangen banget pengen lagi mendaki gunung ini. Tapi sayangnya, teman-teman 'seperjuangan' udah pada jauh.. :(

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

halo mba kemana aja neh ayo cerita2 lagi dnk pengalaman jalan2 nya

FR nya bagus neh :D

Maaf baru sempat online, Mod..

Belum sempat lagi jalan-jalan nih, tugas kantor buanyaakk banget.. :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

Ada, di Pesisir Samosir dekat kota Pangururan, Mas.. :D

Gunungnya belum terlalu familiar seperti halnya Sinabung dan Sibayak, pendakinya juga belum banyak.. kebetulan waktu itu pengen banget mencoba pengalaman baru ke Pusuk Buhit, sekaligus wisata religi dan budaya Batak disana,,

Habisnya, ke Sibayak dan Sinabung udah cukup sering sih.. Hehe.. :D

Oke, nnti sekali sekali maen ke sana deh

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

waduh pusuk buhit. sesuatu dah tuhh.:)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

foto yang pertama cantik amat yaaaa. kaya lukisan 

Lulu H Marbun likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

foto yang pertama cantik amat yaaaa. kaya lukisan 

cc @AmaliaHolmes

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

WOW.. Danau Toba memang bagus banget ya :)

Saya orang Batak tapi blom pernah denger Pusuk Buhit  :bingung  (Payah dah gw)

Pemandangan Danau Toba dan pulau Samosir tampak makin cantik. Jadi pengen "pulang kampung"  :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@AmaliaHolmes

WOW.. Danau Toba memang bagus banget ya :)

Saya orang Batak tapi blom pernah denger Pusuk Buhit  :bingung  (Payah dah gw)

Pemandangan Danau Toba dan pulau Samosir tampak makin cantik. Jadi pengen "pulang kampung"  :D

cc @AmaliaHolmes

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

keren FRnya... kmren ane jg dr sana,,penasaran ama air terjun yg keliatan dari patung raja batak. akhirnya ane sm temen ane kesana, ke air terjunnya masih belum dijamah. karna butuh pemandu warga sekitar, karna membelah hutan dengan rumput ilalangnya. ini pictnya 

lupa nama desanya.. kalau dari patung raja batak itu keliatan ada 3 air terjun nah ane liat yg tengah. pas ane terbangin pake DJI Phantom * sejenis helikopter buat shoot video itu air terjunnya ada 7 tingkatan.. pokoknya epic banget... rencana mau kesamosir lagi buat shoot dari air terjun paling atas. sebenernya bukan gunung. tapi cuma bukit pusuk buhit :) ane masihlama ini di medan kalo mau ajakin ane atau mau ajakin ngopi2 boleh lhoo :)

deffa likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@daiijogja

hahay mantap mas bro

dah lama gak maen ke forum langsung dateng bawa FR mantap

air terjun nya tinggi banget ya

itu ada semacam sungai berarti di bawah air terjun bisa maen air nya ya ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

kalian sih ngeracun buat bikin FR hahahaha makanya ane tambahin. iya kalo diliat dari DJI Phantomnya sih gitu, jadi air terjun kolam, turun air terjun kolam, turun air terjun kolam, itu ddari atas smpe bawah ada 7 tingkatan.. iya bisa maenan aer.. tapi yaa dingiiinnya minta ampunnn... warga minta di eklpore ke org lain biar itu bisa jadi objek wisata dan bisa buat nambah domper warga mereka gt... tempatnya epic.. bener membelah rimba..hahaha gitu sih bro @deffa Air terjunnya namanya Air Terjun Sibintangur

deffa likes this

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@daiijogja

wih mantap enak kayaknya nyebur di kolam nya ya heheh :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

..

Gunung Pusuk Buhit juga diyakini sebagai lokasi pertama di turunkannya Siraja Batak, nenek moyang etnis Batak oleh Mula Jadi Na Bolon ratusan tahun silam. Dan di atasnya juga terdapat sebuah pendopo silsilah Siraja Batak yang dinamakan Sopo Guru Tatea Bulan..

***

 

 

Ini FR-nya sangat menarikk... really appreciate this!

 

Saya pernah baca literatur ttg Tarombo Batak yg teratas di SIlsilah batak adalah Siraja Batak,

dimana Siraja Batak diturunkan langsung 

dari Tuhan Sang Pencipta (Mulajadi na Bolon)

di  Pusik Buhit ( Pusat Bukit / Bukit Utama)  ini sekitar thn 1200 Masehi.

(Story ttg asal mula Siraja Batak itu masih diperdebatkan sampai saat ini)

 

Kemudian, si Raja Batak memiliki 2 anak yaitu Guru Tatae Bulan dan Raja Isumbaon...

tapi setelah baca FR diatas, hanya bercerita ttg Guru Tatae Bulan, apakah tidak ada info ttg anaknya

yg satu lagi (Raja Isumbaon - red)?

*penasaran euy...

 

@deffa @Octobrian Panjaitan

Share this post


Link to post
Share on other sites

Posted

@andregm

oh gitu ya saya suka topic sejarah coba saya ulik dlo :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now