Sign in to follow this  
Pepi.TheExplorer

Pantai Pasir Putih - Anyer

7 posts in this topic

Udah pernah ke Anyer?

paling asik naik motor, bisa bikin badan kaya abis digebukin :lol:

perjalanan dari Ciledug - Anyer ajah bisa makan 5 jam Perjalanan

216115_1700029186819_444375_n.jpg

Rehat di Setengah Perjalanan.

230897_1700056627505_4215573_n.jpg

Kebayar lunas sih buat Anak yang bias tinggal di lingkungan gedung pergi ke pantai :lol:

228467_1700140869611_3417103_n.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

pernah ikut konvoi sama temen2 motornya temen aku, ya ampuuuuun baru merasakan gimana pegelnya -_- untungnya waktu itu juga jalan malam jadi biarpun badan pegel2 yang penting tidak merasakan panasnya terik matahari :) tapi kalau sudah sampai disana terlupakan deh tuh capeknya...yang ada bisa2 sampai seharian olahraga air hehehe...

Share this post


Link to post
Share on other sites

saya pernah waktu malam takbiran malah....maklum orang-orang stress.....bukannya pada takbiran malah jalan-jalan jauh....yang paling mengerikan banyak penampakan makhluk halus...hihihihi....ogah lagi dah kesana....

Share this post


Link to post
Share on other sites

pernah ikut konvoi sama temen2 motornya temen aku, ya ampuuuuun baru merasakan gimana pegelnya -_- untungnya waktu itu juga jalan malam jadi biarpun badan pegel2 yang penting tidak merasakan panasnya terik matahari :) tapi kalau sudah sampai disana terlupakan deh tuh capeknya...yang ada bisa2 sampai seharian olahraga air hehehe...

hehe,, ini juga malem jalannya..

hindarin macet soalnya..

berangkat jam 11 ini..

sampe sana subuh langsung maen..

ga tidur :lol:

saya pernah waktu malam takbiran malah....maklum orang-orang stress.....bukannya pada takbiran malah jalan-jalan jauh....yang paling mengerikan banyak penampakan makhluk halus...hihihihi....ogah lagi dah kesana....

waduh dimananya tuh :huh:

Share this post


Link to post
Share on other sites

bener nih di anyer memang banyak makhluk halus. saya pernah tinggal di sana 6 bulan di rumah sodara. paling banyak deh setannya. sering juga pantainya memakan korban. kalo tenggelam di pantainya mayatnya suka kebawa di bawah karang. kalo sampe gitu ya ga akan ketemu lagi mayatnya. saya pernah waktu itu sampe sore ada yang cari korban tenggelam gitu. pas di pantai seberang rumah sodara saya. pantainya juga banyak tuyul kata om saya. dia kan suka mancing malem2 di atas karang sampe pagi.

Share this post


Link to post
Share on other sites

bener nih di anyer memang banyak makhluk halus. saya pernah tinggal di sana 6 bulan di rumah sodara. paling banyak deh setannya. sering juga pantainya memakan korban. kalo tenggelam di pantainya mayatnya suka kebawa di bawah karang. kalo sampe gitu ya ga akan ketemu lagi mayatnya. saya pernah waktu itu sampe sore ada yang cari korban tenggelam gitu. pas di pantai seberang rumah sodara saya. pantainya juga banyak tuyul kata om saya. dia kan suka mancing malem2 di atas karang sampe pagi.

waduh untung waktu kesana saya ga liat apa2

:huh: jadi takut kesana lagi..

Share this post


Link to post
Share on other sites

Lam knal buat smuanya, medy nih dari Tangerang, so kpn mau hang out lg nih, kabar2i yaaaa.... ke email ane d medy783@gmail.com, thanks

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Burhan Abdillah Sanjaya
      Kabupaten Malang merupakan tonggak utama dari Kabupaten Jawa Timur dalam dari sektor objek wisata. Berbagai jenis wisata ada disana mulai dari edukasi, keluarga, spot-spot foto corner, kuliner terlebih wisata alam Malang cukup menarik dikunjungi. Keindahan dari pantai bukit Teluk Asmara Malang cukup viral di berbagai sosial media, sudah banyak review positif membahas wisata alam Malang tersebut. Pantai Malang ini tergolong objek wisata baru di Malang, sehingga tentu masih terjaga keasrian serta kebersihan di sekitar pantai, air dan pesisir teluk asmara.

      Buat kawan seorang pecinta alam dan sedang mencari destinasi wisata untuk mengisi liburan berkesan bareng keluarga maupun teman, maka tak ada salahnya memasukkan Teluk Asmara beach kedalam daftar agenda wisata. Selain tergolong masih sepi pengunjung karena wisata baru, ketika kawan pertama kali menginjakkan kaki disini, maka langsung disuguhkan panorama pasir putih yang membentang begitu luas serta perpaduan fenomena gulungan ombak yang datang menghampiri bibir pantai. Hal tersebut lah membuat siapa pun dibuat betah berlama-lama disana walaupun sekedar berenang, seru-seruan bermain air atau hanya sekedar relaksasi.
      Kalau dari segi fasilitas disana masih tergolong minim kawan, ya wajar-wajar aja sih sebab wisata baru diantaranya minim penjual makanan-minuman, tempat ibadah belum ada. Ya, kita berharap aja kali, mungkin kedepan nya Pemkab Malang atau pihak swasta lebih memperhatikan potensi pantai Malang ini. Oleh sebab itu buat kawan memutuskan berlibur kesana, maka disarankan membawa bekal sendiri dari rumah ya. 

      Meskipun dari segi fasilitas memang sih kurang memadai, tetapi ada yang baru loh di Pantai Teluk Asmoro Malang yakni berupa spot-spot foto ciamik sehingga memberikan kesan wisata kekinian. Hal paling disenangi oleh pengunjung yaitu berswafoto lalu berpose di bukit cinta. Nah, kawan pun setelah berpuas berfoto ria, diperbolehkan kok bersantai diatas bukit sembari menyaksikan panorama pantai dari atas ketinggian. Dari atas bukit selain bisa menyaksikan keindahan air laut membiru, disana pun terlihat pula batu-batu karang hampir menyerupai pulau-pulau kecil mirip seperti di raja ampat deh.
      Lokasi Pantai Bukit Teluk Asmara Malang berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Sedangkan harga tiket masuk wisata pantai Malang ini dirasa agak mahal bila dibandingkan objek wisata baru lainnya terlebih fasilitas wisata masih kurang lengkap. Harga tiket dibandrol Rp. 10.000 per orang, belum termasuk ongkos parkir kendaraan Rp. 5.000 hingga Rp. 15.000 per kendaraan.
      SUMBER
    • By Luxia
      Hi JJ-ers,
      Jumpa lagi disini… Apa kabar semua??
      Besok long weekend nih.. meskipun harpitnasnya 2 hari, yaaa.. mana tau teman-teman ada yang memutuskan refreshing aja sejenak, meninggalkan kepenatan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Sebagian rombongan akan mengikuti acara gathering KJJI ke IX di Lombok… nah bagi anggota KJJI yang belum dapat tempat… kemana nih?? Apakah ada yang berencana ke Baduy Dalam? Apa sih yang menarik di Baduy Dalam? Bagaimana rasanya tracking ke Baduy Dalam dan Apa yang menjadi Icon Baduy?? Kebetulan Kami (Saya, @Eka Wibisono dan @Maria Kuntarti) baru saja menaklukkannya… meskipun setelahnya rata2 pada encok dan berjalan dengan “bumi yang tak rata” alias tertatih-tatih selama kurang lebih 2-3 hari (hahaha… gaya bener ya bahasanya “menaklukan”). Saya mau berbagi cerita sedikit nih… Yuk mari kita simak perjalanannya.
      Pagi yang cerah dihari sabtu tanggal 03 Oktober 2015 pukul 06.00 WIB kami ber-12 + 2 tour leader berkumpul di meeting point untuk bersama-sama berangkat menuju desa Ciboleger. Kebetulan kali ini paket yang kami pilih adalah paket yang sedikit berbeda, mengapa berbeda?? Karena bukan perjalanan backpacker yang kami pilih, mengingat rombongan kami dimulai dari usia 26 hingga 63 tahun… Bravo!! Dengan menumpang elf yang kami sewa berikut paket perjalanan 2 hari 1 malam ke Baduy Dalam, kami berangkat dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 5-6 jam dengan 1 kali berhenti di rest area selama 30 menit. Elf kami memilih jalur tol dalam kota, keluar di pintu tol Darmaga menuju ke arah Bogor (Gunung Salak) yang mana menurut supir elfnya, Pak Rudi (tapi bukan Rudi Hadi Sentosa lho yach… hahaha… Peace Rud), lewat jalur Bogor bisa menghemat waktu kurang lebih 3 jam dibandingkan lewat jalur Rangkas. Okay Pak. Kami manut aja dech, soalnya memang belum pernah tau “medan perangnya”.
      Tepat pukul 12.00 WIB kami tiba di desa Ciboleger dengan disambut oleh porter-porter kami yang notabene berasal dari Baduy Dalam (berbaju putih dengan ikat kepala putih) dan ada 4-5 orang porter yang berasal dari Baduy Luar (termasuk 3 orang anak-anak berusia antara 8 – 12 tahun) (berbaju hitam dengan ikat kepala biru) yang akan menemani kami nanti. Total porter kami ada 13 orang (karena semula ada 13 peserta tetapi 1 batal) yang akhirnya 12 porter membawa tas kami dan 1 orang membawa keperluan lainnya seperti air mineral yg sudah kami persiapkan untuk mengantisipasi perjalanan nanti, dll.

      Sambil menunggu menu makan siang yang sedang dipersiapkan, kami pun melihat-lihat sekitarnya dan mengobrol sedikit dengan porter-porter kami. Lihat punya lihat dan lirik punya lirik… eh ada seorang porter yang berseragam putih yang menarik perhatian kami, wajahnya berbeda dari yang lainnya… putih, bersih, hidungnya mancung… namanya Asmin. Kalau kita berandai-andai, Asmin ini mirip sekali dengan aktor dari Hongkong, tinggal didandani sedikit hehehe… banyak juga yang bilang mirip orang Jepang.

      Kang Asmin sempat bercerita kepada kami bahwa suku baduy dilarang menggunakan kendaraan untuk berjalan kemanapun mereka pergi, makanya waktu mereka ke Bandung, mereka menempuh perjalanan selama 7 hari dengan berjalan kaki...(WOW) dan 2 hari ke BSD (Bumi Serpong Damai) dengan menginap dirumah teman-teman mereka. Semua tamu yang pernah mereka antar masuk ke desa Baduy Dalam mereka anggap teman sehingga tidak jarang mereka akan meminta alamat dan nomor HP kepada kita. Bahasa asli suku Baduy adalah Sunda kasar tetapi beberapa dari mereka sudah mulai bisa mengerti Bahasa Indonesia meskipun ada yang masih menjawabnya dengan terbata-bata bahkan belum bisa lancar menangkap dan mengerti Bahasa Indonesia yang diucapkan dengan kecepatan tinggi (ibarat mobil itu gigi 4 hehehe).   
      Setelah kami beristirahat dan makan siang selama kurang lebih 1 jam kami pun bersiap-siap untuk memulai perjalanan kami. Sambil menunggu tour leader kami (Mas Anto) melapor ke Kepala Desa, kamipun berfoto-foto ria… masing-masing peserta berfoto dengan porternya untuk kenang-kenangan, termasuk saya dengan porter saya yang usianya 12 tahun tetapi tubuhnya seperti anak yang berusia 8 tahun, namanya Asda. Bocah lucu yang super energik tetapi cuek (bebek aja kalah cuek) ini lah yang menjadi hiburan saya dan teman-teman selama perjalanan pergi dan pulang.

      Baduy Dalam terbagi menjadi 3 Desa yaitu desa Cibeo, desa Cikartawana dan desa Cikeusik. Perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi desa Cibeo, desa yang paling dekat dengan Baduy Luar. Desa Cibeo merupakan desa dari Baduy Dalam yang sudah sedikit terkontaminasi dengan dunia luar (stt… bahkan ada beberapa warganya yang sudah pake HP lho… caranya?? Nyolong2 dibawah meja pakainya…). Sebagian besar mata pencaharian warga Baduy baik Luar maupun Dalam adalah menenun dan berjualan gula aren. Kalau beras, mereka tidak menjualnya, di tanam hanya untuk dikonsumsi sendiri.
      Perjalanan diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam. Untuk dapat mencapai desa Cibeo, rombongan harus melewati sekitar 5-6 desa Baduy Luar yang diantaranya Desa Balimbing, Marangu, Gajeboh dan juga harus melewati Jembatan bambu yang oleh warga setempat disebut Jembatan Temayang serta Tanjakan Cinta. Mendengar namanya pasti terbersit kisah-kisah manis didalamnya sehingga bisa disebut “Tanjakan Cinta”…hehehe… ternyata tidak ada yang tahu silsilah sebutan itu. Oke lah kalo begitu… Let’s Get started.

      Perjalanan dimulai dengan melewati perkampungan di luar Baduy (masih di wilayah Ciboleger) sampai dengan ada portal yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI BADUY”. Perjuangan dimulai. Semua wajah sumringah, ceria, perjalanan ini diisi dengan cerita dan senda gurau dari tiap-tiap peserta. Tamu-tamu yang notabene asli Indonesia diperbolehkan tracking hingga wilayah Baduy Dalam tetapi tidak demikian dengan tamu dari mancanegara. Mereka hanya boleh berjalan hingga Gajeboh saja atau maximum Jembatan Temayang saja. Tidak ada yang tahu alasan maupun cerita dibalik larangan tersebut. Mungkin porter kami kebanyakan anak-anak muda yang sebenarnya hanya mematuhi saja aturan dari kepala suku tanpa banyak bertanya mengenai sejarah-sejarah dan larangan-larangan yang diberlakukan selama ini kepada mereka atau memang dilarang untuk menjelaskan, Entah lah. Tidak ada yang bisa menjawabnya meskipun seniornya sekalipun yaitu Kang Naldi (yang telah banyak pengalaman menjemput dan mengantarkan tamu keluar masuk Baduy Dalam). Menurut Kang Naldi, saat ini jumlah keluarga yang ada di Baduy Dalam sekitar 140 keluarga saja, sisanya tinggal di Baduy Luar. Bukan karena adat yang membuat mereka keluar dari Baduy Dalam tetapi semua tergantung pilihan masing-masing orang. Contohnya Asda (porter saya), Ayah Asda, Kang Herman, yang merupakan penghubung porter dengan travel agent yang kami pakai jasanya saat itu, beliau baru 1 tahun keluar dari Baduy Dalam karena tidak tahan hidup terkukung dengan adat, sedangkan Asda masih tinggal bersama kakeknya di Baduy Dalam pada saat orang tuanya memutuskan tinggal di Baduy Luar. Sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu Asda memutuskan ikut orang tuanya untuk tinggal di Baduy Luar. Alasannya simple banget, pindah ke luar karena tidak tahan dengan kakeknya, tiap kali minta uang jajan tidak dikasih… hahaha…. (lucu & polos banget). Semua warga Baduy Dalam taat pada seorang kepala suku yang mereka panggil PU-UN (jadi bukan seperti cerita orang-orang diluar sana bahwa orang Baduy Dalam menyembah Pohon… ngawur ya). Baduy Dalam pun ada periode puasanya tetapi beda dengan periode puasa Muslim.

      Semua peserta tidak ada yang tahu seperti apa tracking yang selama ini disebut-sebut oleh tour leader sedikit berat. Tidak ada yang bisa membayangkan pula seberapa curam bukit-bukit serta tanjakan-tanjakan yang akan dilalui dan dihadapi oleh kami… sejauh ini kami browsing, foto-foto yang diperoleh hanyalah foto-foto perjalanan biasa dengan sedikit bonus perbukitan. Tidak ada sama sekali terbersit dibenak kami bahwa yang menurut warga Baduy perjalanan datar itu adalah seperti berjalan diperbukitan. Tidak ada juga yang menyangka bahwa perjalanan menaiki bukit sedikit itu ternyata ibarat kita menaiki pegunungan… dan tidak ada yang menduga bahwa perjalanan menanjak itu ibarat kita mengarungi pegunungan dengan kemiringan 45 derajat dan bertanah kuning serta berbatu-batu.

      Untungnya saat kami berada di lokasi, keadaan sekitar sedang kering, cuaca tidak lembab dan sudah 4 bulan lamanya tidak turun hujan sama sekali sehingga tidak licin. Jadi kalau hendak mengunjungi Baduy Luar maupun Baduy Dalam amat sangat disarankan mengambil periode musin kemarau yaitu bulan Juni s/d September. Warga Baduy Dalam juga ada kalanya menutup pintu untuk tamu-tamu luar yang ingin berkunjung yaitu pada bulan Maret s/d Mei dikarenakan mereka sedang panen. Bentuk lahan sawah dan ladang orang Baduy cukup menakjubkan, mereka bercocok tanam bukan di tanah yang rata seperti kebanyakan sawah dan ladang yang kita temui didesa-desa pada umumnya. Mereka menanam padi dan lainnya di lahan tanjakan yang kemiringannya sekitar 70 s/d 80 derajat , sehingga pada waktu ada yang bertanya koq gak terlihat kerbau diladang? Jawabannya:  ya gak bisa lah yah… Satu-satunya hewan yang sering dan berkeliaran di Baduy Dalam hanya lah Ayam. Anjing ada yang pelihara tetapi tidak banyak dan mungkin keberadaannya di tengah-tengah desa, soalnya kita tidak melihatnya selama perjalanan hingga Baduy Dalam.

      Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 1 jam ditempuh, semua baik-baik saja dan masih enjoy-enjoy saja, terlebih ketika melewati jembatan pertama… beberapa tamu dari rombongan lain bertanya dengan heran, apa benar bahwa kita hendak menuju Baduy Dalam? Jauh lho.. Masih jauh sekali lho.. apalagi ketika mereka melihat rombongan kami ada orang tuanya. Rata-rata rombongan yang kami temui hanya duduk-duduk di jembatan pertama saja, foto-foto, paling jauh mereka menempuh perjalanan sampai di Gajeboh (sekitar 25% dari total perjalanan menuju desa Cibeo), setelah puas akan memutuskan untuk kembali saja ke Ciboleger. Saya jadi berpikir, usia mereka masih pada muda-muda, tapi koq gampang sekali menyerah??

      Menyusuri jalan setapak demi setapak… kampung demi kampung… stamina kamipun mulai sedikit demi sedikit menurun. O iya, jangan lupa berbekal diri dengan tongkat kayu yang kokoh yach, karena itu sangat membantu memperingan langkah kaki. Rasa lelah, nafas tersengal-sengal, wajah lelah, perasaan galau bercampur aduk, karena sudah 4 jam perjalanan tetapi belum juga kami jumpai yang namanya Jembatan Temayang. 5 desa sudah dilewati, beristirahat di desa-desa dan diperkampungan. Turun naik perbukitan dan tanjakan kurang lebih 10 an kali.. Mantap bener…  Sambil terseok-seok kaki melangkah, tibalah di jembatan bambu yang disebut Jembatan Temayang yang kalau menurut saya itu merupakan jembatan terpanjang dan terkokoh selama perjalanan dari luar Baduy karena alas tempat kita berpijak itu terbuat dari batang bambu yang tersusun 2 lapis sehingga benar-benar kokoh dan panjangnya ada sekitar 10-15 meteran. Jika kita sudah melewati Jembatan Temayang, artinya kita sudah mulai meninggalkan kawasan Baduy Luar dan memasuki area Baduy Dalam.
      Nah tiba lah saatnya kita menyiapkan fisik untuk menghadapi medan terberat di hari pertama ini yaitu Tanjakan Cinta… Sungguh-sungguh luar biasa… panjangnya 500 meter dengan kemiringan 45 derajat, benar-benar butuh kesabaran, kekuatan kaki dan jantung, sepatu gunung yang masih bagus banget serta penuh doa agar jangan sampai tergelincir dan terkilir. Benar-benar harus dijaga lho staminanya disini. Dan 1 lagi prinsip yang selalu dikumandangkan oleh Kang Naldi… “Ayo… sedikit lagi… jalan 10 menit lagi medannya datar koq…” hah.. jangan percaya… datarnya hanya 5-10 langkah doank sisanya naik terussss…. Tetapi Tanjakan Cinta memang merupakan tanjakan tertinggi terakhir untuk tiba di desa Cibeo. Sisanya hanya tanjakan-tanjakan kecil saja meskipun kemiringannya tetap terjaga di “skala” 60-70 derajat…

      Karena medan perang yang begitu beratnya, rombongan kamipun terpisah menjadi 4 regu. Setelah Tanjakan Cinta kita akan melewati 4-5 jembatan kecil untuk tiba di desa Cibeo. Regu pertama tiba pada pukul 17.15 WIB, kemudian disusul regu kedua tiba pada pukul 17.30 WIB, regu ketiga 18.00 WIB dan yang terakhir pada pukul 22.15 WIB.
      Tiba di rumah salah satu porter kami yang memang disewa untuk kami beristirahat mengumpulkan tenaga buat tracking esok harinya, kami pun disambut dengan makanan khas suku Baduy. Rumah yang terbuat dari bahan bambu beratapkan daun ijuk atau daun kelapa kering, tanpa jendela dan hanya terdiri dari 1 ruangan untuk tidur sekaligus ruang tamu dan 1 dapur, simple dan sederhana sekali. Setelah bebersih diri ala kadarnya karena memang keadaan sungai sedang kering. Sebagian dari kami sudah mulai “berlayar ke Pulau Kapuk” alias tidur sedangkan ada beberapa yang masih ngobrol-ngobrol juga. Menjelang malam udara sudah tidak begitu gerah, semakin malam, menjelang pukul 01.00 malam, udara semakin dingin, perkiraan kita sekitar 10-14 derajat lah. So amat sangat disarankan membawa celana panjang, jaket dan kain selimut bahkan bila perlu kaos kaki dan sarung tangan untuk tidur. O iya, bagi yang tidak bisa tidur dalam keadaan terang, bisa membawa eye mask juga ya, karena kita tidur ditemani oleh obor yg bahan bakarnya dari minyak sayur. Sayang keadaan sekitarnya tidak bisa didokumentasikan karena memang terlarang, bukan dilarang lho ya… semua terserah kita, kalau nekad silahkan ambil foto, kalau gak ya jangan. Hukuman sesungguhnya sebenarnya bukan dari kepala suku atau penduduk local tetapi lebih tepatnya akan dihukum oleh alam, tahayul sih sebenarnya, tapi ya balik lagi, percaya atau tidak, kalau nekad ambil foto di Baduy Dalam akan menanggung akibatnya sendiri. So Not Recommended lah ya.
      Esok harinya pukul 05.30 WIB sebagian rombongan sudah ada yang bangun dan ke sungai, ada yang sekedar berkeliling-keliling daerah sekitarnya sambil menghirup udara pagi yang masih benar-benar fresh dan lembab karena dingin. Menjelang jam 06.30 WIB kami kedatangan “tamu-tamu” yang membawa dagangannya berupa kain tenun, baju khas Baduy, pernak-pernik, souvenir seperti gantungan kunci, dll. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan warga disana menjajakan barang dagangannya di pagi hari karena “para peserta tracking” tidak akan stay lama di desa mereka mengingat jauhnya perjalanan yang masih harus ditempuh sehingga rata-rata rombongan akan berangkat meninggalkan desa mereka sekitar pukul 08.00 WIB dan paling telat pukul 10.00 WIB. Sambil menantikan sarapan pagi, berbelanja dirumah, kita juga bisa memesan madu asli Baduy Dalam yang katanya enak itu dan Gula Aren.
      Tepat pukul 08.00 WIB rombongan kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa tongkat tetap dibawa ya karena medan yang akan ditempuhpun tidak kalah mengerikan karena kita akan melewati lereng bukit dan tanjakan dan banyak naik turunnya juga, sedikit licin karena bertanah kuning dan berbatu-batu. Jalur yang ditempuh untuk dapat kembali ke desa Ciboleger ada 2 yaitu lewat desa Cijahe dan Jembatan Akar (Icon Baduy Dalam). 2 peserta tracking yang sudah menyerah dengan ditemani oleh 2 porter dan 1 Tour Leader akhirnya memilih menggunakan jalur desa Cijahe, perjalanannya lebih manusiawi, trackingnya lebih landai, perjalanan santai cukup dengan 2-3 jam saja, melewati perbukitan kecil-kecil saja lalu dijemput elf dan diantar ke Ciboleger untuk bergabung dengan rombongan yang melalui jalur Jembatan Akar. Sisanya 10 orang penasaran seberapa jauh dan beratkah perjuangan untuk mencapai Iconnya Baduy itu.

      Kamipun berjalan santai karena masih pagi, dan masih segar meskipun kaki sedikit pegal linu akibat perjuangan kemarin, sambil bercengkerama, bercerita pengalaman semalam tidur di “bilik”, dingin, sunyi dan lain sebagainya. Lewat 1 jam perjalanan, masih santai, hanya naik turun bukit sedikit, itu pun penuh rumput masih belum terbayang nih. Menjelang 1,5 jam, sedikit demi sedikit perjalanan mulai sulit, karena turunannya lebih terjal dibandingkan kemarin dan kebanyakan tanah kuning dan batu kecil-kecil saja. Saya sih lebih memilih jongkok dulu sebelum turun ketimbang nyungsep di tanah nantinya… huff.. beratnya tidak kalah dengan kemarin malah terasa lebih berat karena turunannya cukup curam, ada yang 45 derajat malahan.

      Berjalan sekitar 2 jam akhirnya kita sampai juga pada tanjakan dan turunan berbatu dan bertanah merah lagi dengan jalur “Z” di beberapa titik, telaah punya telaah ternyata itu perjalanan turun sekaligus perjalanan menuju Jembatan Akar, Salah satu Icon yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Baduy karena keunikannya. Apa yang menyebabkan Jembatan ini begitu unik dan dicari oleh tamu-tamu dari luar Baduy meskipun untuk mencapai kesana perjalanannya cukup sulit dan penuh perjuangan serta menguras tenaga ini?

      Jembatan Akar, diberi nama tersebut karena memang jembatan ini terbuat dan terbentuk dengan sendirinya dari akar pohon yang menjulur memanjang dan membentuk anyaman-anyaman sehingga memperkokoh jembatan tersebut. Untuk alas berpijak, ada beberapa batang bambu yang tersusun memanjang dibawah agar kaki yang menginjak jembatan tidak terselip di lubang-lubang “anyaman”. Jembatan akar terbentuk secara alami 10 meter diatas sungai dengan panjang 25 meter ke seberang dan semuanya murni terbentuk dari akar 2 batang pohon yang berseberangan.

      Setibanya di Jembatan Akar semua lega… ada 2 diantara kami yang langsung nyemplung di sungai dibawah jembatan akar yang airnya cukup banyak dan mengalir, secara, dari pagi tidak bisa mandi dan gosok gigi dengan benar. 8 orang sisanya mulai mengeksplore Jembatan Akar untuk berfoto-foto dan bahkan ada yang menyeberang Jembatan tersebut untuk berfoto ria di seberang yang kategorinya mirip hutan dan sedikit rimbun, adem, ada yang hanya berbasuh diri saja karena debu yang menempel di lengan dan kaki.
      Setelah puas mandi, berbasuh diri dan foto-foto, perjalanan dilanjutkan lagi. Tadinya semua orang berpikir akan menyeberangi Jembatan Akar untuk perjalanan kembali ke desa Ciboleger, eh ternyata salah, kami harus berbalik arah dan mengambil jalur disebelah tebing dan menyusuri jalan tanah kuning berbatuan kecil yang lumayan licin meskipun tidak basah sama sekali karena kemiringannya yang cukup curam.

      Berjalan menyusuri tebing dan perbukitan dan lereng bukit kurang lebih 3 jam sampailah kita di desa Cilanggir, di desa Cilanggir ini jalanan sudah sedikit membaik, jalanan berbatuan yang tersusun rapi, sudah tidak ada lagi yang namanya rumput di jalan setapak, tidak ada lagi tanah kuning yang licin tetapi tanjakannya masih sama malahan jaraknya kurang lebih 300 meter dengan kemiringan 50 derajat.
      Nah, sampai disini ada 2 orang dari rombongan kami yang sudah menyerah dan memilih sewa ojek saja ke Ciboleger daripada pingsan dijalan dan di tandu. Ongkos dari desa Cilanggir ke Ciboleger kurang lebih Rp 20.000,- s/d Rp 30.000,-. Beberapa ojek yang dikendarai oleh anak muda bahkan sempat hampir tergelincir motornya karena memilih jalur motor yang tidak berbatuan tetapi berpasir putih kasar dan letaknya disamping lereng. Serem juga sih meskipun naik ojek.

      Tersisa 8 orang peserta + 1 tour leader yang ditemani oleh 10 orang porter (termasuk 3 orang bocah) yang masih meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak terbayangkan lelahnya mendaki jalan bebatuan tersebut, untuk mengangkatkan kaki saja rasanya sudah ogah-ogahan. Rasanya kalau diukur, tenaga kami hanya tersisa 25% saja. Tiba lah kami di sebuah warung yang cukup besar (toko terbesar yang pernah kami jumpai disepanjang perjalanan ke Baduy), sambil memutuskan untuk minta elf menjemput kami di warung itu saja, sudah tak sanggup lagi rasanya tuk berjalan. Padahal untuk mencapai desa Ciboleger, masih ada 2 km lagi. Tunggu punya tunggu, elf kami tak kunjung tiba karena masih blm turun dari Cijahe.

      Akhirnya setelah menanti sekitar 30 menit dan waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, atas saran Tour Leader kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja agar bisa tiba di desa Ciboleger dengan segera mengingat waktu makan siang sudah pasti terlewatkan. Yuk.. jalan lagi… Jalan… jalan… jalan… sekitar 500 meter mulai lah memasuki daerah beraspal dan disebelah kiri kanan terhampar sawah nan hijau, senangnyaaa… pertanda desa Ciboleger semakin dekat. Bagi kami orang kota yang terbiasa berjalan di jalan datar beraspal adalah suatu hal mudah meskipun jauhnya 2 km, tetapi bagi orang Baduy itu sangat menyiksa apalagi ditengah terik matahari dan mereka juga berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tentunya terasa panas, lelah dan menjengkelkan (itu pengakuan salah satu porter kami). "Rasanya gak sampai-sampai ke tujuan Bu, Capek. Tapi kalau berjalan menanjak dan di tengah hutan itu rasanya adem dan tenaga kita seperti dipacu dan makin menanjak semangat kami makin bertambah ". Nah lho...??? Yaaa... mau gimana lagi ya??

      Selagi berjalan saya memperhatikan bukit di sebelah kiri kami dan melihat di atas bukit tersebut samar-samar terlihat rumah-rumah penduduk di atas bukit tersebut, kemudian saya bertanya ke salah satu Porter kami, "itu Baduy Dalam ya?" dan si Akang menjawab "bukan bu, itu baru Baduy Luar..." Seperti tak percaya saya tanyakan lagi sama Asda dan jawabannyapun sama, "Itu Baduy Luar" Astagaaa... Sampai terpana saya mendengarnya, ternyata dari kemarin kita sudah menaiki perbukitan setinggi itu dan bahkan Baduy Dalam lebih tinggi lagi letaknya. Amazing!!!

      Sampai sekitar 1,5km, jalanan mulai menanjak lagi, tapi kali ini adalah tanjakan terakhir yang panjangnya sekitar 300 meteran dengan tingkat kemiringan 50-55 derajat lah kira-kira. Ketika kami menjumpai bangunan sederhana berwarna hijau, dan berbentuk masjid, hati pun senang karena desa Ciboleger sudah didepan mata. Beberapa yang telah tiba dilokasi terlebih dahulu langsung menuju rumah dibelakang warung tempat kami makan siang, kemudian rebahan diteras rumah melepas lelah dan kemudian bersiap-siap mandi dan berangkat pulang ke Jakarta. Sebelum masuk elf, Kang Asmin memberikan ke salah satu anggota kita gula aren untuk oleh-oleh. Makasih Kang Asmin. (^_^)
      Berakhirlah sudah Perjuangan kami… Sedih, senang, susah telah kami lalui semuanya. Semuanya terasa indah selama perjalanan, pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, Patut diacungi jempol kepada Bapak-Bapak yang usianya sudah lebih dari 50 tahun, tetap bersemangat meskipun sudah letih sekali. Semua rasa letih dan penasaran terbayar sudah. Terima kasih kami ucapkan tuk porter-porter kami khususnya Kang Naldi, Kang Asmin, Kang Ajun, Asda dan 9 porter lainnya yang tak sempat aku kenal. Keramahan, kesabaran dan semangat kalianlah yang menyemangati kami.
      Sedikit informasi penting untuk perjalanan ke Baduy Dalam:
      -          - Jangan mengambil foto, dilarang menggunakan sabun, detergen, pasta gigi dan lainnya yang mengandung bahan-bahan kimia yang bisa merusak alam.
      -          - Dilarang membuang sampah sembarangan, karena warga suku Baduy amat mencintai kebersihan dan keasrian alam. Jadi bawalah kantong sampah sendiri dari jakarta.
      -       - Jangan lupa bawa senter (karena jarang ada yang menjual senter diBaduy), tuk kebutuhan di jalan andaikan kemalaman dan apabila hendak ke Sungai di malam hari & air minum secukupnya saja, karena disetiap kampung atau desa pasti ada warung kecil yang menjual air mineral dan harganya Rp 3.000,- s/d Rp 5 000,- saja 1 botol yang ukurannya 600 ml.
      -       - Bagi yang tak terpisahkan dari HP silahkan, ternyata signal dari beberapa provider bisa menjangkau sampai ke Baduy Dalam, tapi pakai HP nya hati-hati ya, jangan sampai kepergok sesepuh Baduy Dalam.
      -          - Harga indomie semangkok Rp 5.000, kopi secangkir Rp 3.000,-
      -          - Harga baju  khas Baduy berkisar dari Rp 90.000 s/d 200.000,- (bahannya tebal dan bagus), celana pangsi (7/8) Rp 90.000,- selendang panjang kurang lebih 1.75 meter Rp 100.000,- kain 2x2 meter Rp 200.000 s/d 250.000,- semua asli tenunan penduduk local.
      -          - Harga Madu botol kecil Rp 50.000,- botol besar Rp 100.000,-
       
    • By dernz27
      Halo semua,
      Salam Kenal 
      Sesuai judul, saya ingin tanya pantai mana saja di daerah selatan malang yang kita bisa berenang atau main main air cantik gitu hehehe..
      ps : selain pantai tiga warna dan gatra ya, karena kesananya hari kamis dan pengelolanya tutup hari kamis.
       
      Sesudah capek2 di pantai, saat nya makan nih... tp butuh referensi juga kuliner enak unik di malang rekomendasi teman-teman jalan2.com
       
      Thanks before 
    • By nichenk
      hai, saya anggota baru di komunitas ini. may tanya, rute dan budgetnya ke pulau 345 di banten gimana ya? kalau pake kereta.
    • By Muhammad Harits Arfan
      Mau Tanya, saya kan rencananya mau tour 1 bus ke pantai indrayanti dari cirebon,
      nah saya pengen pagi itu sudah ada di daerah imogiri, sekitar jam 5.. nah kira-kira resto yang bisa dikunjungi jam 5 pagi untuk mandi, dan sarapan jam 6 pagi  dmn ya?
      mohon info alamat dan no telpnnya kawan,, :)
    • By Barajiwa Patria Soedarmo
      Hallo guys ketemu sama ane sang travler super alami sejati :wakaka di treat ane, kali ini ane bakal ngajak ente sekalian jalan-jalan di sekitar Jawa Barat tempat kedua ortu ane dilahirkan. Tempat yang pertama mungkin tempat yang biasa agan kunjungi karena pantainya memang sudah terkenal yaitu Pantai Pangandaran tapi kali ini ane bukan untuk main di pantainya melaikan untuk snorkling:wow , nyok kita liat map nya

      Tempat kedua kami juga pergi untuk merelaxkan diri di pemandian air panas Ciater :matabelo . Sebelum ke cerita ane mau memperkenalkan temen-temen ane yang ikut dalam perjalan kali ini
       
       
       
       
       
       
       

      Day 1, 26 Februari 2016
      Singkat cerita kami ber4 (ane, Mardha, Made, Arif) sudah sampe terlebih dahulu di tempat checkpoint kami yaitu di Rumah Makan dan Motel Saung Lembu, Citalok, Sumedang, Jawa Barat dari Semarang tanggal 25 Februari 2016:recsel .

      Di Saung Lembu kami kami bisa istirat dan makan sambil menunggu rombongan Jakarta yaitu Bernard, Grandy, Rico, sama Mbel dateng.:cd: Namun ketika siang pun kami merasa bosen karena tidak ada kegiatan maka kami memutuskan jalan-jalan sebentar ke tempat rekreasi sekitar sana:travel yaitu waduk Jatigede yang sebenernya tidak terlalu jauh namun karena kita nyasar yasudahlah :sorry . Nah ini gan kira-kira tempatnya kita ambil foto tidak banyak karena setelah sampe disana ada hujan dan kita emang kurang beruntung:mewek
       
    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Masih ingatkah kamu dengan film Laskar Pelangi yang sempat menjadi legendaris? Film yang diangkat dari novel berjudul sama itu menceritakan kisah perjuangan anak-anak dari Belitung yang ingin mendapatkan pendidikan dengan sebagaimana mestinya.
      Nah, setelah melihat filmnya, tentu terbersit ide untuk mengetahui lebih dekat berbagai destinasi wisata yang menjadi lokasi syuting film ini. Film Laskar Pelangi menampilkan berbagai suasana destinasi wisata yang indah dan menyenangkan untuk disambangi.
      Apakah kamu penasaran dan ingin segera mengetahui tentang berbagai destinasi wisata apa sajakah yang menjadi lokasi syuting film ini? Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasnya dalam menyambangi berbagai destinasi wisata lokasi syuting Laskar Pelangi di Belitung berikut ini.
       
      1. Museum Kata Andrea Hirata


      Museum Kata Andrea Hirata via Mitra Belitung
       
      Untuk mengawali perjalanan wisatamu dalam menyambangi berbagai destinasi wisata lokasi syuting Laskar Pelangi di Belitung, kamu dapat memulainya dengan menyambangi Museum Kata Andrea Hirata berikut ini.
      Lokasi tepat dari museum ini adalah di Lenggang, Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Suasana yang disajikan oleh novel Laskar Pelangi langsung terasa ketika kamu mulai menginjakkan kaki di dalam museum ini.
      Foto-foto yang terpajang di museum ini akan sangat mengingatkanmu tentang perjalanan dari novel Laskar Pelangi ini. Laskar Pelangi sendiri merupakan salah satu karya sastra yang menjadi kebanggaan masyarakat Belitung.
      Di ruangan ini terdapat kalimat-kalimat dari sang penulis yang sangat inspiratif seperti “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Selain itu, kamu juga akan dapat melihat cuplikan dari novel yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini.
      Ketika masuk lebih dalam, kamu akan dapat melihat sebuah ruangan yang sangat nyaman lengkap dengan buku-buku yang berserakan. Di ruangan ini, dipajang juga foto-foto adegan Laskar Pelangi. Cover-cover Laskar Pelangi yang telah diterbitkan di berbagai negara juga terdapat di ruangan ini.
      Ruang utama ini menjadi penghubung ke ruang-ruang yang diberi nama berdasarkan tokoh-tokoh yang terdapat di film Laskar Pelangi. Ruang pertama adalah Ruang Ikal. Di ruang ini, kamu dapat melihat berbagai penggambaran sosok Ikal. Di ruang ini juga terdapat foto perpisahan antara Ikal dan Lintang.
      Di sebelah ruang Ikal, terdapat ruang Lintang. Di ruang ini digambarkan berbagai penggambaran mengenai tokoh Lintang yang sangat cerdas.
      Di sebelahnya, terdapat ruang Mahar. Mahar adalah sosok yang sangat mengerti seni. Di ruang ini terdapat foto mengenai inspirasi Mahar yaitu Rhoma Irama.
      Museum ini didirikan oleh Andrea Hirata pada tahun 2002. Tidak ada biaya yang dikenakan jika kamu ingin menyambangi museum ini.
       
      2. Pantai Tanjung Tinggi


      Pantai Tanjung Tinggi via Sumatra Tour
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata di Belitung yang dapat kamu sambangi sambil melihat lebih dekat lokasi syuting Laskar Pelangi. Destinasi wisata ini tergolong sudah cukup terkenal di Belitung.
      Destinasi wisata ini adalah Pantai Tanjung Tinggi yang terletak di Keciput, Sijuk, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang diapit oleh dua semenanjung yaitu Tanjung Kelayang dan Tanjung Pendam.
      Nama Tinggi sendiri berasal dari ratusan batu granit besar yang terletak di Pantai Tanjung Tinggi ini. Pantai ini memiliki areal seluas 80 hektar, berpasir putih serta terdapat ratusan batu granit besar yang terdapat di dua semenanjung tersebut.
      Pantai ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Tanjung Pandan. Hamparan pasir putih serta air laut yang berwarna biru toska menjadi salah satu keunggulan dari Pantai Tanjung Tinggi ini.
      Berbagai aktivitas wisata bisa kamu lakukan ketika menyambangi pantai ini. Berbagai aktivitas wisata yang dapat kamu lakukan tersebut antara lain adalah berjemur, berenang, memancing, snorkeling, menyelam, dan menyewa jetski serta menjelajah dengan kano atau perahu karet.
      Ketika kamu melakukan penyelaman, kamu akan menjumpai berbagai jenis, bentuk dan warna spesies laut yang menghuni pantai ini beserta “rumah-rumahnya” yang terbuat dari terumbu karang.
      Setelah lelah beraktivitas, kamu dapat mencoba untuk mencicipi salah satu kuliner yang menjadi kebanggaan di daerah Belitung ini. Kuliner tersebut adalah Gangan. Gangan adalah masakan yang berupa sayur yang menggunakan kunyit sebagai bumbu utamanya, yang kemudian diolah bersama nanas muda dan kepala ikan. Gangan memiliki rasa asam pedas yang akan membuatmu semakin berselera dalam mencicipinya.
       
      3. Batu Berlayar


      Batu Berlayar via Mitra Belitung
       
      Selanjutnya, inilah dia destinasi wisata yang dapat kamu sambangi di Belitung. Destinasi wisata ini juga menjadi salah satu daya tarik dan merupakan spot lokasi syuting film Laskar Pelangi.
      Destinasi wisata ini adalah Batu Berlayar yang terletak di sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Di pulau ini juga tersedia batu-batu granit berukuran raksasa yang sangat unik.
      Batu-batu ini berdiri di atas pulau berpasir putih yang lembut dan dikelilingi birunya air laut yang tenang. Tidak hanya batu granitnya saja yang indah, kamu juga dapat menyaksikan keberadaan biota-biota laut seperti ikan-ikan cantik dan bintang laut juga menjadi salah satu nilai tambah dari pulau ini.
      Batu Berlayar terdiri atas 2 batu granit utama yang berdiri secara vertical setinggi kurang lebih 10 meter. Di sekitarnya terdapat banyak batu granit dengan formasi yang tidak kalah artistic.
      Ada satu bagian yang unik dari pulau Berlayar, yaitu sebuah batu granit di tepi pantai yang sebagian tertutup air dimana bagian atasnya berbentuk seperti sirip ikan hiu atau mirip juga dengan gigi ikan hiu. Nah, untuk melengkapi perjalanan wisata mengunjungi berbagai lokasi syuting Laskar Pelangi, kamu dapat melengkapinya dengan menyambangi lokasi yang satu ini.
       
      4. Tugu Batu Satam


      Tugu Batu Satam via The Aroengbinang Project
       
      Nah, inilah dia lokasi syuting selanjutnya yang dapat kamu sambangi di Belitung. Lokasi ini adalah Tugu Batu Satam yang terletak di tengah kota Tanjung Pandan.
      Lokasi tugu ini yang terletak di pusat kota membuatnya selalu ramai dengan banyak mobil dan motor yang berseliweran, sehingga membuat agak sulit untuk memfoto tugu ini tanpa adanya mobil dan motor yang berseliweran.
      Di tugu ini, terdapat kolam air mancur yang airnya selalu mengucur hidup serta jalur jalan pedestrian yang mulus. Delapan pilar menyangga Batu Satam yang ukurannya cukup besar.
      Tugu Batu Satam ini dibuat bukan hanya sebagai salah satu landmark Belitung, tetapi juga untuk mengingatkan tentang Batu Satam. Batu Satam sendiri merupakan cindera mata yang khas dari Belitung dan biasanya diburu oleh para penggemar batu.
      Satam sendiri berasal dari bahasa Cina. Sa berarti pasir dan Tam berarti empedu. Batu satam ditemukan oleh para penambang timah darat di Belitung sehingga seolah empedu pasir meskipun warnanya hitam mengkilat bukan hijau gelap.
      Peran batu satam rupanya cukup efektif dari segi ekonomi, karena adanya Tugu Batu Satam ini juga efektif membuat para pengunjung ingin datang dan membeli batu satam ini.
       
      5. Replika SD Muhammadiyah


      Replika SD Muhammadiyah via Blog Mister Aladin
       
      Inilah dia destinasi wisata di Belitung lainnya yang dapat kamu kunjungi agar dapat melihat lebih dekat lokasi syuting Laskar Pelangi. Destinasi wisata ini adalah replika SD Muhammadiyah yang terletak di Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Belitung Timur.
      Kondisi SD Muhammadiyah Gantong saat ini sudah disemen dan dalam kondisi yang jauh lebih baik. Hal inilah yang kemudian mendorong dibangunnya replika gedung SD Muhammadiyah Gantong agar menjadi mirip dengan kondisi aslinya dulu.
      Sekolah Laskar Pelangi sendiri adalah simbol dan gambaran sekolah yang minim fasilitas dan serba kurang ideal. Dibangun di atas bukit penambangan timah, replika sekolah ini memang dibuat sedemikian rupa agar menjadi mirip dengan kondisi aslinya.
      Bangunan ini harus disangga dengan kayu agar tidak rubuh. Di salah satu ruangan kelas replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi ini terdapat beberapa meja dan juga kursi.
      Terdapat dua lubang besar pada atap seng yang akan membuat sinar cahaya matahari masuk dengan bebas. Pada waktu hujan juga akan membuat air hujan masuk perlahan ke dalam replika gedung ini.
      Pada list plang replika bangunan ini, terdapat dua buah papan dari kayu. Yang di kiri terdapat “SD Laskar Pelangi” berlatar anak-anak Laskar Pelangi tengah duduk di tepian pantai saat matahari terbenam. Sementara itu, di sisi kiri terdapat “SD Muhammadiyah Gantong” yang tulisannya sudah agak memudar.
      Jika tertarik untuk melihat lebih dekat replika SD yang dulu digunakan oleh Laskar Pelangi untuk menimba ilmu, kamu tentu dapat mencoba untuk menyambangi tempat ini. Jangan lupa untuk mengabadikan dirimu dalam foto ketika datang dan menyambangi replika gedung SD Muhammadiyah ini.
       
      6. Pantai Bukit Batu


      Pantai Bukit Batu via Pakai Ransel
       
      Belitung Timur memang memiliki berbagai destinasi wisata pantai yang indah dan tentu saja sayang untuk kamu lewatkan. Nah, salah satu destinasi wisata tersebut adalah Pantai Bukit Batu yang terletak di Burung Mandi, Damar, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung.
      Pantai ini menyajikan pesona pantai yang indah dengan bebatuan yang menakjubkan. Hal ini membuat banyak pengunjung ingin datang dan menyambangi destinasi wisata yang satu ini.
      Pantai Bukit Batu Belitung Timur, letaknya di Desa Burung Mandi Kecamatan Damar Belitung Timur yang berdampingan dengan Pantai Burung Mandi dengan jarak kurang lebih 2 km.
      Biaya yang dikenakan jika kamu ingin memasuki pantai ini adalah sekitar 2 ribu hingga 5 ribu rupiah. Nah, biaya tersebut akan lebih mahal jika wisatawan menggunakan fasilitas tambahan seperti hiburan music dan juga fasilitas lainnya.
      Untuk mencapai pantai Bukit Batu memang susah-susah gampang. Dari pendopo utama, kamu harus menyusuri jalan setapak yang dibuat di tengah hutan. Namun, saat tiba di pinggir pantai, semua kelelahan akan sirna. Terutama setelah kamu melihat salah satu titik di bibir pantai yang kerap dijadikan lokasi pemancingan diantara batu besar di pinggiran pantai.
      Bukit Batu sendiri adalah pantai yang tidak begitu panjang. Pantai ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu berbatu besar dan juga berpasir. Bebatuan granit dengan ukuran yang berbeda-beda membuat pantai ini terlihat cantik dan ciamik untuk kamu sambangi.
      Terdapat sebuah restoran yang menyerupai sebuah wisma yang terletak di tengah hutan lindung yang lebat, menimati kuliner sambil mendengar bunyi burung dan deburan ombak yang membuat perasaan tenang bila pengunjung berkunjung di kawasan ini.
      Pantai ini dilengkapi dengan beberapa bangunan gazebo yang dapat digunakan wisatawan untuk istirahat, bersantai sambil menikmatik keindahan pantai bukit batu. Ada juga beberapa fasilitas lainnya, seperti penginapan, toilet dan restoran. Itulah sebuah kawasan wisata Pantai Bukit Batu.
      Nah, untuk melengkapi perjalanan wisatamu ketika mengunjungi Belitung dan ingin melihat lebih dekat pesona wisata yang ditawarkan oleh salah satu lokasi syuting Laskar Pelangi, kamu dapat mencoba untuk menyambangi Pantai Bukit Batu yang satu ini.
       
      7. Pulau Lengkuas


      Pulau Lengkuas via Tekooo
       
      Inilah dia salah satu destinasi wisata yang menjadi primadona di Belitung. Destinasi wisata ini adalah Pulau Lengkuas yang terletak di Kepulauan Bangka Belitung.
      Pulau Lengkuas sendiri merupakan salah satu pulau dari sekian banyak pulau yang mengelilingi kawasan Bangka Belitung. Nah, untuk melengkapi perjalanan wisatamu ketika menyambangi Belitung, jangan lupa sempatkan waktumu untuk menyambangi Pulau Lengkuas ini.
      Daya tarik utama dari Pulau Lengkuas ini adalah sebuah mercusuar tua yang dibangun pada masa kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1882. Mercusuar itu masih berdiri dengan sangat gagah hingga saat ini sehingga mengundang banyak wisatawan untuk datang dan berkunjung ke pulau yang satu ini.
      Hingga saat ini, mercusuar ini juga masih berfungsi dengan sangat baik dan mampu menjadi penuntun lalu lintas kapal yang melewati dan keluar masuk Belitung. Bagi kamu yang ingin mencoba memasuki mercusuar, kamu dapat mencoba untuk memasuki mercusuar yang memiliki tinggi sekitar 50 meter ini. Mercusuar ini memiliki belasan lantai yang akan membuat wisatawan merasa mampu dalam melihat berbagai pemandangan yang terdapat di sekitar Pulau Lengkuas ini.
      Untuk merasakan pemandangan baru yang berbeda, tentu kamu dapat mencoba untuk menyambangi dan masuk ke dalam mercusuar yang satu ini.
      Secara spesifik, lokasi dari Pulau Lengkuas ini berada di sebelah utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Keindahan panorama di pulau ini dihiasi dengan banyaknya batu granit yang unik.
      Selain itu, pasir putih dan air laut yang jernih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Lengkuas yang satu ini. Pulau ini memiliki luas yang tidak lebih dari satu hektar namun mampu menjadi magnet wisata bagi banyak pengunjung sehingga pulau ini tidak pernah sepi setiap harinya.
      Disekitar pulau terdapat batu-batu granit yang tersusun rapih, struktur batu-batu granitnya juga unik dan berbeda dengan tempat-tempat lain dengan kombinasi pantai yang berpasir putih dan pepohonan. Selain itu Pulau Lengkuas memiliki air alut yang benar-benar jernih, anda bisa dengan jelas melihat ke dasar laut termasuk ikan-ikan yang berenang di dalamnya.
       
      Nah, itulah dia penjelasan mengenai menyambangi berbagai destinasi wisata lokasi syuting Laskar Pelangi di Belitung. Menyenangkan sekali bukan ketika kamu dapat menyempatkan diri untuk berwisata sekaligus mengenal lebih dekat seperti apa kehidupan para Laskar Pelangi di zaman dahulu.
      Semoga artikel ini dapat menjadi panduanmu dalam mengunjungi berbagai destinasi wisata yang menyenangkan di Belitung.
      Happy traveling!