Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda
  • agoda-hemat.png

  1. Muhammad Yusufi

    Muhammad Yusufi

  • Similar Content

    • By Titi Setianingsih
      Selamat sore JJ’er,,,siapa yang belum pernah dengar kemashuran Danau Toba dan Pulau Samosirnya ? Saya yakin tidak ada, karena tempat ini sudah sangat tenar hingga ke mancanegara. Sebagai wisatawan domestic, tempat ini sudah masuk dalam wishlist, tapi baru di penghujung 2016 akhirnya baru kesampaian mengunjunginya.
      Alhamdulillah, dengan matangnya persiapan untuk menuju kesini, yakin akan lancarlah perjalanannya, tentu saja karena dibantu teman2 yang ada di Medan sana. Inilah kelebihannya jika punya banyak teman, kemanapun ada yang menolong.  Jadi kami jalan2 kali ini menggunakan sistem share cost plus bonus berupa free mobil dan penginapan di Berastagi, sehingga pengeluaran total selama 3 hari disana hanya Rp. 800.000,- belum termasuk tiket pesawat PP. Mau tahu cerita selengkapnya kan ? Begini ceritanya kawan….
      Hari Pertama, 10 Desember 2016
      Kami berangkat dari Jakarta jam 05.00 menggunakan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta untuk menuju bandara Kuala Namo Medan. Kurang lebih sampai sana jam 7.15, dan teman saya yang nama panggilannya Uda sudah siap menunggu disana untuk menjemput dan mengantar kami berkeliling di Sumatera Utara.


      \
      Kali ini kami hanya ber5 : Saya, Nani, Mbak Anisa, Ami dan Mbak Okati,,,
      Romance Bay
      Saking paginya kami berangkat tentu saja perut sudah keroncongan, mau mencari sarapan pagi sepertinya susah, sudah tengak tengok sepanjang jalan kok tidak ada yang nyantol, akhirnya kami putuskan untuk makan di daerah Perbaungan Serdang Bedagai, sekalian mau singgah ke Romance Bay Pantai Cermin, sebuah pantai yang lagi ngehit. Tempat makannya seperti Warung Padang kalau di Jakarta, penyajiannya juga sama, jadi tidak terlalu special yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan sarapan paginya.
      Jalan menuju pantai lumayan rusak dan sempit, tapi petunjuknya sangat mudah, dan disekitar area tersebut banyak terdapat pantai2 yang dikelola oleh masyarakat setempat. Ada beberapa pantai yang ditawarkan penduduk desa tapi tujuan kami tetap menuju Romance Bay. Setelah sampai, ternyata sesuai namanya, pantai tersebut dibuat dengan hiasan2 yang sangat romantic, terdapat kelambu2 warna pink dan bentuk2 love beraneka rupa, cucok buat spot foto2 kami.




      Tiket masuk wisata ini sebenarnya Rp. 35.000 per orang, tetapi karena kami hanya perlu sebentar maka kami ber6 plus mobil hanya bayar Rp. 100.000,- (Ibu2 kalau tidak menawar tidak puas rasanya).
       
       Dan setelah foto2 sepuasnya kami melanjutkan perjalanan menuju Tebing Tinggi, disana sudah ada yang menunggu, teman KJJI Tebing Tinggi. Kenapa di setiap sudut kota ada saja teman yang mencegatnya ? Karena sebelum berangkat sudah saya umumkan di facebook yang saya tag satu2 teman2 yang lokasinya ada disepanjang perjalanan menuju Danau Toba.
       Restoran India
      Berkali-kali teman saya telepon, menanyakan sudah sampai mana kok lama sekali tidak sampai2, ternyata kemacetan jalan bukan hanya milik Jakarta, di Tebing Tinggipun macet panjang, tetapi karena ada kendaraan mogok rupanya, dan hal ini sudah membuat kami gelisah karena perjalanan menuju Danau Toba masih sangatlah panjang. Dan ketika saatnya sampai di Restoran India yang beralamatkan di Jl Ahmad Yani no 46 Tebing Tinggi, tempat meet up kami, sebenernya sudah saatnya makan siang, tapi karena perut masih kenyang maka kami hanya dipesankan juz martabe dan martabak serta roti cane sebagai masakan khas restoran ini. Subhanallah, enak luar biasa, dalam kondisi cuaca yang panas disuguhi juz yang super dingin, cucok aja rasanya.




      Selagi asyik2nya kami melepas kangen dengan teman kami, Mbak Ayu namanya, datang lagi telepon dari teman yang ada di Siantar, yang katanya hendak mencegak kami di Jl Asahan, olala,,,,,indah sekali persahabatan ini, di-mana ada kawan yang baek,,,,Alhamdulillah.
      Akhirnya selepas shalat dzuhurpun kami buru2 meninggalkan Tebing Tinggi untuk menuju Siantar. Oh ya, satu lagi teman kami yang di Tebing Tinggi batal menemui kami karena ada salah satu keluarganya yang meninggal dunia di Pematang Siantar, dan betul rupanya, ketika kami sampai di Siantar terlihat karangan bunga tanda duka cita berjejer di sepanjang jalan.
       Kopi Massa Kok Tong
      Sudah kurang lebih jam 15an ketika akhirnya kami sampai di Jalan Asahan, di bilangan Megaland Pematang Siantar, tempat dimana Kedai Kopi Massa Kok Tong berada. Teman kami sudah memesan tempat di ruang yang berAC, sangat oke menurut saya interior ruangannya, serba coklat dan banyak asesories bergaya jadul, teman2 langsung pada foto2 hampir di setiap sudut kedai kopi. Hhhhmmmm pesananpun special kopi dan mie gomak sebagai menu khas disini. Saya sebagai penikmat kopi sudah tahu dari aromanya yang mantap, sangat keras menusuk hidung, pasti nendang ini kopi. Benar deh,,,ajiiibbbb dan lekkeeerrr ini kopi,,,,!!
       Saking gak percaya dengan testimoni pribadi, akhirnya saya googling deh, dan ini beberapa kesaksian dari konsumen kopi massa kok tong :
       “Dari beberapa pilihan kopi Kok Tong, kami berangkat ke Kopi Kok Tong yang berada di Megaland. Lokasinya enak, parkir luas Kebetulan kami berkunjung sekitar jam 8 malam, ternyata masih sangat ramai. Pesan kopi hitam O, dan cemilan yang beraneka rupa. Kopinya cukup keras, buat yang gak biasa ngopi disarankan memilih menu kopi lain. Tempat yang asik buat ngobrol sampai larut...”
       “Sekalinya ke kota Siantar dibawa teman nongkrong di tempat ini. Tempatnya cukup nyaman dan lokasi di tempat strategis. Minumannya banyak pilihan. Demikian juga makanannya bisa bebas memilih. Tersedia juga mie gomak yang mantap rasanya. Bolehlah utk tempat santai”.




      Benar kan ? Banyak yang suka dengan Kopi Kok Tong, terima kasih kawan sudah culik kami kesini. Untuk mengisi waktu, kamipun poto2 di Kompleks Megaland, sebuah kompleks elit yang punya landscape lumayan. Kebetulan teman kami kenal pada pemilik salah satu Rumah antic disini, jadi alas an untuk bis amasuk kedalam komplek, karena kalau tamu tak diundang tidak diijinkan masuk.
      Villa Dorbon Village
      Sehabis foto2 kami lanjutkan perjalanan menuju Danau Toba, sempat mau singgah ke vihara terbesar di Asia Tenggara yang lokasinya di Pematang Siantar tapi sesudah sampai TKP langsung diguyur hujan lebat, akhirnya kami urungkan untuk turun, terlebih lagi pintu gerbangnya sudah di tutup, jadi sudah benar2 tidak ada harapan untuk masuk. Sutralaaahhhhhh,,,
      Kamipun lanjutkan perjalanan lagi, cukup panjang kali ini perjalanannya, Siantar-Parapat, rasanya badan kami hancur lebur, dari sore sekitar waktu Ashar hingga Maghrib kami baru sampai di Parapat, walau ucapan “Selamat Datang di Objek Wisata Danau Toba” sudah terbaca sejak entah di kota mana, tapi baru kurang lebih 4 jam  kami nyampai. Dan pertama kali yang kami cari tentu tempat penginapan yang sudah kami booking via Traveloka, view yang Nampak tepat di bibir Danau Toba, kami sudah bayangkan keindahannya, tapi,,,,,,lama sekali kami cari penginapan itu akhirnya baru dapat. Jalanpun sempit menuju penginapan, rupanya Pemda setempat belum menyentuh daerah sekitar Long Beach. Iyaa, kami menginap di Villa Dorbon Village di Jl Justin Sirait, Long Beach Ajibata Ujung, Parapat.


      Sebenernya villanya baru sekitar 5 bulan dibangun, alat2nya masih baru dan masih bersih, tapi kalau malam ternyata sepi sekali, karena lokasinya ada diujung yang belum sempat tersentuh Pemda. Untuk yang menyukai kesunyian pastinya suka. Walau untuk keluar menuju pusat keramaian di Parapat agak jauh, tapi kami sempatkan keluar villa juga mengingat kami belum makan malam, dan kebetulan lagi ada Festival Danau Toba (semacam pemilihan Abang dan None kalau di Jakarta), jadi jalanan lumayan macet. Kami makan malam sekalian mencari oleh2 khas Parapat.




      Oleh2 khas Parapat, apa ya yang enak ? Iseng2 kami beli mangga udang, katanya hanya ada di Parapat, mangganya kecil dan kulitnya kuning. Makannya di kupas pakai tangan dan langsung digigit saja daging buahnya. Cukup manis kalau makannya sudah benar2 masak.
      Selain mangga udang ada juga kacang kulit jenis kacang garing SIHOBUK, kalau di Jawa Tengah ada yang namnya kacang kletik, dan kalau di Minahasa ada Kacang Kawangkoan,,,begitulah kira2 rasanya. Tapi kacang garing SIHOBUK Cuma ada di Parapat saja, jadi jangan di lewatkan yaaaa….

       Selesai makan malam kami kembali ke penginapan dan tiduuurrrrr zzzzzzzz…..
       Hari Kedua, 11 Desember 2016
       Pulau Samosir
      Menyeberangi danau Toba dengan menggunakan kapal ferry adalah tujuan utama kami ke Sumatera Utara. Kurang lebih jam 7.00 pagi kami check out dari penginapan untuk kemudian menuju dermaga penyeberangan di Ajibata menuju Tomok. Kami pilih kapal ferry biasa dengan tiket 8.000 per orang, mobil kami numpang parkir di saudaranya pemilik Villa supaya ngrasa aman. Kalu semisal nginapnya di Samosir maka mobil bisa kita bawa nyebrang pakai kapal ferry dengan biaya kurang lebih 110.000,-





      Untuk yang suka mabok kalau naik kapal bisa ambil seat yang di atas, jadi bisa leluasa menikmati alam sekitar dari atas kapal sehingga bisa mengurangi maboknya. Atau bisa di belakang nakhoda juga nyaman karena terbebas dari asap rokok penumpang lainnya. Saya ambil seat di atas supaya bisa foto2 sepuasnya, Cuma sayang agak panas jadi siap2 saja pakai topi lebar untuk menutupi wajah dari sengatan sinar matahari.


      Setibanya di Dermaga Tomok kami langsung mencari sarapan pagi, ada lontong sayur khas Samosir yang menurut teman saya lontong sayur terenak yang pernah dimakannya, entah apa yang membedakannya, tapi dari tampilannya memang kelihatan enak.



      Begitu masuk lokasi wisata, yang terlihat duluan deretan toko2 souvenir khas Samosir, apa mau dikata, mata ini semakin hijau saja rasanya, secara gak sengaja akhirnya kami berpencar dan hilang dalam kerumunan orang2/pengunjung lainnya. Iyaaa karena hari libur jadi pengunjung lumayan banyak dan jalan setapak menuju lokasi wisata menjadi terasa sempit.
      Patung Si Gale-Gale
      Ini patung kayu yang sangat legendaries, dia adalah anak Raja Rahat yang pandai menari, nama lengkapnya Si Raja Manggale, sayang di usia muda meninggal dalam peperangan. Saking sayangnya Sang Raja kepada Putranya, sepeninggal Si Gale2 Sang Raja sakit, kmd dibuatlah patung kayu yang mirip Putranya dan kabarnya bisa menari sendiri, Sang Raja akhirnya bisa sembuh dari sakitnya. Sekarang Si Gale2 menjadi salah satu ikon Pulau Samosir, setiap pengunjung bisa menari bersama Si Gale2 dengan bayar Rp. 80.000 per pertunjukan, biasanya dibuat rombongan, kemudian disertai dengan pembacaan sejarah Si Gale2.  




      Makam Raja Sidabutar
      Habis lihat Si Gale2 kami melanjutkan perjalanan menuju Makam Raja Sidabutar, ada beberapa makam dalam satu komplek pemakaman ini, jika ingin tahu ceritanya maka masuklah ke komplek makam dan ikut duduk mendengarkan guide local menceritakan sejarah Raja Sidabutar. Raja Sidabutar adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Samosir maka akhirnya beliaulah yang menjadi raja disini. Makamnya terbuat dari batu yang dipahat tanpa sambungan, makanya disebut juga sebagai peninggalan jaman Megalitikum.



      Untuk masuk kesini kami dipakiakan kain ulos, kemudian duduk di balai2 dan dengan khidmat menyimak penuturan guide local. Jika ingin meninggalkan acara ini bisa melalui pintu keluar, kemudian menyerahkan kain ulos yang kita pakai dan menaruh uang seikhlasnya ke kotak.
      Museum Batak
      Museum batak memiliki berbagai macam koleksi yang berkaitan dengan tanah Batak. Di tempat ini terdapat berbagai jenis kain ulos dengan fungsi pemakaian yang berbeda serta pakaian adat Batak, patung-patung yang terbuat dari kayu, pedang, berbagai macam peralatan pertanian, peralatan rumah tangga yang merupakan koleksi peninggalan Batak kuno, naskah kuno, gondang Batak, dan koleksi lainnya.


      Berfoto-foto disini dengan latar belakang Rumah adat batak menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi museum ini. Tapi pengunjung bisa mengisi kotak seikhlasnya.
      Sehabis dari sini kami buru2 menyeberang lagi menuju Dermaga Ajibata untuk melanjutkan perjalanan menuju Berastagi. Jalur Simarjarunjung yang kami ambil, supaya bisa melihat Danau Toba dari sisi yang lain.
      Gardu Pandang Simarjarunjung
      Siapa sangka kalau pada akhirnya kami bisa mengelilingi Danau Toba yang termashur ini, berangkat lewat Pematang Siantar dan pulang lewat Simarjarunjung. Sepanjang perjalanan tampak Danau Toba disisi sebelah kiri jalan. Cuaca cerah siang itu menambah cantiknya Danau Toba, kaki rasa2nya mau turun saja untuk ambil foto, tapi teman kami bilang nanti saja ambil foto2nya di Gardu Pandang Simarjarunjung. Dan sementara kami hanya bisa menikmati dari kaca mobil pemandangan kiri kanan jalan yang aduhai, sebelah kanan perkebunan kopi dan sebelah kiri danau Toba. Sementara juga jalan di depan kami ber-kelok2, Nampak ada serombongan orang bersepeda tengah susah payah menaiki bukit.



      Lumayan lama kami berkendara hingga akhirnya ketemulah gardu pandang yang kami cari, kami lalu berhamburan menepi dan ambil handphone masing2 untuk mengabadikan Danau Toba dari ketinggian. Rupanya disini lagi ada event sepeda santai, Nampak masih ada air mineral dan buah2an teronggok di meja Panitia, dan rejeki mommy shaleh hingga kamipun ikut menikmati buah2an itu. Tak cukup sebuah 2 buah untuk dinikmati di tempat, kamipun angkut itu buah2an ke mobil,,,,olala
      Okey,,,kami lanjutkan perjalanan lagi, masih ada destinasi yang menarik, namun karena lapar menghadang, akhirnya kamipun singgah di rest area yang pertama kami dapati.
      Bar & Restorant Siantar Hotel Simarjarunjung
      Ada makanan special disini, yaitu pisang goreng dipadu dengan wedang jahe, nikmatnya terasa ketika perut setengah lapar dan dalam suasana hawa dingin di puncak Simarjarunjung. Tempatnya siy biasa saja, mungkin karena bangunan sudah lama dan kurang terawat jadi Nampak kurang bersih. Tapi disinilah satu2nya rest area yang luas dan mungkin orang juga tahunya disini jika hendak beristirahat untuk makan dan minum. Ditambah nikmat lagi karena bisa sambil menikmati indahnya danau Toba, sehingga rasa pisangpun berubah entah menjadi rasa apa yang jelas makan 2 potong juga masih kurang. Harga secangkir jahe panas dan pisang goreng Rp. 20.000,-
      Sebenarnya kami belum makan siang, tapi rasanya tidak mau menghabiskan waktu lama2 dijalan, mengingat perjalanan masih lumayan jauh, khawatir destinasi yang sudah direncanakan tidak terkejar.



      Sepanjang jalan kamipun ber-nyanyi2 supaya tidak terasa capainya, dan sambil menemani teman yang bawa kendaraan, kasihan kalau hanya dia yang menahan kantuk dan capai. Hati hampir tergoda ketika kami melewati kebun jeruk di Berastagi, pembeli jeruk bisa petik sendiri, jadi macam agrowisata, tapi kamipun tahan godaan, kami tidak turun, kami cukup menikmati pemandangan perbukitan di kanan kiri jalan yang menghijau.
      Si Piso-Piso
      Air terjun Sipiso-Piso berada di Desa Tongging Kecamatan Merek Kabupaten Karo Sumatera Utara. Papan petunjuk jalannya sangat mudah dicari, dan lokasi air terjun dari jalan tidak jauh, bahkan ketika mobil kita diparkirpun kita sudah bisa melihat keindahan air terjun. Lokasinya sudah bagus, tersedia jalan setapak menuju air terjun. Posisi air terjun ada di lembah, jadi kita kudu menuruni jalan setapak itu hingga ke bawah sekali, bisa dibayangkan berapa jarak ke bawahnya jika tinggi air terjunnya saja kurang lebih 120 meter ? Itulah sebabnya maka kami tidak lakukan itu, kami hanya menikmati dari atas. Dan inipun sudah puas kok, kita bisa menikmati air terjun sekaligus Danau Toba. Jadi berapa luas Danau Toba sebenernya ? Kok di-mana2 masih bisa melihat Danau Toba ?






      Rumah Adat Karo
      Hampir maghrib ketika kami sampai di Desa Lingga, ini merupakan desa budaya, masih masuk wilayah Kabupaten Karo Sumatera Utara. Kabarnya Rumah adat ini sudah berumur ratusan tahun tapi sampai sekarang masih kokoh berdiri. Bentuknya Rumah panggung, di ruangan dalam tidak ada sekat, atapnya terbuat dari ijuk dan ujung atap paling atas terdapat hiasan tanduk kerbau. Satu Rumah dihuni oleh beberapa keluarga, inilah adat yang turun temurun hingga sekarang.
      Ada 2 rumah disini yaitu Rumah Gerga dan Rumah Belang Ayo yang tersisa, unik sekali bentuk rumahnya, dan yang bikin kami geleng2 kepala, Rumah ini dibangun tanpa paku tapi kuatnya luar biasa.



      Kesini gratis, tapi jika tidak keberatan bisa kasih tips kepada orang yang tinggal disitu. Jalan menuju Desa Lingga mudah dicari, kalau sudah di perempatan Tugu Kol (bentuknya seperti sayuran kol) belok kiri jika dari arah Siantar, kemudian ikuti papan petunjuk jalannya, tidak sampai 1 jam nanti akan sampai ke Desa Lingga.
      Untuk mengetahui benda2 peninggalan Adat Karo bisa dilihat di Museum Karo Lingga yang letaknya ada di luar desa ini. Museum ini menyimpan 206 koleksi seperti peralatan dapur, topeng, kain, alat musik, alat berburu, alat pertanian, mata uang, dan berbagai benda bersejarah lainnya.
      Hari Ketiga, 12 Desember 2016.
      Berastagi ternyata dingin luar biasa, dan saya tidak membawa baju tebal, bisa dibayangkan apa yang terjadi ? Kedinginan,,,,
      Kami menginap di Hotel Rudang di Jl. Djamin Ginting No. 15, Berastagi. Kebetulan salah satu teman kami punya teman di hotel ini, jadi kami dapat 2 kamar free, Alhamdulillah.



      Hotel tempat kami menginap berhadapan dengan Hotel Kubu, yang pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno, bangunannya masih asli, sangat asri dan bagus buat hunting foto. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Medan, kami sempatkan foto2 di sekitar hotel.
      Taman Alam Lumbini
      Disini berdiri kokoh Pagoda bernuansa sebagai tempat ibadah umat Budha, bentuknya menyerupai Pagoda Shwedagon di Myanmar. Jadi berada disini serasa berada di Myanmar, alamatnya ada di Barus Jahe, Brastagi, Dolat Rayat, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kalau dari hotel Rudang kita belok kanan, dan tidak berapa lama akan sampai setelah melewati Tempat Pengungsian.
      Masuk kesini gratis, dan dibukanya jam 09.00 pagi, kami kepagian ketika itu jadi sempat menunggu beberapa menit, hamper saja kami meninggalkan tempat ini, untungnya teman2 pada sabar. Antrian cukup panjang karena disamping sebagai tempat ibadah juga dibuka untuk umum, jadi yang Non Budhistpun berwisata kesini.
      Jika hari libur seperti ini biasanya ada ibadah, sehingga pengunjung yang Non Budhist dilarang masuk ke dalam, jadi kami hanya bisa ber-foto2 diluarnya saja dan menikmati hutan tropis yang ada di samping Pagoda. Berbagai macam jenis pepohonan ada di hutan ini.
      Jika dituruti bisa ber-lama2 disini karena hutannya sangat sejuk dan hijau, tapi mengingat hari ini harus ke Jakarta maka kami buru2 tinggalkan tempat ini untuk menuju Medan.




      Gereja Santa Maria Annai Velangkani
      Begitu masuk Medan, kami janjian dengan teman yang tinggal di Medan untuk menjadi “guide” kami.
      Penasaran sama gereja yang bangunannya mirip2 kuil India, kamipun cari dimana lokasinya, dan yang orang Medanpun bingung karena belum pernah tahu apalagi lihat gereja itu. Jadi dengan modal tanya2 akhirnya kami sampai juga, sangat mudah sebenernya dicari, sayangnya pas berangkat papan petunjuk jalannya tertutup daun2an di jalanan jadi gak sempat terlihat dan kami kebablasan. Tapi begitu putar balik langsung ketemu, alamat lengkapnya ada di Jalan Sakura III No. 7-10, Perumahan Taman Sakura Indah, Tanjung Selamat, Medan.




      Graha Santa Maria Annai Velangkanni tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah namun juga menjadi tempat ziarah bagi umat Katolik. Tak heran jika gereja ini begitu ramai dikunjungi para peziarah. Selain itu tempat ini juga diramaikan oleh kehadiran wisatawan yang tertarik dengan arsitekturnya yang. Desain bangunan mengambil gaya arsitektur Indo-Mogul yang begitu indah dan megah.
      Disini terdapat juga sejumlah taman yang semakin memperindah pemandangan di sekitar Graha Santa Maria Annai Velangkanni.
      Penangkaran Buaya Asam Kumbang
      Lokasinya searah dengan Gereja Graha Santa Maria Annai Velangkanni dengan alamat lengkap di Jl.Bunga Raya II No. 59  Sunggal , Kecamatan Medan Selayang  Kota Medan, Sumatera Utara
      HTM 8.000 cukup murah, nyaman, unik, dan menarik. Dan ternyata tempat ini sudah ada sejak tahun 50an, jadi yang mengelola itu turun menurun. Selain ribuan koleksi buaya dari semua umur, penangkaran buaya ini memiliki koleksi hewan seperti kura-kura, ular dan beberapa hewan lainnya.




      Buaya2nya ditempatkan di dalam kolam-kolam serta dalam danau buatan jadi aman bagi pengunjung, tapi tetap harus waspada karena bagaimanapun buaya adalah jenis binatang buas.
      Akses menuju ke penangkaran buaya Asam Kumbang cukup mudah dan dapat dilalui oleh semua alat transportasi seperti angkot, becak maupun sepeda motor dan mobil.
      Restoran Tip Top
      Ternyata Medan macet juga, begitu ter-buru2nya ketika kami hendak menuju restoran legendaries Tip Top untuk makan siang dan ketemu teman yang lainnya di Medan, tetapi kondisi jalanan yang crowded memaksa kami untuk bersabar. Dan alhamdulillah berhubung yang bawa mobil orang Medan maka kamipun punya jalan alternative untuk menembus kemacetan itu.
      Tak berapa lama kamipun sampailah ke Restoran Tip Top di kawasan Kesawan, Jalan Ahmad Yani, Medan. Restoran ini konsisten pada dekorasi tempat konsep kuno dan proses pemasakan menu makanannya juga masih menggunakan tungku kayu bakar sejak tahun 1930-an. 




      Yang paling banyak dicari adalah es krimnya yang dengan cita rasa tempo dulu menggunakan resep nenek moyang tapi masih bisa masuk ke lidah orang sekarang. Dari teksturnya siy terlihat sama dengan es krim kebanyakan, tapi rasanya yang beda, seperti es krim Ragusanya Jakarta.
      Makanan berat yang tersedia kebanyakan Chinese Food, kamipun pilih2 yang tidak terlalu berat seperti I fu Mie dan sebangsanya. Sepertinya yang dicari hanya sensasinya, yang tak mau ketinggalan dengan turis2 lainnya.
      Turis-turis manca negara khususnya warga negara asing dari Belanda paling menggemari tempat ini karena dekorasi interior Belanda yang banyak dipajang. Setelah teman kami yang ditunggu sudah datang, kamipun bergegas meninggalkan tempat ini dan menuju tempat lainnya.
      Istana Maimun
      Istana Maimun adalah istana  Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon kota Medan juga, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.
      Desainnya Italia, pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, sayangnya kami tidak ber-lama2 disini, kami hanya foto2 di bagian luarnya saja, disamping karena sudah pernah kesini juga karena waktu terus mengejarnya.



      Durian Sibolang
      Belum ke Medan rasanya kalau belum makan durian Ucok, dan lucunya, ada teman kami yang gak doyan makan durianpun kepeingin ke Durian Ucok saking penasarannya. Tapi karena waktu sudah mepet akhirnya kami pilih ke Durian Sibolang yang ada di Jalan Iskandar Muda No. 75 C-D Medan. Apalagi dengan adanya slogan makan sepuasnya hanya Rp. 40.000,- ? Siapa yang gak tergiur,,,,begitulah, walau perut masih kenyang akhirnya kami hanya mencicipi sedikit, gak bisa menikmati durian sepuasnya spt kata slogan tadi.



      Disini juga tersedia pancake durian. Harga masih standard, karena kalau makan durian disini dijamin duriannya bagus jadi gak perlu khawatir akan kecewa. Beda kalau di jalan2 di Jawa, biar sudah dicicipi tetap saja ada yang jelek kalau sudah dibuka, dan kita gak bisa tukar kalau sudah dibelah. Di Durian Sibolang yang dibuka pasti yang enak dan baik, ini bedanya.
      Pusat Oleh2 Khas Medan
      Waktu bagai angin topan, melesat begitu kencangnya, detik2 terakhir di Medan bikin deg2an, rasanya belum puas menikmati Medan hanya 3 hari. Saatnya kami ke took oleh2 khas Medan, bika Ambon, Bolu Meranti, kopi Sidikalang menjadi perhatian kami. Tak banyak yang kami bawa, tapi yang dirumah pasti menunggu oleh2. Toko Zulaikha Jl. Mojopahit, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara menjadi sasaran kami…

      Harga Bika Ambon kecil per kotak sekitar 55.000 – 65.000 tergantung rasanya, ada rasa original, pandan, mocca, keju dan durian.
      Harga Bolu gulung juga beraneka rupa antara 95.000 – 100.000 dengan variasi rasa
      Keju, Strawberry, Nanas, Mocca,Blueberry,Kacang,Capucino dan special paduan beberapa rasa.
      Harga lapis legitnya antara 65.000 – 85.000
      Menuju Bandara Kualanamo by kereta
      Ke Jakarta kami kan kembali,,,,,,dengan menggunakan kereta cepat kami menuju bandara Kuala Namo, ketika kami nyampai stasiun kereta, waktu keberangkatan kereta tinggal 3 menit lagi, jadi kami setengah berlari meninggalkan teman2 kami dari Medan,,,maafkan kami yaaaa kawans,,,kebaikanmu tak kan pernah kulupakan. Dan jangan bosan2 kalau suatu saat kami akan kembali lagi ke Medan. Terima kasih DaMan, Mbak Anisa, Mbak Ayu, Eda Tetty Ambarita, Mbak Rifa,,,kalian baik semuanya, berkat kalian maka acara jalan2 kita lancar,,,,!!

       
      Salam Jalan2 Indonesia…!!
       
       
       
       
       
       
       
       
       

    • By wisnoe
      Kebetulan ada rencana ke Medan, dan karena Jokowi sudah menjajal mendarat di Silangit, maka saya berencana ke sana dengan niat mampir Danau Toba melalui Bandara Silangit.
      Setelah cari-cari jadwal penerbangan pagi dan tiket dengan harga yang cocok, terbanglah saya menuju Bandara Silangit di Siborong-borong. Saat pesawat mulai  mengurangi ketinggian, pemandangan di bawah tampak begitu indah. Sempat juga terlihat sebagian danau ketika saat mendarat semakin dekat. Setelah mendarat maka tampaklah bangunan Bandara Silangit yang sangat...................sederhana!.

      Bandara Silangit, di Siborong-borong.
      Rasanya janggal bahwa bandara yang sudah didarati presiden ini ternyata sangat sederhana, namun bila dipikir-pikir bila presiden tidak pernah mendarat di sini boleh jadi bandara ini tidak akan berkembang. Selesai saya mengambil bagasi, yang cuma tripod, saya mencari kendaraan untuk menuju Parapat.  Di luar dugaan, pengelolaan kendaraan umum (meski plat hitam) di dalam bandara ini cukup tertib, semua resmi. Berhubung saya ingin segera berangkat maka pilihan saya adalah menyewa mobil.
      Jarak tempuh antara Bandara Silangit dengan Parapat sekitar 80-90 km, dengan kisaran waktu 1,45 – 2 jam tanpa kemacetan. Kebetulan saya sempat mampir beli minum dulu di Balige, melihat potensi kemacetan di kota ini dan juga Laguboti karena adanya pasar.
      Sesampai di Parapat saya minta pak sopir untuk menurunkan saya di dermaga rakyat Tigaraja. Ini merupakan dermaga khusus orang dan kendaraan roda dua untuk menuju Tuk-tuk dan Tomok. Ada 2 dermaga di Parapat, satu lagi adalah Ajibata. Untuk kendaraan besar harus melalui Ajibata, karena dari sinilah ferry besar bertolak.

      Ferry yang bertolak dari Ajibata
      Waktu tempuh antara Tigaraja menuju Tuk-tuk di Pulau Samosir hanya sekitar 40 menit. Namun ini bukan berarti kita sampai di titik pendaratan yang kita inginkan. Kok gitu? Ya, karena uniknya, kita bisa diantar ke dermaga hotel yang kita inapi atau dermaga terdekat dari hotel kita. Berhubung hotel yang saya inapi mempunyai dermaga sendiri, maka diantarlah saya ke hotel itu. Tentu saja saya diantar bersama penumpang lain yang belum turun. Seperti halnya naik travel antar jemput. Seru!!!

      Merapat di dermaga rakyat Tuk-tuk
       
      Tuk-tuk
      Setelah check in, berkelilinglah saya di sekitar Tuk-tuk ini. Untuk mempermudah perjalanan, saya menyewa motor dari tempat persewaan yang rupanya cukup banyak dan mudah ditemui. Apabila anda malas mencari sendiri, anda bisa minta bantuan staf hotel untuk mencarikannya. 
      Setelah keliling-keliling, bagi saya, Tuk-tuk ini serasa Ubud di pertengahan ‘90, ada banyak cafe dan hotel tapi tidak padat dan ramai. Demikian pula dengan turisnya. Tampak sekali bahwa Tuk-tuk menjadi tempat pilihan wisatawan mancanegara.

      Tuk-tuk dari atas
       
      Cafe atau rumah makan di daerah ini memiliki variasi makanan yang beragam namun didominasi oleh makanan gaya Barat. Makanan lokal yang menjadi andalan adalah olahan ikan hasil tangkapan dari Danau Toba.
      Perbedaan mendasar dibanding Ubud adalah, di Tuk-tuk saya tidak menemukan atraksi budaya. Jadi daerah ini memang lebih untuk penginapan atau hang out di cafe.
      Puas berkeliling dan makan malam, saya kembali ke hotel. Sebelum tidur,saya sempatkan dulu untuk sekedar bersantai duduk-duduk di teras kamar yang menghadap danau sambil merencanakan perjalanan esok harinya.
      Ambarita
      Ini adalah desa tujuan pertama saya, di sini terdapat peninggalan sejarah sebelum era Kristen datang ke Samosir yang berupa tempat persidangan yang berasal dari clan Siallagan. Meja dan kursi di tempat persidangan ini terbuat dari batu. Maka tak heran bila tempat ini disebut dengan Batu Parsidangan.  

      Gerbang masuk Batu Parsidangan
      Sesuai dengan namanya, tempat ini memang untuk menyidangkan dan menghukum orang-orang yang bersalah atau musuh. Terdapat dua bagian utama di tempat ini. Pertama, bagian persidangan, dimana para tokoh berkumpul dan mengambil keputusan atas hukuman yang akan dijalani. Di bagian ini pula terdapat penjara dengan alat pasung bagi terhukum.  

      Batu Persidangan

      Rumah Penjara

      Ada panggung pertunjukan juga
      Bagian ke dua, adalah bagian pelaksanaan hukuman, atau eksekusi. Di bagian ini ada meja yang cukup besar, yang konon, di sinilah sang terhukum dipotong-potong bagian tubuhnya setelah terlebih dahulu dipenggal.

      Batu tempat pelaksanaan hukuman (eksekusi)
       
      Cerita mengenai tempat ini memang bikin bulu kuduk berdiri, namun ini memang peninggalan dari era kanibalisme.
      Bagaimana pun, saya tetap menyarankan anda untuk mampir ke sana supaya menambah wawasan kita akan khazanah budaya bangsa.
      Keluar dari tempat ini, anda akan menuju ke daerah pertokoan yang menjual berbagai suvenir. Silakan menawar apabila dirasa mahal.   
       
      Simanindo
      Selesai di Ambarita, saya meluncur menuju Simanindo. Di sana ada museum Batak, yang menggelar pertunjukkan tari Tor-tor dan Sigale-gale. Simanindo ini juga merupakan dermaga bagi ferry yang umumnya datang dari Tigaras.
      Museum Batak Huta Bolon di Simanindo ini, dulunya merupakan tempat tinggal dari Raja Simalungun. Di sini terdapat rumah adat yang berisi koleksi peninggalan dari nenek moyang mereka.
      Di tempat ini juga terdapat pertunjukkan reguler namun apabila jumlah penonton tidak mencapai kuota maka pertunjukkan batal digelar. Biasanya ini terjadi di hari-hari biasa saat musim sepi (low season). Saya cukup beruntung karena ketika tiba di sana ada rombongan turis asing yang banyak jumlahnya sehingga saya dapat menikmati pertunjukannya.   

      Wisatawan asing menikmati pertunjukan

      Tor-tor Sigale-gale

      Wisatawan memberi sumbangan/ donasi saat pertunjukan
       
      Pertunjukan dibuka dengan tari Tor-tor untuk selanjutnya ditutup dengan pertunjukan Sigale-gale. Sebetulnya penyebutan tari tor-tor ini menurut saya agak membingungkan karena tari tor-tor banyak jenisnya. Bahkan pertunjukan Sigale-gale ini pun sebetulnya merupakan tor-tor juga, yaitu Tor-tor Sigale- gale.
      Menurut saya ada yang unik di pertunjukan ini. Berbeda dengan pertunjukan budaya yang pernah saya lihat, pada tari tor-tor di sini, pemain musik Gondang Batak, berada di atas bangunan. Dengan posisi seperti itu, suara musik memang dapat menjangkau lebih jauh.

      Pemain Gondang Batak di atas rumah
      Tomok
      Tujuan selanjutnya adalah Tomok. Ini merupakan tujuan terakhir saya karena waktu yang terbatas.
      Tomok lebih mirip kota kecil, banyak aktifitas penduduk di sana. Merupakan pelabuhan ferry yang teramai di Samosir. Di sini ada banyak toko-toko suvenir juga.
      Saya berkunjung ke kuburan Raja Sidabutar, yang terletak cukup dekat dengan pusat keramaian namun penandanya sangat kurang. Tak jauh dari kuburan itu, juga terdapat pertunjukkan Sigale-gale namun saya tidak menemukan adanya informasi yang menyatakan adanya pertunjukkan reguler.

      Makam Raja Sidabutar

      Sigale-gale di Tomok
      Berhubung saya harus segera kembali ke Tuk-tuk untuk bertolak menuju Parapat, maka saya tidak menjelajahi tempat lain di sekitar sini. Namun demikian, saya sungguh ingin kembali lagi suatu saat dan saya sangat menyarankan kalian yang senang jalan-jalan untuk menjelajahi Pulau Samosir ini.
       
      Biaya-biaya:
      Informasi yang saya sampaikan tidak termasuk tiket pesawat Jakarta – Silangit ya.
      ü  Transportasi:
      o   sewa mobil dari bandara Silangit ke Parapat, Rp. 350.000, apabila per orang menjadi Rp. 100.000 tapi menunggu penuh baru berangkat. Ini merupakan harga resmi dari Bandara Silangit.
      o   Kapal penyeberangan dari Tigaraja ke Tuk-tuk, Rp. 15.000/ orang.
      o   Sewa motor di Samosir, cukup bervariasi dengan kisaran Rp 90.000 – Rp 120.000 untuk 12 jam. Sedangkan bila sewa jam-jaman, per jamnya Rp. 30.000 – Rp. 35.000,-. Sudah termasuk helm.
       
      ü  Penginapan, harga cukup variatif. Saya menemukan dari yang 100 ribuan hingga jutaan. Bisa pesan melalui web atau aplikasi pemesanan hotel.
      ü  Makan, di daerah ini harganya cukup wajar. Saya menemukan rentang harga Rp. 25.000 – Rp. 150.000 per orang.
       
      ü  Tiket masuk:
                  o   Batu Parsidangan, Ambarita: Rp. 3.000,-/ orang
      o   Museum Batak Simanindo: Rp. 50.000,- / orang
      o   Makam Raja Sidabutar, berupa donasi.
       
       
      Menarik!!!
      o   Kapal penyeberangan mengantar kita ke dermaga hotel ( atau yang terdekat), demikian pula penjemputannya. Untuk penjemputan cukup dengan meletakkan barang-barang kita di ujung dermaga sebagai tanda.
      o   Berkeliling naik motor
      o   Makanan dan minuman variatif, baik gaya lokal, nusantara bahkan Barat. Khusus vegetarian juga ada.
      o   Banyak titik-titik untuk berfoto ria. Pemandangan keren dan ada beberapa pantai yang aman untuk berenang.
      o   Keramah-tamahan yang saya temui di Pulau Samosir ini sangat luar biasa. Di luar dugaan saya.

             Menunggu Jemputan
      Menyebalkan!!
      o   Sedikit sekali toko dan tempat makan yang terima kartu kredit sementara ATM adalah barang langka di pulau ini. Sangat menyebalkan mengingat Pulau Samosir sudah mempunyai sejarah panjang sebagai daerah wisata.
      o   Pengisian BBM berupa eceran yang buka/tutupnya terserah kepada penjual.
      o   Meski seru, sewa motor adalah satu-satunya pilihan transportasi yang paling utama. Angkutan umum tidak bisa diandalkan, sedangkan sewa mobil tidak nyaman karena jalanan tidak leluasa.
      o   Meski seru, penyeberangan dengan sistem antar jemput ini akan sangat mengkhawatirkan apabila anda akan kembali ke Parapat setelah jam 15.00, apabila terjadi pembatalan penyeberangan, anda tidak akan mendapat informasi itu sehingga beresiko "menunggu Godot".
       
      Saran
      o   Bila ingin menuju Pulau Samosir melalui Bandara Silangit, gunakanlah penerbangan pagi supaya punya lebih banyak waktu dan tidak kesorean saat menyeberang (ada kemungkinan pembatalan penyeberangan setelah jam 16.00). Sedangkan saat penerbangan pulang, pilihlah yang siang atau sore, supaya ada waktu perjalanan yang cukup. Kecuali anda menginap di kota terdekat.
      o   Bawa uang tunai. Mesin EDC dan ATM adalah sesuatu yang langka di Pulau Samosir. Saya hanya melihat ATM BRI dan Bank Sumut di Tomok.   
      o   Sewa motor sangat disarankan. Jika anda tidak bisa mengendarai motor dan memiliki SIM C, jangan pergi sendiri. Pergilah bersama teman yang sudah mahir mengendarai motor dan memiliki SIM. Ya, menurut penduduk setempat di sana ada razia juga kadang-kadang.
      o   Ada banyak tempat makan halal, terutama di Tomok.
      o   Bila anda senang dengan suasana yang sepi, datanglah pada hari-hari biasa dan saat sepi liburan (low season).
      o   Jangan lupa bawa obat-obatan pribadi.
      o   Terakhir, menginap lebih dari 1 malam sangat disarankan. Pengalaman saya yang hanya sehari semalam, terus terang tidak cukup dan rasanya seperti terburu-buru sementara yang bisa dilihat masih banyak.
       
       
      ____________
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
    • By ratub
      Hi agan/sis,
      Kami dari ButarTrip Tour and Travel Agency menyediakan paket promo Tour Danau Toba edisi lebaran. Ayok buruan gabung gan/sis join di paket promo ini!!!
      Berikut itinerary nya :
      DAY 1
      SILANGIT/KUALA NAMU AIRPORT – PARAPAT
      Welcome abroad! Traveler will land on Silangit Airport. Then we proceed to Parapat. Welcome to Batak land! After we arrive in Parapat, we crossover to Tuktuk, a tourism international district in Samosir Island. After Check in Carolina Hotel, traveler can enjoy the afternoon by visit the local market and buy some stuff. In the night, after dinner, we will provide local rum, Tuak and grilled fishes for travelers.
      DAY 2
      SAMOSIR ISLAND
      After the breakfast in the Hotel, travelers proceed to enjoy the morning hill shades in Tuktuk, take a short trip to Tomok using cycle. After that, travelers visit the stone graves of King Sidabutar and his descendant; visit the kampung Batak, a place where travelers encourage try Batak dance, Tortor and accompanied by Sigale-gale. In the Afternoon, travelers take Sibolazi beach and enjoy the water of Lake Toba. In the night, we will encourage travelers try Batak culinary with typical spies or enjoy the night in local pub which provide local singer performances.
      DAY 3
      SAMOSIR ISLAND – SILANGIT/KUALA NAMU AIRPORT
      After breakfast in Hotel, travelers will give free time visit local market, buy some merchandise and checking out from Hotel. In the day, we will travel to Tele, enjoy the wonderful of Lake Toba from the hill. After that, we proceed to Airport.
      PACKAGES INCLUDE
      1. Transportation ( From and To : Silangit/Kuala Namu Airport – Parapat) using minivan with Aircon *)
      2. Accommodation : Hotel Carolina **), Hotel Samosir Village deluxe***), one room for two person)
      3. Breakfast (Breakfast during the trip)
      4. Ferry Ship charge (Cross over : Parapat-Samosir)
      5. Entrance fee for every Tourism spot location
      6. Snack and Mineral Water during the trip
      7. Souvenir from Butartrip
      8. A hard copy of Photo and a CD which contains all of the documentation during the trip
      9. Tour Guide
      Standard: Stay in Carolina Hotel (2 Nights)
      Start from : IDR 1190 K / Pax *)
      Intermediate : Stay in Samosir Village Hotel (2 Nights)
      Start from : IDR 1460 K / Pax *)
      Note:
      *) At least four packages and price is determined based on the number of travelers
      **) for Standard Package
      ***) for Intermediate Package
      Untuk detailnya, agan/sis dapat mengakses nya di link berikut :http://butartrip.com/tours/beauty-of-lake-toba/
    • By ratub
      ITINERARY DAY 1 SILANGIT/KUALA NAMU AIRPORT – BALIGE  Landing on Silangit/Kuala Namu Airport, and then proceed to Balige using Minivan with Aircon. Checking in Hotel and get some tips from Tour Guide. Then proceed to Soposurung, take a visit to the grave of Sisingamangaraja XXII and Museum of Batak and close with trip to Tara Bunga. After that take a free time for dinner and break. Then proceed to Floating Café to enjoy the shades of Lake Toba in the night. DAY 2 PORSEA  After the breakfast in the Hotel, travelers visit Siregar Aek Nalas, Silapang Alogo, Lumban Toga and Mount Pangantoman.  DAY 3 BALIGE – SILANGIT/KUALA NAMU AIRPORT  Go to traditional market to purchase some merchandise, and the check out and heading to Silangit/Kuala Namu Airport.    PACKAGES INCLUDE 1. Transportation ( From and To : Silangit/Kuala Namu Airport-Balige) using minivan with Aircon *)
      2. Accommodation ( Mutiara Hotel Double bed **) Hotel Mutiara deluxe***), one room for two person.
      3. Breakfast (Breakfast during the trip)
      4. Fish Barbeque and Jungle Juice
      5. Entrance fee for every Tourism spot location
      6. Snack and Mineral Water during the trip
      7. Souvenir from Butartrip
      8. A hard copy of Photo and a CD which contains all of the documentation during the trip
      9. Tour Guide
      Standard: Stay in Mutiara Hotel (2 Nights)
      Start from : IDR 1070 K / Pax *)
      Intermediate : Stay in Mutiara Hotel (2 Nights)
      Start from : IDR 1335 K / Pax *)
      Note:
      *) At least four packages and the price is determined based on the number of travelers
      **) for Standard Package
      ***) for Intermediate Package 
       
      TERM OF PAYMENT   Reservation or registration for trip by these following terms:
      – Every travelers obligated to send the scan of identity card which is still valid (for foreigners can send the scan of passport identities) to info@butartrip.com
      – Transfer the down payment (DP) 30% of total cost
      – Remaining of the payment should be pay at least 1 (one) week before the trip
      – The payment should be transfer to Bank Central Asia: 1652538694 (Pangidoan ButarButar) It will be great if you give us notification for every transfer of payment by phone or send the copy receipt of payment by email.
      – The act of do not transfer the remaining of payment will be considered the cancellation of the trip and down payment will be not-refundable.
      -The cancellation of the trip by any condition after pay the remaining payment will be charge 60% of total payment. The refundable payment to travelers will be 40%.
      -Every travelers can make exchange person for trip travelers with notification at least 2 (two) days before trip day (New person identity should be sent by email)
      http://butartrip.com/tours/museum-batak/
      Regards,
      ButarTrip Tour and Travel
    • By ratub
      https://www.facebook.com/butartrip/videos/635436876616468/
    • By Diana Megawati
      Holllaaaaa Hallooooo.... 
      lama pake banget gak nulis nulisssss eh ngetik - ngetik... kayaknya hari ini sama besok gw mau share pengalaman trip yang unpredictable with unpredictable planning yaak...
      Happy readinggg.....enjoyyyyy...
      Oke, let's start.... 
      Kali ini gw bakal cerita pengalaman pertama gw mengunjungi Pulau Sumatraaa... tepatnya Sumatra Utara.
      Niat awalnya karena mau menghadiri pernikahan sahabat gw, tapi ya gitulah sambil menyelam minum air, tak lupa jugaaa cari keindahan ke-eksotisan Sumatra Utaraaa #tsaahhhh 
      Gw berangkat start dari Bandara Halim Perdana Kusuma (karena lebih deket dari tempat tinggal gw)
      Sesampainya di Kuala Namuu, gw udah janjian sama orang yang mobilnya gw sewa. Untuk harga sewa mobil dimedan menurut gw lumayan murah. Untuk mobil setipe Avanza 275.000/hari dengan supir 150/000 belum termasuk bensin yaaa.. berhubung tujuan utama gw ke Tarutunggg yang memakan waktu kurang lebih 8 jam dari Medan, ya mungkin berat di bensin aja untuk pulang perginya hehe...
      Perjalanan gw ke Tarutung (kampung teman gw yang nikah) itu bener-bener lo harus siapin diri dengan sehat bugar jasmani dan rohani, hehe soalnya lamaaaa bangeeeetttt... Dari Kuala Namu kita menuju ke Lubuk Pakam lalu Siantar Parapat lanjuuuuttt Balige (yang terkenal dengan bakminya) lanjut lagi Porsea hingga akhinya sampai di Tarutung.
      Lelah gw terbayaaarrrr dengan liat kota Tarutung, karena letaknya di kaki gunung, jadi suasananyaa dingin dan asri banget, masih banyak persawahan dan perbukitan, gw merasa rileks begitu masuk kotanyaa, apalagi masuk kampung temen gw kalo gak salah namanya PansurNapitu, kebayang gak sih air selokan aja beningnya minta ampun, jam 10 pagi disana juga masih dingiinnnn... bener-bener betah gw disini hihihi.... begini penampakannyaaaaa

      Tarutung - Sumatra Utara
      Gimana? Cakep kaaannn... untuk hari selanjutnya gw masih berkutat mengahadiri pesta adat pernikahan sahabat gw, jadi after party baru gw mulai bergerilyaaa cari tempat yang asik buat dikunjungi, secaraa gak mau rugi, dah sampai sini minimal poto-potolah hehe..
      Yang pertama gw kunjungi adalah Salib Kasih, letaknya masih dikota Tarutung, Tapanuli Utara. Jaraknya gak jauh dari pansurnapitu cuma 10 menit. Wisata ini lebih dikenal dengan wisata iman (buat para pembaca yang beragama Kristen/Katolik) berada di kaki gunung, dulunyaa untuk naik ke letak monumen Salib Kasihnya konon ada sekitar 1000 tangga, namun kini sudah di pugar diratakan jalanya jadi lebih landai dan mudah mencapai puncaknya. kaya gini nih guysss...

      (Penampakan dari depan tugu pintu masuk menuju ke atas tempat letak monumen)

      (Ini jalanan mau ketas, btw kg gak bisa dirotate yaaa )

      (Taraaa... ini monumenyaaaa)
      Disini kamu juga bisa membeli berbagai souvenir yang banyak dijual oleh inang-inang disana. Biaya masuk hanya 4.000 rupiah sajaaa.. murah kaaann...
      Next Destination is Pemandian Air Soda, letaknya di desa Parbubu gak jauh juga dari situ, kenapa namanya Pemandian Air Soda ? karena airnya kaya sodaa, begitu kamu masuk ke kolamnya bakal ada buih buih gitttuuu kaya air soda dikocok.

      (Pemandian Air Soda- Parbubu, Tarutung)
       
      Gak jauh dari situ juga ada Pemandian Air Panas Sipaholon, airnya fresh dari bukit belerang gitu, gak perlu kuatir jika gak mau mandi dengan orang banyak karena banyak dari warga disana menawarkan bilik-bilik kamar mandi untuk mandi sendiri/berdua.

      (Pemandian Air Panas Sipaholon)
      Yeaaahhh itulah sedikit banyak wisata yang ada di Tarutung. Keesokan harinya gw berangkat menuju Parapat sekitar 3-4 jam  dari Tarutung, gw naik sejenis mobil elf gitu namanya KBT, tiket seharga 45.000/orang bisa kamu dapetin di loket pemberhentian KBT. Cuma gw sedikit agak gimana gitu naik KBT, secara tempat duduk yang harusnya muat untuk 3 orang terkadang demi sedikit pemasukan sang sopir memaksakan tempat duduk untuk berempat. Kebayang donggg sempit-sempitan gitu selama perjalanan, belum lagi bau rokok yang sangat mengganggu selama perjalanan, karena memang tidak ada larangan merokok didalam mobil, secara sopirnya juga merokok . Kali ini kunjungan gw tak lain tak bukan adalah mengunjungi Danau Toba yang tersohoooorrrr.. karena kita akan menginap di Tuk-Tuk jadi kita menyebrang melalui pelabuhan TigaRaja. 
      Sesampainya di Parapat, untuk menuju ke Pelabuhan Tigaraja terdapat angkutan kota bewarna hijau, tinggal bilang aja mau ke Tigaraja, ongkosnya cuma 4.000/orang. Nah untuk menyebrang ke Tuk-tuk biayanya cuma 15.000/sekali sebrang. Oh ya tentukan juga ya kalian mau menginap dimana. Soalnya kapal ke Tuk-tuk bisa mengantar ke setiap hotel/cottage dimana kalian mau tinggal. Kali ini gw nginap di Caroline Hotel, utnuk yang standartnya mulai dari 300.000 - 700.000. Dan untuk kamar yang dilengkapi TV hanya ada di yang kamar standart, untuk yang atasnya lagi gak ada   yaa cocoklah buat yang mau refreshing focus buat menjelajah danau toba. Oh ya berikut referensi Cittage yang menurut gw bagus selain Caroline Hotel.
      1. Tabo Cottage (http://tabocottages.com/)
      Ini adalah cottage yang konsep adat Batak dicampur dengan sentuhan Jerman, karena yang punya orang Jerman, jadi banyak bule-bule. Harga bervariasi, untuk villanya sekitar 600.000. Dan sepanjang penyebrangan ke Tuk-tuk dari sekian banyak bule yang bareng menyebrang kesana semuanya menginap disana looo.. hehe
      Address: Jl. Lingkar Tuktuk, Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara Phone:(0625) 451318
       
      2. Samosir Villa (http://www.samosirvillaresort.com/)
      Samosir Villa ini juga bagus looo.. banyak banget wisatawan lokal yang membawa keluarganya menginap disini. Karena punya banyak kamar yang menghadap langsung ke danau toba. Harganya juga variasi tergantung ketersediaan). Bentuknya dibuat mirip dengan rumah tradisional Batak.
      Address: Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara Phone:(0625) 451399  

       
      Keindahan pulau Samosir ini bakal menyihir kamu kamu yang suka dengan wisata alamanyaaa. Sedikit tips kalau kalian mau berkunjung ke Sigale-gale, makam raja-raja naiklah dari Pelabuhan Ajibata menuju Tomok, tapi disana tidak ada cottage-cottage gitu, sebaiknya pagi hari kesananya. Jadi sore harinya kalian bisa gantian menyebrang di tuk-tuk, karena penginapan di tuk-tuk itu worth it bangeeetttt. Tapi kalo punya budget lebih bisa kog naik speed boat dari tuk-tuk ke tomok, banyak yang nawarin disana hehe.
      Oke sekilas begitu yaaaaaa, oh ya jangan lupa beli kacang Sihobuk (camilan khas Tapanuli Utara)... gak lupa gw pamer poto-potonyaaa.. hehe 

      (Penampakan Pelabuhan TigaRaja dari atas Kapal Ferry)

      (Tuk-Tuk Island)

      (Sunrise di Danau Toba)

      (Main Air - Sore di Danau Toba)

      (menunggu kapal kembali ke parapat)

      (penampakan depan kamar - Caroline Hotel)

      Bye..byeee Danau Tobaaaaa.. see you again
       

       


    • By Same
      Map north sumatera
      Hi teman-teman backpaker, mari kita bareng2 eksplore Sumatera Utara yaitu mulai city tour di Medan, lanjut ke , tangkahan (trekking di hutan menunggang gajah), berastagi lanjut danau toba (samosir island) dan porsea(melihat tradisi pembuatan ulos dan juga menikmati minuman khas sumatera utara/TUAK).
      Berikut itinerary nya : 
      Day 1 (02 April 2016)
      11:00 AM meeting point in Kuala Namu Airport(KNO).
      12:00 Departure to medan (ETA : 1 hour)
      13:00 Lunch (We can try any delicious food there, medan known as food heaven)
      14:00 – done  Medan City Tour
      Day 2 (03 April 2016)
      05:00 Wake up and prepared to Tangkahan (ETA 4-5 hours)
      10:00 Arrive Tangkahan
      10:30 Start trekking 5-6 hours spotting wild life and we can see the beautifull flora and fauna there. We Also can ride elephant trekking the forest

      18:00 Stay overnight in the jungle

      Day 3 (04 April 2016)
      05:00 Departure Sipiso-piso waterfall (ETA 4 hours 30 minutes)
      09:30 Heading to Sipiso-piso waterfall
      12:30 Lunch around Sipiso-piso waterfall

      13:30 Going to Parapat (ETA 2 hours)
      16:00 Crossing the lake toba to Tuk Tuk Samosir Island by ferry (ETA 30 minutes – 1 hour)

      17:00 Arrived in Tuk tuk, walk aroung and take a rest

      Day 4 (05 April 2016)
      One day tour Samosir Island
      We can use bicyle or motorcyle around Tuk Tuk and will see the beautifull of Lake Toba. Picture below me and my friend around 5 years ago. 
      :
      Explore the two smaller lakes (Sidihoni and Aek Natonang Lake).



      Day 5 (06 April 2016)
      08:00 Heading to waterfall in Tuk Tuk

      10:00 Water Sport Activity or Try Paragliding in Samosir island with view of Lake Toba

      12:30 Lunch
      15:00 Going to Parapat
      16:00 Heading to Porsea, my home (ETA 2,5 hours)
      19:00 Arrived in my home and take a rest
      Day 6 (07 April 2016)
      07:30 Swimming in lake Toba (From my home to lake Toba just 300 m, walking just 3 minutes).
      We can also try kayaking in the lake.

      09:00 We start trekking to Toba Holbung (ETA 1 hour 30 minutes untill the top)
      We can see buffaloes, listening voice of bird, farming and for sure if you like nature you will feel amazing trekking until the top.

      In the top, we can see view of Lake Toba :)

      10:30 – 11:30 Walking around too see beatufill of Lake Toba from the top.
      11:30 Heading home (ETA 1 hour)
      12:30 Lunch and take a rest
      15:00 Heading to Lumban Toga
      Below our picture 4 years ago,

      We sleep 1 night in front of Lake Toba and behind of hills. This moment very memorable for us. We talking, laughing, and also singing together there.

      18:00 Going back to my home
      19:00 Dinner
      20:00 We will drink tuak (Batak’s traditional drink)

      Day 7 (08 April 2016)
      07:00 Departure to Love Cross Tarutung
      09:30 Start Trekking Love Cross

      12:30 Lunch
      13:30 Heading to Natural Soda Spring (Pemandian Air Panas Balerang Sipoholon).
      The soda spring was surrounded by the paddy fields.

      15:00 Going back to Porsea
      17:00 Stopover at Del Polytechnic of Informatics
      I have graduated from this university 4 years ago :).

      18:00 Going back to Porsea
      Day 8 (09 April 2016)
      08:30 Depature to Museum TB Silalahi Centre
      10:00 Arrived in Museum and walking around to see one of Batak Museum in North Sumatera

      12:00 Lunch at Balige
      14:00 Heading to Ponot’s Waterfall

      15:30 Arrived
      16:00 Swimming and enjoy the beautiful of Ponot (one of the top waterfalls in Indonesia)
      17:30 Heading home
      Day 9 (10 April 2016)
      07:00  Going back to Medan (Last day in Porsea)
      12:00 Lunch in Medan
      13:00 Walking around to buy souvenir
      15:00 Going to Kuala Namu Airport
      Budget 
      Share cost(Good for 6) : 
      Transportation(Rent car for 9 days) : 9 x 400.000 = 3.600.000. 
      Homestay (3 rooms for 8 days): 8 x 3 x 150.000 =  3.600.000
      Total : 7.200.000 / 6 = 1.200.000

      Personal Expenses
      Food for 8 days : 70.000 IDR x 8 = 560.000
      Additional payment(Entrance fee) = 100.000
      Total budget : 1.880.000
       
      Thats all for itinirary, i hope you guys join to this trip :)
      Noted : Buat temen-temen yang mungkin tertarik join tapi utk beberapa hari saja lets say 3/4 days, nanti kita bisa pecah lagi trip nya jadi 2.
      Feel free to contact me in FB : https://www.facebook.com/butar08 or
      BBM : 55F4D6C6
      Thank you :)
×
×
  • Create New...