• 0
Sign in to follow this  
etiquoe

Pantai Sulamadaha Jernih Banget, Perahu Jadi Seolah Melayang

Question

Ada orang Ternate kah di sini?

Baru baca-baca tentang Pantai Sulamadaha.. Ngeliat foto-fotonya keren banget..

Jernih banget airnya, sampe-sampe perahu di atas air tampak seolah melayang..

4.jpg

223165_472571086106447_1592850275_n.jpg

Pantai-Sulamadaha-di-Ternate-Provinsi-Maluku-Utara-94.jpg

holl.jpg

Keren ya.. :)

Pantai ini adanya di Ternate, Maluku Utara.

Katanya sih mudah dijangkau, bisa dengan kendaraan umum

Dari pusat kota Ternate waktu tempuhnya sekitar 1 jam.

Pantai ini menghadap ke pulau kecil yang namanya Pulau Hiri. Pulau ini banyak ditumbuhi pohon hijau. Kita bisa nyebrang ke Pulau Hiri dengan nyewa perahu nelayan..

Ada yang pernah ke sini?

Share this post


Link to post
Share on other sites

19 answers to this question

  • 0

buseeetttttt........itu perahu ky melayang aja liat potonya.. keren banget yaaaa.......

harus dijaga ni keindahan tempat ini........

memang di indonesia aplg daerah2 timur alamnya masi natural :)

kalo ke ternate cm sampe dipelabuhannya aja pas naik kapal :(

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

wah itu keren banget tempatnya. saya sebelum mati pengen banget keliling indonesia terutama yang di luar pulau jawa.

Sama :D

Pengen datengin tempat-tempat yang indah di Indonesia.. Dari pantai sampe gunung

Moga kesampean :)

buseeetttttt........itu perahu ky melayang aja liat potonya.. keren banget yaaaa.......

harus dijaga ni keindahan tempat ini........

memang di indonesia aplg daerah2 timur alamnya masi natural :)

kalo ke ternate cm sampe dipelabuhannya aja pas naik kapal :(

Yah, moga-moga terus bertahan kenaturalannya, jangan sampe tercemar apalagi rusak karena sampah, limbah, ato yang laen

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

OMG satu lagi spot yang menarik di Indonesia, tapi sayang di bagian Timur, jauh sekali yah...

tapi biasa tempat2 seperti ini susah kan kesananya, karena Tour yang kesana masih sedikit. tempatnya aja belum perna kedengeran

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

pantai sulamadaha terletak dekat dengan lokasi wisata lain yaitu batu angus. di batu angus kita bisa liat bekas aliran lava dari gunung gamalama. makanya disebutnya batu angus.

oiya, di pantai sulamadaha terdapat kontak batuan lho gan, antara batu gamping (limestone) dengan batu basalt. keren dah pokoknya.

di pantai sulamadaha ini setiap seminggu sekali (CMIIW) sering dipakai juga untuk latihan ato olahraga bagi polairut ato polisi pengamanan perairan.

 

berjarak beberapa km dari pantai sulamadaha ada danau toleire. menurut sesepuh ato juru kunci di sana dulunya danau ini adalah suatu desa. tapi desa itu tenggelam dan terbentuk suatu danau. anehnya di danau toleire ini ada buayanya lho!!! kebetulan ane pernah liat sendiri. padahal tidak ada sungai dari ato menuju danau ini.

 

kalo mau wisata kuliner agan bisa makan papeda (bisa dari sagu ato bisa juga dari kasbi alias singkong). ditambah lagi ikan goru. agan bisa mendapatkannya di pasar sayur di dekat terminal. ato kalo mau bawa oleh2 bisa beli ikan fufu (ikan asap) dari ikan cakalang ato lainnya.

penginapan di ternate bervariasi mulai dari IDR 200rb-an dengan fasilitas lumayan ato bisa juga yg kelas internasional macam di hotel bela international. kalo mau cuci mata ato jalan2 bisa ke mall di jatiland mall. ato mau cari makanan bisa ke daerah swering.

 

tahun 2012 ada moment sail motorai. nah pulau morotai ini lumayan jauh dari ternate. dari ternate harus nyeberang ke sofifi (ibu kota maluku utara) naik speedboat dengan biaya IDR 50rb. dari sofifi bisa dilanjut ke tobelo (ibu kota kabupaten halmahera utara) naik taxi. nah dari tobelo dilanjut menyeberang naik kapal laut ke pulau morotai. pulau morotai ini juga cantik. dia punya pantai berpasir putih.

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

aku pernah ke sana dan emang jernih bangeeett..

berenang bisa sambil liat ke dasar dan melihat ikan kecil-kecil..

pengen bisa balik kesana lagi...

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By annisa theresya
      Haloo....
      melanjutkan misi yang selalu gagal ke ternate, semoga tahun ini bisa di realisasikan hihihi
      gw dan 2 org teman sudah berencana mau ke ternate tgl 29 november - 4 desember 2017 (cuty 3 hari krn ada tgl merah 1 desember)
      budget eksplore sekitar 2,5 juta/org, mungkin kalau ada yang mau join lagi bisa lebih murah lagi krn kita sharecost.
      itinerary juga masih di garap dan koordinasi dgn guide lokal ternate hehehhee
      kalau ada yang minat bisa hubungin gw via WA ya 08128736033
       
      terimakasih 
    • By Lee_ega
      Ini beberapa irisan cerita perjalanan saya dalam misi rekonstruksi uang seribu, karena saking penasarannya, saya sampai membuat itinerary backpacking ke maluku utara, ternate-tidore-morotai, sejak setahun yg lalu, namun karena kendala teknis,baru bisa berangkat september silam, alhamdulillah.
      Setelah menebar racun,lalu menskrining calon travelmate saya, tentunya dg berbagai alasan banyak yg membatalkannya, akhirnya saya berhasil mengajak 1 orang, masrangga nama samarannya,  wkwkwk. Karena gak tega liat saya berangkat sendiri, akhirnya masrangga bersedia nemenin saya. Maacih ya mas.
      Berangkat dari Surabaya malam tgl 16 september,lalu transit d makassar tengah malam,lanjut terbang subuh,dan akhirnya landing dg selamat d bandara baabulah ternate jam 6 pagi tgl 17 september. Overall, bandaranya meski kecil tp view sekitar sangat memanjakan mata. Dari atas saya bisa melihat view masjid Al Munawwar (salah 1 masjid terapung di Indonesia) dan gunung Gamalama, Pulau Maitara, dan pulau2 lainnya. Ceritanya saya skip ya, next akan saya posting d lain waktu.
      Setelah keluar dari bandara, saya jalan sekitar 500 meteran lah,sampai ke gerbang luar,lalu nyetop angkota,atau di sini menyebutnya oto. Setelah tawar menawar,jatuh pada harga 300ribu untuk putar2 ternate seharian, lebih murah daripada sewa travel yg berada d kisaran 300-500rb. Sambil niatnya berbagi rezeki dg supir oto,krn d sana oto lumayan sepi penumpang. Deal berangkat sodara. Oiya, oto d sini sama seperti d flores,ambon,kupang,ada full musik nya. Jadi jangan heran ya nuat teman2 d jawa. Tp pas waktu masuk sholat, semua kendaraan yg lalu lalang dpn masjid mematikan lagu mereka. (Ini baru toleransi).
      Lanjut, setelah tanya2,dan gugling, akhirnya didapat informasi bahwa lokasi uang 1000 itu ada d 3 spot, d pantai gambesi, cafe florida, dan pantai fitu. Tp bang supirnya menyarankan ke cafe florida,karena katanya pula di sini ada pigura berinformasikan sbg lokasi uang 1000. Okelah demikian. Toh juga baru sekali ke ternate, belum tentu bisa kesana lagi next. Kemudian kami masuk,bang supir milih d luar aja. Kesan pertama memang wow banget, viewnya keren, cuma sayangnya untuk spot 1000 kurang pas, mungkin kami harus bergeser ke arah timur 10 derajat lah. Tapi krn sudah terlanjur, skalian pesen minuman, dan kami sempat terkejut, harga minuman d sini lumayan mihil untuk kantong bekpekere macem saya. Akhirnya kami sepakat untuk sedikit khilaf dg bersikap hedon selama di sini .

      Gb.1 view dari cafe floridas + minuman yg saya pesan
      Setelah gagal merekonstruksi krn posisi yg kurg bbrp derajat, akhirnya kami cuma ceki2 selfie sebentar sembari ngabisin minuman di sini. Setelahnya, kami sepakat melanjutkan perjalanan ke benteng kalamata untuk hunting sunset, karena searah lanjut balik ke pusat kota bawah sambil cari akomodasi. besok pagi sebelum berangkat ke tidore, mau menyempatkan ke pantai fitu.
      18 september jam 6 pagi, kami sudah siap packing,niat awal mau ke pantai fitu,mumpung masih pagi,dan cuaca di sana cukup terik untuk jam 7 pagi ke atas, gak seperti di malang yg masih sejuk. Setelah naik oto yg menuju ke atas/ngade, tibalah kami d bibir pantai fitu, berkat pak sopir yg bersedia otonya kami carter untuk berangkat saja, 20k/2 orang. Jadi drpd jalan dr depan sampai ke bibir pantai,lumayan jauh,sekitar 300meter. Dan berikut view pantai fitu sbg spot uang 1000

      Gb.2 misi rekonstruksi uang 1000 berhasil,,uyeee
      Pantai fitu sendiri terletak d kawasan pemukiman penduduk yg bermatapencaharian sbg nelayan, dan sebelum memasuki bibir pantai ini, kita akan melewati pemukiman/mess tentara nasional Indonesia. Tidak ada tiket masuk ke kawasan pantai fitu, kita cukup membayar dg senyuman hangat kepada penduduk sekitar. Dan penduduknya ramah dg pendatang atau turis. Setelah bermain disini kurleb 1 jam, kami beranjak menuju pelabuhan bastiong, kali ini kami membayar 6rb/orang untuk oto nya. Tetap jadi pejalan yg santun dan bijak ya jalaners. Semoga bermanfaat
       
    • By Titi Setianingsih
      Selamat malam Jalan2er,,,,,! Memang ada untungnya simpan foto2 lama, disamping bisa buat hiburan ketika lagi ingat teman, dengan memandangi satu2 wajah teman kita yang sudah belasan bahkan puluhan tahun tidak ketemu, juga bisa bermanfaat untuk menyalurkan hobby menulis seperti saya ini. Gegara teman nyaranin saya untuk berkunjung ke Ternate, akhirnya bongkar2 file, karena saya sudah pernah ke pulau ini 13 tahun yang lalu. Yah,,,,,tahun 2003 kalau saya lihat di detail foto ini, Januari 2003. Berarti waktu anak saya yang kecil masih 2 tahun, wow sudah sangat lama, tapi ingatan saya masih sangat kuat dengan pulau ini.   Berawal ketika saya ditugasi kantor untuk melakukan riset ke Manado, ternyata daerah Ternate dan Tidore masuk dalam wilayah kantor pemasaran Manado, jadi pengambilan sampel bisa ambil di kedua daerah itu dong ? Jadi bukan serba kebetulan, karena setiap hendak melakukan riset tentu sudah dipersiapkan segala sesuatunya sedari Jakarta.    Dan ketika itu, travelling belum menjadi hobby saya, perjalanan yang saya lakukan hampir ke seluruh wilayah Indonesia semata-mata karena melakukan tugas kantor. Itulah sebabnya tidak banyak foto2 yang saya ambil selama perjalanan tugas saya.    Untuk menuju Ternate dari Manado, saya menggunakan pesawat WINGS yang isinya hanya 40 penumpang, saya sudah lupa berapa harga tiketnya. Tapi kalau sekarang sudah ada penerbangan langsung Jakarta - Ternate. Tidak ada 1 jam yang diperlukan untuk menuju Ternate, barangkali hanya 45 menit waktu tempuh Manado - Ternate. Begitu mendarat di Bandara Sultan Babullah, terlihat teman kantor sudah standby di pintu keluar. Terasa aneh, gak nyangka kalau saya sudah sampai di Kepulauan Maluku Utara, pulau kecil yang terlihat seperti sebuah noktah saja di peta Indonesia. Subhanallah,,,!!

      Kemudian kami diajak makan siang, makanan ala Ternate yang sudah di bayangin adalah menu kepiting kenari, yang kata orang kepitingnya segede bagong, siapa yang gak penasaran coba ?
          Mau segede apa kepitingnya juga langsung amblas kalau disantap ramai2. Kepiting kenari beda dengan kepiting rawa yang sering kita makan di Jakarta. Kepiting kenari capitnya sangat besar begitu juga badannya, orang lebih suka makan dengan direbus atau ditumis dengan saus tiram. Kepiting yang masih hidup di simpan di kandang berjeruji dengan dilengkapi kelapa yang masih berkulit. Kelapa adalah makanan kepiting kenari, bayangkan sebesar apa kekuatan capitnya sehingga bisa mengelupas kelapa dan memakan daging buahnya. Untuk mendapatkannya juga sulit, biasanya orang2 berburu kepiting di malam hari ketika si kepiting sedang mencari makanan di sekitar pohon kelapa / di pinggir pantai.    Sehabis makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju arah Gunung Gamalama, maklum ketika itu hari Minggu, jadi kami masih bebas ke-mana2, esok harinya baru kerja. Di kaki Gunung Gamalama terdapat Danau Tolire Besar, sebuah danau yang unik dimana orang belum bisa menduga berapa kedalamannya. Terbukti, ketika kita melempar batu kedalam danau tersebut, kita tidak pernah mendengar suara deburan air akibat terkena lemparan batu, walau dengan kekuatan sebesar apapun kita melempar batu, tak akan sekecilpun terdengar suara cipratan air. Oleh karena itu sebagian orang menganggap danau ini keramat, namun dari sisi ilmiah ini membuktikan bahwa danau tersebut sangat dalam. Makanya sampai saat itu belum ada orang yang berani menaklukkan danau Tolire Besar. Ketika ada yang mencoba terjun ke danau tersebut juga di kabarkan meninggal / jasadnya tidak diketemukan. Wallahu a'lam.       Airnya nampak di permukaan ya ? Tapi saking penasarannya maka semua diantara kami ikut melempar batu dan tak satupun yang mendengar suara cipratan airnya, akhirnya kami menyerah, dan percaya kalau danau itu sangat dalam.   Di dekat danau Tolire Besar ada pula Danau Tolire Kecil. Menurut cerita legenda, kedua danau itu berasal daru dua orang (bapak dan anaknya) yang diusir oleh warga setempat karena telah melakukan tindakan asusila. Sehingga keduanya meninggalkan desa, dan tanah tempat mereka berpijak tiba2 retak dan terbelah membentuk sebuah cekungan semacam danau. Danau yang besar merupakan danau ayah dan danau kecil danau anaknya, dan di kedua danau tersebut terdapat buaya putih yang dipercaya merupakan jelmaan dari si bapak dan anaknya. Ini hanya cerita legenda, tapi hingga saat ini orang2 masih mempercayainya / dalam arti masih menuruti apa yang menjadi larangan2 ketika sedang di lokasi danau tersebut. Antara lain, tidak boleh memancing atau berenang karena sangat berbahaya, dikatakan oleh warga sekitar bahwa buaya putih itu masih suka muncul.   Jika malam tiba, udara Ternate agak dingin, terbukti disana sangat marak minumam hangat khas Ternate yang disebut Air Guraka, kalau di Jawa Barat disebut bandrek. Bedanya, air guraka ini terbuat dari rebusan gula aren dan jahe merah, lalu ditaburi kenari mentah. Begitu saja rasanya enak sekali.    13 tahun yang lalu, Kota Ternate masih sepi, hotel tempat kami menginap masih sangat sederhana, mungkin karena ketika itu Ternate belum menjadi propinsi sendiri, sehingga pembangunan fasilitas umum belum diperhatikan. Beda dengan sekarang, banyak hotel berbintang di Kota Ternate. Kami mengambil penginapan dekat pantai sehingga pagi2 bisa jalan2 / jogging ke pinggir pantai sambil melihat sunrise.          Lihatlah foto teman saya dengan foto uang kertas pecahan 1000 rupiah, sangat mirip kan ? Itulah sepasang gunung yang disebutkan sebagai Pulau Maitara dan Tidore, dua buah pulau yang memegang peranan penting pada sejarah Indonesia. Dan Maitara, adalah lokasi di mana Portugis pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Maluku, untuk kemudian Maluku ditaklukkannya dan disitu pula langsung didirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur dengan rempah-rempah / cengkih sebagai primadonanya. Pohon cengkih sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai ‘The Spice Islands’.  Dikarenakan Maluku merupakan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah maka Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon.

      Naaahhhhhh,,,jadi penasaran sama pulau Tidore kan ? So, sehabis menyelesaikan tugasnya siang itu, kami langsung menuju pulau Tidore. 
      Pelabuhan Feri Bastiong Ternate sebagai tempat penyeberangan menuju Pulau Tidore juga pulau2 kecil di sekitarnya seperti Sofifi dan Sidangoli di Kabupaten Halmahera Barat. Ketika itu pelabuhan nampak sepi, beda kalau kurang beberapa hari lebaran maka pelabuhan ini di padati calon penumpang yang hendak mudik.   Dari pelabuhan Bastiong menuju Tidore ada kapal Feri juga ada speed boat, kami pilih speed boat agar lebih cepat sampai ke seberang, jaman dulu sewa speed boat tidak sampai 100.000,-. Kalau naik Feri tiketnya per orang. Dengan speed boat hanya kurang lebih 30 menit sudah sampai di pelabuhan Rum Tidore.     Subhanallah,,,cuaca cerah ketika kami sampai di Pelabuhan Rum Tidore, speed boat yang berwarna warni menghiasi pelabuhan kecil ini, di belakang kami nampak pulau Maitara. Teman kami dari kantor cabang Tidore sudah datang menjemput, untuk kemudian mengajak kami keliling Tidore.      Sepanjang jalan di Tidore dikelilingi oleh laut dengan latar belakang pulau Halmahera, yang merupakan pulau terbesar di Maluku Utara. Banyak sekali sebenernya tempat2 bersejarah disini, bangunan2 peninggalan Portugis dan Belanda. Tapi kami tidak sempat singgah ke tempat itu, maklum kami sedang menjalankan tugas kantor. Bagaimanapun tugas lebih penting dari jalan2.  
      So, In Sya Allah suatu ketika bakal kesini lagi supaya bisa melengkapi catatan jalan2 saya ke Ternate dan Tidore. Yaaaahhhhhh,,,begitu urusan kantor selesai, kami balik lagi ke Ternate, dengan melewati jalan yang sama, pemandangan yang sama dan hati yang sama,,,,,,,
        Sesampainya di pelabuhan Bastiong kami singgah di pasar tradisional Bastiong untuk membeli rempah2, teman saya beli beraneka warna rempah untuk bikin kue semacam pala bisa dibuat untuk campuran cake, kalau saya hanya beli kenari supaya bisa dibuat air guraka minuman  khas Ternate.    Begitulah gaeesss cerita singkat saya tentang Ternate dan Tidore,  sampai jumpa di cerita lainnya,,,,!   Salam Jalan2 Indonesia,,,,!    Sumber : titissoeparno.blogspot.com
    • By Dezi Kurniawan
      Ternate Bahari Berkesan,sebuah kota yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama di Proveinsi maluku Utara. kota dengan pemandangan laut yang begitu menakjubkan sejauh mata memandang tak salah memang kalau kota ini mempunyai selogan Bahari berkesan. kata Ternate berasal dari kata Tara no ate yang berarti turun kebawah dan pikatlah dia. Maksud dari kata tersebut adalah turun dari tempat yang tinggi (gunung atau khayangan) untuk memikat para pendatang agar mau menetap di pantai (negeri ini). Sejarah mecatat bangsa yang datang ke Kota Ternate, seperti China, Gujarat, Arab, Belanda, Inggris dan Spanyol karena dahulu Kota Ternate menjadi pusat perdagangan.
      Nah di masa sekarang Kota Ternate juga masih menjadi primadona untuk para pedagang Tionghua (China) dan pedang Minang terbukti ketika saya disana banyak menjumpai pedagang keturunan China dan pedagang yang dari Sumatra Barat/Minang, Ciek Duo Tigo.. banyaklah pokoknya, kota ini menjadi central/pusat pedagangan bagi pulau pulau kecil disekitar Halmahera/Maluku Utara, mungkin termasuk jalur sibuk untuk transportasi laut di Timur Indonesia.
      Banyak hal menarik yang dapat kamu temui di kota ini, diantaranya dapat menyaksikan kemegahan kerajaan yang masih terawat dengan keunikan arsitekturnya,  Benteng Gamlamo, Batu Agus bekas sisa erupsi Gunung Gamalama, menikmati keindahan panorama Laut, Danau, gunung Gamalama dan sepasang gunung Pulau Maitara dan Tidore  (gunung yang ada di pecahan uang Rp. 1.000),selain itu  adalah surga bagi penggila batu akik... ingat ternate ...ingat batu Bacan. hehe
      Bandara Babullah adalah sebuah bandar udara di Ternate, Maluku, Indonesia (TTE) dan juga memiliki pelabuhan A. Yani dengan jalur pelayaran yang dilalui kapal Pelni dua kali perminggu.
       








    • By Alfa Dolfin
      Tidak jarang perayaan tahun baru Imlek di kota besar misalnya di Jakarta, meriah dan semarak. Ada petunjukan Barongsai yang sangat memikat. jedar....jedor....suara petasan menambah semarak. Baik yang merayakan maupun menyaksikan berbaur dalam suasana suka cita.
      Suasana kontras dan sebaliknya tampaknya terjadi di salah satu propinsi di salah satu propinsi di Timur Indonesia. Kota Ternate sebagai ibu kota Propinsi Maluku Utara. Ada perayaan Imlek yang dirayakan secara sederhana. Keberadaan Vihara yang berusia 400 rahun lalu di Kota Ternate sampai sekarang masih masih ada dan masih berfungsi sebagai tempat ibadah bagi warga beragama Kong Hu Cu.
      Saat berkunjung singkat di Kota Ternate, setelah berkunjung ke beberapa benteng peninggalan Portugis, Istana Kesultanan Tidore, aku di ajak berkunjung ke sebuah Vihara yang terletak di senttra ekonomi kota Ternate. Pagi itu di tengah rintik hujan agak ragu untuk masuk setelah tiba di gerbang. Lho kog di gembok ya. Setelah di lihat lagi eee ternyata tidak di kunci. Gembok hanya di cantolkan saja. Lho kog sepi, tidak ada penjaga? bagaimana bisa permisi untuk melihat0-lihat ke dalam? Masuk saja...gpp kog kata guide saya.

      Tampak muka Vihara Thian Hou Kiong. Siapa sangka sebelum di pugar Vihara ini telah melewati masa pahit 2 kali yaitu masa penjajahan Belanda dan Jepang Namun sampai sekarang tetap eksis. Pertama kali di bangun tahun 1657 oleh orang-orang Cina yang datang ke Ternate untuk mencari cengkeh dan rempah-rempah serta berdagang. Informasinya, justru orang-orang dari daratan Cina lebih dulu tahu dan paham apa itu rempah-rempah. Mereka sudah tahu kalau sumber rempah-rempah ada di Maluku. Maka dengan semangat berdagang mereka mengarungi lautan untuk ke Maluku. Tibalah di Ternate. Mereka mencari dan membeli untuk di jual kembali di negeri asalya Ini beda dengan tujuan orang datang untuk menguasai perdagangan, merampas Kalau mereka murni untuk berdagang. Tujuan pedagang CinKema hanya menetap sementara. Setelah itu kembali lagi.
      Namun perjalanan pulang tidak mudah. Mereka harus menunggu cuaca baik. Sambil menunggu mereka di berikan sarana tempat tinggal oleh penguasa setempat. Kemudian untuk memenuhi panggilan ibadah mereka membangun Klenteng. Itulah cikal bakal kampung Cina dan vihara atau Klenteng di Kota Ternate.
       

      Informasi pemugaran Klenteng.
      Selama tinggal atau menunggu terjadilah proses pembauran dengan warga setempat. Keterbukaan warga Ternate terhadap pendatang memungkinkan proses pembauran terjadi. Di antara pedagang Cina ada yang menikah dengan warga setempat dan kemudian memeluk agama Islam. Saat itu agama Islam sudah berkembang se-iring berdatangan pedagang Arab. Selama ratusan tahun proses pembauran terjadi. Lalu bagaimana dengan keberadaan vihara. Meski sudah memeluk agama Islam masih ada yang memelihara tradisi dengan mengunjungi vihara, penghormatan untuk leluhur merreka. Dalam suasana sederhana mereka tetap merayakan Imlek.

      Meskipun sekarang hanya seglintir saja warga yang beragama Kong Hu Cu, berkat keterbukaan dan sikap toleransi umat beragama warga kota Ternate, sama sekali tidak menghalangi menjalankan ibadahnya. Itulah salah satu alasan kenapa Vihara ini tetap terjaga dan terpelihara sampai sekarang. Tidak heran kita akan takjub dengan sikap toleransi di sinni karena keberadaan Klenteng tidak jauh dari Mesjid Raya kota Ternate.
      Ya...pastinya perayaan Imlek disini berbeda dengan kota-kota besar. Biasanya selain ritual doa, di adakan pasar malam yang terbuka untuk warga lain. Dulu di rayakan dengan pawai kereta yang bertaburan buah-buah-an. Itu karena Imlek bertepatan dengan musim buah. Tradisi ini bernama Hela Kereta. Tradisi ini masih di lakukan sampai sekarang meski tidak sering.
      Anda akan ke Ternate....? sempat kan mampir ke Klenteng ini. Tidak perlu lama jika waktu anda singkat. Aku mengalami rasa terharu terutama sikap keterbukaan dan toleransi warga kota Ternate yang masih terbina sampai sekarang.
      Cheers
       
       
    • By Alfa Dolfin
      Di tag aku menulis "Ternate". Ya memang kejadiannya di Ternate...tapi kali ini aku tidak bicara spot-spot menarik di Ternate, yang terkenal benteng peninggalan Portugis. Ada pengalaman berkesan yang akhirnya aku kembali ke Garuda...Maksudnya maskapai Garuda. 
      "wah...di cancel nich...lalu gimana nasib kita...?", keluh seorang penumpang Wings Air yang dapat kabar jika penerbangan Ternate Manado di cancel. Aku yang baru tiba di counter check in Wings jadi ikut cemas, karena aku termasuk penumpang Wings. Nah lho...terdampar dong di Ternate. Ya saat itu aku akan kembali ke Manado. Cukup singkat traveling di Ternate. Kog bukan balik ke Jakarta, malah ke Manado...? ya karena rute traveling ku Jakarta-Manado-Ternate-Manado-Jakarta. Manado Ternate pp naik Wings Air. Berangkat lancar...pulang...nah ini dia. Kalau di cancel berarti ngga ada penerbangan...so bagimana nasib 15 penumpang, setelah aku hitung, termasuk aku? bagaimana dengan mereka yang connecting flight ke Jakarta...? 
      Berusaha tetap tenang..sambil berdoa, semoga Tuhan memberikan solusi. Malu juga memohon kepadaNYA ya. Padahal aku ngga ke gereja tepatnya ngga ikut ibadah natal. Aku berangkat dari Manado tanggal 25 desember, kembali ke Manado besoknya, tanggal 26 Desember. Semoga Tuhan mau memaklumi aku bolos ke gereja ya. 
      Puji Tuhan...karena ternyata ada solusi yang tidak sangka. Dapat pengumuman semua penumpang wings ke Manado akan di alihkan dengan GARUDA. What...Garuda...? harus nambah berapa...? ngga cukup ich uangnya. "ngga kog. Ngga ada tambahan biaya..."kata petugas Wings Air. Segera kami di minta ke counter Garuda untuk registrasi sambil membawa tiket Wings Air.... Singkat kata positif naik Garuda.
      Padahal sudah lama sekali aku ngga naik Garuda. Alasan muahaaaaallll.....very premium...mending naik Lion aja yang murah. Tapi pengalaman kali ini akhirnya membawa ku untuk kembali ke Garuda. Gara-garanya, merasakan suasana yang sangat berbeda begitu memasuki kabin Garuda. Bau harum cabin campur sejuknya AC. Smile pramugari n pramugara-nya meski tidak muda. Permen yang dibagikan sebelum take off...toiletnya bersih plus parfumnya. Aku punya kebiasaan ke toilet pesawat hanya sekedar melihat atau mencoba saja meski ngga kepingin pipis atau keperluan lain.  inflight magazine-nya....Meski bukan pertama kali naik Garuda, berhubung sudah sekitar 5 tahun ngga naik Garuda, jadinya merasakan suasana yang sangat berbeda. Kejadian yang cukup bikin malu, saat pembagian snack. Penerbangan Ternate-manado cuma sejam. Karena tahu diri, aku eks penumpang wings saat di bagikan snack aku malah menolak. "mbak...aku dari Wings...". ceritanya sich tahu diri n merasa ngga layak dapat snack itu. "ooo gpp pak. Semua yang naik disini dapat roti...", katanya sambil senyum. Wualaaaaa.....
      Ada harga ada barang...ya begitulah bisnis. Sejak itu aku kembali cintrong sama Garuda. Bertekad aku akan pilih Garuda. Padahal doeloe, waktu masih belum kerja, di ajak ortu ke luar negeri, paling ogah naik Garuda. Sudah kenyang merasakan penerbangan super lama yang membosankan Jakarta-Los Angeles pp. Jakarta - Amsterdam naik Garuda...Jakarta - Hong-kong pp. Membosankan. Tapi sejak kejadian di Ternate, aku bertekad akan memilih pertama-tama Garuda di setiap destinasi yang aku pilih. Agak mahal memang...ya gpp. Siapkan saja budget. Yang penting nyaman n enjoy. Alhasil...senang bisa mewujudkan penerbangan dalam negeri cukup jauh dengan Garuda, Jakarta-Ambon pp, Jakarta Balikpapan pp, Jakarta Medan pp, Jakarta Palembang pp, Jakarta Surabaya pp, Jakarta Denpasar pp, Jakarta-Lombok-Surabaya, dan terakhir, jakarta Labuan Bajo-Kupang-Tambolaka (Sumba Barat Daya)-Bali-Jakarta, semua dengan Garuda. Selain rasa bangga dan nyaman, ada rasa tenang terutama saat kemungkinan delay jika menggunakan maskapai ini.....
      Just sharing aja...sama sekali bukan promosi lho.....
      Salam.
    • By Endar
       
      Halo semua...
      Sebelum-sebelumnya saya banyak bertanya mengenai Ternate dan akhirnya kesampaian juga berkunjung kesana. Terima kasih untuk Sista @Lina Dharmawati & Bro @thoxy untuk informasi seputar Ternate. Semoga cerita trip kali ini ga telat ya, karena sudah beberapa bulan yang lalu berkunjungnya.
      Hari pertama dengan penerbangan dari Makassar saya sampai di Ternate siang hari. Di bandara Sultan Babullah langsung disugihi pemandangan gunung Gamalama. Oh ya, sebelum landing kalau keadaan cerah bisa terlihat jelas Kota Ternate dan Gunung Gamalama tapi karena saya duduk disebelah kanan jadi yang dilihat adalah Pulau Maitara dan Tidore. Eksplore Ternate Saya ditemani teman-teman dari Enjoy Ternate. Dari bandara langsung ke Benteng Toluko karena dekat dengan Bandara dan satu arah ke pusat kota. Benteng Toluko terawat, ada penjaganya yang sepertinya warga setempat. Taman di depan benteng juga rapi terawat. Informasi yang didapat benteng ini seperti jenis kelamin laki-laki jika dilihat dari atas karena pada saat benteng ini dibangun, jenderal yang mememerintah ada kecenderungan menyukai sesama jenis - CMIIW. Sebenarnya tidak ada iuran masuk ke benteng ini tapi kita bisa memberikan tips kepada penjaga benteng.
      Selanjutnya ke pasar di Ternate - lupa nama pasarnya apa. Langsung icip-icip popeda/papeda khas Ternate. Dengan konsep all u can eat kita bisa makan sepuasnya. Selanjutnya berkunjung ke benteng Kalamata. Saat itu ada acara di tengah-tengah benteng jadi sedikit mengganggu hasil foto karena ada tenda. Benteng Kalamata agak sedikit berbeda dari Toluko bisa dibilang kurang terawat dari sisi kebersihan. Masuk benteng ini gratis, mungkin ini salah satu faktor tidak dirawatnya benteng. Rencananya mau ke Kesultanan Ternate tapi ternyata tutup dan hanya bisa dilihat dari luar jadi ga jadi kesana, hanya lewat saja. Lanjut ke Benteng Kastela - jadi ingat Ian Kasela. Disini saya merasa sedih, penampakan benteng yang tidak seperti benteng lagi. Hanya ada tugu yang menggambarkan bagaimana rakyat Ternate mengusir penjajah yang juga tidak terawatt dan pemugaran seadanya. Tampak waktu itu ada pekerja yang sedang membersihkan benteng. Disini dikenakan restribusi ya. Next saya ke Danau Ngade. Akses kesini masih dapat dilalui dengan kendaran. Dari Danau Ngade tampak Pulau Maitara dan Tidore. Setelah itu saya diajak tracking sedikit. Danau Tolire. Terdapat dua danau Tolire, Tolire Besar dan Tolire Kecil. Dijelaskan dari teman-teman Enjoy Ternate ternyata danau ini punya cerita. Seorang ayah yang ingin 'main' dengan anaknya. Terus bapaknya dikutuk jadi danau Tolire Besar anaknya dikutuk jadi danau Tolire Kecil. Kedalaman danau tidak diketahui, katanya pernah ada peneliti dari Australia yang ingin mengukur kedalaman danau tapi ga balik-balik ke atas. Danau ini juga adalah tempat ritual dan menurut kepercayaan ada buaya putih. Kalau kita melempar batu dari pinggir danau akan sulit sampai ke tengah danau. Menurut ilmiah, bentuk danau yang cembung di bagian samping menjadikan adanya perbedaan gaya gravitasi. Oh ya, info dari teman saya yang kerja di Ternate, danau-danau di Ternate terbentuk karena aktivitas Gunung Gamalama. Dari jenisnya, letusan Gunung Gamalama tidak hanya dari atas kawah di puncak tapi letusan bisa terjadi di kaki gunung atau badan gunung, itulah bagaimana danau ini terbentuk. Dari Tolire Besar saya diajak menikmati pantai di dekat Danau Tolire Kecil nama pantainya lupa.  Disini saya menikmati pantai sambil melihat Pulau Hiri diseberang. Selain itu jangan lupa minum air kelapa muda  susu khas Ternate dan juga pisang bulu bebek yang digoreng kering tipis dan dimakan dengan sambal. Dalam perjalanan kembali ke kota Ternate, saya disuguhkan dengan sunset yang begitu indah. Jadi saya mampir di tepi pantai dan menikmati indahnya sunset Ternate. Hari pertama saya tidak bermalam di Ternate karena langsung menyebrang ke Sofifi dan lanjut ke Tobelo - Halmahera Utara. Cerita Tobelo saya buat terpisah ya. Lusanya saya kembali eksplore Ternate, kali ini waktunya main air.
      Pantai yang pertama dikunjungi adalah Sulamadaha. Pantai berpasir hitam yang menjadi kunjungan warga Ternate di akhir pekan. Jangan puas hanya di pantai Sulamadaha. Jalan sedikit menuju ke hole Sulamadaha yang terkenal dengan air jernih seperti kristal dan memang benar. Karena waktu itu hari Senin, pantai sepi jadi saya bisa puas menikmati pantai ini. Saya snorkeling disini dan terumbu karang disini berwarna-warni, ikannya juga banyak. Setelah snorkeling di hole Sulamadaha saya lanjut ke Jikomalamo. Tidak kalah bagus dengan Sulamadaha. Terumbu karang di Jikomalamo besar-besar dan ikannya sangat banyak. Yang bisa free diving dijamin puas. Maunya tidak mau beranjak dari laut tapi apa mau dikata karena hari sudah semakin sore saya kembali ke Ternate tapi sebelumnya kembali menikmati es kelapa susu di pantai Sulamadaha walaupun sempat berebut tempat dengan kambing. Malamnya saya menikmati malam di swering. Minum wedang Jahe khas Ternate dan pastinya pisang goreng tipis dengan sambal.
      Kalau ditanya puas tidak di Ternate? jawabannya pasti tidak karena masih banyak tempat yang belum dikunjungi di Ternate. Nanti ya, suatu saat akan kembali ke Ternate.  See u Ternate.