fbpx
Home Guides Inilah Aokigahara, Hutan Bunuh Diri Terpopuler Di Jepang

Inilah Aokigahara, Hutan Bunuh Diri Terpopuler Di Jepang

Nama Aokigahara sendiri tak asing bagi saya karena hutan itu menjadi latar belakang utama salah satu manga favorit sepanjang masa: Samurai Deeper Kyo. Dalam manga itu, hutan Aokigahara diceritakan sebagai pintu masuk menuju dunia rahasia klan Mibu, sebuah klan misterius yang disebut-sebut mengendalikan sejarah Jepang dari balik layar.

Aokigahara juga kalau nggak salah disebut dalam manga Eyeshield 21manga favorit saya lainnya. Dalam sebuah volume, Seijuro Shin diceritakan berlatih di hutan ini untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Dan rasanya masih ada beberapa manga lagi yang mengambil Aokigahara sebagai salah satu latar belakangnya, sehingga dalam benak saya Aokigahara adalah hutan yang paling populer, paling ikonik di seantero Jepang.

Faktanya, Aokigahara memang menjadi salah satu hutan paling populer dan juga bisa dibilang paling ikonik di Jepang. Sayangnya kepopuleran tersebut bukan dalam artian positif, misalnya karena keindahan alam maupun kekayaan vegetasi di dalamnya. Walau berada di kaki Gunung Fuji yang konon merupakan gunung terindah (sekaligus gunung yang menjadi simbol Jepang), Aokigahara lebih populer dan identik sebagai hutan bunuh diri! Hmm, cukup mengerikan bukan?

Gunung Fuji dilihat dari Aokigahara [foto: Guilhem Vellut]
Gunung Fuji dilihat dari Aokigahara [foto: Guilhem Vellut]
Aokigahara dilihat dari atas [foto: Guilhem Vellut]
Aokigahara dilihat dari atas [foto: Guilhem Vellut]
 

Pasti banyak Jalan2ers yang penasaran, apa sih yang membuat Aokigahara populer sebagai tempat bunuh diri? Dan kenapa banyak yang jauh-jauh pergi ke Aokigahara hanya untuk bunuh diri? Awal dari populernya Aokigahara sebagai tempat bunuh diri konon dimulai pada tahun 1960-an.

Seorang novelis bernama Seicho Matsumoto menuliskan kisah tentang kedua kekasih yang bunuh diri di hutan Aokigahara dalam novelnya yang berjudul Kuroi Kaiju (atau Black Sea of Trees). Sejak saat itu Aokigahara menjadi identik sebagai tempat bunuh diri dan akhirnya menarik banyak pihak yang sengaja datang untuk mengakhiri hidupnya disana.

Namun sebetulnya jauh sebelum novel tersebut dirilis, di Jepang terdapat tradisi membuang orang di hutan (salah satunya Aokigahara) yang berlangsung hingga abad ke-19 (ubasute). Tujuannya agar orang tersebut mati disana tanpa menyusahkan orang lain. Jadi hutan (termasuk Aokigahara) memang identik dengan kematian.

Diduga setelah novel Kuroi Kaiju dirilis Aokigahara akhirnya identik dengan bunuh diri (walau sebetulnya peristiwa bunuh diri di Aokigahara sudah terjadi jauh sebelum itu). Sebetulnya Kuroi Kaiju pun bukan satu-satunya buku yang menggambarkan Aokigahara sebagai tempat ideal untuk bunuh diri.

Wataru Tsurumui, penulis buku The Complete Suicide Manual, juga merekomendasikan Aokigahara sebagai tempat ideal untuk mati. Tak jarang buku ini ditemukan di dekat pelaku bunuh diri. Kabarnya sejak tahun 1950-an sudah lebih dari 500 kasus bunuh diri yang terjadi di Aokigahara, menjadikan hutan ini sebagai tempat bunuh diri favorit kedua di dunia (peringkat pertama adalah Golden Gate Bridge).

Siang hari di Aokigahara [foto: Gomafringo]
Siang hari di Aokigahara [foto: Gomafringo]
Jalan setapak [foto: Simon le nippon]
Jalan setapak [foto: Simon le nippon]
 

Ada beberapa alasan mengapa Aokigahara populer sebagai tempat bunuh diri. Selain karena image yang terlanjur melekat sebagai tempat bunuh diri, kemungkinan utama adalah karena topografi dari hutan itu sendiri. Aokigahara dapat diterjemahkan sebagai lautan pohon (sea of trees), dan memang tempat ini menyerupai lautan pohon.

Hutan seluas 3500 hektar ini memiliki pepohonan yang sangat padat, rapat, dengan tipikal pohon yang menjulang tinggi. Tak heran jika beberapa tempat di hutan ini nyaris tak tersentuh sinar matahari sekalipun saat siang. Belum lagi medannya cukup sulit ditempuh, dengan beberapa jurang kecil yang siap menjebak mereka yang melintasinya. Suasana suram di hutan inilah yang dipercaya menjadi magnet bagi mereka yang putus asa dengan kehidupan.

Pintu masuk ke Wind Cave [foto: Guilhem Vellut]
Pintu masuk ke Wind Cave [foto: Guilhem Vellut]
Wind Cave [foto: Guilhem Vellut]
Wind Cave [foto: Guilhem Vellut]
 

Diluar “popularitas” Aokigahara sebagai tempat bunuh diri, menurut beberapa pecinta hiking, hutan ini sebetulnya cukup menarik untuk dijelajahi lho. Pepohonan yang rimbun dan rapat di Aokigahara serta topografinya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta alam.

Terlebih jika menjelajah hingga mendekati Gunung Fuji, banyak area yang masih alami dan minim keberadaan manusia. Di Aokigahara juga terdapat spot menarik seperti Ice Cave dan Wind Cave. Namun itu dengan catatan acara hiking hanya dilakukan di siang hari yaa.. Menjelang malam, suasana akan berubah menjadi tak bersahabat dan membuat bulu kuduk merinding.

Pintu masuk ke Ice Cave [foto: Guilhem Vellut]
Pintu masuk ke Ice Cave [foto: Guilhem Vellut]
Ice Cave [foto: Guilhem Vellut]
Ice Cave [foto: Guilhem Vellut]
 

Oya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Jalan2ers yang ingin menjelajah Aokigahara. Di hutan ini, kompas tak berfungsi. Begitu juga dengan GPS dan telepon selular. Salah satu cara untuk menjelajah secara aman adalah dengan tetap mengikuti rute hiking resmi (walau ada beberapa rute tak resmi yang biasa digunakan oleh relawan untuk mencari mayat).

Cara lainnya adalah dengan merekatkan tanda khusus di pepohonan untuk menandai jalan (sayangnya cara ini akan meninggalkan sampah). Hal lainnya yang perlu diperhatikan, jangan kaget jika melihat banyaknya papan himbauan untuk tidak bunuh diri di hutan ini, dan juga jika tiba-tiba menemukan mayat.

Satu lagi, sebelum berkunjung ke hutan ini, ketahui juga sisi lain dari Aokigahara. Maksud dari sisi lain ini lebih mengarah ke faktor spiritual sih. Banyak yang mempercayai jika hutan ini dihantui oleh yurei, atau jiwa yang marah milik para korban ubetsu.

Banyak aktifitas spiritual yang terjadi disini yang akhirnya membuat Aokigahara juga dikenal sebagai Demon Forest, atau hutan setan. Salah satu kisah mistis yang dipercaya cukup sering terjadi disini berkaitan dengan mayat korban bunuh diri yang ditemukan di hutan ini.

Setiap kali relawan maupun polisi hutan menemukan mayat, mereka akan melakukan hompimpah untuk menentukan siapa yang akan tidur dengan mayat itu setelah dipindahkan ke ruang khusus.

Kenapa? Karena jika tidak ditunggui, maka arwah para mayat akan gentayangan dan mengeluarkan suara jeritan keras. Puncaknya, mayat-mayat itu konon akan bergerak dan berpindah tempat! Cukup seram, bukan? Jadi jika memang berniat untuk menjelajah hutan ini, tak hanya fisik yang perlu disiapkan, tapi juga mental ya..

 

* Semua foto diambil creative commons. Credit nama berdasarkan userrname. Tidak ada materi foto yang dirubah dari aslinya.

 

baca juga :

Wisata Horor Di Tokyo? Siapa Takut!

Jalan-jalan ke Izu Oshima, Pulaunya Sadako Yamamura

Comments

comments