Suka belanja? Atau malah mengaku shopaholic alias si doyan belanja? Jika ya, berarti Jepang jelas menjadi salah satu tujuan wisata favorit. Di luar mitos bahwa barang-barang di Jepang itu mahal, negeri Sakura ini menawarkan destinasi dan variasi wisata belanja yang jumlahnya sangat banyak. Kalau versi lebaynya sih, jumlahnya nggak kehitung booo..  Jadi jangan heran jika banyak shopaholic yang akhirnya kalap saat berwisata ke Jepang.

Diluar senangnya melakukan aktifitas belanja, shopping di Jepang bisa sangat mengintimidasi wisatawan asing lho. Terutama jika dilihat dari faktor kendala bahasa. Tidak semua wisatawan yang pergi ke Jepang menguasai bahasa Jepang, dan fakta lainnya, tidak banyak penduduk Jepang yang bisa berbahasa Inggris.

Padahal aktifitas belanja pastilah membutuhkan interaksi antara pembeli dan penjual. Akibatnya, tak sedikit wisatawan yang hanya berani belanja di toko-toko besar, dimana kartu kredit menjadi penyelesaian sakti dari seluruh transaksi jual beli tanpa harus ber-cas cis cus dengan penjual. Padahal sebetulnya masih banyak jenis tempat belanja lain yang juga menarik untuk dijelajahi.

Kali ini saya ingin berbagi beberapa pengetahuan dasar tentang “belanja di Jepang”. Ada beberapa informasi yang wajib diketahui oleh wisatawan yang ingin belanja di Jepang, mulai dari jam operasional, jenis toko, dan sebagainya.

Seputar jam operasional toko

Saya membandingkan jam operasional pusat perbelanjaan di Tokyo, Osaka dan Nagoya dengan Jakarta dan Bandung. Jika mayoritas jam operasional pusat perbelanjaan di Jakarta antara pukul 10.00-22.00 dan Bandung mulai pukul 10.00-21.00, maka rata-rata pusat perbelanjaan di Tokyo, Osaka dan Nagoya buka mulai pukul 11.00-20.00.

Itu untuk toko retailnya saja. Untuk restoran dan kafe, jam operasionalnya beda lagi. Ada yang mulai pukul 07.00 (biasanya resto dan kafe yang menawarkan paket sarapan), ada juga yang mulai pukul 10.00. Jadi jika ingin belanja di pusat perbelanjaan, sebaiknya datang di atas jam 11.00.

Untuk hari libur, biasanya pusat perbelanjaan di Jepang tetap buka pada tanggal merah. Namun ada beberapa toko yang tutup pada periode libur nasional, seperti saat liburan tahun baru. Jadi jika memang berniat untuk belanja selama wisata di Jepang, ada baiknya mencari informasi detail tentang jam operasional serta hari libur tempat tujuan belanja yang diinginkan.

Salam

Saat masuk ke dalam toko, tak sedikit first time traveller yang kaget dan salah tingkah saat melihat staff toko membungkukkan badan sambil mengucapkan “irasshaimase”. Jangan bingung, itu hanya ucapan salam biasa yang bermakna “selamat datang”. Tak perlu repot menjawab, karena memang pengunjung tak perlu membalas ucapan tersebut.

Metode Pembayaran

Sudah tahu kan jika mata uang yang berlaku di Jepang adalah Yen? Jadi jika ingin berbelanja di Jepang, setidaknya Anda harus memiliki mata uang Yen di dalam dompet, terutama jika belanja di toko kecil maupun pasar tradisional.

Saran saya, sebelum pergi ke Jepang jangan lupa membawa Yen secukupnya karena di Jepang jarang sekali ada money changer yang mau menerima rupiah.

Alternatif lainnya, Anda bisa menggunakan kartu Suica, Passmo, maupun kartu IC lainnya sebagai alat pembayaran. Suica dan Passmo dapat diisi ulang di berbagai vending machine yang terdapat di stasiun, dan bisa digunakan sebagai alat pembayaran untuk naik berbagai transportasi maupun untuk belanja (solusi praktis bagi yang tak punya kartu kredit namun malas membawa uang yen di dompet).

Suica [foto: Bitmask, via creative search]
Suica [foto: Bitmask, via creative search]
Beberapa IC card lainnya [foto: Kalleboo, via creative search]
Beberapa IC card lainnya [foto: Kalleboo, via creative search]
.

Sedangkan jika belanja di pusat perbelanjaan besar, rata-rata menerima aneka macam kartu kredit sebagai alat transaksi (biasanya dari perusahaan besar seperti Visa, Mastercard, American Express, dan sejenisnya).

Oya, sebagai tambahan informasi, biasanya di Jepang alat pembayaran (uang maupun kartu) harus diletakkan di nampan kecil sebelum di ambil oleh kasir, begitu juga dengan uang kembalian. Dan jangan sekali-sekali menawar barang kecuali belanja di pasar tradisional ya!

Pajak

Terakhir, tentang pajak. Sebagian besar toko (termasuk toko 100 yen) menerapkan pajak. Biasanya, pajaknya adalah 5% dari harga barang (jadi jangan heran jika ternyata harus membayar lebih dari dari perkiraan semula). Namun pada April 2014 dan Oktober 2015 pajaknya akan naik jadi 8% dan 10%.

Tak ingin terkena pajak? Ada beberapa toko yang menerapkan sistem bebas pajak khusus untuk wisatawan asing (duty free shop). Syaratnya, wisatawan harus belanja sejumlah minimal tertentu (biasanya hanya berlaku untuk beberapa barang saja) dan harus dapat menunjukkan passport.

Untuk tempat belanja, berikut beberapa variasi jenis tempat belanja yang ada di Jepang. Ada yang biasa ditemukan juga di Indonesia, sebagian lainnya mungkin masih terasa asing.

Department Stores (Depaato)

Tak jauh beda dengan department store yang bisa ditemukan di Indonesia. Biasanya terdiri dari 5-10 lantai, dan memiliki toko-toko retail yang menjual beragam produk mulai dari pakaian hingga makanan.

Tobu Department Stores [foto: Dick Thomas Johnson, via creative search]
Tobu Department Stores [foto: Dick Thomas Johnson, via creative search]
Toyama Daiwa Department Stores [foto: Tsuda, via creative search]
Toyama Daiwa Department Stores [foto: Tsuda, via creative search]

Electronic Stores

Semacam department store, namun mengkhususkan diri pada produk-produk elektronik. Ada beberapa nama besar dalam electronic chain stores, seperti Bic Camera, Yamada Denki, dan sejenisnya. Di Tokyo, toko-toko tersebut mudah ditemukan di berbagai distrik seperti Akihabara, Shinjuku, Shibuya, dan Ikebukuro.

Bic Camera di Shinjuku [foto: Nakashi, via creative search]
Bic Camera di Shinjuku [foto: Nakashi, via creative search]
Yodobashi di Akihabara [foto: Robert Sanzalone, via creative search]
Yodobashi di Akihabara [foto: Robert Sanzalone, via creative search]

Toko 100 yen

Toko yang menjual aneka produk dengan harga ¥105 (¥100 untuk harga produk + ¥5 pajak). Toko seperti ini populer sebagai tempat belanja oleh-oleh yang murah meriah. Salah satu toko 100 yen yang terkenal adalah Daiso, dan salah satunya bisa ditemukan di Harajuku. Di Indonesia, Daiso terdapat di beberapa mall di kota besar seperti Paris van Java (Bandung) dan Mall Artha Gading (Jakarta).

Daiso Harajuku [foto: Guilhem Vellut, via creative search]
Daiso Harajuku [foto: Guilhem Vellut, via creative search]
Daiso Harajuku [foto: Guilhem Vellut, via creative search]
Daiso Harajuku [foto: Guilhem Vellut, via creative search]

Convenience Stores

Dalam bahasa Jepang, convenience store disebut dengan konbini. Beberapa konbini populer antara lain Lawson, Seven Eleven, dan Family Mart.

Circle K, Japan. pic by Yuya Tamai, via creative search
Circle K, Japan. pic by Yuya Tamai, via creative search
Shinsaibashi di Osaka [foto: Matsuyuki, via creative search]
Shinsaibashi di Osaka [foto: Matsuyuki, via creative search]

Shopping Arcade atau Shopping Street

Tempat belanja ini terbilang unik karena terdiri dari toko-toko kecil dan menengah yang berderet membentuk lorong dengan suasana yang khas. Shopping arcade mudah ditemukan di berbagai kota di Jepang seperti Sun Mall di Tokyo, Shinsaibashi di Osaka, dan Nagoya. Shopping arcade juga mudah ditemukan di jalanan yang menuju ke kuil besar, seperti Nakamise Dori (di dekatSensoji Temple, Tokyo) dan Sannenzaka / Ninnenzaka di Kyoto.

Shinsaibashi di Osaka [foto: Matsuyuki, via creative search]
Shinsaibashi di Osaka [foto: Matsuyuki, via creative search]
Nakamise Shopping Street [foto: Chee.hong, via creative search]
Nakamise Shopping Street [foto: Chee.hong, via creative search]

Food Market & Pasar Tradisional

Yaitu pasar yang menjual berbagai produk segar seperti buah dan sayur. Biasanya sistem tawar menawar masih diterima disini. Beberapa pasar basah populer antara lain Tsukiji Fish Market danOta Wholesale Market di Tokyo, serta Nishiki Market di Kyoto.

Nishiki Market [foto: Fry_theonly, via creative search]
Nishiki Market [foto: Fry_theonly, via creative search]
Pelelangan tuna di Tsukiji Fish Market [foto: Kojach, via creative search]
Pelelangan tuna di Tsukiji Fish Market [foto: Kojach, via creative search]

Flea Market dan Antique Market

Biasanya digelar pada tanggal tertentu di sekitar kuil. Untuk Tokyo, flea market serta antique market yang terkenal ada di Meiji Jingu Gaien, Yoyogi Park, dan Tokyo International Forum. Sedangkan di Kyoto terdapat di Toji Temple dan Kitano Tenmangu Shrine.

Flea market di Yoyogi Park [foto: Randomidea, via creative search]
Flea market di Yoyogi Park [foto: Randomidea, via creative search]
Flea market di Kitano Tenmangu Shrine [foto: Np&djjewell, via creative search]
Flea market di Kitano Tenmangu Shrine [foto: Np&djjewell, via creative search]

Pusat perbelanjaan lainnya

Masih ada variasi lain dari tempat belanja di Jepang, seperti shopping mall, outlet mall, dan underground mall.

Adakah di antara Jalan2ers yang menunggu aneka tips melakukan percakapan bertema “belanja” ? Sayangnya kali ini saya tak akan memberikan contoh-contoh shopping conversation dalam bahasa Jepang.

Sebagai gantinya, saya menemukan communication board yang sangat bagus. Adalah LaForet Harajuku, sebuah pusat perbelanjaan di Harajuku, Tokyo, yang menawarkan inovasi communication board multi bahasa (Jepang, Inggris, Cina, Korea) sebagai pengganti dialog konvensional dengan staff toko.

Pelanggan tinggal mem-print communication board tersebut, dan selanjutnya cukup menunjuk contoh pertanyaan yang ingin diajukan. Staff toko pun tinggal memilih jawaban yang paling pas dari beberapa opsi yang tersedia. Praktis bukan? Bagi yang ingin melihat communication board tersebut, bisa dilihat disini (sumber). Semoga bermanfaat!

Comments

comments