fbpx
Home Guides Kuliah Ke Jepang? Ini Tips Dan Trik-Nya

Kuliah Ke Jepang? Ini Tips Dan Trik-Nya

via ncee.org
via ncee.org

Sudah tahu kan kenapa harus mempertimbangkan untuk sekolah di Jepang? Sudah tahu juga beberapa skenario yang bisa dicoba agar bisa bersekolah di Jepang? Kalau belum, silahkan baca dulu tulisan sebelumnya (dengan cara klik link pada tulisan di atas). Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi tips dan trik seputar sekolah di Jepang, mulai dari memilih sekolah, hingga cara menghubungi calon pembimbing.

Tips memilih sekolah di Jepang

  • Pertama dan yang paling utama, sama seperti halnya saat akan masuk perguruan tinggi di Indonesia, tentukan dulu mau memilih jurusan atau menekuni bidang apa. Masalah jurusan ini sangat penting lho. Salah seorang kenalan saya pernah mengalami krisis identitas jurusan. Karena kesulitan mencari jurusan yang sesuai kata hati, akibatnya dia mengambil kuliah di universitas antah berantah jurusan nomaden, alias setiap tahun pindah-pindah tempat kuliah dan berganti jurusan. Jadi sebelum mendaftar ke sebuah sekolah/kampus, pastikan dulu apa minat Anda. Seberapa besar minat Anda terhadap jurusan tersebut? Kan nggak lucu setelah jauh-jauh pergi ke Jepang akhirnya malah luntang lantung karena nggak cocok dengan jurusan yang dipilih. Itu untuk yang memilih kuliah S1. Bagi calon mahasiswa S2 maupun S3, tentukan dengan benar bidang apa yang ingin ditekuni. Pemilihan bidang ini akan menjadi salah satu acuan penting untuk memilih pembimbing yang dapat membantu kita bersekolah di Jepang.
  • Setelah menetapkan jurusan maupun bidang yang akan ditekuni, saatnya memilih universitas yang akan menjadi tempat untuk menimba ilmu. Agar bisa menimba ilmu secara maksimal, sebaiknya pilih tempat kuliah yang memiliki spesialisasi di bidang yang akan ditekuni maupun jurusan yang akan diambil. Misalnya saja, jika ingin mengambil jurusan teknologi, ya carilah universitas yang terkenal memiliki kurikulum bagus di bidang teknologi seperti Tokyo Institute of Technology maupun Universitas Tokyo. Begitu juga jika ingin menekuni bidang seni, bisa memilih spesialisasi seni tertentu (desain, musik, dan sebagainya).
  • Biasanya, dilema lain yang muncul adalah pilih universitas negeri atau swasta ya? Di Jepang, kualitas antara universitas negeri maupun swasta sebetulnya sama saja. Perbedaan mencolok terletak pada masalah biaya. Jika biaya tidak jadi masalah, maka kampus negeri atau swasta akan sama saja. Namun jika mengincar potongan biaya pendidikan maupun kemudahan biaya lainnya, sebaiknya memilih universitas negeri.
  • Tips lain untuk memilih universitas yang tepat, adalah pertimbangkan juga masalah kota tempat lokasi kampus tersebut berada. Kampus yang berada di kota besar (seperti Tokyo) tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, khususnya dalam masalah biaya hidup. Iklim di kota tersebut juga salah satu yang perlu diperhatikan. Saya telah menyinggung sekilas mengenai iklim di Jepang melalui tulisan ini. Daerah utara Jepang memiliki iklim yang relatif lebih dingin dibanding daerah selatan. Jadi jika kira-kira memiliki masalah dengan suhu yang terlalu dingin maupun terlalu hangat, sebaiknya carilah kampus di kota yang memiliki iklim yang paling “ramah†terhadap kondisi tubuh.

Tips saat mencari dan menghubungi calon pembimbing

1. Untuk cara mencari calon pembimbing, seperti sudah disinggung disini, cara termudah adalah dengan memanfaatkan koneksi. Minta saran dari siapa saja yang sudah pernah menempuh pendidikan di Jepang. Cara lainnya adalah dengan bertanya pada mbah google. Perhatikan korelasi antara bidang studi yang ingin ditekuni dengan bidang keahlian doktor maupun profesor yang akan jadi calon pembimbing. Kan aneh kalau mencari pembimbing yang ahli nuklir, padahal rencananya ingin menekuni bidang arsitektur.

2. Selain harus jeli memilih pembimbing yang memiliki keahlian di bidang yang akan kita tekuni, salah satu pertimbangan lain dalam memilih pembimbing adalah track record-nya. Sudah jadi rahasia umum ada beberapa pembimbing yang hanya memanfaatkan mahasiswa untuk membantu penelitiannya dan tidak berkontribusi banyak dalam membimbing mahasiswa. Selain itu, ada juga pembimbing yang kurang memahami cara membimbing mahasiswa asing (yang berarti harus berhadapan dengan perbedaan budaya, bahasa, dan sebagainya). Nah, salah satu indikator yang bisa digunakan untuk memilih pembimbing adalah track record-nya dengan mahasiswa asing. Seringkah pembimbing tersebut menerima mahasiswa asing? Banyakkah mahasiswa asing bimbingannya yang berhasil selepas lulus sekolah?

3. Salah satu cara terbaik untuk mengontak calon pembimbing adalah melalui email. Tak apa jika tidak bisa berbahasa Jepang, karena email bisa dibuat dalam bahasa Inggris. Namun perlu diketahui juga tidak semua doktor/profesor di Jepang menguasai bahasa Inggris. Jadi jika kegiatan surat menyurat akan dilakukan dalam bahasa Inggris, carilah pembimbing yang memahami bahasa Inggris. Oya, jangan kaget juga jika tiba-tiba ditanya mengenai kemampuan berbahasa Jepang ya, karena beberapa pembimbing mensyaratkan kemampuan berbahasa Jepang (walau untuk level percakapan sehari-hari.

4. Saat menghubungi calon pembimbing, jangan langsung mengharapkan balasan. Tunggulah 2-3 minggu (bisa juga hingga 4 minggu) karena seorang doktor/profesor pastilah memiliki jadwal yang padat. Tak ada salahnya mengirim email ke beberapa calon pembimbing dalam satu waktu, tentunya selama calon pembimbing tersebut memiliki kualifikasi di bidang yang akan ditekuni.

5. Bagaimana jika ditolak oleh pembimbing? Tenang, dunia belum kiamat. Jangan dulu buru-buru ngambek dan batal kuliah di Jepang. Di Jepang ada ribuan doktor/profesor dan tak sedikit dari mereka yang membutuhkan mahasiswa asing. Jangan salah, bukan hanya mahasiswa asing yang perlu pembimbing lho. Doktor/profesor juga perlu mahasiswa asing agar bisa go internasional, dan universitas/kampus juga perlu mahasiswa asing untuk menaikkan ratingnya. Jadi jangan putus asa jika ditolak. Tetap ucapkan terima kasih karena telah merespon email Anda, dan tak ada salahnya meminta rekomendasi koleganya yang membutuhkan mahasiswa asing.

6. Perhatikan tata bahasa yang digunakan saat menghubungi pembimbing. Orang Jepang mengutamakan sopan santun saat berinteraksi, jadi tata bahasa sangatlah penting.

7. Untuk contoh email pada calon pembimbing, saya mengambil contoh sumber dari e-book yang ditulis oleh Sunu Wibirama (klik link untuk melihat e-book aslinya). Bagi yang nggak sempat buka-buka e-book nya, kurang lebih strukturnya sebagai berikut:

  • Subject: .. < nama kita > < nama universitas asal > – < nama beasiswa > < tahun ajaran > for .. < isi dengan Research Student/Master Degree/Doctoral Degree > in University < isi dengan nama universitas tujuan >. Merasa kepanjangan? Nggak apa-apa, karena ini untuk membedakan dengan email lainnya.
  • Salam pembuka: ucapkan salam dengan menyebut nama pembimbing.
  • Isi email: berisi perkenalan (menyebut nama, biodata singkat), penjelasan mengenai riset yang telah dikerjakan, permohonan untuk mengikuti riset yang sedang dilakukan oleh pembimbing.
  • Penutup: lampirkan beberapa dokumen pelengkap seperti bermacam sertifikat, dan surat rekomendasi (jika ada).

8. Setelah dapat pembimbing, apa yang harus dilakukan? Jangan langsung pesta dan bersenang-senang ya. Tetap jalin kontak dengan beliau, jika perlu sesekali melalui telepon. Jangan lupa minta surat keterangan telah diterima oleh pembimbing yang bersangkutan. Tujuannya untuk memudahkan jika ingin mencari beasiswa.

Lalu ada tips untuk mencari beasiswa ke Jepang nggak? Dan dimana cara mendapat informasi berbagai universitas di Jepang? Tunggu tulisan selanjutnya ya.

Semoga bermanfaat.

 

baca juga :

Mau Dapat Beasiswa Sekolah Ke Jepang? Begini Caranya.

Magang Ke Jepang, Ini Rangkaian Proses Dan Persyaratannya

Mau Kerja Di Jepang? Begini Caranya.

Comments

comments