fbpx
Home Guides Mengunjungi Hanamachi Alias Distrik Geisha Di Seluruh Jepang (Part 2 END)

Mengunjungi Hanamachi Alias Distrik Geisha Di Seluruh Jepang (Part 2 END)

Dari seluruh kota yang ada di Jepang, Kyoto menjadi kota yang masih memiliki geisha dalam jumlah yang signifikan. Hanamachi di Kyoto pun menjadi yang paling populer dan paling elit dibanding hanamachi lainnya yang ada di seluruh Jepang.

Dari 6 hanamachi di Kyoto (hanya 5 yang masih aktif), 3 diantaranya sudah saya kupas dalam tulisan [Mengunjungi Hanamachi Alias Distrik Geisha Di Seluruh Jepang (Part 1)] yaitu Gion Kobu, Gion Higashi, dan Pontocho. Kali ini saya ingin melanjutkan ke hanamachi lainnya di Kyoto, termasuk eks-hanamachi yaitu Shimabara, serta hanamachi lainnya yang masih eksis di koa lain di Jepang.

Miyagawacho

Tiga maiko melintas di Miyagawacho, via pixgood
Tiga maiko melintas di Miyagawacho, via pixgood

Hanamachi yang satu ini lokasinya juga nggak begitu jauh dari distrik Gion, tepatnya berada di sekitar sungai Kamo. Di distrik ini terdapat beberapa ochaya yang masih eksis hingga saat ini.

Selain dikenal sebagai hanamachi, Miyagawacho ini juga dikenal sebagai tempatnya untuk menyaksikan pertunjukan kabuki (pentas drama Jepang yang seluruh pemerannya adalah pria) karena dihanamachi ini terdapat Minami-za Kabuki Theatre. Geisha di Miyagawacho ini rutin menggelar pertunjukan tahunan bertajuk Kyo Odori, yang digelar pada 2 minggu pertama di bulan April.

Kamishichiken

Seorang geisha dan maiko tengah menikmati festival plum di Kamishichiken, foto Melissa Rose Chasse via Flickr
Seorang geisha dan maiko tengah menikmati festival plum di Kamishichiken, foto Melissa Rose Chasse via Flickr

Gion boleh saja menjadi hanamachi terbesar dan terpopuler di Jepang. Tapi jika bicara tentang distrik geisha tertua di Kyoto, maka Kamishichiken lah tempatnya. Hanamachi yang satu ini memang unik jika dibandingkan dengan hanamachi lainnya di Kyoto.

Jika Gion (Kobu dan Higashi), Pontocho, dan Miyagawacho lokasinya cukup berdekatan dan berada di tengah Kyoto, maka Kamishichiken ini terletak di sisi barat laut kota Kyoto, tepatnya di dekat kuil Kitano Tenmangu Shrine. Geisha di Kamishichiken ini dikenal sebagai musisi yang sangat handal.

Mereka rutin menggelar pertunjukan tahunan bertajuk Kitano Odori yang digelar setiap musim semi (biasanya di akhir bulan Maret dan minggu pertama bulan April), dan rutin berpartisipasi dalam festival Baikasai – festival minum teh sambil menikmati mekarnya bunga Plum- di kuil Kitano Tenmangu, yang biasa diadakan setiap tanggal 25 Februari.

Pertunjukan Kitano Odori, via goldenjipangu.com
Pertunjukan Kitano Odori, via goldenjipangu.com

Shimabara

Pintu gerbang Shimabara, via panoramio.com
Pintu gerbang Shimabara, via panoramio.com

Selama ini, kerap ada anggapan jika hanamachi merupakan sebuah red light district (atau dalam istilah Jepang-nya disebut yukaku, alias pleasure quarter). Faktanya, hanamachi merupakan distrik-nya para geisha dan bukanlah sebuah tempat hiburan malam yang berkaitan dengan prostitusi.

Jikalau ada yukaku yang juga menjadi sebuah hanamachi, maka profesi di yukaku bukan dilakukan oleh geisha, melainkan oleh courtesan yang disebut yujo, dimana yujo rangking tertinggi adalah oiran.

Shimabara di Kyoto menjadi salah satu yukaku terkenal pada tahun 1600-an. Pada masa tersebut, di seluruh Jepang ada 3 yukaku: Shimabara di Kyoto, Shinmachi di Osaka, dan Yoshiwara di Edo. Namun sejak prostitusi dilarang oleh konstitusi, perlahan tapi pasti masa keemasan Shimabara sebagai yukaku pun berakhir.

Shimabara lantas fokus menjadi hanamachi, yang sayangnya hanya bertahan hingga tahun 1970-an. Kini di Shimabara sudah tidak ada lagi okiya yang aktif, walau bangunan teater dan beberapa ochaya masih dipertahankan untuk keperluan wisata. Geisha dari hanamachi lain pun kerap diundang untuk tampil di Shimabara untuk menghibur wisatawan.

Hanamachi di kota lainnya

Dulu, hanamachi cukup mudah ditemukan di berbagai kota seperti Tokyo, Osaka, Kanazawa, dan lain-lain. Sayangnya, sejak berbagai peristiwa penting terjadi di Jepang paska periode Edo berakhir (tahun 1868), seperti Restorasi Meiji, Perang Dunia II, dan diresmikannya undang-undang anti prostitusi, banyak hanamachi yang ikut terkena getahnya dan akhirnya kini tinggal kenangan saja.

Berikut ini daftar hanamachi yang ada di kota lain di Jepang (aktif dan non-aktif), dan sebagai bonus, saya akan memberikan tips untuk membedakan geisha asli dan gadungan.

Hanamachi di Osaka

Maiko di Osaka, via quazoo
Maiko di Osaka, via quazoo

Pada periode Edo (1603-1868), ada 4 hanamachi aktif di Osaka, yaitu Kita Shinchi, Minami Shinchi (atau Nanchi), Horie, dan Shinmachi. Nama terakhir, yaitu Shinmachi, tak hanya menjadi sebuahhanamachi, melainkan menjadi sebuah yukaku. Namun, setelah Osaka terkena serangan udara pada saat Perang Dunia II, banyak ochaya yang hancur dan tidak dibangun lagi hingga sekarang. Saat ini, hanya ada 1 atau 2 ochaya di hanamachi tersebut, dengan beberapa geisha yang tampil untuk menghibur wisatawan.

Hanamachi di Kanazawa

Higashi Chayagai di Kanazawa, via mukayu.com
Higashi Chayagai di Kanazawa, via mukayu.com

Kanazawa merupakan sebuah kota yang terletak di prefektur Ishikawa, wilayah Chubu. Selain Kyoto, Kanazawa termasuk salah satu kota yang selamat dari serangan udara serangan udara pada Perang Dunia II sehingga suasana di Kanazawa cukup kental dengan nuansa kota tua-nya (note: Kanazawa sering disebut juga sebagai “Little Kyoto”).

Dan, di kota ini pun masih terdapathanamachi yang cukup aktif. Sampai saat ini di Kanazawa masih terdapat distrik chaya, yaitu distrik yang didalamnya banyak terdapat ochaya (rumah minum teh), dan distrik-distrik tersebut masih sangat aktif; sehingga Kanazawa menjadi kota kedua di Jepang yang masih memiliki budaya geisha yang aktif setelah Kyoto. Adapun distrik geisha di Kanazawa antara lain Higashi Chayagai (terbesar diantara distrik lainnya), Nishi Chayagai, dan Kazuemachi.

Penutup

Sebetulnya, geisha masih bisa ditemukan di tempat lainnya seperti resort onsenGeisha yang berada di resort onsen disebut sebagai onsen geisha.

Namun onsen geisha tidak saya masukkan dalam tulisan ini karena onsen geisha sering dianggap bukan bagian dari budaya geisha yang sesungguhnya.

Onsen geisha cenderung memiliki konotasi yang negatif karena lekat dengan image prostitusi (setidaknya hingga prostitusi dilarang di Jepang), dan nggak memiliki budaya seketat geisha di hanamachi; sehingga onsen geisha kerap dianggap sebagai geisha kelas bawah.

Ngomong-ngomong, saat ini di berbagai kota di Jepang sudah banyak layanan berdandan ala geisha. Wisatawan dapat mencoba di rias dan di tata rambut seperti geisha, mengenakan kimono, dan berjalan-jalan di kota dengan dandanan ala geisha.

Jadi, jika kalian melihat ada wanita berpakaian kimono melintas di jalanan Kyoto maupun kota lainnya, jangan dulu girang dan menganggap mereka adalah geisha. Siapa tahu mereka hanya wisatawan yang tengah menikmati momen-momen “menjadi geisha sesaat”.

Untuk membedakan apakah wanita berkimono itu geisha asli atau palsu, coba deh perhatikan sikap mereka saat tengah di foto. Jika mereka bersedia untuk berhenti dan berpose aneka gaya untuk di foto oleh wisatawan, bisa jadi itu adalahgeisha palsu.

Geisha asli hanya keluar okiya (dengan dandanan ala geisha) untuk bekerja, sehingga mereka nggak punya cukup waktu untuk berpose. Dan, ketahui juga jika geisha asli memiliki aura dan sikap yang anggun dan tenang sebagai hasil dari latihan selama bertahun-tahun.

Jika wanita berkimono yang kalian lihat tidak menampakkan ciri keanggunan dan ketenangan, sebaiknya alihkan kamera kalian ke tempat lain dan mencari geisha maupun maiko yang asli.

***

Tentang Geisha, Sang Penghibur Yang Profesinya Kerap Disalahpahami

Mengunjungi Hanamachi Alias Distrik Geisha Di Seluruh Jepang (Part 1)

***

Comments

comments