fbpx
Home Guides Panduan Seputar Makanan Halal Di Jepang

Panduan Seputar Makanan Halal Di Jepang

Biasanya, saat bepergian ke negara lain, wisatawan muslim kerap dipusingkan dengan beberapa hal. Salah satunya adalah mengenai ketersediaan makanan halal, terutama jika Islam merupakan agama minoritas di negara tujuan wisata tersebut. Hal tersebut juga kerap memusingkan wisatawan muslim yang akan berwisata ke Jepang.

Sushi mungkin halal (walau ada juga kemungkinan nasi sushi dicapur dengan mirin yang merupakan bahan non-halal). Tapi populasi makanan non-halal jumlahnya jauh lebih banyak lagi.

Bagaimana caranya untuk mencari makanan halal di Jepang? Bagaimana caranya membedakan makanan halal dan non-halal? Adakah menu makanan Jepang yang betul-betul aman dikonsumsi oleh wisatawan muslim? Itulah yang akan saya bagikan dalam tulisan kali ini.

Prinsip Dasar: Mengenal Halal Tourism di Jepang

Ilustrasi halal tourism, via straitstimes.com
Ilustrasi halal tourism, via straitstimes.com

Bagi wisatawan muslim, jangan khawatir jika akan berwisata ke Jepang. Negeri Sakura tersebut memang bukanlah negara Islam, dan Islam merupakan agama minoritas disana.

Namun dewasa ini pemerintah Jepang serius menargetkan wisatawan muslim sebagai target pasar sektor pariwisatanya. Sebagai konsekuensi, pemerintah Jepang pun mengembangkan halal tourism untuk menyambut wisatawan muslim yang akan berkunjung ke Jepang.

Restoran Halal, Muslim Friendly, Muslim Welcome, dan Pork Free; Apa Bedanya?

Salah satu restoran halal di Jepang, via japan-guide.com
Salah satu restoran halal di Jepang, via japan-guide.com

Saat ini, di beberapa kota besar dan juga bandara, restoran halal sudah cukup mudah ditemukan; walau jumlahnya memang masih sangat terbatas. Diluar kota besar, restoran halal belum tentu ada walau mungkin ada beberapa jenis restoran lainnya yang bisa dicoba oleh wisatawan muslim seperti restoran muslim friendly, muslim welcome, dan pork-free. Berikut perbedaan dari keempat jenis restoran tersebut:

  • Restoran halal, merupakan restoran yang hanya menyajikan menu halal. Semua menunya adalah menu halal, dan restoran ini memiliki logo halal. Restoran halal tidak menyajikan minuman alkohol; atau jika terdapat minuman beralkohol, penyajiannya dipisahkan dari menu lainnya. Jumlah restoran yang betul-betul halal memang sangat terbatas, terutama karena di Jepang sangat sulit bagi sebuah restoran untuk bertahan jika tidak menjual minuman beralkohol.
  • Muslim Friendly, atau kerap disebut sebagai halal friendly restaurant, merupakan restoran yang menyajikan menu halal yang sudah ditandai dengan logo halal. Namun restoran ini juga memiliki menu biasa yang bahan maupun bumbunya bisa saja merupakan bahan atau bumbu non-halal. Misalnya saja, menggunakan daging ayam maupun daging sapi non-halal, dan mungkin juga dicampur dengan alkohol. Walau kabarnya dewasa ini training penyajian makanan halal semakin diintensifkan untuk berbagai restoran yang menyajikan menu-menu halal, restoran ini mungkin saja memasak berbagai menu halal-nya dalam alat masak yang sama dengan yang digunakan untuk memasak makanan non-halal. Tambahan informasi, beberapa restoran muslim friendly hanya dapat menyajikan menu halal dengan reservasi sebelumnya, karena mereka memerlukan waktu untuk menyajikan menu-menu halal.
  • Muslim welcome, merupakan jenis restoran yang tidak menyajikan babi, bahan-bahan yang berkaitan dengan babi, dan tidak menggunakan alkohol dalam menunya. Namun restoran ini tidak memiliki menu khusus yang betul-betul halal.
  • Pork-free, merupakan restoran yang tidak menyajikan babi maupun daging. Namun bukan berarti restoran jenis ini bebas dari penggunaan alkohol dalam berbagai menunya.

Dengan mengetahui berbagai jenis restoran yang berkaitan dengan halal tourism, diharapkan wisatawan tidak kebingungan lagi dalam mencari restoran yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Cara untuk membedakan makanan halal dan non-halal

Saat berwisata ke Jepang, terkadang kita tak selalu bisa makan di restoran halal maupun belanja di toko bahan makanan halal. Karenanya, perlu kejelian untuk mengetahui mana makanan yang halal maupun non-halal. Setidaknya ada 3 cara yang bisa digunakan:

  • Dengan men-download aplikasi Halal Minds.

Aplikasi ini dikembangkan oleh Agung Pambudi, founder dan CEO Kyushu.Lab. Halal Minds menyimpan database berbagai makanan halal dan non-halal. Cara penggunaannya pun cukup mudah, terutama bagi wisatawan yang tidak dapat membaca huruf kanji. Wisatawan cukup men-scan barcode, dan aplikasi ini akan mencari di database apakah makanan tersebut halal atau tidak. Saat ini sudah ada 500.000 produk yang tercatat dalam database Halal Minds. Namun jika ternyata hasil scan tidak jelas, gunakan cara kedua.

  • Dengan cara mencari kanji bahan makanan non-halal dalam sebuah produk

Cara ini bisa diterapkan jika wisatawan akan membeli produk makanan dalam kemasan, seperti mie instan, roti, dan lainnya. Konsekuensinya, wisatawan harus mencari kanji non-halal diantara deretan kanji dan huruf Jepang lainnya yang ada dalam sebuah produk. Untuk panduan, teman-teman bisa mencetak gambar berikut ini:

Daftar huruf kanji bahan makanan non-halal, via tsumrawomen.blogspot.com
Daftar huruf kanji bahan makanan non-halal, via tsumrawomen.blogspot.com
  • Dengan bertanya pada sang penjual

Cara ini mungkin akan sulit dilakukan jika teman-teman membeli produk makanan instan/makanan dalam kemasan, namun bisa dilakukan jika membeli produk makanan jadi seperti bento, maupun jika membeli menu di restoran. Tanyakan pada penjual/pelayan restoran mengenai menu-menu yang aman dikonsumsi oleh wisatawan muslim. Biasanya mereka akan dengan senang hati merekomendasikan menu-menu yang halal maupun muslim friendly.

  • Kenali Menu Makanan Jepang yang Aman Bagi Wisatawan Muslim
Zaru udon, salah satu menu kuliner khas Jepang yang aman untuk wisatawan muslim, via akamaihd.net
Zaru udon, salah satu menu kuliner khas Jepang yang aman untuk wisatawan muslim, via akamaihd.net

Kadang kita tak sempat untuk melihat daftar kanji dalam kemasan sebuah makanan. Kita juga tak selalu bisa menemukan restoran halal, muslim friendly, muslim welcome, maupun pork-free. Pada saat seperti itu, ada baiknya mengetahui menu apa saja yang relatif aman dikonsumsi oleh wisatawan muslim.

Sushi belum tentu halal, karena bisa saja nasinya dicampur dengan mirin. Ramen hampir pasti non-halal karena kerap dicampur dengan potongan daging babi dan bahan tambahan non-halal lainnya (seperti alkohol).

Roti mungkin saja mengandung lemak babi. Namun udon dan soba biasanya relatif bebas dari bahan-bahan non-halal. Onigiri (kecuali yang mengandung isian non-halal), ikan bakar, kacang edamame, dan sayur mayur termasuk makanan halal.

Namun memang agak sulit untuk menemukan menu makanan tradisional Jepang yang betul-betul halal selain yang terdapat di restoran halal (jika dilihat dari pemilihan bahan makanan hingga penyajian), sehingga mungkin saja diperlukan sebuah kompromi untuk menyantap menu tradisional Jepang yang disajikan diluar restoran halal.

Semoga informasinya bermanfaat. Untuk melengkapi bahasan tentang muslim traveler di Jepang.

 

baca juga :

Trip Ke Jepang, Shalat Dimana?

Cari Makanan Halal Di Korea Selatan? Intip Tips-Nya Disini.

Comments

comments