fbpx
Home Guides Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini. (Part 1)

Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini. (Part 1)

Satu lagi tulisan tentang akomodasi unik yang bisa ditemukan di Jepang. Setelah sebelumnya membahas tentang hotel kapsul, love hotelryokan, serta membandingkan antara minshuku dan pensions, kali ini saya ingin berbagi informasi seputar shukubo.

Apa itu shukubo?

Sebelum membahas tentang shukubo, mari kita sedikit me-review jenis akomodasi yang biasa dipilih saat memutuskan untuk jalan-jalan ke daerah lain. Rasanya, rata-rata wisatawan akan memilih akomodasi standar seperti hotel, hostel, atau mungkin apartemen sewa.

Namun ada juga wisatawan yang mencari pengalaman menginap yang berbeda dan mencoba jenis akomodasi unik seperti hotel kapsul, love hotel, maupun pensions. Atau jika pergi ke Jepang, penginapan tradisional seperti ryokan dan minshuku jelas jadi alternatif seru bagi wisatawan yang memang mencari pengalaman menginap yang khas. Tapi jika ingin mencari pengalaman menginap yang betul-betul unik, maka wisatawan wajib mencoba melakukan shukubo, alias menginap di kuil.

Ekoin Temple, salah satu kuil populer untuk shukubo [foto: Stéfan]
Ekoin Temple, salah satu kuil populer untuk shukubo [foto: Stéfan]
Ekoin Temple, salah satu kuil populer untuk shukubo [foto: Stéfan]
Ekoin Temple, salah satu kuil populer untuk shukubo [foto: Stéfan]

Menginap di kuil? Emang bisa?

Jelas bisa dong, walau tidak di semua kuil. Ada beberapa kuil yang melengkapi kompleks kuilnya dengan fasilitas menginap yang disebut shukubo. Bangunannya biasanya ditempatkan terpisah dari bangunan utama yang menjadi tempat beribadah. Jadi jangan membayangkan Anda harus menggelar tikar di tengah ruang beribadah ya, hehe..

Awal keberadaan fasilitas shukubo tersebut ditujukan bagi para peziarah maupun para pengikut aliran kuil yang ingin menginap di sela-sela aktifitas ibadah. Tak heran jika kuil yang menyediakan fasilitas shukubo rata-rata merupakan kuil Budha dan termasuk kuil yang populer sebagai tempat wisata religi karena berbagai alasan (bisa dari posisinya sebagai pusat aliran tertentu, karena faktor sejarahnya, dan sebagainya).

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan jaman dan meningkatnya jumlah wisatawan yang berminat untuk menginap di kuil, tak sedikit fasilitas shukubo yang lalu dikembangkan sebagai salah satu daya tarik dari sebuah kuil.

Beberapa diantaranya bahkan dikelola dengan profesional: memiliki website pribadi dalam berbagai bahasa, menyediakan kolom untuk reservasi, dan bahkan ada juga shukubo yang reservasinya bisa dilakukan melalui berbagai situs booking hotel. Canggih kan?

Bagi wisatawan yang ingin melakukan wisata sekaligus merasakan akomodasi yang unik, shukubo jelas menarik untuk dicoba. Alasan pertama, tentu saja dari suasana menginapnya. Rata-ratashukubo menawarkan tempat menginap dalam kamar berlantai tatami (tikar ala Jepang). Ukuran kamarnya bervariasi. Ada yang menawarkan kamar privat, ada juga yang menempatkan beberapa tamu sekaligus dalam satu ruangan.

Interior kamarnya pun khas tradisional Jepang, walau ada juga yang menyertakan sentuhan pernak-pernik Cina mengingat ajaran Budha di Jepang memang sangat dipengaruhi oleh negara Cina. Jadi, pemandangan kamar ber-tatami lengkap dengan pintu geser dan dinding kertas layaknya di penginapan tradisional seperti ryokan dan minshuku termasuk salah satu fasilitas yang bisa dan biasa ditemukan saat shukubo. Sebagai pelengkap, shukubo juga biasanya menyediakan yukata (kimono harian) sebagai pakaian ganti para tamu, sehingga para tamu bisa merasakan atmosfir khas Jepang.

Kamar di kuil Ekoin [foto: Stéfan]
Kamar di kuil Ekoin [foto: Stéfan]
Suasana kamar di kuil Shojoshin-in [foto: Andrea Schaffer]
Suasana kamar di kuil Shojoshin-in [foto: Andrea Schaffer]
 

Alasan kedua, saat ini sudah banyak shukubo yang dirancang agar cukup ramah terhadap wisatawan asing. Sekalipun memiliki kamar bernuansa tradisional dan lokasinya yang berada di kuil, tempat shukubo populer biasanya sudah dilengkapi dengan berbagai “fasilitas duniawi” seperti perangkat hiburan (seperti televisi), pemanas maupun pendingin ruangan, akses internet, dan toilet yang dirancang ala Barat. Untuk fasilitas mandinya, umumnya dibuat ala sento (pemandian bersama khas Jepang) dan dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Alasan berikutnya terletak pada faktor suasana kuilnya. Sekalipun tempatnya berada di bangunan terpisah dari tempat berdoa, shukubo tetap terasa menenangkan karena suasana religius yang sangat terasa. Bagian menariknya, beberapa kuil ada yang melibatkan para tamu ke dalam rutinitas maupun aktifitas kuil.

Salah satunya adalah zazen, atau meditasi. Tamu akan diajak untuk bermeditasi dalam posisi duduk selama setidaknya setengah jam, mengatur pernafasan, dan mengendurkan segala ketegangan yang biasa dirasakan oleh masyarakat kota. Pada saat ini, waktu akan berjalan begitu lambat dan Anda akan merasa segar setelahnya.

Ada juga shukubo yang mengundang tamunya untuk ikut dalam ritual doa pagi yang dipimpin oleh kepala pendeta, mengikuti kegiatan menulis sutra, dan banyak lagi aktifitas keagamaan yang dapat dicoba oleh wisatawan. Tak tertarik untuk mengikuti aktifitas religi? Anda bisa mencari shukubo yang hanya menyediakan penginapan saja. Masih tetap menarik untuk dicoba kok..

Masih seputar suasana kuil, dengan melakukan shukubo, wisatawan bisa lebih bebas menjelajah dan menikmati suasana kuil. Jika wisata biasa hanya berlangsung selama 1-2 jam, maka disini Anda bisa seharian keluar masuk kuil.

Menikmati suasana taman bergaya Jepang maupun taman bergaya lain (seperti taman batu), mengagumi berbagai benda koleksi yang terdapat di ruang penyimpanan harta, dan banyak lagi. Seluruh aktifitas tersebut, jika dirangkum, jelas akan menjadi sebuah pengalaman wisata budaya dan religi yang unik dan tak bisa ditemukan di tempat menginap lainnya.

Taman di Ekoin Temple [foto: Stéfan]
Taman di Ekoin Temple [foto: Stéfan]
Taman di Shojoshin-in [foto: Andrea Schaffer]
Taman di Shojoshin-in [foto: Andrea Schaffer]

Saat shukubo, dapat fasilitas makan nggak? Atau jangan-jangan disuruh puasa?

Soal makanan, sebetulnya kembali pada fasilitas yang ditawarkan oleh kuil yang menyediakan shukubo. Perlu diketahui, saat ini shukubo hampir tak ada bedanya dengan penginapan pada umumnya. Rata-rata menerapkan biaya tertentu yang sudah termasuk dengan biaya makan, walau ada juga shukubo yang menawarkan tempat menginap saja (tanpa makan).

Ada yang menyediakan fasilitas makan pagi dan makan malam, ada juga yang sebatas makan pagi saja. Mengingat shukubo merupakan bagian dari kuil Budha, maka makanan yang disajikan di shukuboumumnya adalah makanan Jepang untuk vegetarian. Namun ada juga shukubo yang menyediakan makanan non-vegetarian, yaitu menyertakan menu ikan dan daging, seperti yang ditawarkan oleh kuil Ninna-ji di Kyoto. Untuk minuman beralkohol, rata-rata bisa di dapat di setiap shukubo.

Contoh menu vegetarian di kuil [foto: moon angel]
Contoh menu vegetarian di kuil [foto: moon angel]
Contoh menu vegetarian di kuil [foto: Andrea Schaffer]
Contoh menu vegetarian di kuil [foto: Andrea Schaffer]
Contoh menu vegetarian di kuil [foto: Stéfan]
Contoh menu vegetarian di kuil [foto: Stéfan]
 

Lalu dimana bisa melakukan shukubo? Berapa kira-kira range harga untuk melakukan shukubo? Dan apa saja yang harus diperhatikan saat melakukan shukubo agar tidak terkena culture shock? Supaya nggak pusing, tunggu tulisan berikutnya ya..

***

Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini! (Part 2 END)

***

* Semua foto diambil dari flickr via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.

Comments

comments