fbpx
Home Guides Beberapa Skenario Untuk Sekolah Ke Jepang

Beberapa Skenario Untuk Sekolah Ke Jepang

via japan.embassy.gov.au
via japan.embassy.gov.au

Ingin sekolah ke Jepang? Sudah tahu kenapa harus memilih sekolah ke Jepang? Nah, kali ini saya ingin melanjutkan bahasan mengenai alur paling umum yang bisa ditempuh untuk dapat bersekolah di Jepang.

Sebetulnya, di Jepang ada beberapa macam sekolah yang bisa dimasuki setelah tuntas berseragam putih abu-abu di Indonesia. Ada universitas, sekolah bisnis, sekolah bahasa, dan lain-lain. Secara umum, yang akan saya bahas adalah jenjang S1, S2, dan S3, yang merupakan jenjang pendidikan yang paling banyak diminati oleh mahasiswa asing.

Jika memang sudah berniat untuk S1 di Jepang pasca lulus SMU, disarankan untuk banyak mencari informasi mengenai universitas yang dituju sejak baru masuk SMU. Namun perlu diperhatikan, ada beberapa kendala yang biasa dihadapi oleh pelajar asing yang kuliah S1 di Jepang. Berikut beberapa kendala tersebut:

  • Proses seleksi masuk ke S1 cukup sulit. Tes masuknya menggunakan bahasa Jepang, dan ada persyaratan tertentu mengenai level kemampuan berbahasa Jepang (note: ada yang menyebut perlu sertifikat Level 1 atau setara dengan hapal 2000 kanji).
  • Materi perkuliahan S1 seluruhnya menggunakan bahasa Jepang. Begitu juga dengan laporan tugas, ujian tulis, laboratorium/praktek, materi yang disajikan di papan tulis, dan sebagainya. Bagi yang hanya bisa hapal kanji angka 1-10 (maksudnya saya), masalah bahasa ini jelas menjadi masalah besar.
  • Masalah kendala bahasa bisa merembet ke hal lain. Kecuali jika memang sudah berbekal pengetahuan bahasa Jepang yang cukup sebelum kuliah di Jepang (kanji, percakapan lisan dan tulisan), biasanya masalah bahasa ini membuat mahasiswa asing sulit mendapat teman (pertimbangkan juga bahwa tidak banyak orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris). Akibatnya, sulit pula untuk membuat laporan, dan bisa merembet ke berbagai faktor lainnya.

Kesimpulannya, S1 di Jepang bisa ditempuh oleh mahasiswa asing. Hanya saja perlu persiapan yang cukup panjang dan juga mental super baja untuk menaklukkan kendala bahasa.

Berbeda dengan S1, pendidikan S2 dan S3 di Jepang jauh lebih “ramah” terhadap mahasiswa asing. Kuliah S2 memang tak lepas dari materi dalam bahasa Jepang, namun banyak juga kuliah S2 yang dilakukan dalam bahasa Inggris.

Materi laporan kuliah dan thesis pun rata-rata sudah dibuat dalam bahasa Inggris, sehingga kemampuan bahasa Jepang yang disyaratkan untuk masuk S2 tidak seberat masuk S1.

Sedangkan untuk kuliah S3, karena full riset, bisa jadi perkuliahannya seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Biasanya mahasiswa pun tidak diwajibkan untuk mengikuti perkuliahan (karena harus fokus di riset), sehingga lebih mudah diikuti oleh mahasiswa asing.

Bagi yang ingin tahu alurnya untuk bisa merasakan bangku perkuliahan di Jepang, berikut beberapa skenario yang paling umum. Skenario-skenario ini tidak baku ya, dan pada pelaksanaannya bisa jadi ada beberapa detail tambahan.

Skenario 1

Jenis skenario ini lebih fokus bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3.

1. Untuk tahap awal, tentukan bidang pendidikan yang akan ditempuh. Survey juga universitas yang sesuai dengan bidang yang akan dipilih. Saya akan mengulas lebih lanjut mengenai tahap ini dalam tulisan selanjutnya.

2. Mencari pembimbing akademik di beberapa universitas yang telah di survei pada tahap 1. Bagaimana caranya bisa dapat pembimbing akademik? Gunakan jaringan, dong. Tanya pada senior, dosen, atau pada siapa saja yang pernah menempuh pendidikan di Jepang. Bisa juga melakukan browsing untuk mencari pembimbing. Beberapa Doktor maupun profesor bahkan terang-terangan memajang lowongan mencari mahasiswa untuk dibimbing, biasanya dalam website yang bersangkutan. Tips lain untuk tahap ini, sebaiknya cari doktor atau profesor yang pernah membimbing mahasiswa dari Indonesia. Biasanya kans untuk diterima akan lebih besar, dengan catatan proses pembimbingan dengan mahasiswa Indonesia sebelumnya berjalan baik dan happily ever after(alias tidak ada kasus tertentu).

3. Setelah dapat informasi pembimbing, lakukan kontak dengan pembimbing tersebut. Cara yang paling lazim adalah melalui email. Contoh email akan saya bagi dalam sesi tips ya. Oya, pada tahap ini jelaskan juga kenapa pembimbing tersebut harus membimbing Anda. Dengan kata lain, saatnya keluarkan skill rayuan agar pembimbing bersedia untuk membimbing calon mahasiswa. Ingat, jangan pakai bahasa alay ya, hehe.

4. Jika pembimbing telah setuju untuk membimbing calon mahasiswa, kini waktunya mencari cara untuk berangkat ke Jepang. Jika memang punya biaya yang memadai, tentu tahap ini nggak jadi masalah. Khusus bagi yang berkantong agak mepet, ada beberapa sub-cara yang bisa dilakukan:

  • “Nodong” pada pembimbing yang bersangkutan. Bahasa halusnya sih minta disponsori oleh pembimbing tersebut. Biasanya ini bisa dinegosiasikan jika calon mahasiswa memiliki penelitian yang “nyambung” dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh pembimbing tersebut, atau jika calon mahasiswa lolos seleksi untuk membantu penelitian yang sedang dikerjakan oleh sang pembimbing.
  • Mengingat pengajuan untuk minta disponsori membutuhkan kombinasi antara skill merayu dan keberuntungan, setidaknya usahakan untuk berdiskusi dengan beliau. Siapa tahu yang bersangkutan bisa mencarikan jalan keluar untuk masalah dana.
  • Bagaimana jika nggak ada bantuan sama sekali dari pembimbing? Solusi lainnya, cari beasiswa. Saat ini sudah banyak yang menawarkan beasiswa pendidikan ke Jepang. Detail bagian beasiswa insya Allah nanti saya ulas terpisah.

5. Jika tahap 1-4 sudah terpenuhi, selanjutnya tinggal mengurus administrasi pendaftaran di universitas yang dipilih.

Skenario 2

Tipe skenario ini memang membutuhkan budget yang agak ekstra. Jika kira-kira merasa susah untuk menembus ujian masuk S1 dan tidak punya penelitian tertentu untuk masuk ke tahap S2 (apalagi S3), bisa mendaftar untuk mengikuti sekolah bahasa Jepang (nihonggo gakkou).

Bukan sekolah di Indonesia, tapi sekolah bahasa Jepang yang ada di Jepang. Setelah lulus, baru lanjut mencari sekolah lain yang setara dengan jenjang S1 (jika berniat mencari kerja di Jepang).

Skenario 3

Sudah tahu kan jika dosen seringkali mendapat kesempatan untuk kuliah ke luar negeri? Biasanya, jalur yang di tempuh adalah jalur beasiswa maupun jalur ikatan dinas. Jadi jika memang berniat untuk kuliah S2 maupun S3 ke luar negeri (dalam hal ini Jepang), kenapa nggak mencoba dengan jadi dosen terlebih dulu? Atau bisa juga dengan mencari pekerjaan di kantor yang menawarkan kesempatan untuk kuliah ke luar negeri (biasanya dengan sistem ikatan dinas).

Skenario 4

Melalui jalur pertukaran pelajar. Dulu saudara sepupu pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang selama 1 tahun. Walau waktunya terbatas, tapi lumayan lah bagi yang ingin merasakan suasana belajar ala Jepang. Bagi yang tertarik mengikuti program pertukaran pelajar, salah satu link yang bisa dicoba bisa klik disini.

Itu baru beberapa alur yang bisa dicoba untuk bersekolah di Jepang. Untuk tips dan trik dalam memilih tempat kuliah, akan saya ulas dalam bahasan selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

 

baca juga :

Kuliah Ke Jepang? Ini Tips Dan Trik-Nya

Mau Dapat Beasiswa Sekolah Ke Jepang? Begini Caranya.

Magang Ke Jepang, Ini Rangkaian Proses Dan Persyaratannya

Comments

comments