fbpx
Home Guides Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part...

Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part 1)

Saat berwisata ke Jepang, kalian mungkin akan tertarik untuk mengunjungi aneka kuilnya. Ya, wisata kuil memang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Jepang, dan untuk kota-kota kuno seperti Kyoto, Nara, Kanazawa, maupun Kamakura; kuil justru menjadi daya tarik utama dari pariwisata di kota-kota tersebut.

Faktanya, di Jepang memang banyak terdapat kuil dengan beragam ukuran, mulai dari kuil kecil berskala lokal, hingga kuil super besar yang mengundang wisatawan dari berbagai negara. Namun, tahukah kalian jika kuil di Jepang setidaknya terdiri dari 2 jenis, yaitu kuil Shinto dan kuil Buddha.

Walau sama-sama terletak di Kyoto, kuil Kinkaku-ji berbeda dengan kuil Fushimi Inari Taisha, karena yang satu adalah kuil Buddha sementara yang lainnya merupakan kuil Shinto, dan itu bisa sangat membingungkan wisatawan yang ingin melakukan wisata kuil. Yang mana kuil Buddha? Yang mana kuil Shinto? Dan apa sih perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut?

Kinkakuji, via forums.hardwarezone
Kinkakuji, via forums.hardwarezone

Memahami definisi kuil Shinto dan kuil Buddha

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 95,000 kuil Shinto dan kira-kira 86,000 kuil Buddha yang ada di seluruh Jepang. Untuk memahami perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut, yang pertama harus dilakukan adalah memahami apa itu kuil Shinto dan apa itu kuil Buddha.

Perbedaan yang paling mendasar adalah fungsi utama dari kuil Shinto dan kuil Buddha. Kuil Shinto (dalam bahasa Inggris disebut “shrine”), merupakan sebuah kuil yang dibangun untuk memuja dewa (dalam bahasa Jepang disebut “kami”) yang disembah dalam ajaran Shinto yang merupakan kepercayaan asli bangsa Jepang.

Inti dari ajaran Shinto adalah mempercayai jika ada dewa di setiap tempat maupun di setiap elemen kehidupan, dan setiap manusia akan menjadi dewa setelah meninggal. Jadi jangan heran jika ada dewa besar yang disembah oleh banyak orang seperti dewi matahari, namun ada juga dewa-dewa lokal yang hanya dikenal oleh masyarakat di sebuah daerah.

Sementara kuil Buddha (dalam bahasa Inggris disebut “temple”) merupakan kuil yang dibangun untuk tempat beribadah para penganut agama Buddha. Ajaran Buddha sendiri bukanlah ajaran asli di Jepang, melainkan dibawa dari Cina serta Korea dan baru masuk ke Jepang kira-kira pada abad ke-6.

Ajaran Buddha cukup diterima oleh masyarakat Jepang yang memang terbuka dengan semua ajaran agama, walau sempat ada konflik diantara kedua kepercayaan tersebut pada permulaannya. Namun ajaran Shinto dan Buddha kemudian hidup berdampingan, dan untuk beberapa hal, terjadi akulturasi yang menyebabkan batas antara ajaran Shinto dan Buddha menjadi kabur. Hal ini akan saya jelaskan di bagian lain dari tulisan ini.

Great Buddha di Kamakura, via onmarkproductions
Great Buddha di Kamakura, via onmarkproductions

Penting nggak sih membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha?

Sebagai wisatawan, mungkin ada yang merasa nggak penting-penting amat mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Toh kedua kuil tersebut sama-sama menarik untuk dikunjungi, dan akan terlihat keren saat diabadikan oleh kamera.

Pandangan tersebut nggak salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Memang benar, entah itu kuil Shinto maupun kuil Buddha, keduanya sama-sama menarik untuk dikunjungi. Tapi, kuil Shinto punya etika dan juga hal-hal penting yang harus diketahui oleh para pengunjung, termasuk wisatawan.

Begitu juga dengan kuil Buddha, yang juga memiliki etika dan aturan tersendiri. Dengan mengetahui apakah kuil yang dikunjungi merupakan kuil Shinto atau kuil Buddha, setidaknya wisatawan sudah berusaha untuk menghormati tempat suci agama lain dan tahu apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan disana. Dan, wisatawan juga akan mengetahui apa sih yang menarik dari kuil Shinto maupun kuil Buddha, dan itulah yang harus dicari saat berwisata kesana.

Bagaimana cara membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha?

Berikut beberapa cara mudah untuk membedakan antara kedua jenis kuil.

  • Masalah nama

Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha bisa dilakukan dari segi nama. Kuil Shinto biasanya disebut dengan tambahan embel-embel “jingu” yang berarti kuil Shinto- di belakang namanya. Selain “jingu”, nama lain yang biasa dilekatkan di belakang nama kuil Shinto adalah “jinja” dan “taisha”.

Contoh: Meiji-JinguYasukuni Jinja, dan Fushimi Inari Taisha.

Meiji Jingu, via bluebalu.wordpress
Meiji Jingu, via bluebalu.wordpress

Sementara kuil Buddha, biasanya dibelakang nama kuil ditambahkan kata “ji“yang berarti “kuil Buddha”. Alternatif lainnya, ditambahkan kata “tera” atau “dera”, dan kadang-kadang “in”.

Contoh: Ryoan-jiKiyomizu-deraByodo-in.

Byodo-in temple, via shaneharderphotography.com
Byodo-in temple, via shaneharderphotography.com
  • Gaya Arsitektur

Arsitektur di kuil Shinto sangat khas ala Jepang, karena kuil ini memang dibangun berdasarkan kepercayaan Shinto yang notabene merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang. Berikut beberapa fitur khas dalam arsitektur kuil Shinto:

  • Gerbang kuil(torii), mayoritas dibuat berwarna merah-oranye dan hitam, kecuali jika torii dibuat dari bahan lain seperti kayu.
Torii atau gerbang kuil, via digital-images.net
Torii atau gerbang kuil, via digital-images.net
  • Temizuya, tempat untuk menyucikan diri sebelum berdoa di kuil.
Temizuya, via necessaryindulgences
Temizuya, via necessaryindulgences
  • Bangunan utama kuil, terdiri dari honden (hall utama) dan haiden (hall permohonan). Honden dan haiden bisa disatukan dalam satu bangunan maupun dipisah, tergantung besar kecilnya kuil. Fungsi honden adalah untuk menyimpan benda yang disucikan dan tempat tersebut nggak bisa dimasuki oleh sembarang orang, sementara haiden adalah tempat untuk mengajukan permohonan pada dewa.
Haiden di Omiya Atsuta Shrine, via Qurren/wikimedia commons.org
Haiden di Omiya Atsuta Shrine, via Qurren/wikimedia commons.org
  • Panggung, untuk menampilkan pertunjukan tari.
Panggung di Yasaka Shrine, via japanryan.blogspot.com
Panggung di Yasaka Shrine, via japanryan.blogspot.com
  • Ema, atau papan untuk menulis permohonan pada dewa.
Ema, via injapan.gaijinpot.com
Ema, via injapan.gaijinpot.com
  • Dekorasi khas seperti shimenawa, yaitu tali jerami yang dihiasi dengan kertas zigzag. Fungsi dari shimenawa ini untuk menandai sesuatu yang suci, seperti batu, pohon, gerbang kuil, dan lain-lain.
Shimenawa, via sumojoesays.com
Shimenawa, via sumojoesays.com
  • Dewa penjaga, ditempatkan di area pintu masuk kuil. Wujudnya bisa macam-macam, mulai dari anjing, singa, maupun rubah.
Patung penjaga di kuil Nishinomiya, via greenshinto.com
Patung penjaga di kuil Nishinomiya, via greenshinto.com

 

Mengenal ciri arsitektur pada kuil Shinto lumayan seru kan? Untuk kuil Buddha, akan saya lanjutkan di tulisan selanjutnya ya, dan teman-teman bisa melihat sendiri perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

***

Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part 2 END)

***

Comments

comments