fbpx
Home Guides Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part...

Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part 2 END)

Melanjutkan tulisan Kuil Shinto Vs Kuil Buddha, Dan Perbedaan Yang Perlu Diketahui Wisatawan (Part 1), pada tulisan ini saya akan langsung menulis tentang ciri khas pada arsitektur khas yang ada di kuil Buddha di Jepang. Semoga dapat membantu wisatawan yang tertarik untuk melakukan wisata kuil saat berada di Jepang agar dapat membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

Untuk kuil Buddha, berikut fitur khas dalam bangunan kuilnya.

  • Pintu gerbang, biasanya memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi dengan arsitektur Cina. Jumlah pintu gerbang dalam sebuah kuil Buddha bisa lebih dari satu, dan bisa terdiri berlapis-lapis tergantung banyaknya zona yang harus dilalui sebelum mencapai area kuil utama. Kadang gerbang kuil bisa berwarna monokrom, namun bisa juga didominasi dengan warna merah.
Sanmon (salah satu gerbang penting) di kuil Tofukuji, via Fg2/wikimediacommons
Sanmon (salah satu gerbang penting) di kuil Tofukuji, via Fg2/wikimediacommons
  • Osenko, atau tempat untuk membakar dupa. Banyak kuil Buddha menyediakan tempat khusus untuk membakar dupa sehingga ini menjadi sebuah fitur khas dalam arsitektur kuil Buddha di Jepang.
Tempat membakar dupa di kuil Sensoji, via panoramio.com
Tempat membakar dupa di kuil Sensoji, via panoramio.com
  • Hall utama, biasa disebut kondo, hondo, hatto, amidado, butsuden, dan lainnya. Merupakan tempat untuk menyimpan benda suci maupun benda pemujaan.
Daibutsuden, hall utama di Todai-ji di kota Nara, via 663highland/wikimedia commons
Daibutsuden, hall utama di Todai-ji di kota Nara, via 663highland/wikimedia commons
  • Pagoda. Tingginya bisa 3 tingkat (disebut sanju no to) atau 5 tingkat (atau goju no to).
Pintu gerbang kuil Sensoji dan pagoda, via daderot/wikimedia commons
Pintu gerbang kuil Sensoji dan pagoda, via daderot/wikimedia commons
  • Lecture hall atau kodo, merupakan tempat pertemuan dan pembelajaran. Kadang disediakan juga area display untuk memajang obyek tertentuk.
Kodo di Toji, via gracetheglobe.wordpress
Kodo di Toji, via gracetheglobe.wordpress
  • Lonceng kuil, dibunyikan bukan untuk menandakan waktu, melainkan untuk tujuan tertentu seperti pembersihan dosa.
Lonceng kuil, via johnharveyphoto.com
Lonceng kuil, via johnharveyphoto.com
  • Patung penjaga atau nio, berbentuk sepasang patung yang biasa ditempatkan di pintu gerbang.
Nio di Futagoji, via japantimes
Nio di Futagoji, via japantimes
  • Kuburan.Banyak kuburan di Jepang yang ditempatkan menjadi satu dengan kuil Buddha, dan akhirnya menjadi salah satu ciri khas dari kuil Buddha di Jepang.
Makam 47 ronin di Sengakuji, via muza-chan.net
Makam 47 ronin di Sengakuji, via muza-chan.net

Pendeta Shinto vs Pendeta Buddha

Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha juga bisa dilakukan dengan melihat pendetanya. Pendeta Shinto biasanya berdandan dengan gaya yang khas dengan topi yang khas pula. Para gadis kuil-nya, disebut miko, umumnya mengenakan seragam khas dengan perpaduan warna putih dan merah. Untuk momen tertentu, para gadis kuil ini kerap mengenakan kostum yang juga cukup mencolok.

Pendeta Shinto, via bobkrist.com
Pendeta Shinto, via bobkrist.com

Sementara pendeta Buddha, biasanya tampil dalam gaya yang lebih sederhana, walau nggak selalu seperti itu. Yang pasti, seragam pendeta Buddha memiliki perbedaan dengan seragam pendeta Shinto seperti bisa dilihat dalam foto di atas dan di bawah ini.

Pendeta Buddha di Jepang, via robovet.net
Pendeta Buddha di Jepang, via robovet.net

Walau sudah ada perbedaan sebanyak itu, mengapa kuil Shinto dan kuil Buddha kadang masih sulit untuk dibedakan?

Jika dilihat sekilas dari panduan yang sudah saya bagikan dalam tulisan bagian pertama dan kedua, harusnya nggak susah membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Namun pada kenyataannya, nggak semudah itu membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

Mari mundur dulu ke masa beberapa ratus tahun silam. Shinto merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang yang usianya sudah sepanjang usia bangsa Jepang. Sementara Buddha merupakan agama pendatang.

Saat ajaran Buddha mulai masuk ke Jepang, sempat terjadi pergesekan dan juga pergolakan di antara kedua agama tersebut. Namun lama kelamaan terjadi akulturasi yang menyebabkan ajaran Shinto dan Buddha seolah saling mendukung. Beberapa dewa Buddha dipuja juga oleh penganut Shinto, dan kuil Buddha di Jepang pun banyak mengadopsi elemen-elemen dalam kuil Shinto.

Akibatnya, sudah sangat lazim jika ada kuil Shinto yang juga menjadi kuil Buddha, begitu juga dengan kuil Buddha yang memiliki kuil Shinto di dalam kompleks kuilnya; dan itulah yang menyebabkan beberapa kuil Shinto terlihat seperti kuil Buddha dan sebaliknya. Praktek penggabungan agama tersebut baru dihentikan sejak Restorasi Meiji dimulai pada tahun 1868.

Berikut beberapa contoh kuil yang menjadi saksi sejarah akulturasi antara ajaran Shinto dan Buddha.

  • Torii (pintu gerbang khas kuil Shinto) ini menjadi pintu gerbang kuil Shitenno-ji(kuil Buddha) di Osaka.
via KENPEI/wikimedia commons
via KENPEI/wikimedia commons
  • Pagoda Seigantoji (kuil Buddha) yang berada satu kompleks dengan Nachi Taisha (kuil Shinto) di Kumano kodo.
via cnn
via cnn
  • Jishu Jinja (kuil Shinto) berada dalam kompleks Kiyomizudera (kuil Buddha).
Via panoramio.com
Via panoramio.com
  • Benzaiten shrine di taman Inokashira. Kuil Shinto ini dipersembahkan untuk memuja Benzaiten (dewi dalam agama Buddha yang juga adalah dewi Saraswati dalam agama Hindu).
Via thomasgittel.wordpress.com
Via thomasgittel.wordpress.com

Etika berkunjung ke kuil Shinto dan kuil Buddha

Salah satu alasan mengapa wisatawan perlu mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha, adalah untuk mengetahui etika yang berlaku saat mengetahui kedua jenis kuil tersebut. Terlepas dari apakah kalian tertarik untuk melakukan ritual di kuil atau tidak, nggak ada salahnya mengetahui detail etika/ritual untuk menghormati masing-masing tempat suci. Detailnya adalah sebagai berikut.

Etika ritual di kuil Shinto

  1. Masuk ke area kuil melalui torii.
  2. Sebelum masuk lebih lanjut ke area kuil, bersihkan diri dulu di temizuya. Caranya:
  • Ambil gayung dengan tangan dan tuangkan ke tangan kiri.
  • Lalu pindahkan gayung ke tangan kiri, dan bersihkan tangan kanan.
  • Pindahkan lagi gayung ke tangan kanan, dan tuang air ke tangan satunya lagi untuk dimasukkan ke dalam mulut dan berkumurlah.
  • Bersihkan tangan kiri sekali lagi, dan letakkan gayung kembali ke tempatnya dengan posisi menghadap ke bawah.
  1. Jika ingin ikut berdoa di kuil, masukkan koin ke kotak sumbangan yang telah disediakan di depan altar.
  2. Goyangkan lonceng (jika nggak ada lonceng langkah ini bisa dilewat), bungkukkan badan dua kali, tepukkan tangan 2 kali, dan kemudian berdoa dengan posisi tangan tetap terkatup. Akhiri dengan membungkukkan badan sekali lagi untuk penutupan. Prosesi menggoyangkan lonceng bertujuan untuk menarik perhatian dewa.

Catatan: aturan berdoa bisa berbeda untuk setiap kuil. Langkah di atas hanya untuk gambaran umum saja.

Menggoyangkan lonceng untuk memanggil dewa di kuil Shinto, via wholeheartedmen.com
Menggoyangkan lonceng untuk memanggil dewa di kuil Shinto, via wholeheartedmen.com

Etika ritual di kuil Buddha

Biasanya, kuil Buddha di Jepang nggak punya aturan berdoa yang baku layaknya kuil Shinto. Kira-kira gambaran ritualnya seperti ini.

  1. Masuk ke area kuil melalui pintu gerbang.
  2. Perhatikan sekitar kalian. Jika kuil tersebut memiliki temizuya, sucikan diri terlebih dulu dengan mengikuti langkah-langkah seperti saat mengunjungi kuil Shinto. Namun jika kuil hanya menyediakan tempat untuk membakar dupa, bakarlah dupa di tempat yang telah disediakan dan biarkan asapnya menyelimuti kalian.
  3. Acara berdoa di kuil Buddha di Jepang jauh lebih tenang dibanding kuil Shinto, jadi kalian nggak perlu menepukkan tangan saat akan berdoa. Dan jangan coba-coba membunyikan lonceng di kuil ya, karena lonceng di kuil Buddha hanya dibunyikan pada saat tertentu saja.
Berdoa di kuil Zojoji, via artery.wbur
Berdoa di kuil Zojoji, via artery.wbur

 

Semoga informasinya bermanfaat!

 

baca juga :

Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini

Cari Pengalaman Spiritual? Cobain Nginap di Kuil Yuk! 7 Kuil di Jepang Ini Bisa Kalian Booking Online, Lho!

Comments

comments