Topik tentang bom atom Nagasaki memang sudah saya tutup pada tulisan Napak Tilas Bom Atom Nagasaki (3-end): Nagasaki Atomic Bomb Museum. Sebelumnya, tulisan tentang bom atom Hiroshima juga sudah khatam dibahas pada tulisan Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (3-end).

Jadi sekarang saya ingin mengupas hal menarik lain dari Hiroshima dan Nagasaki, mulai dari potensi wisata hingga kuliner khas kedua kota yang kini menjadi sister cities tersebut. Berhubung tema Nagasaki sedang hangat-hangatnya, jadi saya akan mulai dulu dari Nagasaki.

Kota ini posisinya memang cukup jauh dari Tokyo (bisa 8,5 jam perjalanan via shinkansen, detail baca disini: Nagasaki: Dulu dan Sekarang). Namun jangan salah, diluar wisata sejarah bertema bom atom Nagasaki, kota ini punya banyak daya tarik khas yang membedakannya dari kota lain yang sudah jadi kota tujuan wisata mainstream seperti Tokyo, Kyoto, maupun Osaka.

Jika teman-teman tertarik untuk berkunjung ke Nagasaki (mumpung tahun depan gosipnya sudah mulai berlaku bebas visa Jepang untuk pemegang passport Indonesia), monggo diintip panduan singkat tentang Nagasaki berikut ini.

Saya ingin berbagi banyak hal menarik tentang Nagasaki, mulai dari moda transportasi khas di kota tersebut, aneka obyek wisata populer, kuliner khas, festival besar, dan banyak lagi (kecuali untuk sejarah Nagasaki karena sudah saya singgung sedikit pada tulisan Nagasaki: Dulu dan Sekarang).

Moda transportasi publik di Nagasaki

Yang sudah pernah berwisata ke Tokyo dan beberapa kota besar lain di Jepang mungkin sudah maklum kalau kereta api dan subway menjadi moda transportasi publik pilihan di kota-kota tersebut. Kecuali untuk Kyoto, yang mana jalur bus kota lebih menjangkau berbagai pelosok kota (karena pembangunan kereta dan subway memang dibatasi di kota tua tersebut).

Stasiun Nagasaki, stasiun utama di kota Nagasaki [foto: G43/wikimedia]
Stasiun Nagasaki, stasiun utama di kota Nagasaki [foto: G43/wikimedia]
Nagasaki beda lagi. Kota ini tak memiliki banyak jalur kereta api. Jalur kereta utamanya adalah Nagasaki Main Line yang dikelola oleh JR Kyushu. Jika ingin menjelajah Nagasaki, cara termudah adalah dengan naik Nagasaki Electric Tramway alias tram. Ada 5 jalur tram yang beroperasi di kota ini, dan tarifnya kira-kira ¥120* jauh-dekat. Bisa juga dengan membeli 1 day pass untuk penggunaan tram secara unlimited dalam 1 hari kalender, dan harganya ¥500*.

Tram dan suasana jalan di Nagasaki [foto: via wikimedia]
Tram dan suasana jalan di Nagasaki [foto: via wikimedia]
Alternatif lain untuk menjelajah Nagasaki adalah dengan naik bus yang dioperasikan oleh Nagasaki Bus. Bisa juga dengan berjalan kaki karena mayoritas obyek wisata populer di Nagasaki posisinya cukup berdekatan satu sama lain (kecuali untuk Nagasaki Peace ParkHypocenter, dan Nagasaki Atomic Bomb Museum yang posisinya agak nyempil di distrik Urakami).

Obyek wisata populer

Seperti yang sudah saya singgung di atas, kota ini memiliki banyak daya tarik khas diluar obyek wisata yang berkaitan dengan bom atom Nagasaki. Salah satu obyek wisata top di Nagasaki adalah kawasan chinatown-nya yang bernama Shinchi ChinatownChinatown ini mungkin tak sebesar Yokohama Chinatown (yang konon merupakan salah satu chinatown terbesar di dunia).

Namun dalam hal sejarah, tak ada chinatown di Jepang yang dapat menandingi Shinchi Chinatown yang merupakan chinatown tertua di Jepang. Sejarah kawasan ini dimulai sejak awal abad ke-17, yaitu saat Jepang masih menutup diri dari dunia luar, karena Nagasaki merupakan satu-satunya pelabuhan yang terbuka untuk asing pada era tersebut. Saat ini Shinchi Chinatown dipenuhi dengan berbagai restoran dan toko, dan menjadi salah satu spot terbaik untuk wisata kuliner.

Nagasaki Shinchi Chinatown [foto: JKT-c/wikimedia]
Nagasaki Shinchi Chinatown [foto: JKT-c/wikimedia]
Jika lebih suka dengan wisata bertema sejarah, ada beberapa tempat populer untuk dikunjungi, dan Dejima menjadi tempat pertama dalam list tersebut. Tempat ini semula merupakan pulau buatan yang sengaja dibuat untuk hunian orang asing (khususnya bangsa Portugis) yang datang ke Nagasaki.

Tujuannya untuk membatasi kontak dengan penduduk lokal dan mengontrol penyebaran agama Kristen. Walau saat ini Dejima tak lagi menjadi pulau terpisah (karena lingkungan sekitarnya telah berubah fungsi) dan banyak bangunan asli yang sudah hancur, namun proyek revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat cukup berhasil mengembalikan wajah Dejima seperti semula. Berikut penampakan Dejima saat ini:

Miniatur suasana asli di Dejima [foto: STA3816/wikimedia]
Miniatur suasana asli di Dejima [foto: STA3816/wikimedia]
Tipikal suasana di Dejima saat ini [foto: 663highland/wikimedia]
Tipikal suasana di Dejima saat ini [foto: 663highland/wikimedia]
 

Tempat lainnya adalah Dutch Slope, alias Hollander Slope, alias Oranda-zaka, sebuah kawasan dengan jalanan berbatu yang curam di Higashiyamate. Semula di area ini terdapat banyak tempat tinggal orang asing (dan pada saat itu semua orang asing disebut sebagai Hollander), sehingga cukup banyak bangunan bergaya barat yang ada disini.

Namun saat ini yang tersisa dari Dutch Slope ini hanya suasananya. Jika tertarik ingin melihat-lihat sisa bangunan ala Barat yang ada di Nagasaki, berkunjunglah ke Glover Garden; sebuah taman sekaligus museum terbuka yang memiliki koleksi aneka bangunan asli bergaya Eropa yang dikumpulkan dari berbagai penjuru Nagasaki.

Dutch Slope [foto: 663highland/wikimedia]
Dutch Slope [foto: 663highland/wikimedia]
Bangunan bekas Jiyu-tei Restaurant yang kini ada di Glover Garden [foto: 663highland/wikimedia]
Bangunan bekas Jiyu-tei Restaurant yang kini ada di Glover Garden [foto: 663highland/wikimedia]
Interior (bekas) Jiyu-tei Restaurant [foto: 663highland/wikimedia]
Interior (bekas) Jiyu-tei Restaurant [foto: 663highland/wikimedia]
 

Wisata ke Jepang rasanya kurang lengkap jika nggak berkunjung ke kuil, baik kuil Shinto maupun kuil Budha. Salah satu kuil Budha populer di kota ini adalah Sofukuji Temple yang menganut aliran Zen Buddhism.

Kuil ini dibangun pada tahun 1629 dan memiliki gaya arsitektur dan nuansa Cina yang sangat kental. Wajar saja karena kuil ini memang dibangun oleh warga Jepang yang bermukim di Nagasaki pada masa tersebut. Kuil Budha populer lainnya adalah Kofukuji Temple (dibangun tahun 1620) yang lokasinya berada di kaki bukit.

Sofukuji Temple [foto: 663highland/wikimedia]
Sofukuji Temple [foto: 663highland/wikimedia]
Kofukuji Temple [foto: Fg2/wikimedia]
Kofukuji Temple [foto: Fg2/wikimedia]
Sedangkan untuk kuil Shinto, Suwa Jinja (kuil yang jadi tuan rumah festival Nagasaki Kunchi) dan Sanno Jinja (kuil yang memiliki gerbang berkaki satu karena kaki sebelahnya hancur gara-gara bom atom Nagasaki) masuk dalam daftar kuil yang menarik untuk dikunjungi di Nagasaki.

Suwa Jinja [foto: via wikimedia]
Suwa Jinja [foto: via wikimedia]
Torii berkaki sebelah, bagian dari Sanno Jinja [foto: Fg2/wikimedia]
Torii berkaki sebelah, bagian dari Sanno Jinja [foto: Fg2/wikimedia]
 

Masih banyak spot populer lain di Nagasaki. Untuk kategori wisata religi saja masih ada variasi pilihan lainnya, seperti kuil Konghucu dan situs ajaran Kristen. Tunggu di tulisan selanjutnya yah.

***

Nagasaki’s Short Guide For Travellers (Part 2 END)

***

* Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.

Comments

comments