Apa kalian punya fobia terbang? Tenang, kalian nggak sendirian kok. Percaya deh, banyak kok orang yang punya fobia terbang. Bahkan, nggak sedikit, lho, para petualang yang sudah menjelajah berbagai negara, tapi ternyata punya fobia terbang. Aneh, tapi nyata.

Tapi, serius lho. Ternyata banyak juga traveller – salah satunya adalah teman saya sendiri – yang sudah malang melintang menjelajah berbagai belahan dunia, namun masih belum bisa lepas dari masalah fobia terbang. Padahal, mereka pastinya harus menggunakan pesawat untuk mencapai berbagai negara tersebut karena – mau nggak mau – pesawat memang masih menjadi transportasi paling praktis untuk menghubungkan berbagai negara. Tapi rata-rata traveller tersebut memiliki tips dan triknya sendiri untuk menaklukkan fobia terbangnya.

Pertanyaannya, gimana sih caranya mengatasi fobia terbang? Gimana caranya supaya kita bisa duduk santai di atas pesawat sampai ke tempat tujuan, tanpa harus merasa paranoid akan berbagai hal? Yuk, simak beberapa tips berikut ini yang disarikan dari berbagai sumber – termasuk tips dari traveller profesional dan juga tenaga medis.

*             *             *             *             *

Sekilas Tentang Fobia Terbang

Ilustrasi, via intercambitas

Fobia terbang, atau kerap disebut sebagai aviophobia (kadang-kadang ada juga yang menyebutnya ‘aerophobia’) merupakan sebuah fobia/ketakutan yang berhubungan dengan aktifitas terbang – entah itu di dalam pesawat terbang, helikopter, maupun obyek terbang lainnya. Penyebabnya bisa sangat kompleks.

Ada yang disebabkan karena ketakutan kalau pesawat akan jatuh, ketakutan akan terjadi tindak pembajakan pesawat/terorisme, takut kalau pesawat akan gagal landing/take off, hingga ketakutan yang dipengaruhi oleh fobia lain seperti claustrophobia (takut akan tempat tertutup) dan acrophobia (takut akan ketinggian).

Oh ya, fobia terbang bisa juga disebabkan karena ketakutan akan mengalami mabuk perjalanan (motion sickness). Jadi, jangan dulu merasa dramatis kalau punya fobia terbang, karena penyebabnya ternyata banyak sekali.

Dari sekian jenis fobia, fobia terbang termasuk salah satu fobia yang sulit dihindari. Hal tersebut terutama karena sampai saat ini pesawat masih menjadi moda transportasi paling praktis, terutama untuk bepergian ke negara lain yang jaraknya cukup jauh. Beberapa profesi (maupun hobi) bahkan menuntut seseorang untuk rutin terbang, terlepas dari orang tersebut punya fobia terbang ataupun tidak.

Namun, walau nggak bisa dihindari, fobia terbang bisa jadi termasuk salah satu fobia yang selalu sukses bikin penumpang lain sebal. Hal tersebut karena terkadang para pengidap fobia terbang kerap mengeluarkan respon emosi yang berlebihan, seperti menjerit berlebihan, menangis, bahkan membuat kehebohan lain. Jadi, walau kalian tak perlu merasa malu kalau memiliki fobia terbang, tak ada salahnya belajar mengendalikan fobia tersebut agar masih dalam batas wajar.

*             *             *             *             *

Fakta Penerbangan

Ilustrasi, via tourpluscyprus

Dari sekian banyak alasan di atas, ketakutan kalau pesawat akan mengalami kecelakaan udara bisa jadi merupakan pemicu utama munculnya fobia terbang. Siapa sih yang suka membayangkan jatuh bebas dari ketinggian sekian puluh ribu kaki di atas permukaan tanah? Apalagi karena kita nggak memiliki kendali atas peristiwa tersebut, dan juga nggak langsung memiliki kendali untuk menyelamatkan diri.

Kita juga nggak tahu seperti apa kemampuan pilot dan co-pilot dalam menangani situasi darurat, serta apakah pilot tersebut dalam kondisi terbaiknya saat menerbangkan pesawat atau tidak – mengacu pada terjadinya beberapa kecelakaan yang disebabkan karena faktor pilot. Salah satu contohnya adalah kecelakaan pesawat Airbus A320-211 milik GermanWings yang menewaskan 150 orang tahun 2015 silam. Kecelakaan tersebut diduga dilakukan oleh pilot Andreas Lubitz, yang ternyata memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

Ketakutan kalau pesawat akan jatuh itu sangat wajar kok. Tapi, untuk meminimalkan rasa takut kalau pesawat akan jatuh, mari kita lihat dulu beberapa fakta penerbangan berikut ini:

  1. Walau kita seringkali mendengar berita tentang pesawat jatuh, secara statistik rasio kecelakaan pesawat ternyata jauh lebih kecil dibanding moda transportasi darat. Berdasarkan laporan kecelakaan pesawat antara tahun 1980-2000, tingkat survival rate dari kecelakaan pesawat berkisar antara 76,6% hingga 95,7%. Cukup tinggi kan?
  2. Akhir-akhir ini tingkat kecelakaan pesawat sudah relatif jauh lebih berkurang dibanding 50 tahun silam. Bahkan menurut laporan dari AirlineRatings.com, tahun 2015 termasuk salah satu tahun yang relatif aman dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan di tahun 2016, jumlah kecelakaan pesawat yang terjadi selama 10 tahun terakhir sudah jauh berkurang dibanding 10 tahun sebelumnya – masih menurut AirlineRatings.com (dikutip dari berita CNN). Dengan kata lain, secara statistik terbang dengan pesawat sudah semakin aman.
  3. Saat ini sudah semakin banyak informasi mengenai maskapai mana yang memiliki tingkat prosentase keamanan terbaik. Walaupun masalah keselamatan penerbangan itu diluar kuasa manusia, setidaknya kalian dapat memilih maskapai dengan reputasi keamanan yang baik untuk memberikan sugesti rasa aman dan bisa menekan resiko munculnya fobia terbang.

Sebagai contekan, berikut ini daftar 20 maskapai penerbangan teraman + 10 maskapai low cost teraman di dunia sepanjang tahun 2016 versi AirlineRatings.com. Daftar peringkat ini disusun (berdasarkan alfabet – kecuali untuk nomor 1) setelah memonitor ratusan laporan penerbangan pada tahun sebelumnya.

1. Qantas
2. Air New Zealand
3. Alaska Airlines
4. All Nippon Airlines (ANA)
5. American Airlines
6. Cathar Pacific Airways
7. Emirates
8. Etihad Airways
9. EVA Air
10. Finnair
11. Hawaiian Airlines
12. Japan Airlines
13. KLM
14. Lufthansa
15. Scandinavian Airline System (SAS)
16. Singapore Airlines
17. Swiss
18. United Airlines
19. Virgin Atlantic
20. Virgin Australia

Sedangkan untuk 10 budget airlines teraman di dunia tahun 2016, bocorannya sebagai berikut (disusun berdasarkan alfabet):

1. Aer Lingus
2. Flybe
3. HK Express
4. Jetblue
5. Jetstar Australia
6. Thomas Cook
7. TUI Fly
8. Virgin America
9. Volaris
10. Westjet

Lantas bagaimana dengan tingkat keamanan penerbangan maskapai di Indonesia?

Masih menurut website AirlinesRatings.com (seperti dikutip dari thejakartapost.com), maskapai terbaik di Indonesia, Garuda Indonesia, ternyata hanya mendapat 3 bintang saja – sementara maskapai negara lain bisa mendapat 4-7 bintang. Untuk low cost carrier pun rata-rata maskapai kita (seperti Lion Air, Batik Air, Citilink, Sriwijaya Air, dan Wings Air) hanya mendapatkan penilaian 1 bintang saja (dan termasuk salah satu yang terburuk di dunia).

Walau begitu, jangan dulu merasa paranoid. Menurut versi World Airlines Awards yang diselenggarakan oleh Skytrax tahun ini, Garuda Indonesia masih masuk dalam peringkat 20 besar (ada di posisi 11). Hasil berbeda mungkin akan didapat dari survei lainnya. Dengan kata lain, jangan sampai daftar peringkat ini menjadi harga mati untuk menjatuhkan pilihan pada sebuah maskapai.

*             *             *             *             *

Tips Mengatasi Fobia Terbang

Ilustrasi, via kokpit.aero

 

Berikut ini beberapa tips untuk yang mungkin bisa membantu mengatasi fobia terbang:

Sebelum pergi

  1. Kenali dulu apa yang menjadi sumber fobia terbang kalian. Apakah kalian takut terbang karena takut jatuh? Atau karena faktor fobia lainnya – seperticlaustrophobiadan acrophobia? Dengan mengenali sumber ketakutan tersebut, kalian akan lebih fokus mencari solusinya. Misalnya saja, jika ketakutan terbang itu karena dipengaruhi oleh faktor claustrophobia dan acrophobia, kalian dapat menyiasatinya dengan memilih tempat duduk di dekat lorong, karena duduk dekat orang lain dapat mengurangi rasa takut dan cemas. Sedangkan jika ketakutan kalian karena faktor lainnya, seperti takut berlebih akan turbulensi, kalian dapat melihat tips di bagian ‘saat di pesawat’.
  2. Jangan pernah terlalu kepo dengan berbagai kecelakaan yang pernah terjadi. Kalian boleh-boleh saja mencari informasi tips untuk menyelamatkan diri seandainya terjadi kecelakaan. Tapi hindari mencari-cari informasi tentang kecelakaan pesawat, apalagi sampai melihat foto-foto korban kecelakaan, dll dsb. Hal-hal seperti itu bisa memicu rasa panik saat berada di dalam pesawat.
  3. Sebelum memulai perjalanan, kalian bisa mencoba melakukan visualisasi rangkaian perjalanan yang akan dilakukan, mulai dari datang ke airport, hingga saatnya terbang. Diharapkan dengan sering-sering melatih visualisasi tersebut, otak akan terbiasa dengan situasi saat terbang dan akan semakin jarang mengirimkan sinyal ketakutan pada tubuh.
  4. Sebelum masuk pesawat, nggak ada salahnya menjelaskan perasaan takut kalian pada kru yang bertugas. Kru profesional biasanya sudah terlatih untuk menghadapi penumpang yang takut terbang. Namun jika kalian sudah memiliki tips dan trik sendiri untuk mengatasi fobia terbang, nggak ada salahnya meminta kru yang bertugas untuk membantu melakukan aneka tips dan trik tersebut. Misalnya saja, kalian bisa minta tolong untuk rutin diingatkan kalau kondisi penerbangan baik-baik saja, minta tolong diingatkan untuk melakukan berbagai teknik pernafasan seandainya tiba-tiba terserang panic attack, dan lain-lain.
  5. Kenali kondisi fisik dan psikis diri sendiri. Seandainya fobia terbang kalian sudah terlalu parah, jangan memaksakan untuk terbang dalam jangka waktu lama. Kalian bisa memilih beberapa penerbangan singkat (transit beberapa kali), dan pilihlah pesawat berbadan besar yang relatif lebih tahan terhadap turbulensi.
  6. Atau, jika fobia terbang kalian betul-betul sulit dikendalikan, nggak ada salahnya mencari kelas atau terapi khusus untuk mengatasi fobia tersebut. Kalian bisa datang ke psikolog, psikiater, atau mencari kelas-kelas terapi lainnya yang lokasinya paling dekat dengan tempat tinggal kalian.

Saat di pesawat

  1. Biasanya, turbulensi menjadi penyebab fobia terbesar saat berada dalam pesawat. Ya, turbulance memang kadang terasa mengerikan. Tapi tahukah kalian, bahwa turbulance bagi pesawat terbang tak ada bedanya seperti keberadaan polisi tidur bagi kendaraan bermotor. Salah satu tips terbaik untuk menghadapi turbulensi, adalah dengan membiarkan tubuh berayun mengikuti gerak pesawat (jangan melawan) dan sebisa mungkin bersikap santailah.
  2. Alternatif lainnya, kalian bisa mengambil penerbangan yang – lagi-lagi – secara statistik relatif aman dari turbulensi. Penerbangan pagi biasanya lebih jarang terkena turbulensi, walau harga tiketnya (umumnya) lebih mahal dari penerbangan malam.
  3. Kalian juga dapat menyiasati masalah turbulensi dengan memilih tempat duduk yang tepat. Biasanya, kursi di bagian belakang pesawat akan terkena efek turbulensi lebih parah dibanding bagian lain dari pesawat. Sedangkan kursi terdepan kabin biasanya lebih minim terkena efek turbulensi.
  4. Selama di pesawat, sibukkan diri dengan melakukan aktifitas yang kalian suka agar perhatian tak hanya fokus dengan masalah penerbangan. Kalian bisa menonton film, membaca buku, main puzzle, atau mendengarkan lagu. Lebih baik jika kalian mendengarkan lagu-lagu tenang yang akan membuat perasaan jadi lebih relaks.
  5. Sering-seringlah melatih pernafasan saat berada di pesawat. Bernafas dengan tenang dan teratur dapat membantu membuat tubuh jadi lebih relaks dan mengurangi rasa takut.
  6. Hindari meminum minuman berkafein tinggi seperti kopi, atau minuman seperti soda. Minuman-minuman tersebut dapat merangsang seseorang untuk bersikap berlebihan dan terlalu bersemangat. Sebaliknya, nggak ada salahnya banyak-banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi. Kekurangan cairan tubuh dapat mebuat tubuh jadi lebih tegang dan lebih mudah terserang panik.
  7. Jika kalian boleh minum minuman beralkohol, menyecap 1-2 gelas wine dapat membantu membuat tubuh jadi sedikit lebih relaks. Tapi, jangan berlebihan! Minum sampai mabuk malah dapat membuat kalian bereaksi berlebihan dan malah mengganggu penumpang lainnya. Selain itu, membiasakan diri untuk minum beralkohol setiap kali terbang dapat menjebak kalian dalam pola hidup tak sehat, karena dosis alkohol harus selalu ditambah setiap kali terbang (agar efeknya terasa).
  8. Jika tidak bisa/tidak boleh minum minuman beralkohol, beberapa traveller menyarankan untuk minum obat anti mabuk untuk meminimalkan potensi terkena mabuk perjalanan.
  9. Selama di penerbangan, fokuslah pada pikiran-pikiran positif. Misalnya, usahakan untuk terus membayangkan tentang destinasi yang akan dituju, dan jangan pikirkan hal-hal buruk selama di perjalanan.
  10. Untuk alternatif lainnya, kalian dapat mencoba teknik pelepasan hormon oksitosin untuk mengatasi fobia terbang. Secara mudah, hormon oksitosin – atau biasa dikenal sebagai ‘hormon cinta’ – merupakan sebuah hormon yang dapat memberikan rasa percaya dan nyaman dalam diri seseorang. Saat hormon oksitosin berhasil dikeluarkan, perasaan stress akan bisa ditekan, dan akhirnya membuat otak berhenti mengirimkan sinyal-sinyal fobia terbang.

Lantas bagaimana caranya melepaskan hormon oksitosin? Caranya bisa berbeda bagi wanita dan pria. Bagi wanita, kalian dapat mengingat momen-momen bahagia seperti saat melihat bayi yang baru dilahirkan, saat menyusui, maupun saat tengah bersama pasangan. Sedangkan bagi pria, bisa dengan mengingat momen puncak dalam sebuah hubungan intim.

Cara lainnya, kalian (khususnya solo traveller) dapat mencoba memulai percakapan dengan penumpang lain yang duduk di dekat kalian. Setelah obrolan nyambung dan merasa terhubung dengan orang itu, kalian akan merasa lebih tenang dan relaks – pertanda hormon oksitosin telah keluar.

*             *             *             *             *

Kenapa Kalian Harus Terbang Minimal Sekali dalam Seumur Hidup

Ilustrasi, via adcomunicazione

Jika data statistik maupun tips-tips di atas belum cukup untuk membuat kalian tenang, mari simak beberapa alasan kenapa kalian harus mencoba terbang minimal sekali dalam seumur hidup. Siapa tahu di antara alasan-alasan berikut ini ada yang mampu membuat fobia terbang kalian menjadi lebih bisa dikendalikan.

  1. Suka atau tidak, untuk bepergian ke beberapa tempat di dunia, pesawat masih menjadi moda transportasi tercepat, terbaik, dan – berdasarkan statistik – termasuk salah satu moda transportasi teraman di dunia. Jadi, sekalipun kalian benci terbang, ingatlah kalau mau-tak-mau kalian memang acap kali HARUS terbang. Daripada terus-terusan merasa takut, lebih baik jika kalian fokus mencari solusi untuk mengatasi ketakutan tersebut.
  2. Ingatlah bahwa terbang menjadi salah satu cara untuk mengagumi ciptaan-Nya dari ketinggian. Diharapkan dengan mengingat hal tersebut, kalian akan fokus pada hal-hal positif dan akhirnya melupakan ketakutan untuk terbang.
  3. Tambahan lainnya, ada hikmah positif dari fobia terbang lho. Secara sengaja ataupun tidak, kalian jadi akan lebih banyak berdoa dan akhirnya menyerahkan segalanya kepada-Nya. Jadi, fobia terbang nggak melulu berisi hal-hal negatif kan?

 

Semoga tipsnya bermanfaat!

 

baca juga :

Beberapa Pengalaman “unik” Saat Travelling Bersama Orang Yang Baru Dikenal

Hal-Hal Berikut Ini Kerap Menggagalkan Rencana Traveling Kita

Random Tips Selfie Buat Solo Traveller Pemula

Comments

comments