fbpx
Home Guides Wisata Hemat (Part 3 END)

[Sample Itinerary Tokyo] Wisata Hemat (Part 3 END)

Masih tentang sample itinerary aneka wisata hemat di Tokyo. Untuk tulisan bagian pertama (baca disini: [sample Itinerary Tokyo] Wisata Hemat 1) saya sudah menawarkan opsi untuk melakukan wisata gratis dari A-Z, mulai dari mengunjungi Tsukiji Fish Market dan berakhir di Tokyo Metropolitan Government Building.

Pada bagian 2 (baca disini: [sample Itinerary Tokyo] Wisata Hemat 2), opsi wisata hemat yang saya tawarkan lebih mengajak teman-teman untuk mengeksplorasi Ueno dan Shinjuku dengan berjalan kaki. Untuk sample itinerary wisata hemat yang ketiga ini saya masih tetap menawarkan wisata sambil berjalan kaki.

Namun karena saat ini Jepang sudah mulai masuk musim gugur, rute ini mengajak teman-teman untuk berjalan kaki sambil menikmati suasana musim gugur di Tokyo. Tentunya obyek wisata yang akan dikunjungi pun tak jauh-jauh dari yang bertema “gratisan”, yah minimal yang harga tiketnya relatif miring ke bawah. Ingat, jangan memaksakan diri kalau tidak kuat jalan kaki yah!

Judul trip: Wisata hemat di Tokyo (Part 3 END)

Target pasar: Budget traveller

Jenis trip: Penjelajahan, pengalaman baru

Starting point: Stasiun Harajuku

 

Detail rute

#1: Stasiun Harajuku – Meiji Jingu Shrine

Biaya: ¥0*
Waktu tempuh: ±2 menit jalan kaki (hingga ke gerbang terluar kuil), ±15 menit jalan kaki (hingga ke area kuil)

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dalam rangka menyambut datangnya musim gugur, saya ingin menawarkan rute wisata hemat yang akan mengajak teman-teman untuk mengelilingi beberapa spot terbaik untuk melakukan momijigari (=menikmati perubahan warna daun) di Tokyo.

Mari kita mulai dari Stasiun Harajuku. Tenang, kita bukannya akan belanja ke Harajuku, melainkan mampir dulu ke kuil Meiji Jingu Shrine. Supaya lebih bisa menikmati rute ini, usahakan mulai sepagi mungkin yah.

#2: Meiji Jingu Shrine

(estimasi waktu wisata: 1-1,5 jam)

Alamat: 1-1 Yoyogi-Kamizono-cho, Shibuya-ku, Tokyo 151-8857
Harga tiket: free
Jam operasional: matahari terbit – matahari terbenam

Meiji Jingu Shrine, merupakan sebuah kuil yang dipersembahkan untuk mengenang dan memuja kaisar Meiji dan permaisuri. Salah satu yang membuat kuil ini menarik, adalah karena posisinya yang berada di tengah keramaian Harajuku dan tak jauh dari pusat distrik Shibuya dan Shinjuku; sementara area kuil Meiji ini dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun dan taman yang luas sehingga suasananya relatif tenang.

Kuil Meiji Jingu ini termasuk salah satu spot wisata favorit di Tokyo, dan menjadi salah satu kuil yang wajib dikunjungi selain Sensoji Temple.

Torii kuil Meiji Jingu [foto: Rs1421/wikimedia]
Torii kuil Meiji Jingu [foto: Rs1421/wikimedia]

#3: Meiji Jingu Shrine – Yoyogi Park

Biaya: ¥0*
Waktu tempuh: ±1 menit (dari pintu gerbang terluar kuil Meiji)

Dari Meiji Jingu, mari bergeser sedikit ke Yoyogi Park yang berada tepat di sebelah kuil ini. Yoyogi Park termasuk salah satu spot terbaik untuk menikmati suasana musim gugur di Tokyo, jadi tak ada salahnya mampir sebentar ke taman publik ini.

#4: Yoyogi Park

(estimasi waktu wisata: 30-45 menit)

Alamat: Harajuku, Shibuya-ku
Harga tiket: free
Jam operasional: 05.00-20.00 (hingga pukul 17.00 pada pertengahan Oktober)

Yoyogi Park ini termasuk dalam 10 besar tempat terbaik untuk menikmati musim gugur di Tokyo. Namun ada daya tarik lain dari taman ini. Saat hari Minggu, taman ini akan dipenuhi oleh para street performer yang menampilkan atraksi andalannya.

Jembatan yang berada di area pintu masuk kuil Meiji Jingu dan Yoyogi Park juga biasanya dipenuhi oleh para cosplayer (costume player) yang berdandan meniru karakter tertentu. Jadi jangan lupa selalu siapkan kamera Anda karena ada banyak yang bisa dilihat di taman ini (khususnya saat hari Minggu).

Yoyogi Park [foto: Peter Van den Bossche/wikimedia]
Yoyogi Park [foto: Peter Van den Bossche/wikimedia]

#5: Yoyogi Park – Stasiun Omotesando

Biaya: ¥0*
Waktu tempuh: ±25-45 menit jalan kaki (kira-kira 1,8 km)

Omotesando pernah saya bahas waktu menulis tulisan ini:[sample Itinerary Tokyo] Shopaholic Journey. Namun jangan salah, Omotesando nggak hanya melulu berisi butik papan atas maupun bangunan-bangunan dengan arsitektur cantik.

Sepanjang jalan Omotesando ini dipenuhi dengan pohon Zelkova sehingga suasana saat musim gugur akan cukup indah di jalan ini.

Omotesando di musim gugur [foto: Rs1421/wikimedia]
Omotesando di musim gugur [foto: Rs1421/wikimedia]

#6: Stasiun Omotesando – Gingko Avenue

Biaya: ¥170* (naik kereta), ¥0* (jalan kaki)
Waktu tempuh: 2 menit (naik kereta), ±11 menit jalan kaki (900 meter)

Dari area Omotesando, kalau kuat jalan kaki, berjalanlah hingga ke Stasiun Omotesando yang terletak di ujung jalan Omotesando dan dilanjutkan dengan jalan kaki maupun naik kereta Tokyo Metro Ginza Line dan turun di Stasiun Gaienmae.

Namun jika tidak kuat, bisa naik subway di Stasiun Meiji-jingumae yang ada di tengah-tengah jalan Omotesando dan naik Tokyo Metro Chiyoda Line ke Stasiun Omotesando, dilanjutkan naik Tokyo Metro Ginza Line dan turun di Stasiun Gaienmae. Dari Stasiun Gaienmae, lanjutkan dengan berjalan kaki selama beberapa menit menuju Icho Namiki alias Ginkgo Avenue.

#7: Icho Namiki a.k.a Ginkgo Avenue

(estimasi waktu wisata: 30 menit – 1 jam)

Lokasi: Aoyama Dori-Meiji Jingu, Shibuya-ku
Harga tiket: free
Jam operasional: 24 jam

Icho Namiki alias Ginkgo Avenue sejatinya merupakan jalan yang menghubungkan kawasan Aoyama dengan kompleks Meiji Jingu Gaien. Menariknya, jalan sepanjang 300 meter ini dipenuhi oleh pohon Ginkgo di kedua sisinya yang akan berubah warna menjadi keemasan saat musim gugur tiba.

Spot ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati suasana musim gugur di Tokyo. Setelah selesai menikmati suasana di Ginkgo Avenue, bisa istirahat sambil makan/minum di kafe sekitar jalan tersebut maupun kembali melanjutkan wisata ke obyek lainnya.

Ginkgo Avenue [foto: Ichtrinken/wikimedia]
Ginkgo Avenue [foto: Ichtrinken/wikimedia]

***

[Sample Itinerary Tokyo] Wisata Hemat (Part 1)

[Sample Itinerary Tokyo] Wisata Hemat (Part 2)

***

* Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.

Comments

comments