fbpx
Home Guides Tentang Geisha, Sang Penghibur Yang Profesinya Kerap Disalahpahami

Tentang Geisha, Sang Penghibur Yang Profesinya Kerap Disalahpahami

Mereka yang berhasrat untuk pergi ke Jepang, terutama yang punya ketertarikan dengan budaya tradisional Jepang, biasanya memiliki beberapa pertanyaan yang khas. Misalnya saja, “dimana bisa merasakan upacara minum teh yang sebenarnya”, “apakah ninjat itu masih ada”, dan “dimana bisa melihat geisha”.

Saya akan mengulas tentang upacara minum teh dan ninja dalam kesempatan lain. Kali ini, saya ingin mengangkat tentang geisha, mulai dari penjelasan singkat seputar profesi geisha, serta dimana kalian bisa melihat geisha saat berwisata ke Jepang. Bagi yang penasaran dengan geisha, yuk mari mengenal tentang geisha lebih lanjut lagi.

Geisha, sang penghibur yang kerap disalahpahami.

Geisha, via beta.zulu.mk
Geisha, via beta.zulu.mk

Profesi geisha kerap disalahartikan dalam konotasi negatif, yaitu berkaitan dengan prostitusi. Padahal, geisha sendiri sejatinya merupakan seorang penampil seni alias seorang seniman.

Seorang geisha harus menjalani pelatihan seni tradisional selama bertahun-tahun dan melalui tahapan magang terlebih dulu sebelum resmi diakui menjadi seorang geisha dan diijinkan untuk tampil menghibur tamu.

Mereka harus belajar bermacam tarian tradisional, musik tradisional, menyanyi, mengetahui seni upacara minum teh, dan banyak lagi; walau pada akhirnya bisa saja seorang geisha lebih ahli dalam satu bidang seni dan nggak menguasai semuanya.

Geisha adalah profesi penghibur, dan inilah yang akan dilakukan oleh seorang geisha untuk kalian.

Seorang geisha menuangkan minuman untuk tamunya, via ajnews.zjol.com.cn
Seorang geisha menuangkan minuman untuk tamunya, via ajnews.zjol.com.cn

Pada dasarnya, profesi geisha adalah penghibur. Dalam dunia hiburan modern, geisha adalah sejenis hostes, tentunya dalam konotasi tradisional.

Para geisha akan menemani para tamu (biasanya saat perjamuan makan), terlibat perbincangan dengan para tamu (karena itulah seorang geisha dituntut agar supel dan berwawasan luas), menuangkan sake dan memastikan agar gelas sake nggak pernah kosong, dan menghibur para tamu yang tengah makan dengan melakukan pertunjukan seni.

Mereka bisa menari sambil diiringi alat musik tradisional, menyanyi, hingga melakukan berbagai permainan dengan tamu yang biasanya berujung dengan taruhan minum bagi yang kalah. Jadi, jangan mengharap ada layanan lain yang akan didapat jika dihibur oleh geishaya!

GeishaMaiko, dan Oiran, dan perbedaan di antara ketiganya.

Geisha (kanan) mengenakan kimono yang lebih anggun dan sederhana, dan maiko (kiri) memiliki kimono yang lebih cerah dan kerah dalam yang bermotif, via youtube
Geisha (kanan) mengenakan kimono yang lebih anggun dan sederhana, dan maiko (kiri) memiliki kimono yang lebih cerah dan kerah dalam yang bermotif, via youtube

Tentang geisha, pasti kalian kini sudah punya bayangan tentang profesi tersebut. Nah, seperti telah disinggung di atas, sebelum menjadi seorang geisha, seseorang harus melalui serangkaian prosesi magang. Saat menjadi seorang geisha magang, calon geisha akan disebut sebagai maiko.

Seorang maiko harus belajar banyak tentang cara melayani tamu, termasuk cara mendapat pekerjaan, dan banyak lagi. Seorang maiko memiliki gaya busana yang berbeda dengan geisha.

Jika geisha yang sudah resmi biasanya berpenampilan lebih sederhana dan berkelas, maka maikotampil dengan kimono berwarna lebih cerah dan obi yang panjang menjuntai. Perbedaan lainnya bisa dilihat dari gaya rambut dan aksesoris yang dikenakannya, namun kita lewat itu untuk lain kali.

Geisha dan maiko, via traverseworld
Geisha dan maiko, via traverseworld

Geisha berbeda dengan oiranOiran sejatinya juga merupakan seorang penampil seni. Namun oiran lebih dikenal sebagai courtesan, atau wanita penghibur kelas atas. Oiran bisa dikenali dari obi-nya yang menghadap ke depan. Saat ini, oiran punya aktifitas yang sama dengan geisha namun populasi oiran kini jauh lebih sedikit dibanding geisha.

Oiran dalam sebuah parade oiran, via tokyobling.wordpress
Oiran dalam sebuah parade oiran, via tokyobling.wordpress

Geisha, dan sekelumit tentang ekslusifitas yang akan menguras anggaran wisata.

Maiko di Kyoto dan makeup-nya yang khas, via redbubble.net
Maiko di Kyoto dan makeup-nya yang khas, via redbubble.net

Menjadi geisha itu sulit dan harus melewati serangkaian tahap pelatihan yang melelahkan dan juga mahal. Jadi jangan heran jika tarif seorang geisha bisa membuat kalian pingsan saat mendengarnya.

Konon, jika mem-booking geisha melalui travel agent, kalian harus menyiapkan anggaran minimal 50,000 yen* per-maiko maupun geisha yang di booking. Itu belum termasuk dengan biaya makan, sewa ruangan, maupun biaya menyewa penerjemah, karena mayoritas geisha dan maiko (atau bahkan hampir semua) nggak menguasai bahasa Inggris.

Lantas, dimana bisa melihat geisha?

Seorang wisatawan mencoba mengabadikan geisha yang tengah menuju tempat kerja, via srbijadanas.com
Seorang wisatawan mencoba mengabadikan geisha yang tengah menuju tempat kerja, via srbijadanas.com

Geisha tinggal rumah yang disebut sebagai okiya, dan distrik tempat okiya berada disebut hanamachi (secara literal dapat diartikan sebagai “kota bunga”). Dengan kata lain, berkunjung ke hanamachi membuka kesempatan untuk melihat geisha secara langsung, minimal berpapasan dengan mereka yang akan pergi bekerja.

Sayangnya saat ini keberadaan hanamachi semakin sedikit seiring dengan semakin berkurangnya jumlah geisha. Dari sekian banyak kota di Jepang, hanya di Kyoto-lah tradisi seputar geisha masih cukup kuat dan disana geisha dikenal dengan sebutan geiko. Saya ingin mengulas beberapa hanamachi yang masih tersisa di Kyoto dan ciri khas serta keunggulan geisha di distrik tersebut dalam tulisan selanjutnya.

Salah satu rumah minum teh paling terkenal di Kyoto, via muza-chan.net
Salah satu rumah minum teh paling terkenal di Kyoto, via muza-chan.net

Walau tinggal di okiya, bukan berarti tamu harus datang ke okiya jika ingin melihat geisha ya. Untuk bisa ditemani dan dihibur oleh geisha, tamu harus mengundang geisha ke ochaya (atau rumah minum teh) maupun ryotei (atau restoran tradisional Jepang).

Tamu melakukan reservasi ke ochaya maupun ryotei, dan bisa meminta untuk ditemani oleh geisha. Namun perlu diketahui, nggak sembarang tamu bisa melakukan reservasi geisha, karena mayoritas ochaya maupun ryotei memiliki sistem yang ekslusif.

Hanya pelanggan tetap saja yang bisa mengundang geisha untuk menemani acara makan mereka, maupun pelanggan baru yang diperkenalkan oleh pelanggan lama. Itu karena ochaya dan ryoutei biasanya nggak menagihkan biaya makan dan hiburan setelah tamu selesai makan, melainkan diakumulasikan dalam periode waktu tertentu dan ditagihkan melalui bank (sehingga diperlukan perasaan saling percaya).

Itu adalah sistem klasik dalam bisnis ochayaryoutei, maupun geisha. Mengingat saat ini profesi geisha semakin kritis, dan banyak ochaya serta ryoutei yang mengalami kesulitan untuk bertahan hidup, sistem tersebut akhirnya lebih fleksibel.

Beberapa ryoutei dan ochaya kini mulai terbuka terhadap berbagai jenis pelanggan, termasuk wisatawan asing. Dewasa ini melihat pertunjukangeisha bukan hanya monopoli sekelompok orang saja, melainkan untuk siapa saja yang punya anggaran lebih.

Pertunjukan geisha di Gion Corner, via mygola.com
Pertunjukan geisha di Gion Corner, via mygola.com

Bagaimana jika budget terbatas tapi ingin melihat pertunjukan geisha? Masih ada kok alternatif lain untuk melihat pertunjukan geisha dan maiko dengan cara yang lebih murah. Datang saja ke teater yang memang menyediakan pertunjukan seni dari para geisha dan maiko, seperti Gion Corner di Kyoto.

Harga tiket untuk menyaksikan penampilan geisha dan maiko tersebut jauh lebih ramah dibanding mengundang geisha ke acara makan malam, yaitu antara 2,000 – 4,000 yen* saja.

Geisha tengah melayani pengunjung dalam sebuah festival di Kyoto, via world.yam.tw
Geisha tengah melayani pengunjung dalam sebuah festival di Kyoto, via world.yam.tw

Atau, kalian bisa mencari informasi tentang berbagai festival yang kerap menghadirkan pertunjukan dari geisha, dan biasanya harga tiketnya pun cukup terjangkau. Namun, perlu diingat jika geisha merupakan seorang penampil seni. Jika kalian nggak tertarik dengan seni tradisional Jepang, melihat berbagai pertunjukan seni bisa jadi akan membuat kalian bosan dan akhirnya hanya buang-buang uang saja.

Tunggu tulisan selanjutnya tentang distrik geisha di Kyoto ya!

Comments

comments