Katanya, pergi berwisata sangat bagus untuk membuka wawasan kita. Bukan hanya karena bisa melihat-lihat tempat lain yang punya suasana berbeda, melainkan juga karena adanya kesempatan merasakan kebudayaan yang lain dari biasanya.

Namun seperti kata pepatah “dimana bumi dipijak disana langit dijunjung”, sebelum berkunjung ke suatu daerah, kenali dulu beberapa budaya dasar yang berlaku di negara tersebut. Misalnya saja jika ingin berkunjung ke Jepang, ada beberapa aturan setempat yang perlu Jalan2ers ketahui.

Walau selalu ada pemakluman bagi gaijin (istilah Jepang untuk menyebut orang asing), Anda tetap saja akan menarik perhatian publik jika melakukan hal-hal yang kelihatannya sepele berikut ini:

1. Lupa melepas sepatu

Di Indonesia, aktifitas melepas sepatu sebelum masuk ke dalam rumah hanya dilakukan oleh sebagian orang. Tapi jika lupa melepas sepatu saat masuk ke dalam rumah/ryokan (penginapan ala Jepang) maupun ruangan ber-tatami (=tikar khas Jepang), bisa jadi si empunya rumah akan melotot.

Itu karena seharusnya pengunjung melepas sepatu di area pintu masuk dan menukarnya dengan selop rumah. Begitu juga saat ke kamar mandi, jangan lupa mengganti selop rumah dengan selop khusus kamar mandi.

Hati-hati jangan sampai lupa menukar lagi kedua selop tersebut saat keluar kamar mandi. Berjalan-jalan dengan selop kamar mandi jelas akan membuat Anda mendapat perhatian banyak orang. Tentunya bukan dalam hal positif, karena selop kamar mandi dianggap sebagai salah satu benda terkotor dalam rumah.

2. Menelepon maupun menerima telepon dalam kereta api

Kereta merupakan transportasi umum yang paling banyak digunakan oleh orang Jepang. Karenanya, menjaga ketertiban dan kenyamanan pengguna kereta api lainnya menjadi sebuah hal yang penting. Menelepon maupun menerima telepon dalam kereta api jelas akan mengganggu orang lain, dan jangan heran jika Anda memaksa melakukannya, tatapan tajam maupun teguran akan langsung menghampiri.

Jadi, jangan lupa untuk selalu men-silent handphone sebelum masuk ke dalam kereta. Masih banyak etika lain dalam berkereta api yang wajib diketahui oleh Jalan2ers.

3. Tidak belajar menggunakan sumpit sesuai etika

Mayoritas masakan tradisional lebih pas disantap dengan menggunakan sumpit. Walau Anda terbilang mahir menggunakan sumpit, perlu diketahui ada beberapa etika yang membedakan penggunaan sumpit di Jepang dengan negara Asia lainnya lho.

Jika ingin menghindari tatapan tajam maupun teguran halus sewaktu bersantap di resto setempat, berikut beberapa etika dasar ber-sumpit ria di Jepang: jangan menggunakan sumpit untuk mengambil makanan dari piring utama (berbeda dengan tradisi makan bersama ala Cina), tidak memindahkan makanan ke mangkok orang lain dengan menggunakan sumpit, tidak menjepit makanan untuk dijepit dengan sumpit lainnya, serta tidak menancapkan batang sumpit tegak lurus dengan nasi.

Dua etika terakhir mengingkatkan pada tradisi pemakaman khas Jepang sehingga cukup sensitif. Selesai makan, jangan lupa membereskan sumpit dengan cara meletakkannya secara melintang dengan bagian ujung tajam mengarah ke kiri.

Sumpit Jepang [picture: Joshua Rappeneker, via ccsearch]
Sumpit Jepang [picture: Joshua Rappeneker, via ccsearch]

4. Buang ingus sembarangan

Lagi pilek? Tunggu dulu, jangan buru-buru buang ingus apalagi saat berada di tengah keramaian. Kegiatan membuang ingus baik menggunakan tisu maupun sapu tangan dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan. Namun tak masalah jika sekedar menyedot hidung berulang kali. Jika memang terpaksa membuang ingus, lakukan dengan sangat berhati-hati dan jangan sampai mengganggu orang lain.

5. Tidak memperhatikan etika di pemandian umum

Tertarik untuk mencoba onsen (pemandian air panas alami) maupun sento (pemandian umum) saat berada di Jepang? Ketahui beberapa etika dasar sebelum menceburkan diri di kolam air panas atau Anda akan dianggap tidak sopan. Dua aturan yang terpenting adalah: (1) lepaskan seluruh pakaian sebelum masuk ke tempat pemandian, namun sebisa mungkin tutupi alat vital dengan handuk; dan (2) bilas tubuh sampai bersih sebelum masuk ke kolam berendam.

Onsen [picture: google]
Onsen [picture: google]

6. Memberi tip

Jepang terkenal sebagai salah satu negara yang anti menerima tip, entah itu di restoran maupun di sektor jasa dan layanan publik. Jadi Anda tak perlu bersusah payah meninggalkan uang kembalian setiap kali selesai bersantap di restoran. Bisa-bisa Anda akan merasa malu karena dikejar oleh pelayan yang akan mengembalikan uang Anda.

7. Malas belajar 1-2 kata dalam bahasa Jepang

Oke, Jepang memang negara modern dan pelopor teknologi. Namun percaya atau tidak, mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Sekalipun rata-rata orang Jepang tidak keberatan membantu orang asing yang kesulitan seperti saat meminta petunjuk jalan, jangan heran jika merasa sulit meminta bantuan jika Anda bersikeras hanya menggunakan bahasa Inggris. Jadi tak ada salahnya belajar beberapa kata maupun kalimat dasar, setidaknya untuk memudahkan bertanya arah maupun saat akan membeli sesuatu.

8. Menuang minuman untuk diri sendiri

Etika dalam acara minum termasuk salah satu yang perlu diperhatikan lho. Mungkin saja Anda berwisata sendirian, tapi bukan mustahil Anda akan bertemu traveller lain maupun berkenalan dengan penduduk setempat yang berujung dengan acara minum-minum.

Ini salah satu kesalahan dasar dalam acara minum bersama: menuangkan minuman untuk diri sendiri. Etikanya, Anda harus menuang minuman untuk orang yang dihormati dan biarkan mereka melakukan hal yang sama untuk Anda. Etika lainnya, minumlah setelah ada yang mengucapkan kata “kampai”(atau toast). Tapi itu hanya berlaku jika minum-minum bersama orang lain ya.

9. Tak bisa menangkap kata “tidak”

Orang Jepang memiliki budaya yang mungkin sulit dipahami oleh orang asing, yaitu mereka sulit mengucapkan kata tidak. Biasanya, isyarat penolakan akan ditampilkan melalui bahasa tubuh dengan harapan lawan bicara dapat mengerti. Jadi saat akan menawarkan atau meminta sesuatu pada orang Jepang, pastikan Anda bisa menangkap isyarat dibalik respon mereka atau Anda akan dianggap keras kepala dan tak sopan.

10. Kencan serius dengan gadis atau pemuda club

Main ke klab host maupun hostess termasuk salah satu godaan bagi traveller yang juga suka petualangan malam. Dan jangan kaget saat melihat penampilan mereka yang rata-rata memukau namun tetap terkesan lugu dan polos. Perlu diketahui jika dibalik penampilan lugu tersebut host dan hostess di Jepang terkenal memiliki keahlian merayu yang mumpuni.

Begitu Anda terlena, berbotol-botol minuman akan mengalir begitu saja (dan lucunya, biasanya minuman tersebut dihabiskan oleh mereka dan teman-temannya) dan berujung pada tagihan yang membuat mata terbelalak. Jadi kendalikan diri dan jangan menanggapi serius godaan dari host dan hostess tersebut.

Papan iklan sebuah host club [picture: Antjeverena, via ccsearch]
Papan iklan sebuah host club [picture: Antjeverena, via ccsearch]

Sebetulnya masih ada beberapa kesalahan dasar lainnya yang sering dilakukan oleh wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang. Tapi jika seluruhnya ditulis disini, bisa-bisa malah bikin takut untuk berkunjung ke Jepang, hehe.. Intinya sih selama mau belajar untuk mengenal dan mau menghargai budaya setempat, tak perlu takut untuk pergi ke daerah manapun yang memiliki budaya berbeda. Setuju?

 

baca juga :

Panduan Seputar Makanan Halal Di Jepang

Waktu Terbaik Untuk Wisata Ke Jepang, Kapan Saja?

Kenali Periode High Season Di Jepang Untuk Liburan Yang Maksimal

Comments

comments