Waktu masih kecil, pernah mendapat petuah seperti ini nggak? “Jangan bohong! Bohong itu dosa. Yang suka bohong akan masuk neraka!” Atau minimal kita akan sering mendengar pepatah seperti ini: “Kalau suka bohong, nanti nggak ada yang percaya lho!”

Sejak kecil kita memang sudah diajarkan untuk tidak berbohong. Kenapa? Karena bohong itu dosa. Lebih seram lagi kalau ada yang mengatakan, jika bohong bisa bikin kita masuk ke dalam neraka. Hiiiyyy!! Serem nggak tuh?

Tapi ternyata, terkadang kalian perlu melakukan kebohongan, lho. Apalagi jika kalian tengah bepergian ke sebuah tempat yang asing tanpa ada teman seperjalanan, alias solo traveling. Walau tidak disarankan untuk bersikap paranoid, namun solo traveller – khususnya female traveller – memanglah harus ekstra waspada saat menjejakkan kaki ke sebuah tempat baru. Ingat, kita takkan pernah tahu bahaya apa yang akan mengancam dibalik indahnya momen traveling, bukan?

Demi melindungi diri, atau minimal meningkatkan prosentase keamanan diri, ada baiknya kalian solo traveller maupun female traveller mengetahui beberapa tips melindungi diri. Salah satunya adalah dengan cara berbohong. Ya, walau bohong itu dosa (dan istilah ‘white lies’ itu hanya alibi untuk membenarkan tindakan bohong), namun 10 kebohongan ini diharapkan bisa membantu kalian untuk menghindari kemungkinan bahaya saat tengah berwisata.

*             *             *             *             *

1. “Nggak, ini bukan pertama kalinya ke kota ini”

Ilustrasi turis baru di sebuah tempat, via popsugar
Ilustrasi turis baru di sebuah tempat, via popsugar

Saat baru tiba di sebuah tempat baru, biasanya ada sebuah pertanyaan yang kerap terucap dari penduduk setempat: “Baru pertama kali kesini ya?”. Umumnya pertanyaan itu lazim dilontarkan oleh supir taksi yang membawa kita dari bandara/terminal. Bisa jadi juga kalian akan mendapat pertanyaan sejenis saat tengah kongkow sendirian di sebuah tempat makan (apalagi jika kita kelihatan seperti turis), atau saat tengah kebingungan dan bertanya arah.

Pertanyaan tersebut sebetulnya menimbulkan dilema. Mengakui jika kalian baru pertama kali ke tempat tersebut sama saja dengan membuka peluang bagi orang lain untuk mengerjai kalian, yang notabene awam terhadap situasi setempat.

Misalnya saja, supir taksi bisa membawa kalian berputar-putar sebelum tiba di tempat tujuan. Atau mungkin ada yang akan mengarahkan kalian menuju ke tempat yang berbahaya. Banyak kemungkinan lain yang bakalan bikin paranoid jika disebutkan satu persatu.

Untuk meminimalkan resiko dikerjai saat traveling, kalian bisa mengatakan jika ini bukan kali pertama ke kota tersebut. Supaya lebih meyakinkan, kalian bisa minta agar taksi yang kalian naiki sengaja melewati rute tertentu (ingat, lakukan riset lebih dulu ya!).

Begitu juga jika mendapat pertanyaan tersebut saat tengah kongkow atau lagi nanya jalan, katakan saja jika ini kalian sudah pernah ke kota ini sebelumnya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya kalian telah melakukan riset terkait daerah tersebut, sehingga kalian bisa sedikit berakting kalau ini bukan kunjungan pertama kalian.

Tips tersebut nggak berhasil? Coba intip tips selanjutnya.

*             *             *             *             *

2. “Sorry, suami/pacar saya udah nungguin di hotel.”

Ilustrasi pacar posesif, via viata-libera
Ilustrasi pacar posesif, via viata-libera

Tips yang ini khusus untuk female traveller yang tiba-tiba disapa maupun ditanya-tanya oleh orang yang baru dikenal. Apalagi jika orang baru tersebut memaksa kalian untuk ikut ke suatu tempat; atau mendekati secara agresif; maupun jika kalian sebatas memiliki firasat yang kurang baik dari orang tersebut.

Untuk menghindari kemungkinan terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, katakan saja jika suami atau pacar kalian sudah menunggu di hotel. Dengan mengatakan jika ada orang lain yang tengah menunggu kita di hotel, kalian memiliki alasan untuk segera pergi dan menghindar dari orang tersebut.

Sedangkan untuk traveller pria, kalian bisa mengganti kata “suami” dengan “istri”. Mau makin sip? Katakan saja jika istri atau pacar kalian itu super galak dan posesif, dan kalian takut banget dengan istri atau pacar kalian.

Salah satu kunci agar trik ini berhasil, adalah dengan tidak memperpanjang percakapan. Setelah mengatakan jika suami/istri/pacar telah menunggu kita di hotel, sebaiknya kalian langsung pergi saja dari tempat tersebut dan jangan terlibat kontak dengan orang lain. Mungkin ini terkesan paranoid, tapi berjaga-jaga selalu lebih baik daripada menyesal kemudian kan?

*             *             *             *             *

3. “Sorry, saya sudah menikah/punya tunangan.”

Wanita dan cincin kawin, via elitedaily
Wanita dan cincin kawin, via elitedaily

Saat tengah melakukan solo traveling, kadang kita nggak bisa menahan godaan untuk kongkow di tempat hangout populer di daerah tersebut, entah itu berupa restoran, taman kota, hingga bar dan klab malam. Nggak menutup kemungkinan saat tengah asyik kongkow sendirian kalian akan mendapat kenalan baru yang terlalu antusias untuk bertanya mengenai hal-hal pribadi, seperti apakah kalian sudah memiliki pasangan atau belum.

Dalam situasi normal, kalian mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan santai dan apa adanya. Namun dalam konteks tengah melakukan solo traveling, kalian perlu waspada jika mendapat model pertanyaan yang sifatnya pribadi seperti itu. Apalagi pertanyaan itu datang dari orang yang baru saja dikenal.

Karenanya, sekalipun misalnya kalian sebetulnya masuk dalam kategori jomblo akut, nggak ada salahnya sedikit berbohong demi menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jawab saja jika kalian sudah punya pacar, bertunangan, atau malah mungkin sudah menikah dan punya anak.

Kebohongan tersebut akan lebih meyakinkan jika kalian sekaligus mempersiapkan properti pendukung, seperti cincin di jari manis. Jangan lupa juga untuk menghindari pembicaraan lanjutan yang berkaitan dengan pacar/tunangan/suami/istri, karena itu akan membuka peluang bagi orang asing untuk masuk ke ranah pribadi kita.

*             *             *             *             *

4. “Saya akan pergi bareng teman/pacar, dan dia lagi OTW kesini.”

Ilustrasi menunggu, via verywell
Ilustrasi menunggu, via verywell

Solo traveller, khususnya wanita, kerap dianggap sebagai sasaran mudah bagi orang-orang iseng yang terbiasa mengincar para turis. Ada saja trik yang mereka lakukan untuk membuat kalian lengah, mulai dari menggunakan cara-cara halus dengan persuasi tertentu (seperti mengajak ngobrol, merayu, ataupun membujuk untuk melakukan sesuatu), hingga melakukan pemaksaan secara halus hingga kasar.

Salah satu poin utama yang membuat solo traveller kerap diincar oleh orang iseng, adalah karena mereka terlihat sendirian saat berada di keramaian maupun di tempat sepi. Seandainya kalian merasa takut untuk menolak secara terang-terangan, kalian bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang mengindikasikan kalau kalian nggak sendirian. Misalnya saja dengan mengatakan jika kalian telah memiliki janji bersama teman atau pacar, dan mereka saat ini tengah dalam perjalanan menemui kalian.

Dengan bersikap seolah-olah kalian telah memiliki janji temu, diharapkan dapat membuat orang-orang iseng tersebut mengurungkan niat untuk mengerjai kalian. Mereka akan berubah pikiran karena ternyata kalian tidak sendirian, dan tidak lagi menjadi target yang mudah untuk dijebak. Untuk action yang lebih mantap, kalian bisa sesekali mengeluarkan gestur seperti tengah menunggu seseorang. Misalnya saja, dengan berkali-kali melihat ke arah jam maupun bersikap akan menelepon.

*             *             *             *             *

5. “Maaf banget, tapi saya lupa nama hotel/hostel/guesthouse saya.”

Ilustrasi menjaga rahasia, via infogorlo
Ilustrasi menjaga rahasia, via infogorlo

Beberapa solo traveller wanita kerap berbagi pengalaman tentang seringnya ditanya-tanya terkait tempat menginap oleh orang yang baru dikenal. Modusnya beragam. Ada yang sengaja mendekat untuk ngobrol-ngobrol, dan dilanjutkan dengan mengorek keterangan dimana tempat kita menginap saat ini; maupun secara terang-terangan menanyakan lokasi tempat menginap beserta kamar hotelnya.

Percayalah, bukan ide yang bagus untuk menyebutkan dimana lokasi kita menginap pada orang yang baru dikenal, sekalipun orang itu terlihat bisa dipercaya. Apalagi jika dia terlanjur tahu kalau kita melakukan solo traveling. Sekali lagi, kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi, tapi lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal kemudian.

Jika merasa tak mungkin menghindar dari pertanyaan tersebut, dan terlalu takut untuk menolak secara terang-terangan; kalian bisa menghindar dengan berpura-pura lupa nama hotel/hostel/guesthouse tempat kalian menginap. Bersikaplah seolah-olah nama hotel/hostel/guesthouse kalian terlalu ribet untuk diingat, sedangkan kalian mengidap short memory syndrome seperti yang terjadi pada Dory di Finding Nemo.

Jika orang tersebut bersikap tak percaya dan malah memaksa, kombinasikan kebohongan ini dengan tips lainnya. Misalnya saja dengan mengatakan jika kunci kamar dibawa oleh teman dan mereka tengah menuju kesini. Atau, bisa juga dikombinasikan dengan tips no 6. Intinya sih, kreatiflah dalam mencari alasan ya!

*             *             *             *             *

6. “Saya menginap di rumah saudara/kenalan, tapi lupa alamat lengkapnya.”

Ilustrasi tidak tahu, via welcomeworld
Ilustrasi tidak tahu, via welcomeworld

Oke, sepintas tips ini mungkin terdengar nggak masuk akal. Masa sih kalian menginap di rumah saudara atau kenalan, tapi lupa alamat lengkapnya?

Memang sih, alasan tersebut mungkin terdengar kurang wajar. Namun sebetulnya cukup menguntungkan dan juga cukup aman. Dengan menyebut jika kalian menginap di rumah saudara/kenalan, secara otomatis kalian akan terhindar dari keharusan menjawab nama tempat menginap kalian. Di Indonesia ini sangat jarang ada rumah yang diberi nama, jadi kebohongan ini bisa menjadi sebuah opsi yang cukup aman.

Disisi lain, tips kebohongan yang ini sebetulnya cukup mudah dikombinasikan dengan kebohongan lainnya yang lebih wajar lho. Misalnya saja, kalian bisa beralibi jika wajar kalian lupa alamat lengkap saudara/kenalan kalian.

Memangnya siapa yang bisa hapal alamat rumah milik orang lain (kecuali alamatnya sendiri)? Selain itu, kalian juga bisa beralasan kalau saudara/kenalan kalian akan menjemput kalian, dan mereka sedang on the way kemari. Mereka juga yang akan mengantar kalian berkeliling-keliling. Itulah sebabnya kalian nggak merasa perlu untuk menghapal alamat lengkap. Masuk akal kan?

*             *             *             *             *

7. “Bicara apa ya? Saya nggak ngerti bahasa Inggris (atau bahasa setempat)!”

Ilustrasi berbincang dengan turis, via takeatour
Ilustrasi berbincang dengan turis, via takeatour

Naaahh, tips yang ini penting banget untuk kalian yang berencana traveling ke luar negeri, terutama jika kalian berencana pergi ke tempat-tempat yang cukup ramai seperti pasar. Terkadang ada saja pedagang yang memaksa kalian untuk membeli barang-barang yang mereka jual.

Bahkan, kadang ada juga yang sengaja menaikkan harga saat mengetahui kalau kalian adalah turis. Yang paling menyebalkan adalah saat bertemu pedagang yang terlalu memaksa, hingga menempel terus kemana kalian pergi.

Untuk menghindar dari pedagang-pedagang seperti itu, cobalah bersikap seolah-olah Anda tidak bisa berbahasa Inggris (jika kalian pergi ke negara yang menggunakan bahasa Inggris). Kalian bisa pura-pura bicara dalam bahasa Inggris yang kacau balau dan terpatah-patah, agar pedagang tersebut menyerah mendekati kalian. 

“Sorry, English I not speak.” Nahloh, kacau kan bahasanya? Apalagi jika kalian sekaligus memasang wajah polos nan lugu. Bisa-bisa para pedagang itu langsung malas untuk memaksa kalian.

Tips ini juga berlaku jika kalian berwisata ke negara non-English user, misalnya saja seperti Vietnam, Korea, atau Jepang. Bicara dengan bahasa Inggris yang amburadul akan membuat orang mundur teratur.

Tips ini sekaligus bisa diterapkan untuk menghindar dari ajakan untuk berbincang-bincang dari orang asing yang kelihatannya mencurigakan. Bahkan, sekalipun kalian memahami bahasa daerah di tempat tersebut, jangan langsung sok mahir menunjukkan keahlian kalian itu ya. Apalagi jika kalian bepergian ke daerah yang kelihatannya kurang aman. Lebih baik bersikap pura-pura tak tahu apa-apa, namun gunakan keahlian berbahasa tersebut untuk memahami situasi di sekitar kalian.

*             *             *             *             *

8. “Harga di toko sebelah jauh lebih murah lho!”

Ilustrasi turis dan aktifitas belanja, via ahataxis
Ilustrasi turis dan aktifitas belanja, via ahataxis

Akui saja, dari sekian banyak daftar kebohongan yang ada di tips ini, kebohongan yang satu ini pasti termasuk salah satu yang sering untuk dilakukan. Biasanya, kita melakukan kebohongan ini demi mendapat harga yang lebih murah dari sebuah toko. Siapa yang pernah berbohong seperti ini, ayo ngacung!

Umumnya orang berharap, dengan mengatakan jika “harga toko sebelah lebih murah”, maka pedagang incaran kalian akan memberikan harga diskon yang lebih murah lagi. Memang sih taktik ini kerap berhasil. Tapi, tentu saja taktik ini nggak selalu berhasil. Sukur-sukur jika kalian sukses mendapat harga murah. Namun kalau tidak, kalian pun harus siap menghadapi pedagang yang tersinggung dan meminta kalian untuk belanja di toko sebelah saja.

*             *             *             *             *

9. “Besok saya belum ada rencana apa-apa.”

Ilustrasi waktu, via urbynloft
Ilustrasi waktu, via urbynloft

Saat melakukan traveling sendirian, selalu ada kemungkinan kalian akan berkenalan dengan orang baru, entah orang baru itu sesama traveller juga maupun penduduk setempat. Sebetulnya, menyenangkan rasanya punya kenalan baru. Apalagi jika orang tersebut asyik untuk diajak bertukar pikiran, dan kelihatannya menyenangkan jika dijadikan teman seperjalanan.

Masalahnya, nggak semua orang baru itu menyenangkan, dan nggak semua orang baru itu bisa langsung dijadikan teman. Kadang kalian perlu juga menjaga jarak dari orang baru, apalagi jika orang tersebut terlalu kepo dan terlalu antusias dengan kalian, yang jadinya malah bikin ilfil dan mencurigakan.

Karenanya, jika ada orang baru yang terlalu antusias untuk mengetahui jadwal traveling kalian, kalian bisa berbohong dengan mengatakan jika besok kalian belum punya rencana pasti, sehingga kalian nggak bisa membagikan rencana traveling kalian pada orang tersebut.

Bagaimana jika orang itu malah memaksa untuk mengajak jalan bareng? Kombinasikan saja dengan kebohongan lainnya. Kalian bisa mengatakan jika suami/pacar/saudara akan menjemput besok, dan kalian akan ikut dengan jadwal mereka.

*             *             *             *             *

10. “Sorry, besok saya sudah punya rencana.”

Ilustrasi traveling bersama pasangan, via mymarcy
Ilustrasi traveling bersama pasangan, via mymarcy

Jika merasa kebohongan no 9 terlalu sulit untuk diaplikasikan (karena kalian harus siap menerima resiko diberondong dengan berbagai ajakan susulan), ucapkan saja kebohongan versi ini: “Maaf, besok saya sudah punya rencana sendiri.”

Namun, bukan berarti tips ini 100% akan berhasil. Bisa jadi si lawan bicara akan memaksa untuk mengetahui itinerary kalian, dan bahkan memaksa untuk ikut jalan bareng dengan kalian. Jika itu yang terjadi, kalian bisa mengatakan jika agenda besok sifatnya privat. Bisa juga dengan menambahkan jika suami/pacar/teman/saudara akan menjemput. Setelah itu, sebisa mungkin sudahi percakapan dan hindari saja orang itu.

 

baca juga :

Beberapa Pengalaman “unik” Saat Travelling Bersama Orang Yang Baru Dikenal

Hal-Hal Berikut Ini Kerap Menggagalkan Rencana Traveling Kita

Percaya atau Nggak, 18 Mitos Traveling Ini Sering Banget Menyesatkan (Calon) Wisatawan Lho! Gimana…

Comments

comments